NovelToon NovelToon
THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Deru mesin mobil SUV hitam itu berhenti mendadak di depan lobi darurat Rumah Sakit Medika.

Ban mobil sedikit berdecit, meninggalkan aroma karet terbakar yang tipis di udara.

Arkan tidak peduli pada pandangan orang-orang di lobi. Ia keluar dari mobil dengan langkah lebar dan terburu-buru.

Seragam nahkodanya masih melekat sempurna dengan kemeja putih dengan tanda pangkat emas di bahu, celana kain gelap yang rapi, dan jam tangan baja yang melingkar kuat di pergelangan tangannya.

Ia baru saja menginjakkan kaki di pelabuhan tiga puluh menit yang lalu ketika sebuah pesan singkat meruntuhkan pertahanannya.

“Mama kritis, Yah. Cepat datang.”

Aroma khas rumah sakit antara campuran antiseptik menyambutnya saat ia melangkah masuk.

Arkan, yang biasanya mampu menenangkan ratusan penumpang di tengah badai besar di tengah laut, kini merasa tangannya sedikit bergetar saat menekan tombol lift.

Di depan ruang ICU, ia melihat siluet seorang gadis yang sangat ia kenal.

Gladis duduk di kursi tunggu dengan bahu yang merosot.

Rambutnya berantakan dengan wajahnya sembap.

Begitu mendengar derap langkah sepatu pantofel Arkan yang tegas, Gladies mendongak.

"Ayah..." Suara Gladies pecah.

Arkan menoleh ke arah Gladis yang memanggilnya.

Ia bukan Ayah kandung Gladies, ia adalah sahabat karib mendiang ayah gadis itu, pria yang selama sepuluh tahun terakhir menjadi pelindung bagi Gladies dan ibunya.

Arkan mendekat dengan tangannya yang besar dan mendarat di bahu Gladies yang bergetar.

"Bagaimana keadaannya?"

"Dokter mengatakan kalau Mama tidak punya waktu lama lagi," isak Gladies.

Ia berdiri dan langsung menghambur ke pelukan Arkan.

Arkan menepuk-nepuk punggung Gladis dan menenangkannya.

"Ayo kita masuk kedalam," ajak Arkan.

Sebelum masuk mereka berdua mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus.

Setelah itu mereka masuk kedalam ruang ICU dimana Widya sudah menunggunya.

"Arkan, akhirnya kamu datang?" sebuah suara lemah memanggil dari balik pintu ICU yang terbuka sedikit.

Di dalam ruangan yang didominasi bunyi detak jantung dari monitor, Ibu Gladis, Widya, terbaring pucat.

Matanya yang sayu menatap Arkan dengan binar harapan yang menyakitkan.

"Mendekatlah kesini, Arkan," bisik Widya.

Arkan melangkah maju, menggenggam tangan wanita yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri itu.

"Aku di sini, Widya. Maaf aku datang terlambat."

Widya menggeleng lemah, lalu pandangannya beralih pada Gladis yang berdiri di sisi lain tempat tidur.

Dengan sisa tenaganya, Widya menyatukan tangan Gladies dengan tangan Arkan di atas dadanya.

"Arkan, aku tidak bisa meninggalkan Gladis sendirian di dunia ini. Dia hanya punya kamu, Arkan. Berjanjilah padaku, jaga dia. Bukan sebagai wali, tapi sebagai suaminya."

Dunia seakan berhenti berputar bagi Arkan. Bunyi steady beep dari monitor jantung terasa seperti ledakan di telinganya.

Ia menatap Gladis yang juga terbelalak kaget, napas gadis itu tertahan di tenggorokan.

"Widya, apa yang kau katakan? Aku—"

"Tolong," potong Widya dengan tatapan memohon yang mematikan segala logika.

"Hanya ini yang aku minta, Arkan. Agar aku bisa pergi dengan tenang. Menikahlah dengannya, Arkan."

Di dalam kamar yang dingin, sang nahkoda yang terbiasa menjinakkan samudra itu kini merasa dirinya sedang karam.

Gladis melepaskan tangannya dan menggelengkan kepalanya.

"Ma, aku tidak mau menikah dengan Ayah. A-aku sudah mempunyai calon sendiri." ucap Gladis.

Widya justru terbatuk kecil, sebuah suara yang membuat monitor jantung di sampingnya berbunyi semakin tidak beraturan.

"Siapa, Gladis? Pria yang baru kamu kenal beberapa bulan itu? Ibu tidak bisa melepaskanmu pada sembarang orang. Hanya Arkan yang tahu cara menjagamu jika aku tidak ada." ujar Widya.

Widya terbatuk lagi, kali ini lebih keras hingga tubuhnya yang ringkih terguncang.

Suster yang berjaga di sudut ruangan segera mendekat, memeriksa monitor yang menunjukkan grafik detak jantung yang semakin tidak stabil.

"Widya, tenanglah. Jangan memaksakan diri," ucap Arkan dengan wajah yang cemas.

Widya tidak mempedulikan peringatan itu. Ia justru mencengkeram lengan seragam Arkan dengan sisa tenaga yang ada.

"Arkan, demi janji yang pernah kamu ucapkan pada suamiku. Jangan biarkan dia sendirian." ucap Widya yang memohon kepada Gladis

Widya kembali menatap wajah putrinya yang berdiri mematung.

"Gladis, tolong dengarkan Mama. Hidup ini bukan hanya soal cinta yang meledak-ledak di awal. Ini soal siapa yang akan berdiri paling depan saat badaimu datang. Pria itu tidak ada di sini saat kau hancur sekarang. Tapi Arkan ada."

"Ma, ini tidak adil untukku, juga untuk Ayah Arkan! Dia orang tuaku!"

"Aku bukan ayahmu, Gladis." ucap Arkan yang berat dan dalam memotong tangis Gladis.

Gadis itu menoleh, menatap Arkan dengan mata yang memerah.

Arkan berdiri tegak, auranya sebagai pemimpin kapal kembali muncul, dingin dan tak tergoyahkan.

Ia menatap tajam ke arah Gladis, sebuah tatapan yang biasanya ia gunakan untuk mendisiplinkan awak kapal di tengah cuaca buruk.

"Berhenti bersikap kekanak-kanakan, Gladis! Lihat Mamamu! Apakah menurutmu ini waktu yang tepat untuk membahas perasaan pribadimu atau pria lain yang bahkan tidak menunjukkan batang hidungnya di saat seperti ini?"

"Tapi Yah—"

"Jangan panggil aku Ayah lagi. Mulai detik ini, status itu sudah mati," potong Arkan dengan nada yang sangat lugas hingga membuat Gladis merasa asing.

Arkan beralih menatap Widya, lalu kembali pada Gladis.

Ia tahu, menolak permintaan terakhir wanita yang sekarat adalah hal yang mustahil baginya.

Ia merasa harus mengambil kendali, seperti ia mengambil alih kemudi saat nakhoda lain menyerah pada ombak.

"Ikuti kemauan Mamamu, Gladis. Jangan biarkan dia pergi dengan beban di pundaknya," perintah Arkan, kini tangannya mencengkeram pergelangan tangan Gladis.

Ia memaksa gadis itu untuk tetap berdiri di tempatnya.

"Aku tidak bisa, Yah. Aku tidak mencintaimu," bisik Gladis gemetar.

"Aku tidak butuh cintamu sekarang. Aku butuh kepatuhanmu," sahut Arkan tanpa ekspresi.

"Kita akan menikah. Di sini. Sekarang juga. Setelah itu, kamu bebas membenciku seumur hidupmu, tapi setidaknya ibumu akan pergi dengan tenang. Mengerti?"

Gladis merasa dunianya benar-benar runtuh. Ia menatap ibunya yang tersenyum tipis di balik masker oksigen, lalu menatap Arkan yang selama ini ia hormati, kini berubah menjadi sosok asing yang begitu dominan dan memaksa.

Suasana di dalam ruang ICU berubah menjadi mencekam sekaligus sakral.

Hanya butuh waktu kurang dari satu jam bagi Arkan untuk menggunakan koneksinya.

Seorang penghulu dari kantor urusan agama terdekat datang dengan langkah terburu-buru, membawa buku besar yang akan menyegel nasib dua orang yang terpaut usia belasan tahun itu.

Gladis merasa seperti robot yang berdiri di samping ranjang ibunya.

Sementara Arkan duduk di kursi kayu di sebelah tempat tidur, menjabat tangan penghulu.

"Saudara Arkan Maulana bin Almarhum Pramono, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Gladis Anindita binti Almarhum Hendra, dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar lima puluh juta dibayar tunai."

Suara penghulu itu menggema di ruangan yang sempit tersebut.

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Gladis Anindita binti Hendra dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."

"Saksi?"

"Sah."

"Sah."

Dunia Gladis seolah kehilangan jati dirinya, saat ia dipaksa mencium punggung tangan Arkan.

Ia tidak merasakan kehangatan seorang ayah yang biasa melindunginya.

Ia merasakan kulit yang keras, dingin, dan otoritas yang mutlak.

Bibir Gladis bergetar saat menyentuh kulit tangan pria yang kini resmi menjadi suaminya.

Widya, dengan sisa tenaga terakhirnya, mengulas senyum paling damai yang pernah Gladis lihat.

"Terima... kasih, Arkan. Jaga... anakku..."

Beberapa detik kemudian, bunyi steady beep yang panjang dan melengking memenuhi ruangan.

Grafik di monitor berubah menjadi garis lurus yang statis.

"Mama!!!" jerit Gladis pecah.

Ia menghambur ke tubuh ibunya yang mulai mendingin.

Para suster segera mendekat untuk melakukan prosedur medis terakhir, namun Arkan dengan sigap menahan bahu Gladies, menariknya mundur agar petugas bisa bekerja.

"Lepaskan aku! Mama! Ayah, lepaskan!" teriak Gladis histeris.

Gladis masih memanggilnya dengan sebutan 'Ayah' dalam kondisi kalut.

Arkan membalikkan tubuh Gladis dengan kasar, mencengkeram kedua bahunya agar gadis itu menatap matanya yang sedingin es.

"Berhenti, Gladis! Dia sudah pergi," ucap Arkan.

"Tidak! Ini semua gara-gara kamu! Kalau kamu tidak memaksaku, Mama tidak akan—"

"Mama mu pergi dengan tenang karena dia tahu kamu ada di bawah kendaliku," potong Arkan.

Ia tidak memberi ruang bagi Gladis untuk meratap lebih lama.

"Sekarang, hapus air matamu. Kita punya jenazah yang harus diurus. Jangan buat aku malu dengan tangisan kekanak-kanakanmu di depan orang-orang."

Gladis menatap Arkan dengan tatapan tidak percaya.

Pria yang biasanya mengelus rambutnya saat ia bersedih, kini menatapnya seperti seorang bawahan yang melakukan kesalahan fatal di atas kapal.

"Kamu jahat," bisik Gladies dengan suara serak.

Arkan tidak bergeming. Ia mengeluarkan ponselnya, mulai menghubungi pihak logistik dan keluarga besar untuk pengurusan jenazah seolah-olah pernikahan yang baru saja terjadi hanyalah sebuah transaksi bisnis rutin.

"Aku sudah memesan ambulans untuk membawa ibumu ke pemakaman umum. Kamu, ikut asistenku ke mobil. Tunggu di sana," perintah Arkan tanpa menoleh.

"Aku mau ikut ambulans Mama!"

Arkan menghentikan langkahnya, menoleh sedikit dengan sudut mata yang tajam.

"Aku tidak suka mengulang perintah, Gladis. Sekarang, kamu adalah istriku. Di laut atau di darat, kata-kataku adalah hukum. Pergi ke mobil, atau aku akan menyeretmu sendiri."

Gladis mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih.

Di hari ia kehilangan ibunya, ia juga kehilangan kebebasannya.

Ia menyadari satu hal kalau Arkan yang lembut telah tenggelam, digantikan oleh nakhoda kejam yang kini memegang kendali penuh atas hidupnya.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Gladys 😄 cocok jadi pasangan hidup Arkan
Ita Putri
seruuuu
lanjut💪💪
Ariany Sudjana
bagus Gladys kamu harus tegas, jangan biarkan pelakor murahan seperti Angela merusak rumah tangga kamu dengan Arkan
Ariany Sudjana
sedih lihat perjuangan Gladys sampai segitunya demi menyelamatkan suami tercinta
Ariany Sudjana
ini kenap sih ada pelakor datang? Gladys yang berjuang menyelamatkan Arkan di pulau, malah dipeluk pelakor, dan orang tua Arkan juga diam, jangan-jangan Arkan sudah dijodohkan dengan perempuan ga jelas itu
Ariany Sudjana
Suka dengan karakter Gladys, tidak peduli dengan semua halangan, dia hadapi demi menyelamatkan suami tercinta, walaupun awalnya mereka berdua menikah karena terpaksa
Ariany Sudjana
Alex harus dihukum berat, jangan biarkan dia lolos
Ariany Sudjana
semoga Arkan dan Gladys lekas ditemukan dengan kondisi selamat dan sehat. semangat juang Gladys luar biasa, tidak ada sosok manja, semua dilakukan demi keselamatan suami tercinta
Ariany Sudjana
semoga Arkan bisa diselamatkan dan bisa sadar kembali dan kembali sehat, jangan tinggalkan Gladys
Ariany Sudjana
bagus Arkan, jangan biarkan Gladys hancur karena omongan julid dari orang yang ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Ariany Sudjana
tetap waspada yah Arkan dan Gladys, jangan biarkan Alex atau siapapun menghancurkan rumah tangga kamu kalian
Ita Putri
sweet banget gk sih mereka berdua 🥰
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Gladys sudah tahu kejadian sebenarnya, dan jangan pernah meragukan suami kamu untuk melindungi kamu Gladys
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
Gladys kamu jangan bodoh, jangan mudah emosi, Arkan itu kapten kapal, dan dia harus menjaga wibawanya di depan seluruh penumpang. dan lagi, jangan karena kamu istrinya, Arkan harus percaya begitu saja, tidak seperti itu. bukti paling kuat CCTV, dan jika bukti itu keluar, nama kamu bisa dibersihkan. ingat Gladys, Alex dan antek-anteknya ada di sekeliling kamu, segala cara akan dilakukan untuk menjatuhkan kamu dan Arkan
Ariany Sudjana
bukannya seram Gladys, tapi itu cara Arkan untuk melindungi kamu selaku istrinya
Ita Putri
alur cerita seru gk bertele tele
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ita Putri
semangatnya outhor 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!