SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35. LEGA
Pintu gudang tua itu akhirnya terbuka lebih lebar.
Lampu sorot dari luar menyapu lantai beton yang dingin, memerlihatkan jejak kekacauan yang tertinggal; senjata yang disingkirkan, pria-pria terikat, dan aroma mesiu yang belum sepenuhnya menghilang dari udara malam.
Di antara semua itu, dua sosok akhirnya muncul.
Lucy dan Leo.
Keduanya digiring keluar oleh seorang pria berpakaian hitam dari Nox. Langkah mereka masih goyah, wajah mereka pucat, mata mereka menyapu sekitar dengan waspada seolah takut bayangan di sudut gudang akan kembali hidup.
Begitu mata Lucy menangkap sosok Theo dan Celina ...
"Brother!"
Dan hampir bersamaan ...
"Celina!"
Tidak ada jeda.
Lucy berlari, benar-benar berlari, dan memeluk Celina dengan seluruh tubuhnya. Tangannya melingkar erat di pinggang Celina, wajahnya terbenam di bahu gadis itu. Tubuhnya bergetar hebat.
Celina refleks membalas pelukan itu, bahkan lebih erat.
"Sudah tidak apa-apa," bisik Celina pelan, suaranya rendah namun stabil. "Kalian aman. Semua sudah baik-baik saja."
Lucy tidak langsung menjawab. Ia menangis.
Tangis yang tertahan sejak lama, tangis yang akhirnya menemukan tempat aman untuk pecah. Bahu Lucy naik turun, napasnya tersengal, air matanya membasahi jaket Celina.
Celina memejamkan mata sejenak, memeluk adik perempuan Theo itu lebih kuat, seolah ingin menjadi dinding terakhir yang tak akan membiarkan apa pun menyentuh Lucy lagi.
Di sisi lain, Leo berdiri kaku selama sepersekian detik lalu Theo menariknya ke dalam pelukan.
Theo menepuk punggung adiknya itu dengan tangan besar yang sedikit bergetar. Napasnya sendiri baru terasa kembali normal sekarang.
"Kau baik-baik saja?" tanya Theo, suaranya serak.
Leo mengangguk pelan. "Aku ... kami baik."
Theo menghela napas panjang, napas yang terasa seperti ditahan sejak mobilnya menginjak pedal gas tadi.
"Untuk sementara," lanjut Theo, kini suaranya lebih tegas, lebih sebagai kakak sekaligus penjaga, "kalian berdua tinggal di rumah dulu. Tidak ada keluar sendirian. Kalau harus keluar harus dengan bodyguard."
Leo menatap kakaknya beberapa detik, lalu mengangguk tanpa protes. Untuk pertama kalinya malam ini, tidak ada candaan, tidak ada keluhan.
"Baik," jawab Leo. Tentu dia akan menurut tanpa bantahan setelah kejadian malam ini.
Celina akhirnya sedikit melonggarkan pelukannya dan menatap Lucy. Dengan gerakan lembut, ia mengusap air mata yang membasahi pipi gadis itu.
"Kau sudah selamat," ucap Celina lirih. "Dan aku janji ... hal seperti ini tidak akan terjadi lagi."
Lucy mengangguk kecil, meski matanya masih merah.
Namun tatapan Celina turun ke tangan Lucy yang masih menggenggam jaketnya. Ia meraih tangan itu perlahan. Dan seketika rahang Celina mengeras.
Bekas ikatan jelas terlihat di pergelangan tangan Lucy, kemerahan, sedikit membiru. Di telapak tangannya, ada goresan kecil, mungkin dari usaha melepaskan diri, mungkin dari lantai kasar gudang.
Celina menelan napas. "Mereka ...," gumamnya sangat pelan, nyaris tak terdengar. "Mereka akan habis setelah ini."
Nada suaranya datar. Terlalu datar untuk sesuatu yang lahir dari kemarahan.
Theo mendengar gumaman itu. Ia tidak menegur. Tidak menyangkal. Ia hanya menatap Celina lebih lama dari biasanya.
Lampu-lampu mobil tiba-tiba mendekat.
Suara mesin bergemuruh dari kejauhan membuat semua orang otomatis kembali waspada. Beberapa anggota Nox langsung mengambil posisi, senjata siap, tubuh mereka membentuk perisai alami.
Namun begitu deretan mobil itu berhenti dan pintu-pintunya terbuka ....
"Turunkan senjata," perintah itu datang dari salah satu pimpinan Nox, suaranya mantap.
Hans Morelli turun dari mobil paling depan.
Begitu melihat Lucy dan Leo, Hans berlari.
Tidak peduli citra diri, tidak peduli wibawa seorang CEO besar, malam ini ia hanyalah seorang ayah. Ayah yang penuh ketakutan akan kehilangan anak-anaknya.
"Lucy? Leo?" ucap Hans seolah meyakinkan diri sendiri bahwa kedua anak kembarnya sungguh ada di hadapannya.
Hans memeluk keduanya sekaligus, tangan besarnya menahan kepala mereka, mencium pucuk rambut mereka bergantian. Napasnya bergetar.
"Papa di sini," ucap Hans lirih. "Papa di sini ...."
Lucy kembali terisak, kali ini memeluk ayahnya. Tempat paling aman untuk gadis itu.
Leo menutup mata, menghela napas panjang, seolah baru sekarang rasa takut itu benar-benar dilepaskan.
Hans menarik napas dalam, lalu menatap sekitar. Matanya berhenti pada deretan pria berpakaian hitam, pada sikap mereka yang terlalu rapi untuk sekadar pengawal biasa.
Lalu tatapannya jatuh pada Celina.
"Mereka ..." Hans bertanya, suaranya lebih tenang kini, "... orang-orang ayahmu?"
Celina mengangguk.
Gadis itu memberi isyarat pada salah satu pria Nox.
Pria itu segera mendekat, berdiri tegap, lalu memberi hormat singkat pada Hans.
"Kami dari Nox, Sir. Dikirim oleh Mr. Lucas Lorenzo untuk menjaga Miss Celina dan keluarga Morelli dari balik bayangan," ucap pria itu formal.
Hans mengangguk pelan, lalu berkata dengan suara berat namun tulus, "Terima kasih ... sudah menyelamatkan anak-anakku."
"Sudah tugas kami," jawab pria itu singkat, sikapnya tak berubah.
Hans kembali menatap Lucy dan Leo, mengusap kepala mereka bergantian.
"Ayo kita pulang," kata Hans tegas namun hangat. "Kalian sudah aman. Papa janji ... siapa pun yang berani menyentuh kalian, dia akan mendapatkan balasannya."
Celina melangkah maju satu langkah. "Aku akan tetap bersama Nox malam ini. Aku ingin menginterogasi para penculik itu."
Hans langsung menoleh padanya.
"Tidak," kata Hans tanpa ragu. "Kau pulang malam ini. Bersama Theo dan si kembar."
Celina hendak membantah.
Namun Hans melanjutkan, suaranya lebih lembut namun tak kalah tegas. "Kau tidak dalam kondisi baik, Celina. Biarkan aku dan orang-orang Lucas yang menangani ini."
Celina terdiam. Ada keraguan jelas di wajahnya.
Hans tersenyum kecil, senyum seorang pria yang sudah terlalu sering berhadapan dengan ancaman.
"Aku ingin mendengar langsung dari mereka," lanjut Hans pelan, "siapa yang berani menyentuh Morelli."
Beberapa detik berlalu.
Lalu Celina mengangguk.
Hans menoleh ke Theo. "Bawa adik-adikmu dan Celina pulang. Mama kalian menunggu. Dia sangat khawatir."
Theo mengangguk patuh.
Sebelum pergi, Celina berbalik ke arah Nox. Suaranya kembali dingin, terkontrol.
"Hans Morelli akan bersama kalian," ucap Celina. "Dengarkan perintahnya seperti kalian mendengarkanku. Dapatkan nama dalang penculikan ini. Cari semua informasi. Setelah itu ... laporkan. Kita akan melakukan eksekusi."
"Yes, Ma’am!" jawab mereka serempak, mantap, tanpa ragu.
Theo membawa Lucy dan Leo menuju mobil. Beberapa kendaraan lain bergerak, membentuk iring-iringan di depan dan belakang, perlindungan penuh.
Di dalam mobil, Lucy masih tidak melepaskan Celina. Lengannya melingkar erat, seolah takut jika ia lengah sedetik saja, semua ini akan kembali menjadi mimpi buruk.
Celina membiarkannya.
Theo menoleh ke kursi belakang, ke arah Leo.
"Kau benar-benar tidak apa-apa?" tanya Theo lagi, memastikan.
Leo mengangguk. "Mereka ... tidak memukul kami. Tidak menyiksa. Tapi ..." Ia berhenti sejenak. "Melihat senjata-senjata itu ... rasanya seperti menunggu kapan napasmu akan diambil."
Theo mengangguk pelan, lalu mengelus kepala adiknya. "Kalian kuat."
Mobil mulai bergerak.
Lampu-lampu kota Los Angeles kembali menyala di kejauhan, seolah dunia tidak pernah berhenti meski neraka baru saja terbuka di sudutnya.
Namun pandangan Theo tertuju pada Celina.
Wajah gadis itu mengeras. Tatapannya lurus ke depan, rahangnya tegang, matanya tajam, bukan karena takut, tapi karena perhitungan.
Theo sadar ...
Ini bukan sisi Celina yang selama ini ia kenal.
Ini adalah Celina Lorenzo.
Dan bayangan itu belum akan pergi. Itu adalah wajah yang sudah melihat sisi paling gelap dunia.
keren 👍👍
" owh ini toh kisah black mantis "
kan kadang ada rider baru yg belum nemu buku lama, nemunya langsung buku sekuel buku sebelum nya, mau baca buku lama dulu nanti pasti ketinggalan cerita yg sekarang, jujur aku rider yang begitu, selesai kan cerita baru setelah tamat untuk lebih paham baru cari buku pertama nya, kadang ada penulis yang pembaca baru penasaran kan
" kalo penasaran sama cerita masa lalu baca aja yg judul nya bla bla "
haisss jujur kadang sebel aku 😁😁
HAHAHAHA 🤣🤣🤣
ketawa dulu sebelum di ajak perang 🥴🥴
makasih author untuk karya novelnya
Thor eiden belum ketemu jodohnya
apalagi Cedric
piye toh🤣🤣
but anyway
terimakasih atas cerita indah nya 😍