Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Spesial: Epilog Keabadian – Di Antara Garis Dosa dan Cinta
Bab Spesial: Epilog Keabadian – Di Antara Garis Dosa dan Cinta
Langit di pesisir tersembunyi sebuah pulau pribadi di Maladewa tampak seperti kanvas yang tumpah oleh cat warna jingga, ungu, dan merah darah. Ombak membasuh pasir putih dengan suara desis yang menenangkan, seolah ingin mencuci semua sejarah kelam yang pernah melekat pada nama Arini Atmadja. Di pulau ini, tidak ada menara kaca Jakarta, tidak ada sirine polisi, dan tidak ada jeritan dari masa lalu. Hanya ada kesunyian yang mahal.
Arini berdiri di beranda vila kayunya yang menjorok ke laut. Gaun sutra tipis berwarna putih gading melambai pelan ditiup angin laut. Di tangannya, ia memegang segelas champagne, namun matanya terpaku pada sosok kecil yang sedang bermain di tepi air bersama seorang pria.
Anak itu, Lucifer—atau kini ia panggil dengan nama yang lebih manusiawi, Luka—telah tumbuh menjadi balita yang luar biasa cerdas. Dan pria yang menjaganya, pria yang akhirnya kembali setelah setahun pelariannya mencari jati diri, adalah Bima.
Bima tidak bisa benar-benar pergi. Meski ia membenci kegelapan yang sempat menyelimuti Arini, ia menyadari bahwa ia adalah satu-satunya jangkar yang bisa menjaga Arini agar tidak tenggelam sepenuhnya ke dalam kegilaan. Ia kembali bukan sebagai pelindung atau pengawal, melainkan sebagai seorang pria yang menerima bahwa cintanya pada Arini adalah sebuah takdir yang cacat namun nyata.
"Dia sudah mulai mengantuk," suara Bima memecah lamunan Arini. Bima berjalan mendekat sambil menggendong Luka yang sudah terkulai lemas di bahunya.
Arini tersenyum, sebuah senyuman yang kini memiliki binar kehidupan, bukan lagi senyum es yang mematikan. "Bawa dia ke dalam, Bima. Aku akan menyusul."
Setelah memastikan sang putra tertidur lelap dalam penjagaan ketat sistem keamanan yang kini Arini gunakan untuk melindungi, bukan untuk mengurung, Bima kembali ke beranda. Ia mendekati Arini dari belakang, melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu, dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Arini.
"Kau memikirkan apa?" bisik Bima.
"Tentang bagaimana kita bisa sampai di sini," jawab Arini pelan. "Tentang semua darah yang harus tumpah agar kita bisa memiliki senja sesederhana ini."
Bima membalikkan tubuh Arini agar mereka berhadapan. Di bawah cahaya bulan yang mulai naik, mata mereka bertemu. Ada kedalaman yang tak terukur di sana—sejarah pengkhianatan, luka tembak, kehilangan, dan gairah yang tak pernah padam.
"Jangan melihat ke belakang lagi, Arini," ucap Bima sungguh-sungguh. "Malam ini, hanya ada aku dan kau. Bukan sebagai penguasa, bukan sebagai pelarian. Hanya sepasang manusia yang lelah dan ingin pulang."
Bima mengangkat Arini dengan lembut, membawanya masuk ke dalam kamar utama yang jendelanya terbuka lebar memamerkan cakrawala malam. Ia membaringkan Arini di atas ranjang yang ditaburi kelopak bunga mawar, bukan lili putih yang dulu melambangkan obsesi Reihan, melainkan mawar merah yang melambangkan kehidupan dan gairah yang murni.
Di sana, di bawah cahaya lilin yang temaram, mereka memulai sebuah tarian cinta yang paling intim yang pernah mereka alami. Tidak ada lagi rasa curiga yang mengintai di balik pintu, tidak ada lagi bayang-bayang tiran yang mengawasi dari balik cermin.
Bima menanggalkan pakaian Arini dengan sangat perlahan, seolah sedang membuka sebuah kado yang paling rapuh di semesta. Ia mencium bekas luka operasi di perut Arini—bekas luka tempat Luka dikeluarkan secara paksa dulu—dengan penuh rasa hormat dan cinta.
"Kau indah, Arini. Dengan semua lukamu, kau tetap yang terindah," gumam Bima.
Gairah mereka meledak dalam kelembutan yang menghanyutkan. Arini mencengkeram bahu kokoh Bima, merasakan setiap otot dan detak jantung pria itu yang berdegup hanya untuknya. Setiap sentuhan Bima terasa seperti obat yang menghapus trauma masa lalu. Jika dulu seks adalah alat kekuasaan bagi Reihan, kini bersama Bima, itu adalah bentuk penyatuan jiwa.
Arini membalas ciuman Bima dengan lapar, sebuah kelaparan akan kasih sayang yang telah ia tekan selama bertahun-tahun. Mereka bercinta dengan ritme ombak yang menghantam karang di luar sana—terkadang tenang dan mendalam, terkadang liar dan bertenaga. Di puncak kenikmatannya, Arini meneriakkan nama Bima, bukan dalam ketakutan, melainkan dalam kebahagiaan yang murni.
Mereka berbaring berpelukan setelah badai gairah itu mereda, kulit mereka masih bersentuhan, lembap oleh keringat dan sisa-sia kebahagiaan.
"Bima..." bisik Arini di tengah kesunyian malam. "Apakah kau pikir Reihan benar-benar sudah berakhir?"
Bima mempererat pelukannya, seolah tidak akan membiarkan satu inci pun celah bagi dunia luar untuk masuk. "Reihan adalah masa lalu yang sudah terbakar menjadi abu. Luka adalah masa depan yang akan kita bentuk agar tidak menjadi seperti ayahnya. Dan kita... kita adalah masa kini yang abadi."
Arini memejamkan mata, menghirup aroma maskulin Bima yang menenangkan. Ia tahu bahwa di luar sana, dunia mungkin masih menyimpan banyak bahaya. Ia tahu bahwa darah Atmadja di dalam nadinya dan nadi Luka akan selalu menjadi magnet bagi konflik. Namun, malam ini, ia memilih untuk percaya pada cinta.
Ia telah menghancurkan kerajaan ayahnya, ia telah melampaui kegilaan suaminya, dan ia telah bangkit dari kematian jiwanya sendiri.
Di atas pulau terpencil itu, di bawah saksi bintang-bintang, Sang Ratu Es benar-benar telah tiada. Yang tersisa hanyalah seorang wanita bernama Arini, yang akhirnya menemukan takhta sejatinya bukan di menara pencakar langit, melainkan di dalam pelukan pria yang mencintainya tanpa syarat.
Senja berganti malam, malam berganti fajar. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arini tidak takut untuk terbangun esok pagi. Karena ia tahu, apa pun yang terjadi, ia tidak akan pernah lagi menghadapi dunia sendirian.
— TAMAT —