Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH.9
Lilin di kamar penginapan Shen Yu telah habis terbakar, menyisakan asap tipis yang menari di udara pagi.
Di telapak tangan Shen Yu, Token Hitam pemberian Tetua Mo terasa dingin, seolah menghisap panas tubuhnya. Sepanjang malam ia bergulat dengan batinnya. Suara ayahnya yang keras kepala beradu dengan bayangan penghinaan Luo Feng dan tatapan dingin Bai Jianfei.
"Kehormatan tidak bisa dimakan," kata-kata Tetua Mo terngiang.
Shen Yu menggenggam token itu erat-erat hingga buku jarinya memutih.
"Ayah... maafkan aku," bisiknya pada kekosongan. "Aku tidak bisa pulang sebagai pecundang. Jika dunia ini curang, maka aku akan bermain curang."
Ia memasukkan token itu ke dalam saku tersembunyi di balik jubahnya, lalu melangkah keluar menyambut fajar. Wajahnya tenang, namun sorot matanya telah kehilangan sedikit cahaya polosnya, digantikan oleh kedalaman yang gelap.
Gerbang Gunung Sekte Awan Putih
Ribuan peserta berdiri di kaki gunung yang menjulang menembus awan. Di hadapan mereka membentang Tangga Seribu Penyesalan. Tangga batu ini mendaki tegak lurus ke atas, menghilang di balik kabut tebal.
"Ujian tahap kedua sederhana," suara seorang Tetua Sekte (bukan Mo) menggema dari puncak gunung. "Daki tangga ini sebelum matahari mencapai puncaknya. Tangga ini dilapisi Formasi Penekan Jiwa. Semakin tinggi kalian naik, semakin berat beban pada tubuh dan jiwa kalian. Yang lemah akan pingsan, yang kuat akan sampai di puncak."
Gong berbunyi!
Ribuan pemuda berhamburan naik.
Shen Yu berlari di antara kerumunan. Jin Bo ada di sampingnya, kipasnya terselip di pinggang.
"Ingat, Saudara Shen," kata Jin Bo sambil melompati tiga anak tangga sekaligus. "Jangan memaksakan diri di awal. Hemat tenagamu."
Pada seratus anak tangga pertama, Shen Yu masih merasa baik-baik saja. Namun, begitu melewati anak tangga ke-300, tekanan itu datang.
Rasanya seperti ada karung beras yang diletakkan di pundaknya. Langkah kakinya menjadi berat. Napasnya mulai memburu.
Di sekitarnya, peserta dengan fisik lemah mulai bertumbangan, muntah-muntah, atau menyerah sambil menangis.
Di kejauhan, di barisan paling depan, Bai Jianfei melesat naik seolah gravitasi tidak berlaku baginya, tubuhnya diselimuti cahaya ungu tipis.
Saat mencapai anak tangga ke-500, wajah Shen Yu pucat pasi. Kakinya gemetar hebat. Paru-parunya terasa terbakar. Qi di tubuhnya yang sedikit itu sudah hampir habis untuk menahan tekanan.
Aku tidak akan kuat, batinnya. Tetua Mo benar. Dengan bakat sampah ini, aku akan pingsan di langkah ke-600.
Shen Yu menoleh ke samping. Jin Bo, meski berkeringat deras, masih melangkah stabil berkat pasokan pil dan teknik pernapasan klan kayanya.
"Saudara Shen? Kau pucat sekali!" seru Jin Bo khawatir, memperlambat langkahnya.
"Jalanlah duluan, Jin Bo," kata Shen Yu terengah-engah. "Jangan tunggu aku."
"Tapi..."
"Pergi!" bentak Shen Yu.
Jin Bo menatapnya ragu, lalu mengangguk. "Aku tunggu di puncak. Jangan mati!"
Setelah Jin Bo menjauh dan hilang di balik kabut, Shen Yu merapat ke sisi tebing tangga yang sepi. Ia memastikan tidak ada peserta lain di dekatnya.
Dengan tangan gemetar, ia merogoh sakunya dan menyentuh Token Hitam itu. Ia mengalirkan sedikit Qi ke dalamnya.
Token itu bergetar pelan. Tiba-tiba, Shen Yu melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.
Di dinding tebing di samping anak tangga ke-550, sebuah simbol mata samar menyala sesaat. Itu adalah ilusi.
Shen Yu melihat sekeliling, lalu dengan cepat melompat keluar dari jalur tangga, menembus dinding tebing itu.
Alih-alih jatuh ke jurang, kakinya mendarat di jalan setapak sempit yang tersembunyi di balik ilusi bebatuan. Jalan ini melingkar naik, terpisah dari tangga utama.
Di sini, tidak ada Tekanan Jiwa. Udaranya segar dan ringan.
Shen Yu tersandar di dinding gua, menghirup napas rakus. Ia selamat. Rasa lega membanjiri dirinya, tapi segera disusul rasa jijik yang pahit.
Sementara ribuan orang di luar sana berjuang memuntahkan darah demi impian mereka, ia berjalan santai di jalan tikus ini.
"Inilah rasanya kekuasaan," gumamnya getir. Ia menegakkan punggungnya. Tidak ada jalan kembali.
Ia berlari kecil menyusuri jalan rahasia itu. Jalan itu berujung di sebuah semak belukar tepat di samping gerbang finis di puncak gunung.
Shen Yu menunggu sejenak. Ia tidak boleh sampai terlalu cepat, itu akan mencurigakan. Ia menunggu sampai matahari naik sedikit lebih tinggi, lalu mengacak-acak rambutnya dan membasahi wajahnya dengan air dari kantong minumnya agar terlihat berkeringat.
Ia menyibakkan semak dan melangkah keluar, berpura-pura baru saja menyelesaikan anak tangga terakhir dengan susah payah.
"Hah... hah..." Shen Yu berakting terengah-engah, jatuh berlutut di pelataran batu puncak gunung.
"Lulus!" teriak pengawas ujian yang mencatat nama.
Shen Yu melihat sekeliling. Di pelataran luas itu, baru ada sekitar lima puluh orang. Bai Jianfei tentu saja sudah di sana, duduk meditasi dengan jubah yang masih rapi.
Sekitar setengah jam kemudian, Jin Bo muncul dari tangga utama. Wajahnya merah padam, jubah sutranya basah kuyup oleh keringat, dan ia berjalan sempoyongan.
Begitu melihat Shen Yu sudah duduk santai sambil minum air, mata Jin Bo hampir keluar.
"K-Kau..." Jin Bo menunjuk Shen Yu dengan tangan gemetar. "Bagaimana... kapan... kau menyalipku?"
Shen Yu tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Saat kau istirahat di tengah jalan, mungkin? Aku punya tekad orang desa, Saudara Jin."
Jin Bo mengerutkan kening, merasa ada yang janggal. Ia tahu batas kemampuan Shen Yu. Tapi melihat Shen Yu lulus, ia akhirnya tertawa lega dan menepuk bahu temannya itu. "Kau penuh kejutan! Bagus! Kita berdua lulus!"
Di panggung tinggi tempat para tetua duduk, Shen Yu merasakan tatapan menusuk.
Ia mendongak sedikit. Di sudut, Tetua Mo sedang menatapnya sambil menyesap teh. Pria tua itu tidak tersenyum, hanya mengangguk pelan sekali. Sebuah anggukan kepemilikan.
Sekarang kau milikku, arti tatapan itu.
Shen Yu menundukkan kepalanya, menyembunyikan ekspresinya. Ia telah berhasil masuk ke Sekte Awan Putih. Tapi mulai hari ini, ia bukan lagi burung bebas. Ia adalah burung dalam sangkar emas yang dijaga ular berbisa.
"Selamat datang di neraka," batin Shen Yu.