Lanjutan pewaris dewa pedang
Jian Wuyou yang sedang melawan langit dan utusannya harus mengalami kegagalan total dalam melindungi peti mati istrinya.
Merasa marah dia mulai naik ke alam yang lebih tinggi yaitu langit, tempat di mana musuh-musuh yang mempermainkannya berada.
Tapi sayang dia kalah dan kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Tragedi di Lembah Senja
Lembah yang selama sepuluh tahun menjadi surga kecil bagi keluarga Jian kini telah berubah menjadi lautan api emas.
Jian Wuyou berdiri di barisan paling depan, jubah putih-ungunya telah koyak dan bersimbah darah. Di hadapannya, tiga Tetua Agung Sekte Dewa Abadi yang berada di domain kehendak Tahap Puncak terus menggempur tanpa henti.
BOOOM! BOOOM!
Setiap bentrokan energi membuat tulang-tulang Jian Wuyou berderak. Ia sudah mencapai batasnya.
Esensi kehidupannya mulai terbakar demi mempertahankan perisai Domain yang melindungi Li Hua dan anak-anak di belakangnya.
"Ayah! Cukup! Berhenti!" teriak Jian An dengan suara parau. Ia melihat punggung ayahnya yang bergetar hebat, mencoba menahan serangan bertubi-tubi yang seharusnya sudah menghancurkan tubuh manusia biasa.
"Jangan... mendekat..." desis Jian Wuyou. Darah mengalir dari mata dan telinganya. "Selama aku... masih bernapas... tidak ada yang boleh... menyentuh kalian."
Ketua Sekte Dewa Abadi turun dari kapal perangnya. Ia mengangkat sebuah tongkat mustika yang memancarkan cahaya putih menyilaukan. "Jian Wuyou, kau adalah pejuang yang hebat. Tapi melawan Kehendak Langit adalah kesia-siaan. Matilah dengan tenang."
"Hukuman Langit: Penjara Cahaya Abadi!"
Sebuah pilar cahaya raksasa jatuh tepat di posisi Jian Wuyou. Jian Wuyou memaksakan seluruh sisa energinya untuk menahan pilar itu.
Tanah di bawah kakinya amblas sedalam sepuluh meter. Ia berlutut, bahunya gemetar menahan beban yang sanggup menghancurkan satu benua.
KRAKK!
Lengan kanan Jian Wuyou patah. Ia berteriak kesakitan, namun tetap tidak melepaskan perlindungannya. Di saat kritis itu, kesadarannya mulai memudar. Jiwanya seolah ditarik keluar dari raganya. Ia benar-benar hampir musnah.
Melihat ayah mereka hampir hancur menjadi debu, sesuatu meledak di dalam diri Jian An dan Jian Han.
Jian An, sebagai anak kandung hasil paradoks waktu, memiliki energi yang menentang hukum alam.
Sementara Jian Han, meskipun anak angkat, telah dibesarkan dengan esensi energi Jian Wuyou selama bertahun-tahun. Saat mereka berpegangan tangan karena rasa takut dan amarah yang luar biasa, sebuah resonansi jiwa terjadi.
"Kak Han... berikan aku tanganmu!" seru Jian An. Matanya kini tidak lagi hitam, melainkan berubah menjadi ungu kristal yang menyala.
"Demi Ayah!" balas Jian Han.
Seketika, tubuh kedua bocah berusia 11 tahun itu diselimuti oleh kepompong cahaya hitam dan ungu yang sangat pekat.
Ruang di sekitar mereka melengkung dan meledak. Tekanan energi yang keluar dari tubuh mereka membuat para pendekar Sekte Dewa Abadi yang berada di dekat mereka terpental seketika.
Pusaran energi itu perlahan memadat. Dari dalamnya, muncul satu sosok baru. Sosok ini terlihat seperti pemuda berusia 18 tahun, memiliki wajah yang merupakan perpaduan antara ketegasan Jian Han dan keindahan Jian An. Ia mengenakan zirah energi hitam yang berkilat dengan pola naga ungu.
Auranya meledak, menembus lapisan awan dimensi saku dan membuat seluruh semesta bergetar.
Ranah Puncak Abadi Tahap Awal (Sementara).
Ini adalah kekuatan yang melampaui logika dunia fana. Sosok hasil penyatuan ini menatap ke arah pilar cahaya yang sedang menindih Jian Wuyou.
Dengan satu lambaian tangan yang santai, pilar cahaya yang tadinya hampir membunuh Jian Wuyou hancur berkeping-keping seperti kaca.
Sosok itu menoleh ke arah Jian Wuyou yang terkapar lemah. Suaranya terdengar seperti dua suara yang menyatu secara harmonis.
"Ayah... istirahatlah. Sekarang, giliran kami yang menjadi perisaimu."
Jian Wuyou, dengan sisa kesadarannya, menatap sosok itu dengan takjub. Air mata jatuh di pipinya yang berdarah. Ia tahu bahwa mulai detik ini, takdir anak-anaknya telah berubah menjadi sesuatu yang bahkan tidak bisa ia bayangkan.