Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan mempesona. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Di tempat lain ; Di mansion Opah Ethan terjadi kepanikan, karena belum ada informasi tentang keberadaan Ethan.
Setelah pengacara keluarga tiba di mansion, suasana makin sibuk dan tegang. "Pak Ken, ada apa?" Pengacara berjalan cepat mendekati Opah Ethan yang duduk di kursi kerja sambil memegang ponsel di atas meja.
"Pak Menaya, dokumen Carlos dan Judith akan saya perbaiki....." Opah Ethan langsung bicara serius dengan pengacaranya.
"Bagian mana yang akan diperbaiki, Pak?" Tanya pengacara Menaya sambil membuka note.
"Tentang Ethan. Saya akan realisasikan dalam waktu dekat, setelah bicara dengan Ethan..." Opah Ethan menjelaskan yang harus disiapkan pengacara Menaya.
Ketika diberitahu mau memperkenalkan Ethan, Opah Ethan setuju karena berpikir telah dibahas dengan Ethan dan tidak ada rencana susupan. Namun setelah melihat Ethan sangat marah, Opah Ethan langsung turun tangan.
Apa lagi setelah melihat rekaman cctv kantor, Opah Ethan merasa ada yang tidak beres dengan Papah Ethan. Hal serius yang harus di bicarakan, tidak dibahas dengannya dan Ethan.
"Pak Ethan ada di sini, Pak?" Pengacara Menaya bergerak cepat, karena melihat Opah Ethan sedang menahan emosi dan sangat serius.
"Saya sedang menunggu kabar. Tadi ada masalah dengan orang tuanya...." Opah Ethan menjelaskan peristiwa yang terjadi hingga Ethan pergi. Agar pengacara Menaya tahu latarbelakang tindakan yang akan diambil.
"Baik, Pak Ken. Sepertinya Pak Carlos lupa, atau mungkin berpikir Pak Ken sudah lupa dengan perjanjian itu. Karena sudah hampir 30 tahun."
Pengacara Menaya jadi ingat dia masih muda saat ditunjuk menjadi pengacara untuk mendampingi Opah Ethan dan belum jadi pengacara keluarga.
"Mungkin dia berpikir, setelah Ethan dewasa dan selalu bersama mereka dan menurut apa kata mereka, jadi lupa diri." Opah Ethan membenarkan yang dikatakan pengacaranya.
"Itu yang saya pikirkan. Ada beberapa kali, Pak Carlos tidak melibatkan saya sebagai pengacara keluarga."
"Mengapa anda tidak bilang?" Opah Ethan terkejut.
"Saya berpikir, itu masih skala kecil. Mungkin beliau ingin privasi dalam tindakan tertentu dan tidak menyalahi aturan."
"Setelah ini, saya akan evaluasi semua aspek yang berkaitan dengannya. Sekarang kita fokus dulu untuk mengetahui keberadaan Ethan." Opah Ethan berdiri menuju sofa.
"Gerry, belum ada kabar?" Tanya Opah Ethan setelah duduk bersama pengacara Menaya.
"Belum, Pak Ken. Saya sedang berkoordinasi dengan Pak Rion juga, Pak. Beliau punya akses lebih banyak dengan Pak Ethan." Gerry menjelaskan, agar Opah Ethan bisa tenang.
Ketika Opah Ethan sedang berdiskusi dengan pengacara Menaya untuk mengeksekusi perjanjian yang dibuat dengan Papah dan Mamah Ethan, Gerry terima telpon dari Polantas yang diminta tolong. "Pak Gerry, mobil yang bapak beritahukan untuk ditahan alami kecelakaan."
"Apa? Sebentar, Pak." Gerry berjalan cepat dan letakan ponsel di meja depan Opah Ethan sambil memberikan isyarat, bahwa telpon dari Polantas.
"Ada apa, Pak? Saya Kendrick." Opah Ethan menyebutkan namanya sambil memegang dada.
"Oh, Pak Ken. Mobil yang diminta tadi, alami kecelakaan tunggal di tol menuju bandara. Kami dalam perjalanan ke sana." Polantas melapor. Opah Ethan langsung memegang pegangan sofa, karena mendengan sirine mobil polisi meraung-raung.
Gerry bergerak cepat mendekati Opah Ethan dan memegang bahunya untuk menenangkan. "Pak, apa pun yang terjadi dengan pengemudinya, tolong bawa cucu saya ke rumah sakit..." Opah Ethan menyebut nama rumah sakit swasta terdekat dengan bandara.
"Siap, Pak." Polantas sigap, karena tahu siapa yang berbicara dan mengerti maksudnya. Agar cucunya tidak dibawa ke rumah sakit asal.
"Terima kasih, Pak. Kami tunggu bapak di rumah sakit..." Pengacara Meyana mengambil alih, karena melihat kondisi Opah Ethan tidak baik dan Gerry sedang telpon dokter keluarga juga pihak-pihak yang akan membantu Ethan dan Opahnya.
"Gerry, bilang sopir untuk siap-siap. Kita ke rumah sakit." Ucap Opah Ethan sambil berdiri. Tetapi karena oleng, Gerry dan pengacara segera memegang lengan Opah Ethan.
"Gerry, telpon Rion. Bilang dia segera ke tempat kecelakaan." Opah Ethan meminta Gerry melepaskan tangannya, agar bisa lakukan yang diminta. "Sudah, Pak."
Pengacara Menaya melingkarkan tangan ke bahu Opah Ethan, karena merasa tubuhnya gemetar. "Pegangan pada saya, Pak. Pak Ethan tidak apa-apa." Pengacara coba menghibur. Opah Ethan tidak mau menjawab, karena belum ada kepastian dari Polantas tentang kondisi cucunya
Gerry yang sudah melepaskan tangan dari Opah Ethan, segera menelpon Rion dan sopir untuk siap-siap. "Kita satu mobil saja. Mobil Pak Menaya tinggal di sini." Opah tidak mau pengacara Menaya terpisah darinya, karena ada banyak hal yang harus dibicarakan dan kerjakan.
"Baik, Pak. Nanti sopir bawa mobil saya ke rumah sakit." Pengacara Menaya mengerti maksud Opah Ethan. Sehingga setelah aman dalam mobil, ia menelpon sopir untuk mengikuti mereka.
Opah Ethan hanya diam dan memegang pahanya yang bergetar dengan kedua tangan sambil menunggu informasi dari Gerry dan Rion. 'Oh, Tuhan. Tolong selamatkan cucuku. Tolong ampuni kemarahannya.' Opah Ethan berdoa dalam hati berulang kali.
Gerry terus melakukan komunikasi dengan Polantas dan Rion yang sudah dalam perjalanan ke bandara. "Pak, usahakan jangan sampai diendus media." Gerry mengingatkan.
"Pak, minta tolong Polantas di sana, ya. Saya tidak bisa cepat tiba, karna gerimis, jalanan licin." Rion minta tolong, karna akses Gerry yang berhubungan dengan Polantas.
"Baik. Hati-hati." Gerry menyadari situasi jalanan yang dimaksudkan Rion. Dia segera menghubungi Polantas untuk minta tolong. Opah Ethan, tidak mau kecelakaan Ethan terekspos.
"Terlambat, Pak. Kecelakaan mobil mewah sudah disiarkan oleh pengendara mobil lain yang ada di tol menuju bandara." Polantas memberitahukan kondisi yang terjadi. Gerry terhenyak dan tidak berani memberitahukan Opah Ethan.
Gerry segera membuka sosial media dan mencari berita kecelakaan mobil di televisi. Agar dia bisa tahu harus melakukan apa. "Pak Ken, maaf. Berita kecelakaan sudah tersebar, karna ada pengendara lain di tol yang posting...." Gerry terpaksa memberitahukan, karena berita kecelakaan sudah tersebar.
"Cegah sebisanya, agar nama Ethan tidak muncul. Apa mereka sudah bawa ke rumah sakit?" Opah Ethan lebih khawatir kondisi Ethan dari pada berita kecelakaan.
"Pak Menaya, tolong tangani kasus hukumnya, kalau ada yang memberitakan negatif tentang Pak Ethan." Opah Ethan mengingatkan pengacara sebelum tiba di rumah sakit.
Ketika mendengar suara sirine polisi dan ambulans dari jauh, Opah Ethan memegang kuat kedua lututnya. 'Tuhan, tolong selamatkan cucuku. Tolong ampuni kemarahannya.' Opah Ethan hanya mengulang doa permohonan yang sama mengingat kemarahan Ethan.
"Pak, mobil ambulance yang mendekati rumah sakit ini, pasien dari kecelakaan di tol bandara?" Gerry bertanya kepada Polantas.
"Iya, Pak." Kami sudah dekat...." Polantas yang mendampingi melapor.
"Baik, Pak. Kami sudah tunggu." Gerry berkata cepat, lalu menghubungi dokter keluarga untuk bersiap-siap.
Opah Ethan terus berdoa sambil turun dari mobil. Dokter keluarga bergerak cepat mendekatinya untuk memberi pertolongan. "Jangan pedulikan saya. Tolong tangani Ethan..." Ucap Opah Ethan dengan mata berkaca-kaca.
...~•••~...
...~•○♡○•~...
. menyelesaikan solusi masalah