Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~05
Marni hanya tersenyum tipis mendengar ucapan tetangganya tersebut, meskipun berisi sebuah tuduhan tapi itu memang benar adanya jadi untuk apa ia harus marah. Bekerja menjadi pemandu karaoke memang pekerjaan yang masuk dalam kategori yang dikatakan oleh wanita itu yaitu pekerjaan 'aneh-aneh' yang biasanya dikonotasikan sebagai hal yang negatif.
"Cuma pelayan cafe mbak," sahutnya kemudian.
"Oh, cuma pelayan cafe kirain kerja kantoran atau ikut perusahaan kayak suamiku." Astuti kembali merendahkannya, selain suka bicara ceplas ceplos wanita itu juga terkenal sombong karena memang jarang warga desanya bisa bekerja di perusahaan seperti suaminya meskipun cuma sopir tapi paling tidak gajinya lumayan besar.
"Buat perempuan putus sekolah sepertiku mau kerja dimana lagi mbak perusahaan juga pasti menolak." tukas Marni kembali menanggapi, apa pepatah mengatakan merendah lah sampai tak ada seorang pun yang dapat merendahkan mu dan saat inilah yang ia lakukan.
"Ngomong-ngomong mas Joko bagaimana kabarnya mbak masih kerja di kota ya?" imbuhnya lagi menatap wanita itu.
"Ya dong kan suamiku sudah diangkat jadi karyawan tetap, kalau saja anak-anakku tidak sekolah disini aku juga mau ikut tinggal bersamanya disana." sahut Astuti yang terdengar sedikit mengeluh.
"Memang lebih baik ikut suami mbak karena tinggal berjauhan itu juga kurang bagus apalagi di kota banyak sekali hiburan," timpal Marni memberikan saran atau lebih tepatnya mengingatkan karena ia sendiri tahu bagaimana kelakuan suami wanita itu saat berada di kota.
Semalam ia tak sengaja melihat Joko membawa salah satu rekannya meninggalkan tempat karaoke dan ia tahu kemana mereka pergi.
"Halah sok tahu kamu Marni orang cuma kerjamu pelayan cafe tidak pantas menasehatiku, lagipula aku percaya mas Joko disana itu setia buktinya gajinya diberikan semua padaku." sinis Astuti tak terima dengan perkataan wanita itu.
Marni hanya mengangguk kecil, beginilah nasib orang miskin bahkan perkataannya saja jarang dipercaya oleh orang lain. "Baiklah mbak, aku masuk dulu ya mau bantu ibu menyiapkan makanan berbuka." ucapnya lantas berlalu masuk ke dalam rumahnya.
Astuti yang masih berdiri di teras rumahnya nampak memperhatikan kepergian wanita itu, entah kenapa ia melihat Marni sekarang sangat berbeda dengan Marni setahun yang lalu. Wanita itu sekarang terlihat lebih berisi atau kata anak gaul jaman sekarang itu 'pulen' dan lebih putih tidak seperti dulu kulitnya gelap dan kurus kering.
"Apa tinggal di kota bisa merubah penampilan seseorang?" gumamnya seraya menatap dirinya sendiri yang terlihat kucel dengan daster andalannya dan juga kulit yang kurang terawat belum lagi badannya lumayan gemuk karena hanya makan dan makan saja yang ia lakukan setiap ada kesempatan.
Kini Marni nampak membantu ibunya menyiapkan menu berbuka di hari pertamanya berpuasa, meskipun sebelumnya melakukan perjalanan jauh tapi wanita itu tidak ingin meninggalkan puasanya.
"Nak, bagaimana kerjamu di kota?" ucap sang ayah saat mereka sedang menunggu waktunya berbuka.
"Baik-baik saja pak," sahut Marni ditengah menuangkan es teh ke dalam setiap gelas dihadapannya itu.
"Kalau baik-baik saja berarti mbak Marni kembali lgi dong setelah hari raya karena aku ingin membeli helm baru dan sepatu," celetuk Marwan menimpali hingga membuat Marni sontak menatapnya.
"Dek, kamu bukan anak kecil lagi loh kenapa sedikit-sedikit harus mbak Marni bukankah pulang sekolah kamu bisa bantu bapak pelihara ternak jadi nanti bisa kamu jual untuk membeli keperluanmu sendiri." tukas wanita itu menegurnya sekaligus memberikan nasihatnya.
"Mbak Marni ini pelit sekali sih aku sudah capek sekolah mbak, benarkan bu?" gerutu Marwan lantas menatap sang ibu untuk meminta pembelaan.
"Adikmu benar nduk, sejak masuk sekolah kejuruhan banyak sekali tugas prakteknya jadi tolong bantu-bantu adikmu dulu ya nak." mohon sang ibu menatap anak gadisnya tersebut.
"Mahesa juga minta ponsel mbak Marni, teman-teman mahesa sudah punya ponsel semua." kini giliran adik bungsunya yang baru menginjak kelas 4 sekolah dasar itu berbicara.
"Sudah-sudah kasihan mbakmu baru juga sampai nanti bapak jualkan kambing saja untuk keperluan kalian," potong sang ayah menengahi perdebatan mereka.
"Tapi kambing kita masih kecil-kecil pak," timpal ibu Marni dan bersamaan itu suara adzan maghrib terdengar yang menandakan waktu berbuka puasa telah tiba.
Mereka pun tak lagi melanjutkan pembicaraan dan fokus menyantap makanan berbuka, kebetulan Marni sebelumnya membawa beberapa kue dari kota untuk mereka nikmati.
"Enak ya mbak Marni tinggal di kota bisa makan enak setiap hari," seloroh Mahesa dengan mulut penuh makanan.
Marni pun nampak gemas menatap adik bungsunya itu meskipun dalam hati sangat perih karena yang mereka tahu hanya enaknya saja tanpa tahu apa yang ia alami setiap hari namun ia merasa senang dan lelah itu seketika menghilang ketika melihat wajah bahagia keluarganya. Sepertinya kepulangannya setelah setahun merantau sangat di tunggu-tunggu oleh mereka bahkan ibunya sudah tak sabar ingin membuat hantaran lebaran kepada para tetangganya dengan menu daging dan tentu saja ia yang harus membiayai semuanya.
Sebenarnya ibunya itu wanita yang baik namun mungkin sepanjang hidupnya banyak sekali hinaan yang diterimanya hingga kini ia ingin membuktikan jika keluarganya bukan keluarga kekurangan seperti dulu lagi.
"Mungkin uang 3 juta cukup nduk," ucap sang ibu sembari membantunya membereskan bekas peralatan mereka berbuka puasa.
"Tiga juta?" ulang Marni dalam hati, seroyal itu kah ibunya pantas saja selama ini tidak ada tabungan sama sekali.
"Baik bu, nanti kita belanja ke pasar ya." sahutnya pada akhirnya meskipun kini ia harus kembali menghitung uang tabungannya yang tersisa.
Setelah membantu ibunya, Marni pun segera sholat magrib dan dilanjutkan bersiap-siap untuk sholat taraweh di mushola yang ada di kampungnya.
"Cantik sekali mukenah mu nduk," ucap sang ibu ketika melihat Marni baru keluar kamarnya dengan mukenah menutupi badannya.
"Iya bu, ini mukenah baru." sahut wanita itu.
"Nanti kalau kembali ke kota mukenahnya kasih ibu ya kan kamu bisa beli lagi," mohon sang ibu.
Marni hanya mengangguk kecil lantas mereka pun segera berangkat menuju mushola karena adzan isya telah berkumandang nyaring.
Malam itu Marni pun dengan kusyuk mengikuti sholat taraweh dihari pertamanya berpuasa, rasanya hatinya bergetar hebat ketika mendengar imam sedang membaca doa.
Pantaskah pendosa sepertinya memohon ampun di bulan yang suci ini?
Setelah sholat taraweh Marni memilih pulang bersama dengan teman-temannya, mereka banyak bertanya tentang pekerjaannya dan tak sedikit dari mereka yang memuji kecantikannya sampai seseorang nampak berdehem hingga membuat semua orang langsung menoleh ke sumber suara.
"Mas Firman," ucap mereka bersamaan ketika melihat seorang pria tampan yang masih mengenakan sarung dan baju koko tak jauh dari mereka.
Firman adalah putra dari kepala desa, wajahnya lumayan tampan dengan kulit bersih serta pembawaannya yang alim menjadikannya sebagai idola para remaja di kampungnya.
Ngereog mulu 🤦...
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu