NovelToon NovelToon
DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Mengubah Takdir / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:968
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng Kepalsuan di Atas Puing-Puing Keangkuhan

Kejatuhan seorang penguasa kecil di lingkungan sekolah ternyata terjadi jauh lebih cepat daripada kilatan petir. Di SMA Pelita Bangsa, nama Kevin Aditama yang tadinya diagungkan, ditakuti, dan disembah bagai raja kecil, seketika berubah menjadi aib yang dijauhi banyak orang. Setelah insiden kedatangan Baskoro Pratama dan terbongkarnya skandal sabotase serta penekanan administratif, para siswa yang tadinya menjadi benalu dan pengikut setia Kevin mendadak berbalik arah. Mereka takut terseret dalam badai hukum yang sedang disiapkan oleh korporasi Pratama Corp terhadap keluarga Aditama.

Di rumah mewah berlantai tiga miliknya, kemarahan Riko Aditama jauh lebih mengerikan dari bayangan Kevin. Saham perusahaan anjlok, investigasi pemerintah mulai masuk memeriksa celah-celah proyek ayah Riko, dan nama baik keluarga Aditama hancur lebur di hadapan para elite bisnis kota. Di tengah tekanan luar biasa itu, Riko memanggil putranya dengan suara dingin yang mengiris tulang.

"Jika dalam waktu satu minggu kau tidak bisa memperbaiki citra keluarga kita di sekolah, dan membuat gadis miskin itu mencabut laporan hukumnya... kau bukan lagi anakku, Kevin!" bentak Riko malam itu, melempar berkas gugatan tepat ke wajah putranya.

Tekanan itulah yang memecah kewarasan Kevin. Harga diri pemuda itu hancur berkeping-keping. Dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan posisinya—menurut otak liciknya yang terbiasa menghalalkan segala cara—adalah dengan merendahkan diri secara palsu.

Keesokan paginya, suasana di koridor SMA Pelita Bangsa terasa sangat berbeda. Juwita berjalan dengan langkah tegap mengenakan seragam rapi yang bersih. Tidak ada lagi tatapan merendahkan atau lemparan air kotor. Sebaliknya, para siswa di sepanjang koridor kini menatapnya dengan rasa segan, kagum, dan ketakutan tersendiri, menyadari bahwa gadis di hadapan mereka kini berada di bawah perlindungan langsung konglomerat terkuat di negeri ini.

Juwita baru saja hendak melangkah menuju perpustakaan ketika seseorang memanggil namanya dengan nada yang terdengar sangat asing di telinganya—nada yang begitu lembut, manis, dan dibuat-buat.

"Juwita... tunggu sebentar."

Juwita menghentikan langkahnya, lalu menoleh perlahan. Di hadapannya berdiri Kevin Aditama. Pemuda itu tidak mengenakan blazer mahalnya hari ini; penampilannya tampak sedikit berantakan, lingkaran hitam tercetak jelas di bawah matanya, dan di bibirnya terukir sebuah senyuman yang dipaksakan begitu rupa hingga terlihat sangat mengerikan dan canggung.

Juwita menyipitkan matanya, menatap pemuda yang selama ini menjadi algojo dalam hidup sekolahnya dengan sorot dingin penuh kewaspadaan. "Mau apa lagi, Kevin? Belum cukup puas mempermalukan dirimu sendiri kemarin?"

Alih-alih marah atau membentak seperti biasanya, Kevin justru tertawa kecil—sebuah tawa hampa yang terdengar dipaksakan. Ia melangkah mendekat dengan gestur tubuh yang sengaja dibuat ramah.

"Hei... jangan bicara begitu, Juwita," ucap Kevin dengan suara lembut yang dibuat-buat, mencoba merendahkan nada bicaranya. "Mungkin... mungkin selama ini kita ada sedikit kesalahpahaman. Aku akui, beberapa waktu lalu aku dan teman-teman terlalu berlebihan padamu. Aku minta maaf, ya?"

Juwita terpaku sejenak, alisnya terangkat sebelah. Ia menatap wajah Kevin lekat-lekat, mencoba mencari sisa-sisa arogansi yang biasanya meluap-luap di sana. Yang ia temukan hanyalah kepanikan yang disembunyikan di balik senyuman palsu.

"Kesalahpahaman?" ulang Juwita pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis. "Menyiram seragamku dengan air kotor, merusak file ujianku lewat sabotase sistem, mencabut beasiswaku, dan mengusir ibuku dari rumah sakit... kau sebut itu kesalahpahaman, Kevin?"

Wajah Kevin sempat berkedut kaku mendengar ucapan telak itu, namun ia segera menguasai dirinya kembali. Ia mengulurkan tangannya, mencoba berdiri lebih dekat dengan gestur bersahabat.

"Dengar, Juwita... masa lalu biarlah berlalu. Kita kan anak muda, tidak seharusnya saling menjatuhkan," bujuk Kevin dengan nada memelas yang menjijikkan. "Sebenarnya... aku ingin kita berteman. Bagaimana kalau sepulang sekolah kita minum kopi di kafe dekat sini? Aku traktir apa saja yang kamu mau. Dan... soal laporan hukum dari Om Baskoro ke perusahaan papaku, mungkin... mungkin kamu bisa bantu bicara pada beliau untuk mencabutnya? Kita bisa damai, Juwita. Aku janji bakal jagain kamu di sekolah ini."

Juwita menatap uluran tangan Kevin yang terulur di hadapannya. Ia terdiam cukup lama. Di dalam kepalanya, bayangan wajah ibunya yang pucat pasi terbaring di ranjang klinik, tetesan air mata di bawah badai malam, dan penderitaan tak bertepi yang ia lalui seorang diri berkelebat dengan sangat cepat.

Pemuda di hadapannya ini, yang dulu menginjak-injak harga dirinya tanpa belas kasihan, kini berdiri dengan tangan terulur dan senyuman busuk hanya karena takut kekaisaran keluarganya runtuh.

Juwita perlahan mengangkat tangannya. Kevin sempat tersenyum lebar, mengira jurus manisnya berhasil meluluhkan gadis miskin itu.

Namun, alih-alih menyambut uluran tangan tersebut, Juwita justru menepis tangan Kevin dengan kasar hingga pemuda itu tersentak mundur. Tatapan mata Juwita berubah menjadi sangat tajam, menusuk langsung ke dalam jiwa Kevin bagaikan belati es.

"Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotor itu, Kevin," suara Juwita dingin, rendah, namun bergema penuh otoritas yang membuat Kevin tertegun kaku.

"Juwita! Aku kan sudah minta baik-baik! Kenapa kamu masih sombong banget?!" bentak Kevin, topeng ramahnya akhirnya retak seketika, memperlihatkan kemarahan aslinya yang tersisa.

"Minta maaf? Berteman?" Juwita melangkah mendekat, memaksa Kevin untuk mundur perlahan. "Kau meminta maaf bukan karena kamu merasa bersalah, Kevin. Kau meminta maaf karena kamu ketakutan. Kau gemetar karena tahu benteng kekuasaan ayahmu sedang runtuh, dan kamu tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi!"

"Jaga mulutmu...!" geram Kevin, giginya bergemeretak, tangannya terkepal erat di samping tubuhnya.

"Dulu, saat keluargamu di atas angin, kalian memperlakukan kami seperti sampah yang tidak layak hidup," lanjut Juwita, suaranya bergetar menahan emosi yang meluap-luap, namun sorot matanya tidak menyiratkan sedikit pun rasa takut. "Kalian pikir air mata kami, kemiskinan kami, dan penderitaan ibuku adalah mainan yang bisa kalian injak sesuka hati. Dan sekarang, setelah giliran kalian yang berada di atas jurang kehancuran, kamu datang membawa senyuman palsu dan kata 'damai'?"

Juwita menatap Kevin dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan paling merendahkan yang pernah pemuda itu terima seumur hidupnya.

"Dengar baik-baik, Kevin Aditama. Permintaan maafmu tidak bernilai apa-apa. Rasa jijikku padamu jauh lebih besar daripada rasa kasihan yang tersisa di hatiku. Pulanglah, bersujudlah pada ayahmu, dan nikmati detik-detik terakhir kejatuhan kalian. Karena aku... tidak akan pernah sudi memberi belas kasihan pada orang licik sepertimu."

Setelah menuntaskan kalimatnya, Juwita membalikkan tubuhnya dengan anggun, meninggalkan Kevin yang berdiri mematung di tengah koridor. Wajah pemuda itu sepucat mayat, napasnya memburu, dan seluruh harga diri yang tersisa di dalam dirinya hancur berkeping-keping tanpa sisa.

Di balik punggungnya yang menjauh, Juwita menarik napas dalam-dalam. Beban berat di dadanya seakan terangkat separuh. Ia tidak butuh senyuman palsu mereka. Yang ia butuhkan hanyalah terus melangkah maju, membuktikan kepada dunia bahwa keringat, air mata, dan darah ibunya tidak pernah sia-sia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!