Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 Waktunya Protes,
Ketika Aluna sudah selesai curhat kepada sahabatnya. Aluna berpamitan pulang dan tidak lupa membawa beberapa kotak kue yang akan dia bawa ke rumah kedua orang tuanya.
Aluna akan memenuhi undangan makan malam yang telah disampaikan Jiya tadi pagi. Ketika sampai di rumah setelah pulang kerja Aluna langsung siap-siap.
Penampilannya simpel, menggunakan dress panjang di atas mata kaki dengan tangan dress panjang.
Aluna tampil begitu cantik dan anggun, rambutnya hanya diikat sebagian di tengah yang memperlihatkan stylish rambut yang begitu elegan dan ditambah dengan anting kecil.
"Aku seperti mau kencan saja berpenampilan seperti ini," gumam Aluna tidak lupa menyemprotkan parfum pada tubuh.
"Sudah selesai?" Aluna tersentak kaget dan yang cepat kembalikan tubuhnya.
Ravindra ternyata sejak tadi sudah menunggunya di ruang tamu dan istrinya itu begitu lama membawanya harus menyusul ke kamar. Penampilan Ravindra hanya biasa saja menggunakan setelan jas seperti biasa.
"Kenapa lama sekali?" tanya Ravindra.
"Iya-iya. Ini aku sudah selesai," jawab Aluna.
"Ya sudah ayo cepat!" ajak Ravindra terlebih dahulu kembali keluar dari kamar.
Aluna menghela nafas dengan mengambil tasnya dan juga kue yang tadi sengaja diambil dari tokonya kemudian menyusul suaminya.
Setelah berpamitan kepada kedua mertuanya yang akhirnya Aluna dan Ravindra pergi. Tidak lama mereka sudah sampai di kediaman kedua orang tua Aluna untuk pertama kali adalah mengucapkan kalimat itu setelah dia menikah.
"Assalamualaikum!" sapa Aluna.
"Walaikum salam," sahut Umi, Abi, Jiya dan Firman yang berada di ruang tamu.
"Kalian sudah sampai," sahut Umi.
Aluna dan Ravindra melangkah mendekati orang tuanya dan tidak lupa mencium punggung tangan tersebut dan diikuti oleh Ravindra.
"Umi senang dengan kedatangan kalian berdua. Umi sudah memasak banyak makanan kesukaan kamu," ucap Wulan.
"Jika ingin mengajak Aluna untuk makan malam, seharusnya menghubungi Aluna saja dan tidak perlu mengirim orang lain agar datang ke rumah seperti zaman manusia purba saja," ucap Aluna memberi sindiran kepada Jiya.
"Sudahlah, kenapa baru sampai di rumah ini kamu langsung marah-marah seperti itu. Umi dan Abi hanya ingin sesekali kalian bertandang ke rumah ini. Jika Jiya tidak keberatan untuk datang ke rumah kalian mengundang kamu apa salahnya," sahut Abi.
Aluna memilih untuk diam dan tidak ada gunanya berdebat yang adanya urusan mereka tidak akan selesai-selesai.
"Jadi Jiya sengaja datang ke rumah Aluna dan mengajak makan malam secara langsung dan tidak menghubungi Aluna," batin Firman sepertinya memang tidak mengetahui bagaimana pergerakan istrinya yang begitu effort sekali.
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita langsung saja makan malam," ajak Wulan.
"Ini Umi. Aluna membawa cake," ucapnya memberikan paper bag yang sejak tadi dia pegang.
"Terima kasih Aluna, ini pasti enak sekali," ucap Wulan membuat Aluna menganggukkan kepala.
*******
Akhirnya mereka semua melanjutkan makan malam bersama.
Ravindra ini pertama kali kamu makan di rumah kami, semoga kamu menyukai makanannya," ucap Wulan.
"Aluna, ayo kamu bantu suami kamu untuk mengambilkan makanan untuknya," ucap Wulan.
"Tidak apa-apa. Saya bisa sendiri," sahut Ravindra yang memang tidak ingin merepotkan siapa-siapa.
"Kalau begitu kamu jangan sangkan-sungkan dan anggap saja rumah sendiri," ucap Wulan.
"Baik. Tante," sahut Ravindra.
"Ravindra kamu sudah menjadi menantu kami dan kami sangat senang sekali jika kamu memanggil kami dengan sebutan Umi dan Abi, seperti Aluna memanggil kami," sahut Abi.
"Baik Umi, Abi," sahut Ravindra tidak mempermasalahkan hal seperti itu dan lagi pula istrinya juga memanggil orang tuanya sama seperti dirinya.
"Ravindra apa kamu menyukai ikannya?" tanya Jiya ketika melihat Ravindra menikmati salah satu jenis ikan menjadi ikan lauk pada makanannya.
"Suka," jawab Ravindra dengan singkat.
"Aku yang masaknya dan kamu tahu tidak makanan yang aku bawakan ke kantor yang telah dibuang Aluna adalah makanan seperti ini," ucap Jiya.
Aluna sampai berhenti makan ketika mendengar pernyataan dari Jiya kembali mengungkit hal itu membuat Aluna melihat serius ke arah kakaknya.
"Aluna membuang makanan?" tanya Abi memastikan.
"Benar Abi. Kemarin Jiya mengirim makanan untuk Aluna dan ternyata Aluna membuangnya datang sampah di depan rumah mereka, di saat Jiya datang ke rumah mereka untuk menyampaikan undangan dan disaat itu juga Jiya menemukan kotak makanan tersebut," jelas Jiya.
"Aluna sejak kapan Abi mengajari kamu untuk mubazir dan sampai membuang makanan, di luaran sana masih banyak orang-orang yang kelaparan dan kamu sudah melakukan hal seperti itu," sahut Abi.
"Lagian untuk apa kamu harus mengirim makanan ke kantor Ravindra dan apalagi kamu membuatkan makanan untuknya," sahut Firman.
"Firman, aku bukan hanya mengirim makanan untuk Ravindra saja, tetapi juga untuk Aluna. Apa yang salah, lagi pula apa yang dilakukan Aluna sangat tidak sopan dan itu sama saja seperti apa yang dikatakan Abi tadi, Aluna sudah mengikuti perbuatan setan yang membuang-buang makanan dan di luar sana masih banyak orang-orang yang kekurangan," seperti biasa Jiya akan mengeluarkan semua kalimat ke agamis nya untuk menutupi kesalahan.
"Kak cukup!" tegas Aluna sejak tadi sudah berusaha menahan diri.
"Kakak selalu saja bersikap seperti ini. Jika Umi dan Abi mengundang Aluna untuk makan malam di rumah ini hanya untuk mengomentari semua yang Aluna lakukan lebih baik tidak usah!" ucap Aluna.
"Aluna!" tegur Abi.
"Aluna benar-benar muak datang ke rumah ini. Kalian kerap kali membicarakan masalah kesopanan. Jika kak Jiya tidak suka Aluna maupun makanan itu dan untuk kedepannya jangan lagi pernah mengantarkan makanan ke kantor Aluna!" tegas Aluna
"Sudah-sudah, kenapa kalian harus bertengkar di saat makan seperti ini hah! ini tidak baik, kita sedang makan malam dan berhenti untuk melakukan semua ini," ucap Umi.
"Ini semua kesalahan Jiya. Seharusnya Jiya tidak mengungkit apapun dan tidak seharusnya dengan sengaja datang ke kantor untuk mengantarkan makanan dan apalagi sampai membuat keributan seperti ini dan akhirnya timbul kesalahpahaman!" sahut Firman.
"Kamu ternyata benar-benar masih mencintainya dan membelanya secara langsung meski aku ada di sebelah kamu," sahut Jiya menegur suaminya dengan senyuman membuat Firman mengerutkan dahi dan begitu juga dengan Aluna merasa kakaknya itu benar-benar kurang waras.
Bagaimana tidak dalam situasi seperti itu bahkan ketika kedua orang tuanya ada dan dia masih bisa-bisanya membicarakan hal yang sungguh-sungguh tidak masuk akal seperti itu.
"Jiya, kamu jangan langsung membuat spekulasi seperti itu, aku hanya tidak ingin ada keributan dan aku juga ingin kamu tidak terlalu ikut campur urusan rumah tangga orang!" tegas Firman.
"Firman, apa harus kamu menegurku di depan kedua orang tua dan juga tamu yang datang ke rumah kita?" tanya Jiya tidak terima dengan teguran yang diberikan Firman.
"Sudah-sudah, sebaiknya sekarang kita lanjutkan makan dan jangan ada lagi pertengkaran memalukan seperti ini!" tegas Abi.
"Kak Jiya benar-benar sengaja membuat keributan, jika dia yang bersalah, seakan-akan membuat aku semakin dipojokkan dan merasa begitu salah. Aku memang tidak mengerti sebenarnya apa yang dia inginkan," batin Aluna semakin kesal melihat Jiya dan sementara Ravindra sejak tadi hanya menikmati makanan tersebut melihat bagaimana hubungan bersaudara itu memang tampaknya kurang baik.
Bersambung.....