Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!
Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.
Namur, takdir berkata lain.
saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.
" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "
Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Papan Tulis "Rata"
Matahari tampak menyilaukan berada sejajar di atas kepala, udara kota yang penuh sesak dengan abu jalanan terasa seperti panggangan raksasa. Bara sedang berjalan kaki menyusuri trotoar kawasan elit, tidak jauh dari rukonya. Hari ini dia memutuskan untuk "menyamar" kembali ke mode aslinya: Gembel Elit, untuk sekedar melihat-lihat.
Dia mengenakan kaos partai warna kuning yang sudah luntur gambar tokohnya, celana kargo yang penuh saku (berisi berbagai botol percobaan), dan tentu saja, sandal Swallow legendarisnya yang kali ini dia pakai dengan benar—meskipun warnanya tetap beda sebelah (merah dan hijau).
"Ah, udara kota... penuh dengan karbon monoksida dan aroma keputusasaan para jomblo," gumam Bara sambil mengunyah batang rumput manis yang dia bawa dari hutan.
Tiba-tiba, sebuah teriakan melengking memecah kesunyian.
"JAMBRET! TOLOOOONG! TAS SAYA!"
Seorang ibu-ibu sosialita dengan sanggul setinggi menara pisa berteriak sambil menunjuk seorang pemuda yang berlari kencang ke arah Bara. Kebetulan sekali tempat itu amat sangat sepi.
Pemuda itu membawa tas tangan mungil merk Hermes yang harganya mungkin bisa buat beli sepuluh hektar Tanah kosong.
Pencuri itu berlari tepat ke arah Bara.
Bara tidak bergerak dari posisinya. Dia hanya merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah tabung bambu kecil berisi bubuk halus berwarna abu-abu.
"Selamat datang di dunia mimpi, Kawan," bisik Bara.
Saat si jambret hanya berjarak dua meter, Bara meniupkan serbuk itu ke udara.
Fyuuuhhh...
Itu adalah 'Serbuk Puyeng Keliyengan'—hasil distilasi akar kangkung rawa yang difermentasi dengan getah kecubung dosis rendah. Begitu terhirup, syaraf keseimbangan di telinga tengah akan mengalami eror seketika.
Si jambret tiba-tiba berhenti. Matanya berputar. Langkahnya yang tadi kencang mendadak jadi seperti orang sedang joget dangdut koplo. Dia terhuyung-huyung, menabrak tiang listrik, lalu jatuh tersungkur dengan sukses. Tas Hermes itu terlempar ke arah kaki Bara.
Bara memungut tas itu dengan santai. "Cuma tas begini kok diperebutkan. Nggak bisa buat tarok lele juga."
"BERHENTI! JANGAN BERGERAK!"
Suara tegas dan melengking terdengar dari belakang Bara. Disusul suara derap sepatu bot yang mantap di atas trotoar.
Bara menoleh. Di depannya berdiri seorang Polisi Wanita (Polwan) yang sangat cantik, tapi wajahnya galak luar biasa. Seragamnya sangat pas di badan, tapi Bara—dengan insting alkemisnya—langsung menyadari satu hal yang mencolok.
Polwan itu memiliki postur tubuh yang sangat... minimalis di bagian depan. Rata. Sangat rata hingga Bara hampir salah mengiranya sebagai papan pengumuman berjalan.
"Angkat tangan! Letakkan tas itu di lantai!" bentak sang Polwan sambil menodongkan borgol.
Bara mengangkat alis. "Nona Polwan, saya rasa Anda salah paham. Jambretnya yang sedang pingsan sambil ngiler di sana itu. Saya cuma mengamankan barang bukti."
"Jangan banyak bicara, Gembel!" hardik Polwan itu. Dia melihat penampilan Bara—kaos partai bolong, sandal swallow beda warna, dan rambut acak-adukan. "Profilmu sudah jelas! Kamu pasti komplotannya! Mana ada orang baik-baik penampilannya begini"
Polwan itu maju dengan cepat, memutar tangan Bara, dan memborgolnya dengan kasar.
"Aduh! Pelan-pelan dong, Nona Papan Tulis!" ceplos Bara tanpa sengaja.
Polwan itu membeku. Wajahnya yang cantik berubah menjadi merah padam karena marah. "Apa kamu bilang?! Papan... apa?!"
"Eh, maksud saya... Nona Polisi yang Terhormat," Bara mencoba memperbaiki suasana, tapi lidahnya memang terbuat dari cabai rawit. "Saya hanya menganalisa bahwa seragam Anda sepertinya kebesaran di bagian dada. Apa itu model baru untuk aerodinamika saat mengejar maling?"
"DIAM KAU! IKUT SAYA KE KANTOR!"
Bara duduk di ruang interogasi yang dingin. Di depannya duduk sang Polwan galak tadi. Dari nametag di dadanya, namanya adalah Rani.
Rani menatap Bara dengan tatapan membunuh sambil memegang pulpen.
"Nama?" tanya Rani ketus.
"Bara Mahendra Wardhana. CEO, Alkemis, dan Penggemar Sandal Swallow," jawab Bara santai.
Rani membanting pulpennya ke meja. "Jangan bercanda! Nama asli! Pekerjaan asli!"
"Sudah saya bilang, Nona. Saya ini pengusaha farmasi. Masalah saya terlihat seperti gembel, itu adalah pilihan gaya hidup back to nature," Bara menyilangkan kakinya, membuat sandal hijau-merahnya bergoyang-goyang di depan mata Rani.
Rani menggeram. "Dengar ya, saya sudah sering menangkap orang seperti kamu. Biasanya kalian ini pengangguran yang nyambi jadi jambret demi beli lem atau kuota internet. Ngaku saja!"
Bara menatap Rani lekat-lekat. Dia mulai melakukan analisis mendalam.
Kulit wajah: Halus, tidak ada bekas kena matahari patroli.
Jam tangan: Rolex Lady-Datejust (asli, bukan KW pasar loak).
Kuku: Manicure rapi, sangat tidak cocok dengan pekerjaan polisi lapangan.
Aroma: Parfum Chanel No. 5, bukan bau keringat kantor polisi.
Bara tertawa kecil. Tawa yang sangat meremehkan.
"Inspektur Rani... saya punya teori," kata Bara sambil memajukan tubuhnya. "Dilihat dari jam tangan mahal Anda dan kulit Anda yang belum pernah merasakan kerasnya aspal kecuali saat turun dari mobil AC, saya berani bertaruh... Anda masuk kepolisian lewat 'jalur tol', kan?"
Rani terkejut, wajahnya sedikit berubah dari yang tadi ketus. "Maksudmu apa?!"
"Pasti Papa Anda orang besar di Mabes, ya? Atau minimal kenalan dekat Kapolda," Bara menyeringai.
"Anda ini anak manja ayah yang ingin main polisi-polisian tapi tidak tahu cara membedakan pahlawan dan penjahat. Pantas saja insting detektif Anda tumpul sesampah sandal saya ini."
"KAMU...!" Rani berdiri, tangannya sudah siap mau menampar Bara.
"Dan satu lagi," potong Bara cepat. "Mungkin karena Anda terlalu sering makan makanan mahal yang penuh hormon sintetis sejak kecil, pertumbuhan sekunder Anda terhambat. Itulah kenapa dada Anda sangat... efisien. Minim beban, maksimal datarnya."
BRAAAKK!
Rani menggebrak meja dengan sangat kencang sampai vas bunga di pojok ruangan bergoyang. "SAYA AKAN PASTIKAN KAMU MEMBUSUK DI PENJARA, GEMBEL MULUT SAMPAH!"
Tepat saat Rani hendak memanggil petugas penahanan, pintu ruang interogasi terbuka. Seorang petugas polisi lain masuk dengan terburu-buru.
"Inspektur Rani! Mohon maaf, ada kesalahan!"
"Kesalahan apa lagi?!" bentak Rani.
Di belakang petugas itu, muncul ibu-ibu sosialita pemilik tas Hermes tadi. Wajahnya masih pucat karena kaget, tapi matanya berbinar saat melihat Bara.
"ITU DIA! ITU MASNYA!" teriak si Ibu sambil menunjuk Bara. "Dia bukan jambretnya, Pak Polisi! Mas ini yang nolongin saya."
Rani tertegun. "Tapi... tapi penampilannya..."
"Penampilan apa?! Mas ini penampilannya sangat artistik!" bela si Ibu.
"Dia menyelamatkan tas saya yang harganya 500 juta! Tanpa dia, jambret itu sudah hilang di gang sempit!"
Petugas polisi lain menggaruk kepala. "Benar, Inspektur. Jambret aslinya sudah sadar dan mengaku kalau dia dipukul 'asap gaib' oleh orang ini. Kita harus melepaskannya."
Hening sejenak di ruang itu.
Bara menatap Rani dengan tatapan 'tuh kan, dibilangin juga apa'. Dia mengangkat kedua tangannya yang masih diborgol.
"Jadi, Nona Anak Manja... mau dibukakan sekarang atau saya harus nunggu Papa Anda datang buat minta maaf?" tanya Bara telak.
Rani dengan wajah merah padam dan bibir gemetar, terpaksa membuka borgol Bara. Klik. Klik.
"Bebas!" Bara merenggangkan tangannya.
Bara berjalan keluar dari kantor polisi, diikuti oleh Rani yang masih menatapnya dengan dendam kesumat. Si Ibu sosialita tadi memberikan kartu namanya pada Bara dan berkali-kali mengucapkan terima kasih.
Di depan gerbang kantor polisi, Bara berhenti. Dia menoleh ke arah Rani yang berdiri di teras dengan tangan bersedekap (yang sayangnya tidak ada yang tertutup karena dadanya yang rata).
"Inspektur Rani," panggil Bara.
"Mau apa lagi kau manggil-manggil?!" sahut Rani galak.
Bara merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berminyak. "Ini buat Anda. Gratis."
Bara melempar botol itu. Rani menangkapnya secara refleks. "Apa ini? Racun?!"
"Bukan. Itu 'Minyak Bulus Alkimia 3.0'," jawab Bara sambil menyeringai lebar. "Dibuat dari lemak kura-kura hutan yang saya beri pakan hormon kedelai. Kalau mau tau cara pakainya silahkan cari saya, dengan pengaruhmu pasti mudah mencari saya bukan?. Siapa tahu bulan depan seragam Anda tidak lagi terlihat seperti papan setrikaan. Semangat ya, Nona Papan Tulis!"
"BARAAAAAA! KURANG AJAR KAU" teriak Rani histeris, nyaris melempar botol itu kembali tapi tangannya terhenti—dia penasaran dengan khasiatnya.
Bara tertawa terbahak-bahak, melenggang santai meninggal kan Rani dengan amarah yang meledak-ledak.
Hari ini Bara menang lagi: satu nyawa terselamatkan, satu tas kembali, dan satu Polwan sukses dibuat sakit hati tingkat nasional.