"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyuman Kosong 10.
Pukul satu siang, matahari di luar sedang terik-teriknya, tetapi bagian dalam rumah Nawang terasa seperti lorong es.
Sepi menyengat. Kedua orang tuanya tetap berangkat ke kantor pusat meski kalender di dinding menunjukkan warna merah.
Bagi mereka, target kuartal perusahaan tidak mengenal tanggal libur.
Nawang sudah terbiasa dengan ruang kosong ini. Biasanya, ia akan menyalakan televisi hanya untuk memecah keheningan, tetapi siang ini, ponselnya yang bergetar di atas meja kaca ruang tamu jauh lebih menarik perhatiannya.
Nama ‘Aa Timy’ berkedip di layar.
Bersamaan dengan itu, suara deru motor matik yang sangat ia kenal berhenti tepat di depan pagar.
Nawang menarik napas panjang, menahannya selama tiga detik di dalam paru-paru, lalu mengembuskannya perlahan. Ia berkaca sebentar pada permukaan layar ponsel yang gelap. Wajahnya pucat, sisa demam semalam masih menyisakan lingkaran hitam di bawah matanya. Namun, ia memaksakan sebuah lengkungan di bibir. Sebuah senyuman. Tipis, rapi, dan terlatih.
Saat pintu depan dibuka, Timy sudah berdiri di sana.
Cowok itu masih memakai jaket jin pudar yang sama dengan yang ada di video Yandi.
Rambutnya agak berantakan terkena angin jalanan, dan wajahnya menampilkan raut bersalah yang amat kentara. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah kantong plastik berlogo minimarket.
"Neng," panggil Timy, suaranya agak serak. Ia langsung melangkah masuk begitu Nawang membukakan pintu lebih lebar.
"Iya, Aa. Masuk, A," sahut Nawang. Suaranya terdengar biasa saja, sangat normal, bahkan cenderung ramah. Tidak ada nada ketus, tidak ada sindiran.
Timy meletakkan kantong plastik itu di atas meja kopi. Dari dalamnya, ia mengeluarkan tiga batang cokelat susu ukuran besar—merek favorit Nawang kalau sedang datang bulan atau stres menghadapi ujian.
"Aa tahu Aa salah banget semalam," Timy langsung membuka suara, memotong kecanggungan yang mulai merayap. Ia menatap Nawang dengan mata yang penuh penyesalan. "Hp Aa drop total, Neng. Pas mau balik dari beli bubur, Aa ketemu Kanaya di jalan dekat kompleksnya. Dia... dia gemetaran parah di pinggir jalan karena area sana mati lampu total dan dia punya trauma gelap. Aa nggak tega ninggalin dia sendirian dalam kondisi kayak gitu."
Nawang mendengarkan dengan saksama. Ia tidak memotong. Di otaknya, ia mencocokkan cerita Timy dengan rekaman video lima belas detik dari Yandi. Timy bilang "ketemu di jalan", tapi video Yandi dengan jelas memperlihatkan motor Timy terparkir rapi di depan rumah mewah Kanaya, dan mereka berpelukan di teras.
Kebohongan ternyata punya aroma yang khas, dan Nawang bisa menciumnya dengan sangat jelas siang ini.
Namun, anehnya, dada Nawang tidak lagi meledak-ledak seperti semalam.
Rasa sakitnya kini berganti menjadi dingin yang membekukan.
"Oh... gitu ya, A?" Nawang mengangguk kecil. Senyumnya tidak luntur. "Terus Kanaya-nya nggak apa-apa?"
Timy agak tertegun. Ia mengira Nawang akan menangis, memukulinya dengan bantal sofa, atau setidaknya mendiamkannya selama berhari-hari. Respon Nawang yang begitu tenang justru membuat Timy merasa tidak nyaman.
"Dia udah tenang pas bundanya pulang jam satu malam," kata Timy pelan. Ia meraih tangan Nawang, menggenggam jemari cewek itu yang terasa agak dingin. "Aa minta maaf ya, Neng, Aa benar-benar ngerasa bersalah sama Neng. Aa tahu Neng lagi sakit semalam, tapi Aa malah telat dan nggak bisa dikontak. Ini Aa bawain cokelat banyak, biar Neng nggak cemberut lagi."
Nawang memandangi tiga batang cokelat di atas meja. Dulu, satu batang cokelat saja dari Timy sudah bisa membuat harinya yang buruk berubah menjadi luar biasa cerah.
Sekarang? Tiga batang cokelat itu terlihat seperti upaya murah untuk menyuap rasa bersalah. Cokelat itu tidak bisa menurunkan demamnya semalam, dan jelas tidak bisa menghapus fakta bahwa ia telah di nomor duakan.
"Nggak apa-apa kok, A. Kanaya lebih butuh ditolong semalam. Lagian Nawang udah minum obat terus langsung tidur," ucap Nawang lembut.
Ia melepaskan genggaman tangan Timy dengan gerakan yang sangat halus, berpura-pura ingin mengambil cokelat tersebut. Ia membuka bungkusnya, mematahkan satu kotak kecil, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Manis.
Tapi lidahnya mengecap rasa hambar.
"Beneran nggak apa-apa?" Timy memastikan, wajahnya mulai tampak agak lega. "Aa takut banget Neng marah besar."
"Beneran, Aa. Nawang nggak marah," jawab Nawang.
Bibirnya kembali tersenyum lebar.
Sangat manis, hingga siapapun yang melihatnya akan percaya bahwa cewek ini baik-baik saja. Nawang sadar, tidak ada gunanya berteriak atau menuntut kejujuran dari seseorang yang bahkan tidak sadar kalau dirinya sedang berbohong. Baginya, berdebat hanya akan menguras sisa energinya yang habis terpakai untuk bertahan dari demam semalam.
Timy tersenyum lega, merasa misinya berhasil. Cowok itu kemudian mulai bercerita tentang hal lain—tentang tugas sekolah, tentang ban motornya yang tadi sempat kurang angin, dan rencana latihan basket besok sore.
Nawang tetap di sana, duduk di sebelah Timy. Ia mengangguk pada waktu yang tepat, tertawa kecil pada cerita yang dianggap lucu, dan menanggapi setiap ucapan Timy dengan intonasi yang sempurna sebagai seorang pacar yang pengertian.
Namun, jika Timy mau sedikit saja memperhatikan dengan lebih jeli, ia akan sadar ada yang mati di sana.
Sebab sepanjang sisa siang itu, sementara bibir Nawang terus mengukir senyuman ramah yang tak pernah putus, kedua matanya menatap lurus ke depan dengan kekosongan yang amat dalam. Tatapan mata yang tidak lagi fokus pada Timy, tidak lagi memancarkan binar kagum seperti biasanya. Mata itu hanya menatap ruang hampa di sudut ruangan, menghitung mundur waktu, sadar bahwa hubungan yang mereka jalani sekarang tak lebih dari sekadar rumah yang fondasinya sudah habis digerogoti rayap. Tinggal menunggu waktu untuk roboh sepenuhnya.
......................
...***************...
Tbc,