EDISI SPESIAL RAMADHAN
Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.
Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.
Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!
Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal-hal Yang Berharga
Beberapa mobil hitam besar terlihat memasuki area parkir khusus keluarga.
Para santri putra bersorak rendah dan penuh suka cita.
"Gus Azlan sudah datang! Gus Azlan sudah sampai!" seru para santri.
Zunaira berdiri perlahan, dari kejauhan ia melihat sosok pria turun dari mobil.
Pria itu memakai jubah cokelat muda dengan syal melilit lehernya.
Gerakannya sangat tenang saat ia mencium tangan sang Ayah, Kyai besar lalu memeluk Ibunya.
"Selamat datang kembali nak." sambut kyai Hamid.
"Anak Ummi." seru Ummi Salamah memeluk erat sang anak.
"Selamat datang kembali Lan." sambut sang Abang yaitu Gus Haidar.
"Abanggggg!" teriak seorang gadis remaja memeluk erat tubuh abangnya yang begitu dia rindukan.
"Aduh, adik Abang udah besar aja." ucap Gus Azlan.
Meski dari jarak yang cukup jauh tapi Zunaira bisa merasakan aura kewibawaan yang terpancar.
Azlan telah kembali, bukan sebagai remaja pendiam yang dulu melainkan sebagai seorang alim yang nampak sangat matang.
Zunaira segera menundukkan pandangannya, ia membalikkan badan kembali masuk ke dalam kamarnya yang sunyi.
Ia menutup pintu rapat-rapat, seolah ingin mengunci perasaannya di sana.
"Selamat datang kembali Gus." bisiknya dalam gelap hanya didengar oleh dinding-dinding kamar.
"Semoga ilmu di Mesir membawa berkah bagi pesantren ini dan semoga... hati ini tetap tahu di mana tempatnya berdiri." lanjutnya.
Zunaira tidak tahu bahwa di rumah utama saat sedang memeluk Ummi-nya, Azlan sempat mengedarkan pandangan ke arah kompleks asrama putri.
Ia mencari sesuatu atau seseorang yang selama tujuh tahun di negeri orang yang selalu menjadi alasan baginya untuk segera menyelesaikan studi dan pulang.
Malam itu di bawah langit pesantren yang sama dua orang sedang menjaga rahasia masing-masing.
Satunya dalam kepasrahan seorang yatim piatu dan satunya dalam keteguhan seorang putra kyai.
Babak baru kehidupan Zunaira baru saja dimulai dan ia belum menyadari bahwa takdir memiliki cara yang unik untuk menyatukan dua titik yang selama ini dianggap mustahil oleh logika manusia.
Zunaira mengambil mushafnya membukanya pada surah Ar-Rahman.
Suaranya yang merdu mulai mengalun memecah kesunyian kamar ia ingin menenangkan jiwanya yang mendadak gaduh.
Di setiap ayat yang ia baca, ada harapan agar Allah senantiasa menjaga kesucian niatnya.
Pengabdian ini adalah segalanya bagi Zunaira dan ia tidak ingin perasaan liar itu merusak keberkahan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.
Di luar angin malam berhembus membawa aroma tanah basah seolah ikut mengaminkan doa-doa yang tersembunyi di balik tabir kepasrahan seorang Zunaira.
Perpustakaan pusat Pesantren Al-Anwar adalah sebuah bangunan tua dengan arsitektur perpaduan Jawa dan Timur Tengah.
Di dalamnya ribuan kitab tersusun rapi dalam rak-rak kayu jati yang aromanya selalu khas yaitu campuran antara bau kertas lama, kayu kering, dan sedikit sisa wangi kapur barus.
Bagi Zunaira tempat ini adalah pelarian terbaik ketika dunia di luar sana terasa terlalu bising dengan gosip kepulangan Gus Azlan yang tak kunjung reda.
...****************...
Pagi itu sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela tinggi, yang menandakan pergantian hari berikutnya yang akan selalu hadir dengan cerita barunya.
Zunaira melangkah pelan di antara lorong-lorong rak kitab, ia sedang mencari kitab Fathul Mu'in jilid kedua untuk bahan referensi kelas fiqih yang akan ia ampu nanti sore.
Jarinya menelusuri punggung kitab satu per satu, bibirnya bergumam lirih membaca judul-judul yang tertulis dalam tulisan Arab gundul.
"Bukan yang ini... ah, sepertinya terselip di rak atas." gumamnya pada diri sendiri.
Zunaira menjinjitkan kakinya, tubuhnya yang mungil selalu menjadi kendala saat harus berhadapan dengan rak-rak kitab yang menjulang tinggi.
Ia mencoba meraih ujung kitab bersampul hijau tua itu namun jemarinya hanya mampu menyentuh tepiannya saja.
Saat ia hampir menyerah dan berniat mencari kursi kecil untuk pijakan sebuah bayangan panjang tiba-tiba menaungi tubuhnya dari belakang.
Sebuah tangan dengan jemari yang panjang dan bersih terulur melewati bahunya.
Tanpa menyentuh Zunaira sedikit pun tangan itu dengan mudah mengambil kitab yang tadi diincar Zunaira.
Aroma wangi oud yang lembut namun maskulin seketika memenuhi indra penciuman Zunaira yaitu sebuah aroma yang asing namun entah mengapa terasa sangat akrab di ingatannya.
Zunaira membeku, jantungnya berdegup kencang hingga ia takut suaranya bisa terdengar oleh orang di belakangnya.
Ia segera membalikkan badan dan refleks menundukkan pandangan sedalam-dalamnya.
"Ini yang kamu cari Ustadzah Zunaira?" seru orang tersebut.
Suara itu. Berat, bariton, dan memiliki intonasi yang sangat tenang.
Zunaira merasa lututnya sedikit lemas, ia tidak perlu mendongak untuk tahu siapa pemilik suara itu.
Pria itu menyebut namanya dengan begitu jelas, seolah nama "Zunaira" adalah sebuah kata yang sudah lama tersimpan di ujung lidahnya.
"Nggih... Matur nuwun Gus." jawab Zunaira dengan suara yang hampir menyerupai bisikan.
Tangannya gemetar saat menerima kitab yang disodorkan pria itu.
Pria itu adalah Gus Azlan, ia berdiri dengan jarak sekitar satu meter, jarak yang sangat sopan bagi seorang putra kyai di hadapan seorang ustadzah.
Azlan mengenakan koko putih bersih dengan sarung tenun berwarna gelap, di bahunya tersampir sebuah sorban yang tidak dipakai melainkan hanya diletakkan begitu saja.
Wajahnya yang dulu sering Zunaira lihat saat masih remaja kini telah bertransformasi menjadi wajah seorang pria dewasa yang penuh wibawa dengan gurat kecerdasan yang terpancar dari dahi dan matanya.
"Sudah lama sekali." kata Azlan kemudian.
Ia tidak segera pergi melainkan berdiri tegak sambil memegang sebuah kitab kecil di tangan kirinya.
"Terakhir saya melihatmu, kamu masih sering duduk di pojok masjid sambil menghafal Alfiyah, ternyata sekarang sudah menjadi ustadzah senior di sini." seru Gus Azlan.
Zunaira memberanikan diri sedikit mendongak hanya sampai sebatas dada Azlan lalu kembali menunduk.
"Gus masih ingat?" tanya Zunaira terkejut karena itu sudah lama sekali.
Azlan terdiam sejenak, ada jeda yang terasa begitu panjang di antara mereka.
"Ingatan saya untuk hal-hal yang berharga biasanya cukup kuat Zunaira."jawab Gus Azlan begitu ambigu sekali.
Kalimat itu sederhana namun bagi Zunaira, itu seperti ledakan kecil di dalam dadanya.
Hal-hal yang berharga? Apakah maksudnya adalah hafalan kitabnya, ataukah ada makna lain? Zunaira tidak berani berspekulasi.
Ia segera memeluk kitab hijau di dadanya seolah itu adalah tameng pelindung.
"Matur nuwun atas bantuannya Gus, saya... saya harus segera kembali ke asrama untuk persiapan kelas, assalamualaikum." pamit Zunaira terburu-buru.
"Zunaira." panggil Azlan lagi sebelum wanita itu melangkah jauh.
Zunaira menghentikan langkahnya namun tetap membelakangi Azlan.
"Abah sering bercerita tentang caramu mengajar, beliau sangat mengapresiasi pengabdianmu dan saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik untuk memajukan kurikulum pesantren ini ke depannya."
Zunaira hanya mampu mengangguk kecil, lalu hampir berlari meninggalkan perpustakaan.
Ia terus berjalan dengan langkah cepat menyusuri koridor yang menghubungkan perpustakaan dengan area asrama putri.
Angin pagi berhembus kencang menerpa wajahnya yang terasa panas.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...