NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.

Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.

Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.

Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.

Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.

Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Draft

Perjalanan ke Jakarta mereka lakukan dua hari setelah lamaran itu. Tidak ada iring-iringan layaknya lamaran pada umumnya, mereka melakukan itu benar-benar sederhana, hanya sebuah cincin.

  Dan pagi ini tekad keduanya sudah bulat, tidak ada kabar besar, hanya dua tas kecil dan satu niat yang sudah mereka bicarakan, Bayu menggandeng tangan Alya, grab yang mereka pesan sudah berhenti di depan rumah.

  Dengan tatapan hangat, Bayu mengajak Alya melangkah memasuki mobil. Setelahnya mesin mobil dinyalakan, perlahan rumah Halimah hilang dari pandangannya, dan mobil terus melaju sampai ke Bandara Blimbing Sari.

  "Bay," panggil Alya pelan.

  "Iya," sahut Bayu.

  Alya terdiam, tiba-tiba ia memberhentikan langkahnya.

  "Kenapa?" tanya Bayu.

 "Aku sebenarnya masih marah, tapi ...," ucap Alya menggantung.

  "Itu hal yang wajar," kata Bayu berbicara tanpa menghakimi.

  "Nanti setelah kita bicara, aku tidak ingin tinggal di rumah keluargaku," sahut Alya akhirnya.

  "Aku ngerti, nanti aku carikan tempat ya," ucap Bayu.

  Alya mengangguk, Bayu segera menggandeng tangan Alya untuk segera masuk ke bandara, karena sebentar lagi pesawat sudah landing.

☘️☘️☘️☘️☘️

Jakarta menyambut mereka dengan panas yang berbeda. Lebih pengap. Lebih bising. Lebih padat, seperti ingatan Alya tentang hidup yang dulu ia tinggalkan, begitu menyakitkan, bahkan meskipun sudah berbulan-bulan luka itu ia tinggalkan, tapi belum sepenuhnya hilang meskipun hatinya sudah memaafkan.

Bayu tidak banyak bicara selama perjalanan. Tangannya sesekali menyentuh punggung tangan Alya di kursi Grab, seolah memastikan ia tidak sendirian menghadapi ini.

Rumah orang tua Alya tampak lebih sepi dari bayangannya. Cat dinding mulai kusam. Pagar tidak lagi berdecit keras seperti dulu. Dan di ruang tengah, aroma obat-obatan mengalahkan bau masakan.

Bapaknya terbaring di kamar depan. Tubuhnya lebih kurus. Napasnya pendek-pendek. Saat Alya masuk, pria itu membuka mata perlahan.

“Alya?” suaranya lemah, nyaris tidak percaya.

Alya mendekat, duduk di sisi ranjang, menahan getar di dadanya. “Iya, Yah. Aku pulang.”

Keduanya tidak saling berpelukan, dan tidak ada setetes air mata yang keluar, namun tangan Alya digenggam lama oleh sang ayah, seolah tidak ingin melepaskan, entah ucapan apa yang ingin disampaikan oleh pria paruh baya itu.

Bayu berdiri sopan di dekat pintu.

“Itu…?” tanya sang ayah pelan.

“Aku datang minta izin,” jawab Alya jujur. “Aku mau menikah.”

Hening menggantung beberapa detik. Bukan karena marah. Tapi karena kenyataan itu datang lebih cepat dari yang dibayangkan.

Ayah Alya menatap Bayu lama. “Kamu tahu anak saya keras.”

Bayu mengangguk. “Saya tahu. Dan saya datang bukan buat mengubahnya. Saya mau jalan bareng.”

Tidak ada restu yang diucapkan panjang-panjang. Hanya satu kalimat pendek yang terasa berat dan berarti:

“Kalau kamu bikin dia pulang dengan tangis, saya tidak akan diam.”

Bayu menjawab tanpa ragu, “Saya janji jaga. Bukan karena takut, tapi karena saya memilih.”

Alya menunduk. Dadanya bergetar, tapi ia menahan air mata.

☘️☘️☘️☘️

Relia, muncul dari kamar belakang sambil menggendong bayi yang baru berusia dua bulan. Wajahnya pucat. Matanya sembab. Senyumnya tipis, nyaris formal.

“Kak,” sapa Relia singkat.

  Alya menatapnya sekilas, ada getaran lain, entah kenapa ia masih ragu untuk bertegur sapa, namun lagi-lagi tangan Bayu menepuk punggungnya seolah paham dengan apa yang dialami oleh calon istrinya itu.

  "Sabar, aku ngerti di posisi mu gak mudah," bisik Bayu.

  Alya menatap Bayu, lalu menoleh ke arah Relia, dan pada akhirnya Alya memeluk adiknya pelan, entah hatinya harus menerima atau tidak, yang jelas untuk kali ini Alya hanya mencoba berdamai dengan dirinya sendiri.

  "Maafkan aku Kak," ucap Relia.

  Alya hanya terdiam sepersekian detik, lalu tatapannya turun melihat bayi itu tertidur di pelukan ibunya, ada rasa iba di dalam hatinya, tapi jika mengingat kelakukan kedua orang tuanya rasanya tidak sanggup untuk sekedar menatap.

  "Jangan benci dia, dia gak salah apa-apa," kata ibunya.

  Alya tersenyum kikuk tapi tangannya tiba-tiba terulur untuk mengelus pipi mungil itu.

  "Namanya siapa?" tanya Alya.

  "Aurel," sahut ibunya.

"Nama yang indah, semoga kamu jadi anak yang baik kelak," ucap Alya akhirnya.

Sementara dari dapur terdengar suara piring dibanting pelan, dan hal itu selalu sering terjadi, hingga membuat penghuni lainnya merasa tidak aman.

Randa semakin hari pria itu semakin berubah, bukan justru memperbaiki diri. Relia langsung menyusul ke dapur.

Ia berdiri di ambang pintu, tidak berteriak, hanya menatap suaminya dengan tatapan dingin.

"Bisa gak sekali saja tidak buat onar, masih pagi," kata Relia.

"Kamu benar-benar istri yang tak pernah hargai suami," cetus Randa.

“Aku salah apa lagi?” suara Relia pecah di antara napasnya.

Randa tidak menjawab. Ia hanya keluar rumah, menyalakan motor, pergi tanpa pamit, dan cekcok kecil seperti ini sudah sering terjadi.

Relia menekan dada yang terasa sakit, ingin rasanya ia berteriak, tapi terlalu malu dengan jalan yang sudah ia pilih sendiri.

Relia duduk lemas di kursi. “Dia berubah sejak aku melahirkan,” katanya lirih. “Atau mungkin… aku yang terlalu capek.”

Alya tidak langsung merespons. Tangannya berhenti di udara, lalu turun perlahan. Tatapannya tak sepenuhnya dingin, tapi juga tak hangat.

“Capek itu wajar,” katanya akhirnya. “Tapi capek nggak selalu menjelaskan semuanya.”

Relia menoleh. “Kak…”

Alya menghela napas pendek. “Aku nggak datang buat menilai. Tapi juga jangan minta aku pura-pura lupa.”

Relia menunduk. “Aku tahu aku salah.”

“Aku belum bilang apa-apa,” potong Alya pelan. “Tapi kamu juga tahu… ada hal-hal yang nggak selesai hanya karena waktu lewat.”

Sunyi menggantung diantara keduanya

Relia menggenggam ujung selimut bayi. “Kak… kamu yakin mau menikah sekarang?”

Alya menatapnya lama. Ada jeda yang membuat pertanyaan itu terasa berat.

“Aku nggak yakin pada orang,” jawab Alya jujur. “Aku cuma yakin pada keputusanku.”

Relia menahan napas. “Setelah… semua yang terjadi?”

Alya mengangguk kecil. “Justru karena itu. Aku nggak mau hidupku berhenti di pengkhianatan yang bukan aku ciptakan.”

Relia terisak. Air matanya jatuh satu tetes, membasahi selimut bayi.

☘️☘️☘️☘️

Malam itu, Alya dan Bayu duduk di kamar tamu, kota ini di lihat dari luar jendela tidak pernah benar-benar tidur.

“Kamu masih mau lanjut?” tanya Bayu pelan. “Setelah lihat semua ini?”

Alya menatap langit-langit. “Aku belum memaafkan semua orang.”

Bayu tidak menyela, hanya mencoba berada di tengah-tengah.

“Tapi aku juga nggak mau terus membawa luka mereka ke masa depanku,” lanjut Alya. “Aku datang ke hidupmu bukan karena aku sudah utuh. Aku datang karena aku memilih.”

Bayu menggenggam tangannya. Tidak erat. Tapi pasti. Dan malam itu, di rumah yang penuh sakit, lelah, dan rumah tangga yang retak, Alya justru semakin yakin:

ia tidak menikah untuk lari dari luka, ia menikah karena tidak ingin luka itu menentukan ke mana ia pulang.

Bersambung ....

1
Naufal hanifah
terimakasih sukses selalu thor
lee zha
bagus... biarpun alurnya lambat lebih ke berbagi pemikiran dan pengalaman.... sukses terus author 👍👍👍☺☺
Dewiendahsetiowati
lho kok sudah tamat aja Thor,Halimah kok gak ada di nikahannya Bayu...terima kasih untuk ceritanya thor
Dewiendahsetiowati
othor taruh bawangnya kebanyakan bikin nyesek
Dewiendahsetiowati
hadir thor
ros
ceritanya menarik 👍
Sartini 02
ceritanya sangat menarik
Sartini 02
lanjut kak 😍👍
Dew666
💐💐💐💐💐
Dew666
💜💜💜💜💜
Dew666
🏆🏆🏆🏆🏆
ari sachio
makin penasaran dg bayu
PanggilsajaKanjengRatu: Halo kak, kalo berkenan yuk mampi juga ke cerita ku, judulnya “Cinta Yang Tergadai ”🙏
total 1 replies
Wanita Aries
wah bayu sama alya sama2 trluka berrti bsa saling menyembuhkan
ari sachio
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Wanita Aries
semangat trus alya menuju sukses
Wanita Aries
kl sudah tiada baru terasaaa
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
Wanita Aries
penasaran ma khidupan bayu
Sartini 02
ditunggu updatenya kak...😍
Wanita Aries
halimah kocak😁
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!