NovelToon NovelToon
THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Dunia Masa Depan / Mata Batin
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

​"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
​Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
​Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
​Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 Cooking Class

Pagi itu, sinar matahari musim semi yang hangat menyusup malu-malu melalui jendela dapur paviliun, menyinari butiran debu yang menari di udara. Paviliun yang dulunya hanya bangunan pelengkap yang sunyi, kini terasa lebih "hidup". Ada detak kehidupan yang konsisten di sana, terutama karena sosok pria yang kini sedang sibuk menata apron hitam di atas konter marmer.

Shine melangkah masuk dengan ragu. Ia mengenakan gaun rumah berwarna krem yang sederhana, kontras dengan kemewahan bangunan utama. Sejak semalam, ia tidak bisa berhenti memikirkan "sumpah" yang diucapkan Jungkook di depan kakak-kakaknya. Ada rasa hangat yang aneh di dadanya—sebuah perasaan yang jauh lebih memabukkan daripada sekadar aliran energi fisik.

"Kau terlambat lima menit, Nona Oracle," suara Jungkook memecah lamunan Shine. Pria itu menoleh, bibirnya mengulum senyum tipis yang sanggup membuat lutut Shine terasa lemas.

"Aku... aku tadi harus membantu Suga Oppa merapikan jurnal medisnya," jawab Shine beralasan, meski sebenarnya ia tadi menghabiskan sepuluh menit hanya untuk menatap cermin, memastikan rambutnya tidak berantakan.

Jungkook mendekat, membawa sebuah apron kecil berwarna senada dengan gaun Shine. "Hari ini kita tidak hanya akan makan. Aku akan mengajarimu cara mengenal bahan makanan. Jika kau tahu apa yang masuk ke tubuhmu, energimu akan lebih mudah stabil."

"Kau ingin aku memasak?" Shine membelalak. Selama hidupnya, ia dilarang menyentuh benda tajam atau kompor panas oleh Jin Oppa karena dianggap terlalu berbahaya bagi "aset berharga" keluarga Kim.

"Bukan memasak sendirian. Kita akan melakukannya bersama," bisik Jungkook. Ia berdiri di belakang Shine, melingkarkan tali apron ke leher gadis itu. Jarak mereka begitu dekat hingga Shine bisa mencium aroma sabun mandi Jungkook yang maskulin bercampur wangi lada hitam.

Jungkook membalikkan tubuh Shine agar menghadapnya, lalu tangannya bergerak ke pinggang Shine untuk mengikat tali apron di belakang punggung. Mata mereka bertemu. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Jungkook menatap bibir Shine yang sedikit terbuka, lalu dengan cepat ia mengalihkan pandangan kembali ke matanya.

"Ayo kita mulai dengan hal paling dasar," Jungkook berdehem, mencoba menetralkan suasana yang mendadak panas. "Memotong sayuran."

Di atas talenan kayu, sudah tersedia wortel, zucchini, dan beberapa ikat seledri. Jungkook meletakkan sebuah pisau dapur yang sangat tajam di sana. Shine menelan ludah, ia ragu untuk menyentuhnya.

"Pegang pisaunya, Shine," instruksi Jungkook.

Shine mencoba menggenggam gagang pisau itu, namun tangannya sedikit gemetar. Pikirannya mendadak terdistraksi oleh bayangan-bayangan masa depan yang samar—kilasan-kilasan yang selalu mengintai di sudut matanya.

Melihat keraguan itu, Jungkook tidak tinggal diam. Ia melangkah maju, memposisikan dirinya tepat di belakang punggung Shine. Tubuh mereka menempel sempurna. Dada bidang Jungkook menyentuh punggung Shine, sementara lengannya yang kokoh dan berhias tato menjulur ke depan, menyelimuti lengan Shine yang mungil.

"Begini caranya..." suara Jungkook kini terdengar sangat rendah, tepat di samping telinga Shine. Nafas hangatnya menggelitik kulit leher gadis itu.

Jungkook menggenggam tangan kanan Shine yang memegang pisau, sementara tangan kirinya menekan punggung tangan kiri Shine yang bertugas menahan wortel. Ia mengunci pergerakan Shine dengan kelembutan yang dominan.

"Jangan gunakan tenaga bahu. Gunakan pergelangan tanganmu. Rasakan berat pisaunya," bisik Jungkook.

Tuk. Tuk. Tuk.

Suara pisau yang beradu dengan papan kayu terdengar ritmis. Shine tidak lagi memperhatikan wortel itu. Seluruh indranya terpusat pada punggungnya yang bersentuhan dengan dada Jungkook. Ia bisa merasakan detak jantung Jungkook yang kuat dan beraturan. Energi matahari yang selama ini ia dapatkan lewat pelukan, kini mengalir lebih halus, lebih intim, merembes melalui pori-pori kulitnya yang bersentuhan dengan kulit Jungkook.

"Kenapa jantungmu berdetak sangat cepat?" tanya Jungkook tiba-tiba, senyum jahil tersirat dalam suaranya.

"Aku... aku hanya takut jariku teriris," bohong Shine, meski ia tahu Jungkook pasti menyadari bahwa seluruh tubuhnya kini sedang memanas karena malu.

Jungkook justru semakin merapatkan tubuhnya. Ia meletakkan dagunya di bahu Shine, membiarkan pipi mereka bersentuhan samar. "Kau aman denganku. Tidak akan kubiarkan satu tetes darah pun keluar dari kulitmu. Fokuslah pada iramanya."

Mereka terus memotong dalam diam yang manis. Namun, kedamaian itu terusik saat sebuah getaran dingin mendadak menyerang benak Shine.

Zapp!

Pisau di tangan mereka berhenti bergerak. Mata Shine yang tadinya jernih, mendadak berubah menjadi biru redup yang hampa. Sebuah penglihatan paksa menerobos masuk.

Shine melihat sebuah koridor sekolah yang gelap. Di pojok koridor, seorang siswi yang ia kenali sebagai teman sekolah Jimin Oppa, sedang duduk bersimpuh sambil menutupi wajahnya. Di hadapannya, tiga orang siswa lain tertawa sambil mengguyurkan air ember ke kepala gadis itu. Salah satu dari mereka memegang gunting, siap memotong paksa rambut gadis yang malang itu.

"Hah..." Shine terengah. Ia melepaskan pisau itu hingga terjatuh ke atas talenan.

Jungkook segera menyadari perubahan aura Shine. Tanpa mempedulikan sayuran yang berantakan, ia langsung memutar tubuh Shine dan mendekapnya erat. Ia menekan kepala Shine ke dadanya, mencoba menutup akses penglihatan itu dengan keberadaannya.

"Lihat aku, Shine! Tetap di sini, jangan pergi ke sana!" perintah Jungkook tegas.

Shine mencengkeram kaos Jungkook, air matanya mulai menetes. "Gadis itu... di sekolah Jimin Oppa... mereka menyakitinya, Jungkook. Rasanya perih... aku bisa merasakan dinginnya air itu di tubuhku."

Jungkook menghela napas berat. Inilah harga yang harus dibayar sebagai seorang Oracle; ia merasakan penderitaan orang lain seolah itu penderitaannya sendiri. Jungkook tidak melepaskan pelukannya, justru ia mengangkat tubuh Shine dan mendudukkannya di atas konter marmer agar tinggi mereka sejajar.

Jungkook menangkup wajah Shine dengan kedua tangannya. Ibu jarinya mengusap air mata yang jatuh di pipi Shine. "Kau sudah cukup melihatnya untuk hari ini. Sekarang, biarkan aku mengambil sisa rasa sakit itu darimu."

Jungkook mendekatkan wajahnya. Ia tidak mencium bibir Shine, melainkan mengecup dahi gadis itu dengan sangat lama. Ia menyalurkan energi secara intensif melalui sentuhan dahinya ke dahi Shine. Shine memejamkan mata, membiarkan kehangatan Jungkook mengusir bayangan gelap dari koridor sekolah tersebut.

"Lebih baik?" tanya Jungkook setelah beberapa saat.

Shine mengangguk lemah. "Terima kasih... dan maaf, aku merusak kelas memasakmu."

Jungkook tersenyum lembut, lalu ia mengambil sepotong wortel kecil yang sudah terpotong rapi dan menyuapkannya ke mulut Shine. "Kau tidak merusak apa pun. Justru kau memberiku alasan untuk menjagamu lebih ketat lagi."

Jungkook kemudian melepaskan apronnya sendiri dan mulai merapikan dapur. "Aku akan menghubungi Jimin-Hyung. Jika kau melihatnya, berarti itu benar-benar terjadi. Tapi kau harus berjanji padaku satu hal, Shine."

"Apa?"

Jungkook menatapnya dengan tatapan posesif yang tidak bisa dibantah. "Mulai besok, jangan pergi ke sekolah atau ke mana pun tanpa aku. Jika kau butuh pengisian energi di tengah keramaian, aku harus ada di sampingmu. Aku tidak mau kau pingsan di depan orang lain dan dipeluk oleh pria lain."

Shine terpaku. Kata-kata Jungkook barusan bukan sekadar instruksi, melainkan sebuah klaim kepemilikan. "Bahkan di depan Jimin Oppa?"

"Bahkan di depan mereka semua," jawab Jungkook mantap. "Karena hanya aku yang tahu seberapa besar energi yang kau butuhkan untuk tetap tersenyum seperti ini."

Malam itu, kelas memasak berakhir dengan rasa yang berbeda. Bukan rasa wortel atau seledri, melainkan rasa perlindungan yang posesif namun manis. Shine menyadari bahwa Jungkook benar-benar memenuhi sumpahnya: ia tidak hanya menjaga fisiknya agar tetap hidup, tapi ia mulai masuk ke dalam jiwanya, menjadi satu-satunya tempat Shine bersembunyi dari kekejaman penglihatan masa depannya.

Namun, di gedung utama, Jin Oppa yang sedang memantau CCTV dapur paviliun melalui tabletnya, hanya bisa menggeram rendah saat melihat Jungkook memangku Shine di atas konter dapur.

"Pria itu... benar-benar mengambil keuntungan dari kelas memasaknya," desis Jin sambil membanting tabletnya ke sofa.

...****************...

1
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
army v nya jadi apa, JHope sama jimin blm kluar y
sabana: v jadi sepupunya shine, belum pada keluar lagi🤭. semoga berkenan
total 1 replies
sabana
ini fanfiction tentang BTS ya tapi fokus pada Jungkook semoga suka
sabana: mungkin fokusnya lebih ke Jungkook🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!