Adam Al-Fatih (40) adalah potret kesempurnaan: CEO miliarder yang gagah, karismatik, dan taat beribadah. Di Jakarta, ia memiliki Khadijah, istri saleha yang menjadi pilar kekuatannya sejak masa sulit. Namun, takdir membawa langkah Adam melintasi benua, dari romantisme Paris, kemegahan Istanbul, hingga hiruk-pikuk New York. Di setiap kota tersebut, Adam bertemu dengan wanita-wanita luar biasa yang tengah terhimpit badai kehidupan.
Demi sebuah wasiat rahasia sang kakek dan misi kemanusiaan yang mendalam, Adam akhirnya menikahi Isabelle, Aisha, dan Sarah. Publik mencibirnya sebagai lelaki yang mabuk poligami di puncak dunia. Namun, sebuah rahasia medis yang pedih tersimpan rapat di balik pintu kamarnya: Adam menderita impotensi akibat kecelakaan masa lalu.
Ketiga pernikahan di luar negeri itu hanyalah "sajadah perlindungan". Adam mengorbankan reputasi dan perasaannya demi menyelamatkan sesuatu yang lebih berharga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Indah Tiba
Lantai marmer putih kediaman utama di Menteng hari itu ditutupi hamparan permadani Persia berwarna merah tua, menciptakan suasana yang khusyuk dan sakral. Tak ada pesta pora, tak ada denting gelas kristal atau hiruk-pikuk kolega bisnis internasional. Yang ada hanyalah aroma kayu gaharu yang terbakar lembut dan lantunan zikir yang mengalun rendah dari beberapa santri pilihan Syeikh Mansyur. Di tengah ruangan, duduk Adam Al-Fatih, pria yang karismanya tak pernah pudar meski gurat kelelahan masih membekas di wajahnya. Ia mengenakan beskap hitam dengan sulaman benang emas tipis, menonjolkan bahunya yang lebar dan dadanya yang bidang—postur tubuh yang tetap terjaga sempurna berkat kedisiplinannya berolahraga sejak muda.
Di sampingnya, Isabelle duduk dengan kepala tertunduk takzim. Wanita Prancis itu nampak luar biasa anggun dalam balutan kebaya putih modern yang menutup rapat auratnya, dipadu dengan kerudung sutra transparan yang memberikan kesan suci. Namun, pusat perhatian semua orang tertuju pada sosok yang duduk di kursi roda di baris terdepan: Khadijah. Dengan wajah yang masih pucat namun dipulas riasan tipis agar nampak segar, Khadijah menyaksikan segalanya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia mengenakan mukena terbaiknya, tangan yang kini kurus itu terus memutar butiran tasbih.
Saat penghulu bertanya, "Ankahtuka wa zawwajtuka...", dan Adam menjawab dengan satu napas yang mantap, "Qobiltu nikahaha wa tazwijaha...", sebuah getaran hebat melanda ruangan itu. Adam Al-Fatih secara resmi telah mengambil Isabelle sebagai istri keduanya, memenuhi wasiat yang lahir dari ketulusan Khadijah. Saksi-saksi berteriak "Sah!", dan Khadijah adalah orang pertama yang menengadahkan tangan, mengucap syukur kepada Sang Pemilik Hati. Air mata bahagianya jatuh bukan karena ia merasa kehilangan, melainkan karena ia merasa telah berhasil menjaga suaminya dari fitnah dunia dan memberikan "tangan" tambahan untuk membantu perjuangan Adam.
Malam pun jatuh di Menteng. Setelah prosesi yang singkat namun penuh haru, suasana rumah kembali tenang. Anak-anak—Zaidan, Maryam, dan Yusuf—telah masuk ke kamar mereka setelah menyalami ibu baru mereka dengan penuh hormat, meski terselip kecanggungan yang manusiawi. Khadijah telah dibantu oleh perawat untuk kembali ke tempat tidurnya di sayap kanan rumah, sementara Adam diperintahkan oleh Khadijah sendiri untuk menempati kamar utama di sayap kiri bersama Isabelle.
Khadijah berbaring miring, menatap jendela yang menampilkan bayangan pepohonan yang ditiup angin malam. Pikirannya melayang ke kamar di seberang sana. Ia membayangkan Adam, suaminya yang perkasa, kini sedang memulai babak baru. Ada sedikit cubitan di hatinya, namun ia segera menepisnya dengan senyuman. Ia tahu betul siapa Adam. Ia tahu betapa kuatnya energi yang dimiliki pria itu.
Ingatan Khadijah terbang ke belasan tahun yang lalu, ke malam pertama mereka saat Adam masih menjadi pemuda sederhana yang nekat melamarnya. Ia ingat betapa terpesonanya ia saat melihat Adam melepaskan kemeja pengantinnya. Tubuh Adam yang atletis, hasil dari kerja keras di bengkel las dan hobi olahraganya yang tak pernah putus, nampak begitu perkasa. Dadanya yang lebar dengan bulu-bulu halus yang maskulin, otot-otot perut yang terbentuk sempurna, dan karisma yang memancar dari setiap gerakannya. Adam adalah pria yang hebat di segala medan—hebat di meja perundingan bisnis, hebat di lapangan saat membangun masjid, dan sangat hebat saat memberikan kasih sayang di atas ranjang.
Khadijah mendesah pelan. Ia tahu bahwa Isabelle, dengan kecantikan Eropa dan kematangannya, adalah pasangan yang seimbang bagi stamina Adam yang luar biasa. Selama ini, Khadijah sering merasa kewalahan melayani energi Adam yang seolah tak pernah habis. Ia merasa lega, karena kini ada Isabelle yang bisa mengimbangi gairah dan kebutuhan suaminya yang sangat tinggi itu. Ia yakin, malam ini Adam akan sangat menikmati kebersamaan itu, dan ia mendoakan agar dari rahim Isabelle lahir pula pejuang-pejuang Al-Fatih yang baru.
Di kamar utama, suasana sangat berbeda. Adam berdiri di balkon sejenak, menatap langit sebelum berbalik menatap Isabelle. Ia menyadari sepenuhnya bahwa pernikahan ini adalah tanggung jawab yang besar. Isabelle mendekat, ia nampak sangat terpesona melihat sosok suaminya dari dekat tanpa batasan protokol lagi.
Stamina Adam memang luar biasa. Meski seharian menghadapi prosesi yang melelahkan, ia tetap nampak segar. Kematangan usianya justru menambah daya tarik yang mematikan. Isabelle menyadari bahwa ia tidak salah memilih untuk menyerahkan hidupnya pada pria ini. Di bawah temaram lampu kamar, Adam tetap menunjukkan rasa hormatnya yang tinggi. Ia memulai segalanya dengan salat dua rakaat bersama, memohon keberkahan atas penyatuan dua budaya dan dua jiwa ini.
Kecocokan fisik dan intelektual antara Adam dan Isabelle terbukti sangat berimbang. Isabelle yang cerdas dan mandiri mampu mengikuti ritme Adam yang dominan. Namun, di tengah kebahagiaan itu, Adam tetap memegang prinsip yang teguh: ia tidak akan pernah membiarkan Khadijah merasa terpinggirkan. Setiap sentuhannya pada Isabelle selalu diiringi kesadaran bahwa ini adalah amanah dari istri pertamanya.
Keesokan harinya, suasana di meja makan terasa sangat mengharukan. Orang tua Khadijah, yang dulu kaya raya dan meragukan Adam, kini hadir dengan senyuman lebar. Mereka telah lama melihat bagaimana Adam mengubah nasib keluarga mereka dan bagaimana Adam menjaga Khadijah dengan penuh kemuliaan.
"Adam," ujar sang ayah mertua sambil menepuk bahu Adam yang kokoh. "Aku bangga padamu. Tidak banyak pria yang bisa menjaga keadilan seperti ini. Dan kau, Khadijah, putriku... kau adalah wanita paling mulia yang pernah ayah tahu. Keputusanmu menyelamatkan martabat keluarga ini."
Khadijah, yang duduk di kursi roda di kepala meja, menatap Adam dan Isabelle yang duduk berdampingan. Ia melihat rona bahagia di wajah Isabelle dan melihat ketenangan di mata Adam. Ia tahu, suaminya telah mendapatkan kembali energinya. Gairah hidup Adam yang sempat padam karena kesedihan melihatnya sakit, kini menyala kembali. Adam kembali menjadi CEO yang pintar mengelola keuangan, kembali menjadi singa lapangan yang perkasa, namun tetap menjadi imam yang lembut bagi Khadijah.
Adam berdiri dan mendekati Khadijah, mengecup keningnya di depan semua orang. "Terima kasih, Sayang. Tanpa ridhomu, malam-malamku tak akan pernah terasa damai."
Khadijah menangis lagi—kali ini benar-benar tangis bahagia yang tuntas. Ia melihat masa depan Al-Fatih Group dan panti asuhan di empat benua kini memiliki penjaga tambahan. Isabelle bukan lagi orang asing; ia adalah saudari, ia adalah perisai, dan ia adalah bagian dari raga Adam yang akan terus bergerak saat Khadijah harus beristirahat.
Adam Al-Fatih, sang raksasa baja yang atletis dan penuh kharisma, kini telah membuktikan bahwa poligami dalam hidupnya bukan tentang nafsu belaka, melainkan tentang manajemen cinta dan tanggung jawab yang agung. Dengan stamina yang tetap prima dan otak bisnis yang tajam, ia siap membawa keluarga besarnya melintasi badai-badai dunia lainnya, dengan Khadijah tetap sebagai kompas nuraninya yang paling abadi.
Sajadah di empat benua kini telah terbentang dengan sempurna. Di Jakarta, Paris, Istanbul, dan New York, nama Al-Fatih bukan lagi sekadar simbol kekayaan, melainkan simbol integritas seorang pria yang mampu menaklukkan dunia tanpa harus mengkhianati cinta sejatinya. Dan di rumah Menteng itu, cinta tumbuh dalam bentuk yang baru—sebuah harmoni yang lahir dari rasa sakit, pengorbanan, dan kejujuran yang tak tergoyahkan.