Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Percakapan Yang Menguras Hati
Bab 24
Percakapan Yang Menguras Hati
Lyra menutup pintu rumahnya begitu Dika berangkat kerja. Masih banyak yang harus ia kerjakan pagi itu, dan ia pun bersiap melakukan pekerjaan rumah seperti biasa.
"Tok... Tok... Tok...!"
Terdengar ketukan pintu ketika Lyra hendak menuju dapur untuk bersiap melakukan rutinitas paginya itu. Dalam hati bertanya-tanya, siapa yang bertamu ke rumahnya sepagi itu.
Lyra segera menuju jendela, mengintip sedikit dari balik tirai gorden ruang tamunya dan melihat seorang pria dan seorang wanita di depan pintu rumahnya. Wajah mereka asing, namun ada sesuatu dalam tatapan mereka yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Lyra mengerutkan keningnya, "Siapa ya?" gumamnya lirih tampak berpikir karena ia tidak mengenal tamunya pagi itu.
Dengan langkah berat tetapi juga penasaran, Lyra membukakan pintu rumahnya untuk tamunya yang tak lain adalah Iqbal dan Novia.
"Siapa ya?" Tanyanya berusaha tetap ramah dan lembut meski hatinya tak luput dari kecemasan.
Novia tercekat, tumbuhnya membeku sesaat. Ia merasa seperti mimpi benar-benar berdiri di hadapannya selingkuhan suaminya. Matanya terpaku pada sosok wanita di hadapannya. Selingkuhan suaminya. Lebih muda, lebih segar, dan tampak polos. Rasa sakit yang belakangan ini ia pendam kembali menguar, membakar dadanya. Namun, ia berusaha tegar, menahan gejolak emosi yang siap meledak.
"Boleh saya masuk? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan. Saya Novia... istrinya Mas Dika."
Deg,
Jantung Lyra berdetak keras dan seakan ingin luruh saat itu juga. Ucapan Novia menghantamnya bagai petir di siang bolong.
Istri? Mas Dika sudah memiliki istri? Nggak mungkin!
Ia merasa dirinya pasti salah mendengar. Ini pasti mimpi buruk.
Tanpa sadar, tangannya meremas ujung dasternya, mencari kekuatan untuk menopang tubuhnya yang terasa lemas.
"Istri Mas Dika...?" Beo Lyra, lirih. Seakan-akan masih tak percaya dan meyakini itu hanya mimpi.
Namun Novia tak serta merta hanya sampai di situ saja. Ia telah menyiapkan segalanya dari rumahnya. Ia lalu mengambil sebuah buku kecil dari dalam tasnya, membuka halaman yang memuat foto dirinya dan Dika, lalu menyodorkannya ke hadapan Lyra.
"Kamu percaya sekarang?" Kata Novia, suaranya bergetar namun penuh dengan ketegasan.
Lyra terdiam, menatap foto itu dengan nanar. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Kenyataan pahit itu terlalu berat untuk ia terima.
"Silakan masuk," ucap Lyra akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia membuka pintu lebar-lebar, mempersilakan Novia dan Iqbal masuk ke rumahnya.
Mereka duduk di kursi sederhana di ruang tamu. Suasana hening dan tegang. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar jelas, menambah suasana canggung di antara mereka.
"Mungkin kamu sudah tahu tujuan saya datang ke sini," kata Novia, memecah keheningan. "Sesama wanita, kamu pasti tahu apa yang saya rasakan jika suami memiliki wanita simpanan."
Kata 'wanita simpanan' bagai tamparan keras bagi Lyra. Ia selalu mengira dirinya adalah satu-satunya wanita di hati Dika, bukan hanya sekadar menjadi selingkuhan. Kebohongan Dika selama ini membuatnya merasa bodoh dan hina.
"Saya mohon, berhentilah mengejar Mas Dika," lanjut Novia, suaranya mulai bergetar. "Saya punya seorang anak yang selalu menanti kedatangan Papanya setiap Mas Dika selesai bekerja, dan pulang seminggu sekali."
Ucapan Novia yang berikutnya kembali menghantam Lyra dengan kenyataan bahwa, kepulangan Dika ke kota setiap minggunya memang menemui anak istrinya, bukan orang tuanya. Seperti yang di curigai Lyra belakang ini. Dan ia pun baru menyadari, alasan Dika selalu tidak bisa di hubungi jika sudah pulang ke kota, pastilah untuk menjaga perasaan wanita di hadapannya ini. Dika telah membohonginya, mempermainkan perasaannya.
Hati Lyra bergetar dan hancur berkeping-keping. Ia tidak dapat membayangkan betapa sakitnya perasaan wanita di hadapannya. Ia merasa bersalah, merasa berdosa karena telah merusak rumah tangga orang lain demi kebahagiaannya sendiri. Air matanya tumpah, membasahi pipi. ia sendiri pun merasa telah di khianati dengan kebohongan Dika selama ini. Tanpa sadar air matanya menggenang di pelupuk mata, lalu luruh tanpa di minta.
Novia melihat Lyra dengan hati berkecamuk. Ia menyadari ada penyesalan pada wanita dihadapannya itu. Ia merasa Lyra bukan wanita yang genit yang suka menggoda, dan sepertinya dia pun telah di bohongi oleh Dika. Entah harus senang atau ikut prihatin, yang jelas saat ini hatinya sakit dan masih terluka.
"Maafkan saya, hiks..." Lyra berkata lirih dengan tangis yang sudah pecah.
"Saya tahu, kamu bukan wanita murahan yang menggoda suami orang," Kembali kata-kata Novia seperti pisau yang menyakiti hati dan harga diri Lyra, pelan dan lembut, namun bagai belati. "Dan saya percaya, kamu pasti paham perasaan saya. Karena itu, tolong... tinggalkan Mas Dika. Jika kamu butuh uang saya..."
"Tidak, Mbak... hiks... tidak perlu," sela Lyra cepat. "Saya memang salah, dan saya sadar itu. Saya terlalu percaya pada Mas Dika, terlalu larut dalam kebohongan ini. Saya yang salah karena telah menjadi duri dalam rumah tangga kalian. Tanpa Mbak minta pun, saya pasti akan meninggalkan Mas Dika. Karena saya benar-benar tidak tahu kalau Mas Dika masih memiliki istri sah. Dia meyakinkan saya kalau dia sudah bercerai. Dan bodohnya saya, terlalu percaya dengan kebohongannya."
Iqbal yang mendengarkan percakapan dua wanita itu mengeratkan rahangnya. Ia sungguh sangat kecewa pada Dika yang melukai dua wanita sekaligus.
"Apa... saya bisa mempercayai kata-katamu?" tanya Novia, suaranya bergetar. Ia menatap Lyra dengan tatapan menyelidik, mencoba mencari kejujuran di balik air mata yang membasahi wajah wanita itu. Ia ingin percaya, namun rasa sakit dan trauma membuatnya sulit untuk mempercayai siapa pun.
Lyra menengadah, menatap Novia dengan wajah yang sudah banjir air mata. Air mata penyesalan, air mata kesedihan, air mata karena merasa dikhianati.
"Saya berjanji," ucapnya lirih, suaranya tercekat di tenggorokan. "Sejujurnya... saya juga nggak pernah ingin menjadi seorang selingkuhan. Ini semua terjadi karena Mas Dika nggak jujur kepada saya. Sungguh Mbak... saya sangat menyesal." Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan isak tangisnya yang semakin menjadi.
Melihat ketulusan di mata Lyra, ada sedikit kelegaan yang menyelinap masuk ke dalam hati Novia yang terluka. Setidaknya, ia masih bisa mempertahankan rumah tangganya. Meski ia tahu, jalan yang harus ia tempuh masih panjang dan terjal. Ia tahu, hatinya tidak akan pernah bisa kembali utuh seperti semula. Dan ia tidak yakin, apakah ia bisa mempercayai suaminya lagi. Namun demi Ibra, putranya, ia akan berusaha sekuat tenaga.
"Bang Dika berencana menikahi Anda minggu ini. Apa yang akan Anda lakukan?" tanya Iqbal tiba-tiba, memecah keheningan yang mulai terbentuk. Pertanyaan itu bagai palu yang menghantam Lyra, membuatnya semakin terpuruk dalam penyesalan.
Lyra menunduk, wajahnya terlihat pasrah.
" Nggak ada lagi yang harus saya pertahankan di kota kecil ini," bisiknya lirih. "Di sini hanya akan menambah luka di hati saya. Mungkin...saya akan pergi meninggalkan kota ini. Tapi, saya cukup kesulitan jika Mas Dika masih ada di sini."
Kejujurannya terasa pahit, namun itulah yang sebenarnya Lyra rasakan.
" Sepertinya, kita harus berbohong dan mengatakan Ibra sakit agar Mas Dika pulang." Ujar Novia.
"Jangan!" sergah Iqbal cepat. "Nggak baik berbohong seperti itu. Ucapan adalah doa." Ia menatap Novia dengan tatapan memperingatkan. "Bilang saja Ibu minta dijemput. Ibu nggak mau pergi kalau Mas Dika nggak bisa menjemput Ibu. Aku yakin Ibu pasti menyetujui rencana kita. Jadi kita nggak perlu berbohong."
Novia terdiam sejenak, mempertimbangkan usulan Iqbal. Ia tahu Iqbal benar, berbohong bukanlah jalan yang baik.
"Lalu, kamu sendiri mau kemana?" tanya Novia, menatap Lyra dengan tatapan yang lebih lembut dari sebelumnya. Hatinya kini tak semarah tadi. Ia mulai melihat Lyra bukan sebagai perusak rumah tangganya, melainkan sebagai wanita yang juga menjadi korban kebohongan Dika.
"Kemana saja, Mbak," jawab Lyra dengan suara serak. "Mungkin meninggalkan pulau ini. Saya akan memulai hidup baru di sana."
"Punya ongkos?" tanya Novia, nada suaranya kini lebih lembut.
"Mbak nggak perlu khawatir. Ini sudah resiko saya. Saya punya sedikit tabungan, dan itu cukup. Saya justru malu karena telah mengambil suami Mbak, tapi Mbak masih memperlakukan saya seperti sesama wanita," ucap Lyra, air mata kembali membasahi pipinya.
Novia diam, menatap Lyra dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tersenyum getir, menyadari betapa ironisnya situasi yang sedang ia hadapi. Seakan ia sudah tak kuasa lagi mencintai Dika, hatinya sudah terlalu sakit dan kecewa. Ia hanya mempertahankan rumah tangga ini demi Ibra, putranya. Namun, melihat Lyra yang juga menjadi korban kebohongan Dika, ia merasakan sedikit iba dan simpati. Aneh bukan?
"Berikan aku nomor mu. Aku butuh kepastian, kalau kamu benar-benar pergi."
Lyra mengangguk pelan. Lalu menyeka air matanya. Ia kemudian meraih handphone yang di sodorkan oleh Novia dan mengetikan nomornya disana.
"Mbak nggak perlu khawatir. Aku akan mengirim kabar jika aku sudah pergi dari kota ini," janji Lyra.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
pas pulang lyra udah pergi.. kayaknya bakalan nambah Maslah deh Novia.. mending ber3 bicaranya..klo sepihak gitu nantinya badan dika dikamu tapi hati dan jiwanya di lyra