Kalian pernah membayangkan gimana kalau jodoh kita berada dideket kita? Mungkin seperti dosen kita sendiri gimana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mputriniar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11 | Pindahan Rumah
Pagi ini aku melakukan kegiatan tidak terlalu banyak kegiatan dari pagi hingga sekarang cuman merapihkan barang-barang.
" Sudah semuanya Fah?. " Ucap Mas Adnan saat sudah tak ada lagi barang yang dimasukkan.
"Sudah Mas. "
" Iya sudah kalau gitu aku mau mandi dulu ya."Ucapnya.
Selepas mengucapkan itu Mas Adnan langsung berlalu masuk ke kamar mandi.
Mumpung Mas Adnan dikamar mandi aku mengambil diary.
Aku memang sering mencurahkan isi hati ku di dairy.
Tanpa aku sadari ketika aku sedang menulis Mas Adnan sudah selesai mandi aku pun langsung menyembunyikan diary ku dibawah bantal. Dia melihat kearah dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
" Kamu lagi nulis apa Fah?. " Tanyanya
" Ah enggak ko kak, Fifah hanya menulis daftar keperluan yang belum kita beli. " Ucapku sedikit berbohong
" Oh begitu, kalau gitu nanti sekalian aja kita beli keperluan kita, kebetulan arah mau ke rumah kita ada supermaket." Ucap dia.
Aku hanya mengangguk dan langsung buat daftar belanja untuk nanti.
Setelah selesai membuat daftar belanjaan aku menawarkan makan ke Mas Adnan.
" Mas mau makan sekarang atau nanti. " Tanya ku.
" Mas makan nanti aja. " Jawab dia yang segera berlalu entah kemana. Aku pun berusaha buru-buru mengambil buku diary ku dan ku lalu masukkan ke dalam tas ku.
Aku keluar kamar berniat untuk ngomong soal kepindahan aku sama bunda.
Aku meluk bunda dari belakang karena bunda sedang menyirami bunga.
" Astagfirullah Fifah. " Ucap bunda yang sedikit kaget.
Aku hanya diam.
" Ada apa sayang?. " Tanya bunda.
" Eum bunda, fifah sama Mas Adnan mau pindah kerumah yang sudah Mas Adnan siapkan. " Ucapku.
" Kapan?. "
" Nanti sore bun. " Ucap ku.
" Ko dadakan sekali, eum apa enggak menunggu ayah sampai pulang saja. " Ucap bunda karena ayah dan bang satria lagi dinas di luar kota dan baru pulang itu minggu depan.
" Bukannya enggak mau bunda tapi Afifah sama Mas Adnan mau menikmati pernikahan kita berdua saja biar saling mengenal bun. " Ucapku.
" Tapi bunda nanti sendirian sayang. " Ucap bunda.
" Fifah atau mas adnan akan sering-sering main kesini ko bun. " Ucapku.
" Adnan kamu yakin mau sekarang pindahnya?." Tanya bunda ke Mas Adnan yang baru saja datang dari depan entah lah dia abis kemana.
" Insya allah bun karena Adnan enggak mau merepotkan bunda dan Afifah sekarang sudah menjadi tanggung jawab Adnan bun. " Ucap Mas Adnan.
" Iya sudah kalau itu keputusan kalian bunda tidak mau memaksakan tapi Fifah harus kesini sekali-sekali jangan lupain bunda. " Ucap Bunda yang di ujung kalimatnya terdengar lirih.
" Iya allah iya bunda tenang saja mana mungkin Fifah lupain bunda yang sudah melahirkan Fifah. " Ucapku.
Aku memeluk bunda sangat erat karena sejujurnya aku enggak tega meninggalkan bunda tapi mau gimana lagi sudah kewajiban aku sebagai seorang istri harus taat kepada suami.
Aku melepaskan peluk kan ku dan kembali mengecek barang karena sebentar lagi aku dan mas adnan akan segera jalan.
" Sudah semuanya Fah, sudah gak ada yang tertinggal kan?. " Ucap Mas Adnan untuk memastikan.
"Sudah Mas. "
" Apa sebaiknya kita jalan sekarang aja soalnya kan harus beli beberapa belanjaan untuk di rumah kan masih kosong banget. " Ucapnya.
" Boleh mas ya sudah kita pamit ke bunda dulu." Ucapku.
Aku dan Mas Adnan keluar kamar dan pamit ke bunda. Setelah pamit aku melihat Mas Adnan memasukkan barang ke bagasi mobilnya.
Kita cuman bawa dua koper karena memang barang aku sama Mas Adnan sedikit. Aku dan Mas Adnan juga meninggalkan baju kita di rumah bunda untuk jaga-jaga kalau kita mau nginap.
" Bun, Fifah sama Mas Adnan pamit iya. " Ucapku.
" Bunda, Adnan pamit iya nanti Adnan sama Fifah sering main-main kesini ko tenang aja. " Ucap Mas Adnan.
" Janji iya. " Ucap Bunda.
" Iya bunda sayang. " Ucapku sambil cium pipi bunda.
Dia membukakan pintu untukku. Didalam mobil hanya ada keheningan selama hampir 20 menit setelah itu Mas Adnan memberhentikan mobil didepan supermarket. Dia turun lalu membuka kan pintu untukku.
Kita pun memasuki supermarket, aku mengambil troli namun troli itu langsung ditarik ama Mas Adnan jadi Mas Adnan yang membawa troli itu.
Aku mengambil kertas daftar belanjaan dari dalam tas yang sudah aku buat tadi. Aku berjalan menelusuri tempat tempat barang kebutuhan.
Setelah selesai Aku dan Mas Adnan langsung ke kasir untuk bayar.
Aku mengeluarkan dompetku berniat untuk mengambil kartu debit ku tapi semuanya sudah didahului sama Mas Adnan, Mas Adnan membayar semuanya.
Aku melirik kearah Mas Adnan namun dia hanya diam tak menampakkan ekspresi sama sekali.
\# Didalam mobil
" Mas. " Panggil ku saat Mas Adnan sedang memasang seatbelt.
" Mas kenapa tadi Mas yang bayarin, itu kan semua keperluan aku. Aku gak mau ngerepotin Mas."
Mas Adnan hanya diam, tapi " Keperluan kamu kan tanggung jawab aku Fah. " Ucapnya yang tam sama sekali menatapku.
Aku berniat untuk menjawab tapi aku melihat Mas Adnan memberhentikan mobilnya ditepi jalan dan dia mengeluarkan dompetnya dari dalam kantong celananya.
" Pegang nih kartu debit mas, nanti mas transfer ke kamu." Ucapnya yang kembali melajukan mobilnya.
"Ih kak enggak usah kayak gini kali mas, ini kartu debit mas kenapa aku yang harus pegang." Ucap ku yang ingin mengembalikan kartu nya.
" Fah kita kan sudah suami istri dan kamu itu tanggung jawab mas, semua kebutuhan kamu itu sudah tanggung jawab. Jadi, terima ini dan pergunakan sebaiknya iya. " Ucapnya sambil mengelus kepalaku. Membuat aku tersipu malu tapi aku mengalihkan pandangan ke jendela mobil.
Aku sedikit melirik kearah Mas Adnan dia sedikit terkekeh mungkin dia lucu liat muka aku yang menggemaskan ini.
Aku melihat Mas Adnan memarkirkan mobilnya disebuah bangunan rumah yang terlihat minimalis tapi mewah.
Kurang lebih gambaran bagian depan rumah kita.
" Mas ini rumah siapa?. " Tanyaku.
" Iya rumah kita lah fah, aku sudah mempersiapkan ini untuk istriku nanti. Rumah ini sudah dibangun sudah lama tapi aku sengaja belum menempatinya karena aku akan menghadiahkan ini kepada istriku. " Ucapnya.
" Dan ini hadiah dari aku untuk kamu karena kamu istriku sekarang. " Ucapnya lagi.
Waw, ternyata Mas Adnan ini lelaki yang sangat bertanggung jawab dia sudah menyiapkan tempat tinggal untuk kita singgah.
" Ayu masuk Fah. " Kata Mas Adnan
Aku hanya tersenyum dan melangkah kaki ku mengikuti Mas Adnan ketika masuk kedalam aku dibuat lebih terkejut melihat isi dalam rumah ini. Memang rumah nya tampak sangat minimalis dari depan tapi tidak untuk di dalamnya terlihat sangat elegan dan klasik.
Tanpa aku sadari aku bengong karena masih terpukau sama rumah ini perpaduan yang sangat bagus, Mas Adnan memilih nuansa hitam putih yang membuat suasana elegan nya sangat dapat.
" Fah ko berhenti, ayo masuk." Panggilan Mas Adnan membuat aku sadar dari lamunan ku.
" Aa_ah iya Mas. " Ucapku.
" Oh iya Fah ini mbok Sum dia yang membantu umi dulu tapi sekarang sama kita dia mau nya gitu. " Ucap Mas Adnan.
" Afifah. " Ucapku menjulurkan tangan dan sambil tersenyum.
" Iya non Afifah." Ucapnya.
" Aduh mbok jangan manggil Non panggil Fifah aja anggap Fifah anak mbok aja iya jangan jadi majikan Afifah enggak biasa. " Ucapku.
" Den Adnan koper nya mau ditaruh mana?. " Ucap Pria paruh baya itu.
" Oh Iya Fah kenalin ini mang kus dia suami nya mbok sum. " Ucap Mas Adnan memperkenalkan suami mbok sum. Iya, Mang Kus dia disini sebagai tukang kebun untuk mengurus taman di halaman belakang.
" Biar Adnan aja yang bawa mang, makasih iya." Ucap Mas Adnan.
Mang Kus pun meletakkan koper nya dihadapan Mas Adnan.
" Mbok sum , mang kus kalau gitu Adnan sama Afifah ke kamar dulu iya soal nya mau merapihkan ini. " Ucap Mas Adnan.
Mas Adnan menarik tangan ku dan membawa ku ke kamar.
Sesampai nya di kamar aku dibuat terkejut lagi melihat kamar nya yang begitu cantik sekali.
" Kenapa kamu diam?. " Tanya Mas Adnan.
Aku masih tidak menjawab nya karena aku sangat terpukau sekali sama kamar nya anggap saja aku norak tapi ini kenyataanya.
" Maaf iya. " Ucap Mas Adnan buat aku kaget kenapa dia minta maaf.
" Untuk apa mas minta maaf. " Ucapku.
" Kalau ini enggak sesuai keinginan kamu karena aku juga bingung dekor nuansanya aku juga enggak tau kalau kamu lah pilihan allah untukku. " Ucapnya.
" Eum enggak gitu mas, Fifah terdiam karena ini bagus sekali mas bahkan jauh dari kata minimalis mas. " Ucapku.
" Alhamdulilah jadi kamu suka ini semua. " Tanya lagi.
Aku hanya menganggukkan kepala saja.
Aku dan Mas Adnan merapikan dan menata barang abis itu kita mandi eittts gak mandi bareng ya abis itu kita solat berjamaah dan kita langsung istirahat karena lelah banget.
Author :" Maaf iya guys kalau agak sedikit halau atau tidak nyambung sama konsep rumahnya harap di maklum kan oke :). "