Istri pilihan menceritakan tentang.
Dina Nabila, Nabila kecil selalu bahagia, selalu ada senyum, dan canda tawa yang menghiasi hari - harinya dengan dikelilingi oleh orang - orang yang menyayanginya.
Tapi, semua itu berubah semenjak sang Ayah pergi untuk selama - lamanya.
Bukan sesuatu hal yang mudah baginya untuk menerima kenyataan setelah di tinggal pergi untuk selama - lamanya oleh orang yang sangat sangat di cintainya yaitu Ayahnya.
"Dasar anak pembawa sial, menyesal aku pernah melahirkan mu kedunia ini."
Dia pun harus berjuang sendiri melawan dan melewati seluruh rintangan yang di depannya sudah menghadangnya. Hingga suatu ketika entah nasib baik atau buruk, dia terpilih menjadi istri seorang pemuda yang terkenal kayak raya dan cukup populer namanya di dunia bisnis.
Akankah Nabila menemukan kebahagiaan setelah menikah ?
Atau malah sebalinya, penyiksaan, caci maki dan air mata menjadi teman setianya dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan harus kah berpisah adalah jalan terakhir yang harus mereka tempuh?
Simak ceritanya dalam "Istri pilihan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safarina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.
"Lebih baik sekarang kamu kebelakang buatkan kakak dan Ibu minum, haus nih. Dari pada kamu disini hanya membuat mod kakak mu jelek mending kamu kebelakang!" ujar ibu yang barang kali saja sudah bosan melihat pertengkaran kecil di antara aku dan kakakku.
"Kalian kenapa sih ribut mulu kayak anak kucing dan tikus yang tidak pernah akur bila berjumpa," suara dari arah pintu utama
Kami pun menoleh ke asal datangnya suara, "Tumben kamu pulang kerumah siang - siang begini?" tanya Ibu seraya berdiri dan menyambut anak pertama nya itu.
Akbar pun berjalan mendekat, "Kebetulan lewat aja Bu, tadi baru habis ketemuan sama teman lama yang lokasinya tak jauh dari rumah kita."
"Oh...." ibu hanya bisa ber oh ria.
Akbar pun melihat belanjaan adiknya itu, "Banyak sekali belanjamu? Yakin kamu bakal memakainya semua?"
Sang adikpun hanya tersenyum menanggapi pertanyaan sang kakak.
"Bagaimana jika besok kamu bergabung di perusahaan kakak? Ya itung - itung kamu belajar bagaimana cara susahnya mencari uang?" tawar sang kakak seraya memasukan kedua tangannya kedalam saku celanya.
Sang Adik pun mengerutkan kening, "Kakak mau perhitungan nih dengan Arumi?" ujar sang adik tak terima di suruh bekerja.
Ibu pun menengahi, seraya manatap wajah sang anak dan mengelus - elus kepala sang anak, "Arumi sayang... maksud kakak kamu bukan seperti itu. Kakak menyuruhmu bekerja bukan berarti dia pelit, tapi bukan kah enak jika kamu memiliki penghasilan sendiri dengan begitu kamu mau beli apapun bisa kamu penuhi tanpa meminta uang dari kakakmu."
Akbar pun menimpali, "Apa lagi kamu ya suka membeli barang - barang bermerek yang tidak jelas kegunaannya. Kakak perhatikan di kamar kamu itu banyak banget tas, sepatu, bla...bla... itu semua untuk apa?"
"Koleksi lah kakak," jawab Arumi enteng.
Akbar yang mendapat tanggapan itu hanya bisa geleng - geleng kepala, "Iya... iya... besok Arumi kerja di kantor kakak," ujar Arumi seraya memasang wajah malas.
Aku yang sedari tadi hanya jadi pendengar setia pun ikut bicara, "Aku juga mau kak kerja di kantor kakak," ucapku penuh harap.
mereka pun sontak menatap ku lalu berkata dengan serentak, "Tidak boleh."
"Kenapa tidak boleh?"
"Kalau tidak boleh ya tidak boleh. Bagaimana pun pembantu berdandan dan memakai baju mahal sekali pembantu ya tetap pembantu." ucap Arumi sinis.
"Ayo bu kita kekamar!" ajak Arumi kepada Ibunya.
"Ya sudah kalau begitu Akbar balik kekantor saja ya," ucapnya sebelum pergi meninggalkan rumah.
Aku hanya bisa menangis dalam hati melihat perlakuan tak adil mereka terhadapku.
..."Dalam kesakitan teruji kesabaran. Dalam perjuangan reruji keikhlasan."...
Akbar pun pergi meninggalkan rumah dan kembali kekantor, sementara Arumi dan Ibu kembali kekamar, tapi sebelum Arumi jauh melangakah, dia pun berbalik dan kembali ketempat semula, seraya mengambil sepatu yang ada di atas meja, "Nih ambil aku tidak membutuhkannya. Aku sedekahkan sepatu ini kepadamu," ucapnya seraya melempar sepatu itu di depan ku.
Hatiku bahagia menerima sepatu itu seolah - olah aku baru memenangkan cek undian ratusan juta rupiah. "Terima kasih kak, terima kasih," ucapku seraya menyunggingkan senyum dan mata berkaca - kaca.
...************...
...Tidak ada seorang pun yang bisa kembali kemasa lalu dan memulai awal yang baru lagi. Tapi, semua orang bisa memulai hari ini dan membuat akhir yang baru....
...Jangan pernah menyesali sehari dalam hidupmu. Hari - hari baik memberimu kebahagiaan dan hari - hari buruk memberimu pengalaman....
...***************...
...Keesokan harinya....
Di perusahaan Wijayakusuma Grup di lobi kantor sudah di penuhi para kaum hawa dari berbagai tempat dalam satu kota dan seluruh rupa - rupa wajah dan penampilan ada semua disana. Tapi yang dinilai bukan lah itu, melainkan barang siapa yang cocok dengan sepatu yang di beli Ghea waktu itu dialah yang berhak menjadi istri Tata Adam Wijayakusuma.
...❤❤❤...
...Mari saling mendukung...
...Terima kasih...
...❤❤❤...
I love you pulll😘😘💋💋
ini sekedar masukan doang thor