Sejak kecil, Kirana Lin dibuang ke desa karena terlahir bisu. Meski tak mampu berbicara, ia memiliki kecerdasan luar biasa dan segudang prestasi.
Dua puluh tahun kemudian, Kirana kembali ke keluarga Lin untuk menggantikan putri angkat mereka menikah dengan Kendra Wu, penguasa keluarga Wu yang lumpuh akibat kecelakaan.
Semua orang mengira Kirana akan menderita di tangan Kendra. Namun, gadis bisu itu justru berhasil membuat sang penguasa jatuh cinta dan membantunya merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Yuk simak kisahnya! Yang tidak suka langsung skip!👊👊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesialan Shania
"Bodoh! Kau benar-benar wanita bodoh!"
Suara Maya menggema di ruang keluarga mansion Shu. Wanita paruh baya itu menatap Shania dengan wajah merah padam, sementara suaminya berdiri di samping sofa dengan ekspresi muram.
Setelah pesta pernikahan yang seharusnya menjadi kebanggaan keluarga Shu berakhir dengan kekacauan, mereka akhirnya kembali ke mansion.
Shania sudah berganti pakaian dan duduk di sofa dengan kepala tertunduk, tidak berani menatap kedua mertuanya.
"Belum pernah seumur hidup keluarga Shu dipermalukan seperti ini!" bentak Maya lagi. "Pesta pernikahan yang sudah kami persiapkan dengan begitu baik justru berakhir dengan pengantin wanita tercebur ke dalam kue pernikahannya sendiri!"
Shania meremas ujung bajunya. "Maaf, Ma. Aku benar-benar tidak bermaksud membuat semuanya menjadi seperti ini."
"Jangan panggil aku dengan nada seolah-olah kau tidak bersalah!" Maya membalas dengan tajam. "Kalau kau tidak melakukan hal bodoh itu, apakah semua ini akan terjadi?"
Ayah Julian yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara. Wajahnya terlihat muram karena sepanjang pesta, ia harus menghadapi tatapan aneh para tamu dan mendengar bisik-bisik yang membicarakan keluarga mereka.
"Kau seharusnya lebih berhati-hati, Shania," katanya dengan nada kecewa. "Kau sekarang adalah menantu keluarga Shu. Apa pun yang kau lakukan akan memengaruhi nama baik keluarga ini."
Shania semakin menundukkan kepala. "Aku mengerti. Aku minta maaf kepada kalian berdua."
Permintaan maaf itu sama sekali tidak membuat Maya merasa lebih baik. Wanita itu masih teringat bagaimana para tamu menyaksikan kejadian memalukan tersebut, terlebih setelah rekaman CCTV memperlihatkan bahwa Shania sendiri yang bergerak hendak mendorong Kirana.
"Dan yang paling membuatku kesal adalah caramu menangani masalah!" seru Maya. "Begitu rekaman diputar, kau bahkan tidak bisa memberikan penjelasan yang masuk akal. Semua orang pasti menganggapmu sebagai wanita yang licik!"
Shania menggigit bibirnya. Ia ingin membela diri, tetapi tidak berani mengatakan bahwa sejak awal ia memang berniat mempermalukan Kirana.
"Maafkan aku, Ma. Aku akan lebih berhati-hati lain kali," ucapnya pelan.
Maya mendengus. "Lebih baik kau benar-benar belajar dari kejadian ini. Jangan sampai ada kejadian memalukan lainnya yang membuat keluarga Shu menjadi bahan tertawaan!"
Setelah puas melampiaskan kemarahannya, Maya berbalik menuju tangga. Ayah Julian mengikutinya setelah memberikan satu tatapan kecewa kepada Shania.
"Kami ingin beristirahat. Jangan membuat masalah lagi," katanya singkat sebelum pergi.
Begitu kedua orang tua Julian menghilang dari pandangan, Shania akhirnya mengangkat wajah. Matanya memerah karena menahan emosi, sedangkan kedua tangannya mengepal erat di atas pangkuan.
Semua yang terjadi malam itu terasa seperti mimpi buruk.
Dengan langkah berat, Shania menaiki tangga menuju kamar pengantinnya. Ia sebenarnya berencana menghabiskan malam pertama bersama Julian di hotel mewah setelah pesta selesai, tetapi rencana itu terpaksa dibatalkan karena rasa malu yang sudah tidak tertahankan.
Sesampainya di kamar, Shania mendapati Julian sedang melonggarkan dasinya. Pria itu menghela napas panjang, lalu meletakkan jasnya di atas sofa tanpa menunjukkan sedikit pun keinginan untuk berbicara dengannya.
Shania menutup pintu kamar dan langsung menghampirinya. "Julian, kenapa tadi kau tidak membelaku?"
Julian menoleh dengan tatapan tidak percaya. "Apa katamu?"
"Kau melihat sendiri bagaimana Kendra mempermalukanku di depan semua orang!" jawab Shania dengan nada kesal. "Kenapa kau hanya diam? Kau bahkan tidak mencoba mengatakan sesuatu untuk membelaku!"
Julian mendengus. Ia menatap Shania seolah tidak habis pikir dengan pertanyaan yang baru saja didengarnya.
"Kau sendiri yang membuat masalah, lalu kau berharap aku yang bertanggung jawab?" balasnya dingin.
Shania terdiam sesaat. "Aku melakukan itu karena—"
"Karena apa?" potong Julian. "Karena kau ingin mempermalukan Kirana? Kau pikir aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi?"
Wajah Shania langsung berubah. Ia tidak menyangka Julian akan berbicara setajam itu kepadanya, terlebih pada malam pernikahan mereka.
"Aku hanya ingin memberinya pelajaran!" serunya. "Sejak dia kembali, semua orang berubah. Kak Arthur dan Kak Sean mulai menjauhiku, lalu di pesta tadi Kendra malah membelanya di depan semua tamu!"
Julian mengusap wajahnya dengan kasar. "Dan menurutmu, membuat kekacauan di pesta pernikahan kita adalah cara terbaik untuk menyelesaikan semua itu?"
Shania tidak mampu menjawab. Ia hanya menatap Julian dengan mata berkaca-kaca, tetapi pria itu tampak sudah kehilangan kesabaran.
Julian mengambil ponselnya dari meja dan berjalan menuju pintu kamar. Melihat hal itu, Shania segera mengejarnya lalu mencengkeram lengannya.
"Kau mau pergi ke mana?" tanyanya panik. "Ini malam pertama kita, Julian!"
Julian menoleh dan menatap tangan Shania yang mencengkeram lengannya. Ia kemudian melepaskan tangan wanita itu dengan gerakan tegas.
"Aku tidak berminat menghabiskan malam ini bersamamu," katanya dingin. "Aku sedang tidak ingin menghadapi masalah lagi setelah apa yang terjadi hari ini."
"Julian, kita baru saja menikah!" seru Shania dengan suara bergetar. "Bagaimana mungkin kau meninggalkanku sendirian di malam pertama kita?"
Julian menghela napas panjang. "Aku lelah, Shania. Tidurlah sendiri malam ini dan berhenti membuat keributan."
Setelah mengatakan itu, Julian membuka pintu dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Suara pintu yang tertutup membuat Shania berdiri terpaku di tempatnya.
Beberapa detik kemudian, wajah Shania berubah murka. Ia menyapu pandangan ke seluruh kamar, lalu melemparkan bantal ke sofa dengan kesal.
"Semua ini gara-gara Kirana!" teriaknya. "Kalau bukan karena perempuan itu, aku tidak akan dipermalukan seperti ini!"
Shania berjalan mondar-mandir sambil meremas kedua tangannya. Ia tidak mau menerima kenyataan bahwa rencananya sendiri telah membuatnya kehilangan muka, sehingga dalam pikirannya, Kirana tetap menjadi orang yang harus disalahkan.
"Kirana Lin, aku tidak akan membiarkanmu menang!" desisnya penuh kebencian. "Kau sudah membuatku dipermalukan di depan semua orang. Aku pasti akan membalasmu!"
Sedangkan Julian, kini pria itu justru ke sebuah club malam. Sebenarnya ia sengaja menjadikan kesalahan Shania untuk menghindar. Itu semua karena adik kecilnya sudah tidak bisa bangun semenjak ia pingsan di toilet.
"Sialan! Bagaimana ini bisa terjadi?" gumam Julian gelisah.
Tidak mungkin dirinya impoten, bukan? Pikirnya lalu cepat-cepat ia menyingkirkan pikiran buruk itu.
"Aku harus mencobanya. Mungkin dengan Shania aku tidak bernafsu. Pasti dengan wanita lain bisa," gumam Julian.
Ia lalu menatap asistennya lalu berkata, "Carikan aku wanita paling cantik di club ini dan jga barsih!"
Sang asisten lamgsung berkata, "Baik, Tuan."
sat set tnpa drama
keren pojok nya
wuih jous gandos
aaahhh mboh lah mumet AQ sweeter
otornya lho bikin penasaran Mulu 🤣🤣🤣
🤭🤭🤭🤭