"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: ASAH DI BALIK KESUNYIAN
Pagi setelah badai amarah Adrian berlalu, kamar itu tampak seperti medan perang yang sunyi. Bi Inah datang dengan wajah pucat dan mata sembab untuk membersihkan pecahan vas serta bulu-bulu bantal yang berserakan. Ghea hanya diam di atas ranjang, memperhatikan setiap gerakan wanita tua itu. Tubuhnya masih lemas, tapi suhu badannya sudah mulai turun.
Pikiran Ghea kini jauh lebih jernih. Amukan Adrian semalam adalah peringatan terakhir: pria itu tidak akan segan menghancurkan apa pun—termasuk kewarasan Ghea—demi sebuah kepemilikan mutlak.
Setelah Bi Inah pergi, Ghea meraba bagian dalam bantal utamanya. Jari-jarinya menyentuh logam dingin yang masih setia di sana. Kunci Titanium.
Ghea turun dari tempat tidur dengan langkah perlahan. Ia duduk di lantai, bersandar pada rangka ranjang yang terbuat dari besi tempa yang kokoh dan memiliki sudut yang agak kasar di bagian bawahnya. Dengan napas tertahan, ia mulai menggesekkan pinggiran kunci titanium itu pada sudut besi ranjang.
Sret... sret... sret...
Suara gesekan logam itu terdengar sangat nyaring di telinganya, membuatnya terus waspada ke arah pintu. Ia harus melakukannya dengan sabar. Ia tidak hanya butuh kunci, ia butuh senjata. Titanium adalah logam yang sangat kuat; jika ia bisa menajamkan salah satu ujungnya, kunci itu bisa menjadi belati kecil yang mampu merobek kulit atau melumpuhkan saraf jika ditusukkan ke titik yang tepat.
"Kau pikir aku hanya seorang detektif yang bisa kau kurung, Adrian?" gumam Ghea pelan, tangannya terus bergerak maju mundur. "Aku adalah orang yang dilatih untuk bertahan hidup di kondisi paling buruk sekalipun."
Ghea membayangkan leher Adrian. Ia membayangkan titik di mana ia harus menusukkan logam ini jika Adrian mencoba menyentuhnya secara paksa lagi. Rasa takutnya kini telah mengkristal menjadi tekad yang dingin.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di koridor. Ghea dengan sigap menyelipkan kembali kunci itu ke dalam jahitan bantal dan kembali berbaring, menarik selimut hingga ke dagu.
Pintu terbuka. Adrian masuk dengan wajah yang nampak sangat menyesal. Pria itu membawa buket bunga lili putih yang aromanya sangat kuat.
"Ghea? Kau sudah bangun?" Adrian duduk di tepi ranjang, mencoba meraih tangan Ghea.
Ghea tidak menarik tangannya, tapi ia membiarkannya terkulai lemas. "Aku masih pusing, Adrian."
"Maafkan aku soal semalam, Sayang. Aku... aku hanya sangat takut kehilanganmu. Nama pria itu adalah pemicu trauma bagiku," Adrian mengusap punggung tangan Ghea dengan lembut, seolah ia bukan pria yang beberapa jam lalu menghancurkan isi kamar ini. "Aku sudah membuang semua barang yang rusak. Aku akan menggantinya dengan yang baru. Apa pun yang kau inginkan, akan kuberikan."
Ghea menatap mata Adrian, mencoba memalsukan tatapan kosong dan pasrah. "Aku hanya ingin semuanya kembali normal, Adrian. Aku tidak ingin ada amarah lagi."
Adrian tersenyum lebar, tampak lega karena mengira Ghea telah sepenuhnya tunduk. "Tentu, Sayang. Semuanya akan menjadi sangat normal. Bahkan lebih baik dari sebelumnya."
Adrian mencium kening Ghea cukup lama. Ghea memejamkan mata, menahan rasa jijik yang memuncak. Di dalam pikirannya, ia terus menghitung: Satu hari lagi. Aku hanya butuh satu atau dua hari lagi untuk memastikan kunci ini cukup tajam.
"Aku punya kejutan besar untukmu besok lusa," bisik Adrian sebelum beranjak pergi. "Istirahatlah yang cukup. Kau harus tampil cantik untuk hari spesial kita."
Setelah Adrian keluar, Ghea kembali bangkit. Ia tidak peduli dengan kejutan apa pun. Ia hanya peduli pada logam di tangannya. Ia kembali mengasah kunci itu dengan ritme yang lebih cepat. Setiap gesekan adalah satu langkah menuju kebebasannya.
Ia tahu, villa ini dipenuhi sensor. Ia tahu Adrian mengawasinya lewat CCTV. Tapi Adrian tidak bisa melihat apa yang terjadi di kolong tempat tidur, di balik bayang-bayang rangka besi. Ghea menggunakan kain sprei untuk meredam suara gesekan logam tersebut.
Sret... sret...
Kunci itu kini mulai berkilau di bagian ujungnya. Tajam dan mematikan. Ghea tersenyum tipis—sebuah senyum yang tidak pernah dilihat oleh Adrian. Detektif Ghea Zanna telah kembali, dan kali ini, dia tidak akan membiarkan siapa pun memotong "rem" kehidupannya lagi.
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....