Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persinggahan
Debu jalanan desa yang mulai halus terlindas roda sepeda motor warga seolah ikut merayakan langkah kaki Aditya yang kian mantap menuju rumah kayu miliknya. Di sampingnya, Ningsih berjalan dengan binar mata yang tak henti-hentinya memancar. Meskipun tadi ia sempat merasa ciut karena tatapan ketus Bu Maman dan bisik-bisik warga di gapura desa, genggaman tangan Aditya yang kokoh seolah memberikan benteng perlindungan baginya.
"Jangan dimasukkan ke hati ya, Ning. Orang desa memang kadang suka bicara sembarangan kalau melihat hal baru. Yang penting nanti Ibu sama Bapak," bisik Aditya sambil menunjuk sebuah rumah sederhana dengan halaman luas yang ditumbuhi pohon mangga dan bunga soka di sudutnya.
Hati Ningsih berdesir hebat. Ia merapikan kembali tatanan rambutnya dan memastikan tas berisi oleh-oleh untuk keluarga Aditya sudah dalam posisi yang benar. Ia ingin memberikan kesan sempurna. Baginya, kepulangan ini bukan sekadar kunjungan, melainkan sebuah pengukuhan status.
Sesampainya di halaman rumah, Aditya berteriak lantang dengan suara yang penuh kerinduan. "Ibu! Bapak! Siti! Adit pulang!"
Pintu kayu yang sudah sedikit kusam itu terbuka dengan cepat. Muncul sosok Siti yang sedang memegang serbet dapur. Matanya membelalak, mulutnya menganga, lalu sedetik kemudian ia menjerit kegirangan. "Mas Adit! Mas Adit pulaaaang!"
Siti berlari menghambur ke pelukan kakaknya. Kebisingan itu segera memancing keluar Mak Inah dan Pak Darmo dari arah dapur. Mak Inah, yang rambutnya mulai memutih namun memiliki raut wajah yang sangat teduh, langsung menitikkan air mata saat melihat anak laki-lakinya berdiri tegak di depannya.
"Gusti... anakku..." gumam Mak Inah sambil merangkul Aditya erat-erat.
Setelah suasana haru mereda, perhatian keluarga itu serentak beralih kepada sosok gadis cantik yang berdiri di belakang Aditya. Ningsih membungkuk dengan sangat sopan, memberikan senyum yang paling tulus yang ia miliki.
"Ibu, Bapak, Siti... perkenalkan, ini Ningsih," ucap Aditya dengan nada bangga namun penuh rasa hormat. "Ningsih ini adalah orang yang menjaga Adit selama di Jakarta. Waktu Adit sakit parah sampai tidak bisa bangun, Ningsih dan ibunya yang merawat Adit setiap hari. Mereka sudah seperti keluarga sendiri buat Adit di perantauan."
Mendengar penjelasan Aditya, raut wajah Mak Inah yang tadinya penuh selidik berubah drastis menjadi penuh kelembutan. Ia melangkah maju dan memegang kedua tangan Ningsih.
"Oalah, Nduk... jadi kamu yang namanya Ningsih? "Terima kasih banyak ya, Nduk. Tanpa bantuanmu dan ibumu, entah bagaimana nasib anakku di kota besar itu."
Pak Darmo pun ikut mengangguk mantap. "Mari, Nak Ningsih, masuk dulu. Jangan berdiri di luar. Anggap saja rumah sendiri. Kami ini orang kecil, rumahnya hanya seperti ini, tapi hati kami sangat terbuka untuk orang yang sudah menolong nyawa anak kami."
Ningsih merasa seolah-olah hatinya baru saja disiram air sejuk di tengah padang pasir. Sambutan yang begitu hangat, tulus, dan penuh rasa terima kasih dari keluarga Aditya membuatnya merasa sangat dihargai. Ia tidak menyangka bahwa cerita Aditya tentang dirinya di perantauan telah membangun jalan yang begitu mulus untuknya.
“Mereka menerimaku dengan tangan terbuka. Ibu dan bapaknya sangat baik... apakah ini tandanya aku sudah dianggap sebagai calon menantu?” batin Ningsih penuh bunga. Ia merasa pengorbanannya selama ini di Jakarta—menyuapi Aditya, mencuci pakaiannya, dan membelanya di depan ibunya sendiri—telah membuahkan hasil yang manis.
Di dalam rumah, Siti dengan cekatan menyuguhkan teh hangat dan pisang goreng yang masih mengepul. "Mbak Ningsih cantik sekali, pantesan Mas Adit betah di Jakarta," celetuk Siti sambil menggoda kakaknya.
Ningsih tersipu malu. "Ah, Siti bisa saja. Mbak cuma bantu sebisa Mbak kok, Bu, Pak. Mas Adit itu orangnya baik dan pekerja keras, jadi kami di warung juga merasa senang membantu."
Ningsih kemudian mulai membuka tas besarnya dan mengeluarkan oleh-oleh yang sudah ia siapkan. "Ini ada sedikit kain batik buat Ibu, dan sarung untuk Bapak. Ada jam tangan juga buat Siti. Semoga suka ya."
"Aduh, Nduk... kenapa repot-repot sekali? Kamu datang saja kami sudah senang," ucap Mak Inah sambil mengelap air mata harunya. "Aditya benar, kamu memang anak yang baik budinya."
Suasana sore itu di rumah Mak Inah benar-benar dipenuhi kehangatan. Mereka mengobrol tentang kerasnya hidup di Jakarta, tentang bagaimana Ningsih sering menggratiskan makanan untuk Aditya saat kiriman uang ke desa sedang macet, dan bagaimana perhatian keluarga Ningsih telah menjadi kekuatan bagi Aditya.
Pak Darmo mendengarkan dengan seksama, merasa sangat berhutang budi. "Di zaman sekarang, jarang ada orang yang mau peduli dengan nasib orang asing di kota besar. Nak Ningsih dan keluarga adalah bukti bahwa orang baik itu masih ada. Bapak tidak akan melupakan kebaikan kalian."
Di tengah kegembiraan itu, Ningsih semakin tenggelam dalam angan-angannya. Ia melihat bagaimana Siti sangat manja kepadanya, menanyakan tren pakaian di Jakarta, dan bagaimana Mak Inah terus-menerus memuji masakannya (meskipun hanya membawa kue kaleng). Ningsih merasa bahwa posisinya sebagai wanita di hidup Aditya sudah tidak tergoyahkan.
Ia melirik ke arah Aditya yang sedang asyik mengobrol dengan bapaknya. Ada rasa kepemilikan yang kuat di hati Ningsih. Ia berpikir bahwa kepulangan ini adalah langkah awal menuju pernikahan yang ia impikan. Baginya, Mirasih hanyalah nama masa lalu yang tak mungkin bisa menandingi jasa-jasa nyata yang telah ia berikan untuk Aditya selama masa-masa sulit.
Namun, di balik kehangatan rumah kayu itu, kabut gelap mulai merayap dari arah pusat desa.
"Kalian lihat? Mak Inah malah tertawa-tawa dengan perempuan kota itu," bisik seorang ibu yang lewat di depan rumah. "Ternyata satu keluarga memang tidak tahu balas budi. Mirasih sudah membangun desa, tapi mereka malah menerima perempuan yang merebut pacar Mirasih dengan tangan terbuka."
Berita tentang "Calon Istri Baru Aditya dari Kota" segera menyebar seperti api yang ditiup angin kencang. Kabar itu sampai ke telinga Paman Broto, yang dengan cepat melaporkannya kepada Mirasih.
Sementara itu, di rumah megah Mirasih, suasana sangat kontras. Mirasih berdiri di balkon, menatap ke arah rumah Aditya yang tampak kecil di kejauhan. Ia sudah mendengar dari mata-mata desanya bahwa Aditya pulang membawa wanita, dan yang lebih menyakitkan, keluarganya menyambut wanita itu dengan pesta kecil di rumah mereka.
"Mereka tertawa di atas air mataku," ucap Mirasih dengan suara yang dingin, hampir tak terdengar.
Di bayang-bayang pilar balkon, Ki Ageng Gumboro berbisik, "Mereka sudah melupakanmu, Mirasih. "
Mirasih mengepalkan tangannya. Emas di jemarinya berkilat tajam. "Tidak. Jika mereka ingin kehangatan, aku akan memberikan mereka api. Mereka harus tahu bahwa tidak ada tempat bagi pengkhianat di desa ini."
Kembali ke rumah Aditya, malam mulai turun. Ningsih merasa sangat bahagia setelah makan malam bersama dengan menu sayur lodeh dan ikan asin yang terasa sangat nikmat karena dimakan bersama "keluarga barunya".
"Mbak Ningsih tidur di kamar Siti saja ya, biar Siti ada temannya ngobrol," ajak Siti sambil menarik tangan Ningsih.
"Iya, Nduk. Istirahatlah. Pasti capek perjalanan jauh," tambah Mak Inah.
Aditya mengantar Ningsih sampai ke depan pintu kamar Siti. "Gimana? Betah kan di sini?"
Ningsih menatap Aditya dengan pandangan penuh cinta. "Sangat betah, Mas. Ibumu, Bapakmu... mereka luar biasa. Aku merasa seperti sudah pulang ke rumahku sendiri."
Aditya tersenyum, mengira Ningsih merasa nyaman karena suasana desa yang asri. "Alhamdulillah kalau begitu. Tidurlah, besok aku ajak jalan-jalan keliling desa."
Aditya berjalan menuju balai-balai di ruang tengah untuk tidur bersama bapaknya. Ia merasa bebannya terangkat melihat keluarganya dan Ningsih bisa seakrab itu. Ia merasa keputusannya membawa Ningsih adalah hal yang tepat untuk menunjukkan bahwa ia adalah laki-laki yang tahu cara berterima kasih.
Namun, Aditya tidak tahu bahwa kehangatan malam itu adalah ketenangan sebelum badai besar melanda. Ia tidak tahu bahwa surat asli yang ia kirimkan telah dimanipulasi, dan ia tidak tahu bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan Ningsih di bawah atap rumah ibunya sedang dicatat sebagai dosa besar oleh wanita yang kini memegang kendali atas nasib desa mereka.
Malam itu, di saat Ningsih tertidur lelap dengan mimpi-mimpi indah tentang pelaminan, dan Aditya tertidur dengan rasa syukur, Mirasih sedang melakukan ritual di kamar gelapnya. Ia meletakkan selembar foto lama Aditya dan sehelai rambut yang pernah ia simpan dulu.
"Selamat datang kembali, Aditya," bisik Mirasih. "Nikmatilah malam pertamamu dengan wanita itu. Karena besok, aku akan memastikan seluruh desa ini menjadi penjara bagi kalian berdua."
membawa Ningsih ke desa adalah
kehancuran mu
sampai kapan kau biarkan keadaan bgini
bahkan kau pun tak kan bisa membawa Mirasih kembali menemukan jiwa nya yg tergadai iblis
menarik kembali Mirasih yg dlu Aditya
selama kemewahan dari iblis dinikmati Mirasih yg dgn sukarela menggadaikan nyawa nya
semua kepalsuan itu di tanganmu sendiri Mirasih ...
mata hati mu tertipu iblis yg dulu kau benci
jodoh ngga ya sama mas Budi
kabut ghoib genderuwo tak akan membiarkan Mirasih lepas darinya
mungkin kah Budi penawar luka Mirasih setelah kehilangan Aditya