NovelToon NovelToon
AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:24.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.

Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.

​Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.

Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!

​"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"

Jam update:07:00-12:00-20:00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Sabotase dan Siasat

Matahari Jakarta baru saja terbenam, menyisakan langit berwarna jingga keunguan yang terlihat kontras dengan kerangka bangunan Grand Batavia Hotel. Bagi Senja Amara, keindahan itu adalah awal dari kecemasan yang nyata. Sejak pagi tadi, operasional proyek pertamanya sebagai pemilik firma mandiri benar-benar lumpuh. Tiga truk semen yang seharusnya melakukan pengecoran fondasi sayap barat tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.

​Senja berdiri di tengah area proyek yang berdebu, ponselnya menempel di telinga dengan urat leher yang tampak menegang. "Pak, saya sudah membayar uang muka lima puluh persen. Kontrak kita mengikat secara hukum. Apa alasan logis kalian membatalkan pengiriman lima menit sebelum jadwal?"

​Suara di seberang telepon, seorang pemilik depo material yang biasanya ramah, kini terdengar gemetar dan penuh ketakutan. "Maaf sekali, Bu Senja... saya tahu ini tidak profesional. Tapi saya baru saja mendapat telepon dari manajemen pusat Artha Group. Mereka mengancam akan memutus seluruh kontrak pengadaan material untuk sepuluh proyek besar mereka di Jakarta jika saya mengirim satu sak semen saja ke lokasi Ibu. Saya punya ratusan karyawan yang harus makan, Bu. Saya tidak bisa melawan raksasa seperti Aditya Artha."

​Senja mematikan ponselnya tanpa sepatah kata pun. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya. Ia tidak perlu lagi bertanya-tanya. Ini adalah cara main Aditya—pria yang dulu berpura-pura menjadi pahlawannya, kini justru berubah menjadi algojo yang ingin memotong urat nadi kariernya.

Tak lama kemudian, sebuah pesan singkat masuk. Sebuah foto lobi kantor Artha Group yang megah, disusul teks yang membuat darah Senja mendidih: "Pintuku selalu terbuka jika kamu mau mengakui bahwa kamu tidak bisa bertahan sedetik pun tanpa bantuanku. Jangan biarkan egomu yang setinggi langit itu menghancurkan masa depanmu, Senja. Kamu tahu aku bisa melakukan lebih dari sekadar menghentikan semen."

​Senja melempar ponselnya ke atas tumpukan palet kayu. "Bajingan kamu, Adit! Kamu pikir aku akan merangkak kembali?"

​Senja tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam amarah. Ia memanggil Mandor kasar kepercayaannya, Pak joko, seorang pria paruh baya yang setia mengikuti Senja sejak ia masih di firma lamanya di Semarang.

​"Pak Joko, kumpulkan semua pekerja yang menginap di barak. Saya punya firasat malam ini tidak akan tenang," perintah Senja dengan suara rendah tapi tajam.

​"Maksud Mbak Senja? Apa ada yang mau menyerang?" tanya Pak Joko cemas.

​"Aditya sudah mulai menutup keran material saya. Langkah selanjutnya biasanya adalah sabotase fisik agar proyek ini dianggap tidak aman dan izinnya dicabut. Saya ingin semua akses masuk dipantau. Dan pasang kamera infra merah di titik-titik buta yang baru saja saya tandai di denah ini," jelas Senja sambil membentangkan kertas kalkir di atas kap mobilnya.

...----------------...

​Malam itu, Senja tidak pulang ke apartemennya. Ia duduk di dalam sebuah kontainer bekas yang dijadikan kantor sementara di lokasi proyek. Di depannya, sebuah monitor kecil menampilkan gambar hitam putih dari berbagai sudut gedung. Udara malam terasa pengap dan lembap, tapi Senja tetap waspada dengan secangkir kopi hitam pahit di tangannya.

Sekitar pukul dua dini hari, sensor pada salah satu kamera berbunyi lirih. Senja menajamkan penglihatannya. Di layar, terlihat tiga orang pria bertopeng merayap masuk melewati pagar seng yang sengaja dikendurkan. Mereka membawa jerigen plastik besar yang baunya bisa tercium bahkan dari kejauhan: bensin.

​"Mereka mau membakar tumpukan kayu perancah dan gudang logistik kita," desis Senja ke arah walkie-talkie.

"Pak Joko, instruksikan anak-anak bergerak melingkar. Jangan nyalakan lampu sampai saya beri aba-aba. Kita tangkap mereka saat mereka sedang menuangkan bensin."

​Ketiga penyusup itu tampak sangat percaya diri. Mereka mulai menyiramkan bensin ke arah perancah bambu yang kering. Saat salah satu dari mereka merogoh saku untuk mengambil korek api, Senja memberikan komando.

​"SEKARANG!"

​Mendadak, enam lampu sorot raksasa berkekuatan tinggi yang sudah dipasang di lantai atas menyala secara serentak, membutakan mata para penyusup tersebut. Sepuluh pekerja bangunan yang membawa kayu dan besi steger langsung mengepung mereka dari segala arah. Ketiga pria itu jatuh terduduk, menutupi mata mereka yang kesakitan karena cahaya yang menyilaukan.

​Senja melangkah keluar dari bayang-bayang dengan langkah yang tenang tapi penuh intimidasi. Ia memegang ponselnya yang sedang merekam setiap detik kejadian itu dalam kualitas definisi tinggi.

​"Kalian punya dua pilihan," ucap Senja, suaranya terdengar sangat dingin di tengah keheningan malam. "Masuk penjara dengan tuduhan percobaan pembakaran berencana dan sabotase properti nasional—karena hotel ini adalah bangunan cagar budaya—atau kalian beritahu saya sekarang juga, siapa yang memberikan perintah ini dan berapa kalian dibayar?"

​Salah satu pria yang tampak paling muda langsung gemetar hebat. "Jangan lapor polisi, Mbak! Kami cuma orang suruhan! Kami disuruh oleh Pak Dani, supir pribadi Pak Aditya Artha! Ini... ini uang mukanya masih ada di saku saya, lima juta rupiah!"

Senja tersenyum puas, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Rekam pengakuan mereka, Pak Joko. Pastikan wajah mereka dan uang itu terlihat jelas."

...----------------...

​Keesokan paginya, Senja tidak mendatangi kantor Aditya. Ia tahu Aditya akan sangat lihai berkelit di depan hukum. Ia justru memacu mobilnya menuju sebuah rumah megah di kawasan Menteng—kediaman Ibu Artha, pemegang saham mayoritas sekaligus ibu kandung Aditya.

​Di ruang tamu yang dipenuhi barang-barang antik berharga miliaran rupiah, Senja duduk dengan tenang. Ibu Artha menyambutnya dengan tatapan sedikit merendah, tapi tetap sopan.

​"Ada angin apa Senja kemari? Bukankah kamu sudah mengundurkan diri dengan cara yang kurang baik dari perusahaan kami?" tanya Ibu Artha sambil menyesap tehnya.

​Senja tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meletakkan tabletnya di atas meja marmer dan memutar video pengakuan preman tersebut serta rekaman percobaan pembakaran semalam. Wajah Ibu Artha yang tadinya tenang, mendadak berubah pucat pasi. Tangannya yang memegang cangkir tampak gemetar.

​"Putra Ibu bukan hanya mencoba menghancurkan bisnis saya, tapi dia mencoba melakukan tindak pidana yang bisa menyeret nama besar 'Artha' ke dalam lumpur kehinaan. Jika bangunan cagar budaya ini terbakar semalam, Ibu tahu betul konsekuensi hukum dan sosialnya bagi keluarga Ibu," ucap Senja dengan nada yang sangat stabil.

​"Apa... apa yang kamu inginkan, Senja? Uang? Kamu mau kembali ke perusahaan?" tanya Ibu Artha dengan suara yang mulai serak.

​"Saya tidak butuh uang Ibu, dan saya sudah muak dengan perusahaan Anda," sahut Senja tegas.

"Saya hanya ingin jaminan tertulis—atau setidaknya perintah langsung dari Ibu—agar mulai detik ini, tidak ada satu pun penyuplai material di Jakarta yang diganggu oleh Aditya. Jika dalam waktu satu jam ke depan semen saya belum sampai ke lokasi, video ini akan menjadi pembuka di berita nasional jam dua belas siang nanti. Dan Ibu tahu, saya tidak pernah menggertak."

​Ibu Artha terdiam, ia melihat sorot mata Senja yang kini sudah tidak lagi memiliki rasa takut. Ia sadar, Senja bukan lagi menantu pilihan atau karyawan yang bisa ia tekan. Senja adalah ancaman nyata.

​"Baik. Saya sendiri yang akan memastikan Aditya berhenti melakukan kegilaan ini. Dia akan saya kirim ke cabang luar negeri untuk sementara jika perlu," ucap Ibu Artha dengan nada memohon.

​Saat Senja berjalan keluar menuju parkiran, ia berpapasan dengan mobil Aditya yang baru saja tiba. Aditya turun dengan wajah yang awalnya penuh kemenangan—ia mengira Senja datang untuk memohon pada ibunya agar ia bisa kembali bekerja.

​"Wah, wah... lihat siapa yang akhirnya menyerah dan datang ke rumah Ibuku?" sindir Aditya dengan senyum meremehkan. "Sudah kubilang kan, Senja? Kamu itu tidak bisa apa-apa tanpa..."

​Senja berhenti tepat di depan Aditya. Ia menatap pria itu dengan rasa muak yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi.

"Ibumu baru saja menonton film pendek yang sangat menarik tentang supir pribadimu dan bensin, Adit. Selamat menikmati hukuman dari 'benteng' terakhirmu. Dan jangan pernah berani menyentuh proyekku lagi, atau aku yang akan memastikan nama kamu hanya akan diingat sebagai narapidana, bukan pengusaha."

​Senja melenggang pergi, masuk ke mobilnya dengan anggun. Melalui spion, ia bisa melihat Aditya yang mematung, lalu berlari masuk ke dalam rumah dengan wajah panik saat mendengar teriakan ibunya dari dalam.

​Kemenangan ini terasa jauh lebih manis daripada kemenangan tender kemarin. Senja menyadari, ia tidak butuh pahlawan. Ia adalah pahlawannya sendiri.

1
Risa Yayang Cinta Sejati
Axel kamu hebat banget deh sampai mau jadi tameng Senja dan menyelesaikan masalah Senja
@Yayang Risa💏🤵👰👨‍👩‍👦👨‍
Axel lebih memilih Senja karena Clara pernah berkhianat
@Yayang Risa💏🤵👰👨‍👩‍👦👨‍
Senja ayo berani lawan Clara karena Axel memilihmu
@Yayang Risa💏🤵👰👨‍👩‍👦👨‍
Rangga makanya ngga usah bikin masalah sama Senja tanggung akibatnya
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Axel kamu gentle membawa Senja ke acara dan akan memperkenalkan Senja ke semua orang
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Rangga kamu ketakutan banget sampai menuruti perintah Axel
Suamiku Paling Sempurna
Clara pasti akan merencanakan sesuatu supaya Axel dan Senja ngga bersatu tuh
Suamiku Paling Sempurna
Clara menyusun rencana supaya Axel kembali padanya dan menjauhi Senja
Suamiku Paling Sempurna
Axel punya bukti percakapan Rangga dengan asisten Aditya membuat Rangga takut
Risa Istri Cantik
Axel sama Senja apa bakal di restui sama papanya Axel karena papanya Axel cuma mentingin bisnis
Risa Istri Cantik
Wah Senja buruan siap siap Axel akan menjemput kamu ke acara tersebut
Risa Istri Cantik
Rangga kamu mengancam Axel akan menyebarkan berita putra Baskoro melakukan kekerasan
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
sinta pliss sadar kasian kamu sin😭
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
usaha dia sia" buat bantu rangga😭
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
parah sinta lebih bodoh dari senja😭
Yayang Suami Risa
Senja Axel mengorbankan posisinya menjadi pewaris karena mencintai kamu
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
sinta jangan bodoh kamu😭
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
sadar sin sadar
Yayang Suami Risa
Senja kamu cantik sampai Axel terpesona sama kecantikan kamu
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
pelan pelan ajaa sin biar ngerasaain 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!