NovelToon NovelToon
Hening Yang Membeku

Hening Yang Membeku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Duniahiburan / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: KOORDINAT DI BALIK PINUS

Kereta api menuju utara membelah kabut fajar dengan ritme yang menenangkan. Di dalam gerbong privat, Kai menatap koordinat yang terpampang di layar tabletnya. Angka-angka itu menunjuk ke sebuah lembah tersembunyi di balik Gunung Oakhaven—tempat yang bahkan tidak tercantum dalam peta turis mana pun.

"Kau melamun lagi," suara Elara lembut, membuyarkan konsentrasi Kai.

"Aku hanya berpikir," Kai menoleh ke arah jendela. Salju mulai turun lagi, menyelimuti hutan pinus dengan jubah perak. "Ayahku menghabiskan tahun-tahun terakhirnya dengan rahasia ini. Dia menciptakan teknologi masa depan di ibu kota, tapi dia menyembunyikan jantungnya di tempat yang paling sunyi di dunia."

Elara menggenggam tangan Kai. "Mungkin karena di tempat sunyi itulah dia merasa paling dekat dengan dirimu, Kai. Ingat apa yang dia katakan? Spektrum hanya bekerja dengan harmoni."

Sesampainya di stasiun Oakhaven, mereka tidak menuju ke kafe atau apartemen. Kai telah menyewa sebuah kendaraan segala medan dan peralatan mendaki. Mereka berangkat menuju arah barat, menembus jalur setapak yang hanya digunakan oleh para penebang kayu tua.

Udara semakin tipis dan dingin. Pepohonan pinus di sini tampak lebih tua, dengan dahan-dahan yang menunduk karena beban salju yang abadi. Setelah mendaki selama beberapa jam, mereka sampai di tepi sebuah tebing yang menghadap ke lembah kecil yang terisolasi.

Di tengah lembah itu, berdiri sebuah struktur yang tidak terduga. Sebuah rumah kabin kayu yang sederhana, namun memiliki atap kaca berbentuk kubah yang sangat modern.

"Itu dia," bisik Kai. "Studio rahasia Ayah."

Mereka turun ke lembah dengan hati-hati. Saat mendekati kabin, Kai merasakan sensasi aneh di penglihatannya. Warna-warna di sekitar kabin itu tampak lebih hidup—hijau lumut di batu, cokelat tua kulit kayu, dan putih salju—semuanya memiliki saturasi yang lebih dalam.

Kai mengeluarkan kunci perak Elara. Di dekat pintu masuk kabin, terdapat sebuah lubang kecil yang sangat pas dengan bentuk kunci tersebut.

*Klik.*

Pintu terbuka dengan suara desisan udara yang dilepaskan. Di dalam kabin, udara terasa hangat dan berbau kayu cendana. Ruangan itu luas, dengan dinding yang dipenuhi oleh ribuan botol pigmen warna tradisional dari seluruh dunia. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kerja besar dengan sketsa-sketsa yang berserakan.

Namun, yang paling mencolok adalah dinding bagian belakang yang merupakan layar proyeksi alami terbuat dari kristal kuarsa.

"Ini bukan studio biasa," Elara menyentuh salah satu botol pigmen. "Ini adalah laboratorium warna."

Kai berjalan menuju meja kerja. Di sana, terdapat sebuah surat terakhir yang ditujukan untuknya, tertanggal hanya beberapa minggu sebelum kecelakaan itu terjadi.

*“Kai, anakku. Proyek Spektrum di gedung Lumina adalah tubuhnya, tapi tempat ini adalah jiwanya. Di sini, aku berhasil menciptakan 'Warna Murni'—sebuah pigmen yang tidak memantulkan cahaya, tapi memancarkannya. Aku menamakannya 'Spektrum Biru'. Ini adalah warna yang bisa dilihat oleh setiap mata manusia, tidak peduli apa pun trauma yang mereka miliki.”*

Kai melihat sebuah tabung kaca kecil di tengah meja. Di dalamnya terdapat serbuk biru yang sangat intens. Saat Kai menatapnya, ia merasa seluruh otaknya bergetar. Biru itu... itu adalah warna pertama yang benar-benar ia lihat secara total, tanpa bayang-bayang abu-abu di tepinya.

"Elara... aku bisa melihatnya," suara Kai pecah. "Biru ini... sangat indah."

Elara mendekat, melihat ke dalam tabung itu. Meskipun matanya normal, ia juga merasa terpesona. "Warna ini terasa seperti... harapan yang diberikan bentuk fisik."

Tiba-tiba, sebuah proyektor di langit-langit menyala otomatis, mendeteksi keberadaan mereka. Sebuah holograf ayahnya muncul di tengah ruangan. Wajahnya tampak lelah namun tersenyum bahagia.

*“Jika kau menemukan ini, Kai, artinya kau sudah siap untuk melukis kembali dunia. Spektrum Biru ini bukan untuk disimpan. Ini adalah formula untuk menyembuhkan mereka yang dunianya menjadi gelap. Gunakan ini sebagai fondasi pameran pertamamu di Lumina. Biarkan semua orang melihat bahwa kegelapan hanyalah kurangnya pemahaman akan cahaya.”*

Holograf itu kemudian menunjukkan instruksi terakhir: cara menyatukan pigmen biru murni itu dengan frekuensi suara Elara.

"Dia ingin kita berkolaborasi secara total," ucap Kai. "Suaramu akan menjadi katalis untuk menyebarkan warna ini ke seluruh ruangan."

Namun, di tengah momen haru itu, sensor keamanan kabin berbunyi pelan. Di layar monitor kecil dekat pintu, terlihat beberapa sosok berpakaian hitam sedang menuruni tebing menuju lembah tersebut.

Kai mengerutkan kening. "Mereka bukan polisi. Dan mereka bukan anak buah Yudha."

"Siapa mereka?" tanya Elara cemas.

"Mereka adalah orang-orang yang membeli saham sisa Lumina secara anonim setelah Yudha ditangkap," jawab Kai, menyadari bahwa ia telah diikuti. "Dewi-dewi korporat baru yang menginginkan teknologi ini untuk kepentingan komersial."

Kai segera mengambil tabung 'Spektrum Biru' dan memasukkannya ke dalam sakunya. Ia menatap Elara. "Kita tidak bisa membiarkan tempat ini jatuh ke tangan mereka. Mereka akan mengubah warna ini menjadi produk massal tanpa jiwa."

"Apa yang harus kita lakukan?"

Kai melihat ke arah konsol utama. Terdapat sebuah tombol bertanda 'Reset'. "Kita akan membawa rahasia formula ini di dalam ingatan kita, dan menghancurkan fisik laboratorium ini sebelum mereka sampai."

"Tapi Kai, ini warisan ayahmu!"

"Warisan Ayah ada di dalam mataku dan di dalam suaramu, Elara. Bukan di gedung ini," Kai menatap Elara dengan penuh keyakinan. "Ayo, kita pergi lewat jalur belakang hutan."

Kai menekan tombol 'Reset' dan sistem penghancuran diri yang sunyi mulai bekerja. Mereka keluar melalui pintu rahasia di balik rak buku, tepat saat orang-orang berpakaian hitam itu mulai mendobrak pintu depan.

Mereka berlari menembus hutan salju, dikejar oleh waktu dan orang-orang yang haus akan keuntungan. Di saku Kai, pigmen biru itu seolah-olah berdenyut, memberikan kehangatan di tengah badai yang membeku.

Babak baru telah dimulai. Bukan lagi soal balas dendam pada Yudha, melainkan perjuangan untuk melindungi kemurnian seni dari tangan-tangan serakah dunia korporat. Dengan 36 bab yang tersisa, perjalanan Kai dan Elara kini menjadi misi untuk memberikan warna kepada dunia tanpa syarat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!