"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."
Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).
Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.
Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Di Antara Tumpukan Berkas dan Hati Yang Jaga Jarak
Jarum jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul sembilan malam. Suasana di kediaman Akbar terasa damai. Di sofa panjang, Hannah sedang duduk bersila memangku laptop, keningnya berkerut membaca silabus mata kuliah Pengantar Sastra. Sementara di ujung sofa yang sama, Akbar sedang membaca koran bisnis dengan segelas teh jahe hangat di meja.
Ini adalah rutinitas malam baru mereka. Tidak banyak bicara, hanya saling menemani dalam diam yang nyaman.
Kring! Kring!
Dering ponsel Akbar yang nyaring memecah keheningan. Akbar meletakkan korannya, melihat layar ponsel. Nama "Pak Haryo - Site Manager" tertera di sana. Kening Akbar berkerut dalam. Telepon dari manajer lapangan di jam segini biasanya bukan kabar baik.
"Halo, Pak Haryo. Ada apa?" jawab Akbar, suaranya langsung berubah tegas.
Hannah menghentikan ketikannya, menoleh memperhatikan perubahan ekspresi suaminya. Wajah Akbar yang tadi santai kini menegang.
"Apa? Beton di sektor C retak rambut? Bagaimana bisa? Campurannya sudah sesuai spek?" Akbar berdiri, mulai mondar-mandir di ruang tamu. "Saya tidak mau ambil risiko. Tahan pengecoran lantai dua. Saya ke kantor sekarang. Siapkan semua data uji lab. Panggil tim drafter dan keuangan juga."
Akbar memutus sambungan telepon dengan wajah keruh. Ia menoleh pada Hannah yang menatapnya cemas.
"Ada masalah di proyek, Mas?" tanya Hannah pelan.
"Iya, ada kesalahan teknis yang fatal kalau tidak segera dicek. Mas harus ke kantor pusat sekarang untuk rapat darurat sama tim," jelas Akbar sambil bergegas menuju kamar untuk mengganti kaos santainya dengan kemeja.
Hannah mengangguk. "Ya sudah, Mas hati-hati. Hannah kunci pintu dari dalam ya."
Akbar berhenti di ambang pintu kamar. Ia menatap Hannah. Rumah ini besar, sepi, dan Hannah baru tinggal di sini seminggu. Meninggalkan istrinya sendirian di malam hari dengan kondisi lingkungan yang masih asing membuat hati Akbar tidak tenang.
"Jangan," potong Akbar cepat. "Ganti baju sekarang. Pakai yang hangat. Kamu ikut Mas."
"Eh? Ikut ke kantor?" Hannah bingung. "Tapi Hannah kan nggak ngerti apa-apa, Mas. Nanti malah ganggu."
"Nggak akan ganggu. Kamu cuma duduk di sofa ruangan Mas. Mas nggak tenang ninggalin kamu sendirian di rumah jam segini," tegas Akbar. Sifat protektifnya tidak bisa ditawar. "Cepat, lima menit."
Tiga puluh menit kemudian, mobil Akbar membelah jalanan malam yang mulai lengang. Gedung kantor Hasyim Group masih terlihat terang di beberapa lantai, tanda ada kehidupan lembur di sana.
Hannah berjalan mengekor di belakang Akbar memasuki lobi. Ia mengenakan gamis tebal berwarna navy dan jaket rajut, serta jilbab instan yang nyaman. Wajahnya polos tanpa bedak, terlihat sangat muda dan kontras dengan suasana kantor yang formal.
Begitu pintu lift terbuka di lantai dua, suara perdebatan samar terdengar. Di ruang rapat kaca yang terhubung dengan ruangan Akbar, sudah berkumpul tiga orang staf inti. Salah satunya adalah Annisa.
Annisa malam itu tampak lelah. Lingkaran hitam samar terlihat di bawah matanya, namun jilbab syar'i maroon-nya tetap rapi. Ia sedang membolak-balik berkas laporan dengan serius saat pintu terbuka dan Akbar melangkah masuk dengan langkah lebar.
"Selamat malam, Pak," sapa staf pria serempak.
Annisa mendongak. "Malam, P..."
Kalimat Annisa terhenti di tenggorokan saat melihat sosok mungil yang muncul dari balik punggung tegap Akbar. Hannah.
Gadis itu lagi. Istrinya.
Jantung Annisa mencelos. Ia pikir malam ini hanya akan ada urusan pekerjaan, di mana ia bisa menunjukkan kompetensinya di depan Akbar. Tapi kehadiran Hannah seolah menjadi penegas batas yang tak kasat mata: Ini dunia kerjamu, tapi itu dunia hatinya.
"Maaf saya bawa istri. Tidak ada orang di rumah," ujar Akbar singkat tanpa merasa perlu menjelaskan panjang lebar. Ia menoleh pada Hannah, suaranya melembut drastis. "Dek, kamu duduk di sofa ruangan saya saja ya. Pintunya saya buka biar kelihatan. Kalau ngantuk, tidur saja di sana."
"Iya, Mas," jawab Hannah patuh.
Hannah memberanikan diri menatap orang-orang di ruang rapat itu. Matanya bertemu dengan Annisa.
"Malam, Mbak Annisa," sapa Hannah ramah, mencoba mencairkan suasana. Ia ingat wanita cantik ini yang ia temui tempo hari.
Annisa mengerjap, lalu memaksakan senyum tipis—sangat tipis dan berjarak. Ia tidak menatap mata Hannah lama-lama. Ia segera mengalihkan pandangannya kembali ke berkas di meja.
"Malam, Dek Hannah," jawab Annisa formal. Nada suaranya datar, seolah ia sedang berbicara dengan klien, bukan dengan kenalan.
Hannah merasakan penolakan halus itu. Ia merasa Annisa seperti membangun tembok es di sekelilingnya. Tidak ingin memperburuk suasana kerja suaminya, Hannah segera masuk ke ruangan pribadi Akbar, duduk di sofa empuk di sudut ruangan, dan mengeluarkan buku catatannya.
Sementara itu, di meja rapat, atmosfer berubah serius.
"Coba lihat data uji lab betonnya," perintah Akbar, sudah duduk di kursi pimpinan. Mode "suami penyayang"-nya hilang seketika, berganti menjadi direktur yang perfeksionis.
Annisa maju, menyodorkan map biru. "Ini, Pak. Sepertinya ada kesalahan di suplier semen. Komposisinya berbeda dari sampel awal."
Tangan Annisa sedikit gemetar saat meletakkan map itu di dekat tangan Akbar. Ia berusaha mati-matian menjaga profesionalitasnya. Ia berusaha tidak melirik ke arah ruangan direktur yang pintunya terbuka lebar, di mana ia bisa melihat ujung gamis Hannah dari tempat duduknya.
Diskusi berjalan alot. Akbar mencecar manajer proyek lewat sambungan telepon speaker, sementara Annisa sibuk mencatat poin-poin revisi anggaran.
Satu jam berlalu. Suasana tegang mulai mereda setelah solusi ditemukan.
"Oke, kita ganti vendor untuk sektor C. Annisa, tolong buatkan surat pemutusan kontrak dan draft kontrak baru malam ini juga. Besok pagi harus saya tanda tangani," perintah Akbar.
"Baik, Pak. Saya kerjakan sekarang," jawab Annisa sigap.
Annisa bangkit, berjalan menuju printer di sudut ruangan yang kebetulan posisinya menghadap langsung ke dalam ruangan pribadi Akbar.
Saat menunggu kertas keluar dari mesin printer, mata Annisa tak bisa ditahan untuk tidak melihat ke dalam.
Pemandangan di sana membuat dadanya sesak.
Hannah tertidur di sofa. Tubuhnya meringkuk seperti anak kecil, buku catatannya terjatuh di karpet.
Yang membuat hati Annisa nyeri bukanlah Hannah yang tertidur, melainkan apa yang dilakukan Akbar. Di tengah diskusi yang belum sepenuhnya bubar, Akbar menyempatkan diri berdiri, berjalan masuk ke ruangannya.
Akbar mengambil jas kerjanya yang tersampir di kursi, lalu dengan sangat pelan seolah takut membangunkan Hannah, ia menyelimuti tubuh Hannah dengan jas itu. Akbar membetulkan letak jilbab Hannah yang sedikit berantakan, lalu mengusap kepala istrinya sekilas sebelum kembali ke ruang rapat dengan wajah datar seolah tak terjadi apa-apa.
Annisa mematung di depan mesin printer. Kertas laporannya sudah selesai dicetak, tapi kakinya terasa berat untuk melangkah.
Pemandangan itu begitu intim. Begitu penuh kasih sayang.
Selama tiga tahun mengenal Akbar, Annisa hanya melihat sisi tegas, kaku, dan profesional pria itu. Ia pikir Akbar memang tipe pria dingin yang tidak romantis. Tapi malam ini, Annisa sadar ia salah besar. Akbar bisa sangat hangat, sangat lembut... tapi bukan untuknya.
"Annisa? Sudah selesai?" suara Akbar membuyarkan lamunan pedih itu.
Annisa tersentak. "Ah, su... sudah, Pak."
Ia buru-buru mengambil kertas-kertas itu, merapikannya dengan tangan yang dingin. Ia berjalan kembali ke meja rapat, meletakkan dokumen itu di hadapan Akbar.
"Ini draft-nya, Pak," ucap Annisa. Kali ini ia benar-benar tidak berani menatap wajah Akbar. Ia takut pertahanannya runtuh.
"Terima kasih," Akbar memeriksa sekilas. "Oke, sempurna. Terima kasih kerjasamanya malam ini. Kalian boleh pulang."
Rapat bubar. Staf lain mulai berkemas.
"Mbak Annisa, nggak mau sapa Dek Hannah dulu sebelum pulang?" tanya salah satu rekan kerjanya iseng.
Annisa menggeleng cepat, wajahnya pias. "Nggak usah. Kasihan, dia sudah tidur. Nanti bangun. Saya duluan ya."
Tanpa menunggu jawaban, Annisa menyambar tasnya dan berjalan cepat menuju lift. Ia butuh udara segar. Ia butuh menjauh dari ruangan itu, menjauh dari pemandangan bahagia yang menyakitkan itu.
Annisa menekan tombol lift berkali-kali dengan tidak sabar. Saat pintu besi itu tertutup, memisahkan dirinya dari lantai dua, satu bulir air mata akhirnya lolos membasahi pipinya.
Aku harus sadar diri, batin Annisa pilu. Dia bukan milikku. Dan tidak akan pernah.
Sementara di ruangan direktur, Akbar membereskan mejanya. Ia mematikan lampu ruang rapat, menyisakan lampu temaram di ruangannya sendiri.
Ia menghampiri Hannah yang masih terlelap.
"Dek..." bisik Akbar pelan, menggoyangkan bahu Hannah lembut. "Bangun, yuk. Kita pulang. Urusannya sudah selesai."
Hannah mengerjap, mengucek matanya. "Mnggh... Mas? Sudah jam berapa?"
"Jam sebelas. Ayo, pindah tidur di rumah," ajak Akbar sambil mengulurkan tangan, membantu istrinya bangun.
Hannah berdiri sempoyongan, masih setengah sadar. Jas Akbar yang kebesaran merosot dari bahunya. Akbar memungut jas itu, lalu menyampirkannya kembali ke bahu Hannah agar istrinya tidak kedinginan di parkiran nanti.
"Mbak Annisa mana, Mas?" tanya Hannah serak.
"Sudah pulang," jawab Akbar singkat.
"Oh... Hannah belum sempat pamit," gumam Hannah.
"Nggak apa-apa. Dia mengerti kok," dusta Akbar, atau mungkin lebih tepatnya, harapan Akbar.
Mereka berjalan beriringan keluar kantor yang sepi. Hannah menggandeng lengan Akbar erat, mencari sandaran. Dan Akbar membiarkannya, menjadi pilar kokoh bagi istri kecilnya, tanpa menyadari bahwa di sudut kota lain, ada hati seorang wanita yang sedang retak karena melihat kebahagiaan mereka malam ini.