Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 5
Sepuluh hari berlalu dan sepuluh hari juga Bima menepati janjinya dengan tidak menyiksa sang ibu. Tapi dia terus memberikan banyak tugas dan perintah kepada Aruna. Dan yang jelas perintah ayahnya kali ini tidak masuk ke dalam daftar pengurangan waktu Aruna pembebasan Aruna dan ibunya.
"Bawa berkas ini ke kantor sebelum jam sembilan pagi. Karena aku ada meeting, aku tak mau Samapi kemu telat mengantarkan berkas ini! Apa kau paham?" ujar Bima saat dia selesai sarapan.
"Baik Tuan!" jawab Aruna menerkam berkas dari Bima. Melihat semangat dan wajah dingin Aruna membuat Bima tak suka sama sekali melihatnya.
"Kau tidak di perbolehkan naik kendaraan apapun yang ada di garasi ku. Kau hanya boleh menggunakan kaki dan otakmu saja untuk tiba di kantor! Apa kau paham?" kembali suara Bima menghentikan langkah Aruna yang baru saja menjauh darinya.
"Saya paham Tuan! Dan saya tahu betul akan hal itu! Mana berani saya menggunakan semua fasilitas majikan saya tanpa izin!" jawaban Aruna rasanya membuat sudut hati Bima berdenyut tapi buru-buru dia tepis.
"Bagus! Kau memang harus tahu diri!" jawab Bima.
"Jika tak ada lagi yang ingin anda sampaikan, saya permisi Tuan Bima," Aruna pamit.
Bi Asih yang sedang menyuapi Arkha tak bisa menutupi kesedihannya. Malang sekali nasib Aruna yang tak pernah bisa bahagia bersama dengan ayahnya. Anak sekecil itu harus berjuang untuk dirinya dan ibunya. Bima yang kesal masuk ke dalam ruangan kerjanya. Entah apa yang dia kerjakan, tak lama dia kembali dan berangkat menuju kantor.
"Ya Tuhan, selamatkan lah Non Aruna. Terlalu lama Aruna mendapatkan kesedihan dan ketidakadilan dalam hidupnya selama ini," batin Bi Asih menahan air mata.
Aruna berjalan kaki keluar dari rumah mewah ayahnya. Dia sudah terbiasa berjalan kaki seperti ini dengan membawa tas gendong di punggungnya. Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Dia hanya memiliki waktu satu jam untuk tiba di kantor ayahnya. Aruna mencoba mengingat peta yang pernah dia buat. Jalan tikus yang sering dia gunakan agar bisa cepat tiba di sekolah. Arah sekolah tak terlalu jauh dari kantor ayahnya.
Aruna mulai menghitung dan menimbang waktu yang dia perlukan untuk tiba di kantor ayahnya. Di belakangnya mobil sang ayah mengikuti langkah cepat Aruna. Bima tertawa melihat Aruna yang sedang berjalan kaki seperti itu.
"Aku yakin kali ini kamu akan mendapatkan hukuman dariku lagi Aruna! Aku sangat benci melihat senyuman dan wajah tenang yang selalu kamu perlihatkan padaku!" ucap Bima mengemudikan mobilnya lebih cepat melewati Aruna.
Bima yang membentuk karakter Aruna sedari kecil, tapi dia sendiri yang benci melihat anaknya seperti itu. Entah apa yang ada di dalam benak pria itu. Dia seolah tak terima dan tak suka jika melihat Aruna bisa setenang itu menghadapi tekanan yang dia berikan. Bukan hanya Aruna, melainkan Mutiara juga tak jauh berbeda. Istrinya tak gentar saat di perlakukan buruk olehnya. Dan Mutiara tetap pada pendiriannya jika dia ingin berpisah. Bima tak mau melepaskan Mutiara begitu saja. Apalagi dia berfikir jika Mutiara mengkhianati dirinya.
Aruna melihat mobil yang di kendarai ayahnya melewati dia dengan sangat kencang. Dia hanya tersenyum kecut melihat kelakuan ayahnya. setelahnya dia menghela napas dan mengapalkan tangan menatap tajam ke arah mobil yang sudah semakin menjauh. Aruna berlari menuju jalan tikus menuju ke kantor.
Dia tak merasa lelah berlari bekilometer jauhnya. Dia sudah terbiasa dengan olahraga keras dan ketat dari kecil yang di terapkan oleh ayahnya. Dan ternyata semua itu berguna untuknya. Aruna sudah bertekad akan mengumpulkan semua kemampuan dan memanfaatkan sisa waktu bersama ayahnya itu untuk belajar menjadi wanita tangguh dan suatu hari bisa melawan ayahnya.
Kurang dari empat puluh menit, Aruna sudah tiba di perusahaan Rahardian milik keluarga ayahnya. Dia sudah duduk manis di depan lobby di temani oleh beberapa minuman dan cemilan yang di siapkan. Semua karyawan tahu jika Aruna anak Bima sehingga memperlakukannya dengan baik.
Minuman dan cemilan sudah habis tapi ayahnya belum juga tiba di kantor. Waktu menunjukkan hampir pukul sembilan. Aruna meminta petugas kebersihan membersihkan mejanya karena khawatir Bima akan mengamuk. Dia memanfaatkan makanan itu untuk mengisi tenaganya. Bima keluar dari dalam mobil dengan senyum merekah dan penuh kemenangan karena mengira Aruna masih berjalan di belakang.
"Selamat Pagi Tuan Bima! Ini berkas yang anda minta saya antarkan! Saya sudah menunggu anda sedari tadi!" Aruna yang duduk di sofa memang tidak terlihat dengan jelas oleh Bima.
"Kau sudah tiba?" tanya Bima kaget bukan main.
"Iya Tuan, saya tiba dua puluh menit yang lalu. Silahkan berkasnya. Apa ada lagi yang harus saya kerjakan!" tanya Aruna dengan wajah yang tenang dan semakin tak ada ekspresi apapun.
Bima di buat tak percaya dengan anaknya itu. Aruna bahkan mengatakan jika dia tiba dua puluh menit sebelum dirinya? Bagaimana mungkin?
"Kau ikut denganku!" ajak Bima.
"Baik Tuan!" jawab Aruna mengikuti langkah ayahnya.
Bisik-bisik mulai terdengar oleh Aruna. kebanyakan dari mereka menaruh kasihan kepada dirinya. Tapi Aruna tak peduli dan tak butuh di kasihani. Yang dia inginkan sekarang adalah kebebasan.
"Bereskan semua berkas yang ada di lemari itu! Aku akan meeting. Dan setelah aku kembali, aku ingin semua berkasnya rapi!" perintah Bima.
", Berapa lama anda meeting Tuan?" tanya Aruna.
"Satu setengah Sampai dua jam. Bisa lebih dan bisa kurang!" jawab Bima ketus.
"Baiklah, berapa hari pengurangan masa pembebasan saya?" tanya Aruna.
"Lima hari!" jawab Bima.
",Baik!" Aruna membawa buku kecil yang ada di tasnya.
Dia mencatat berapa hari dan tugas yang dia kerjakan. Agar tidak lupa dan Bima juga tak pura-pura lupa dengan ucapannya. Aruna tak peduli dengan keberadaan Bima di sana. Tangan mungilnya mulai menyusun semua berkas yang ternyata memang acak-acakan. Dan dia terlihat sangat fokus. Tak lama asisten Bima datang dan memintanya untuk segera ke ruang meeting. Aruna bekerja sangat fokus dia memanfaatkan setiap detik wakatunya demi kebebasannya dari pria yang tak menganggapnya anak.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/