NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Cinta Di Balik Layar Si Tukang Marah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mila Dunka

Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Masa Lalu yang Kelam

​Pagi setelah badai, studio terasa lebih lembap dari biasanya. Adelia datang lebih awal, berniat menyiapkan segala sesuatu sebelum Arlan tiba. Namun, saat ia melewati ruang kerja Arlan, pintu kayu jati itu sudah sedikit terbuka. Ia mendengar suara perdebatan sengit dari dalam.

​"Arlan, kamu tidak bisa terus-menerus melarikan diri ke dalam studio ini! Papa sudah tidak sabar. Kamu harus segera mengurus penggabungan perusahaan," suara seorang pria paruh baya yang terdengar otoriter menggema.

​"Perusahaan itu dibangun di atas kebohongan, Pa. Aku tidak mau terlibat dengan bisnis yang menghancurkan impian orang lain, termasuk impian Mama dulu," jawab Arlan, suaranya terdengar penuh kepahitan yang belum pernah Adelia dengar sebelumnya.

​Adelia ingin segera pergi, merasa tidak sopan mendengarkan percakapan pribadi tersebut. Namun, saat ia berbalik, ia tidak sengaja menyenggol tempat sampah logam di lorong.

Klang!

​Pintu terbuka lebar. Seorang pria tua dengan setelan jas mahal dan wajah yang sangat mirip dengan Arlan—hanya saja lebih dingin dan tanpa ekspresi—berdiri di sana. Ia menatap Adelia dengan pandangan meremehkan.

​"Jadi, ini asisten yang digosipkan itu? Ternyata seleramu memang rendah, Arlan. Mencari penghiburan dari staf rendahan untuk melupakan kegagalan keluargamu?"

​"Keluar, Pa. Sebelum aku melakukan sesuatu yang akan kita sesali," Arlan berdiri di belakang meja, tangannya terkepal hingga buku-bukunya memutih.

​Pria itu mendengus dan melangkah pergi melewati Adelia seolah-olah Adelia hanyalah udara kosong. Setelah keheningan yang mencekam menyelimuti lorong, Adelia memberanikan diri masuk ke ruangan Arlan.

​Arlan duduk tersungkur di kursinya, kepalanya tertunduk di antara kedua tangannya.

Ruangan itu berantakan; beberapa bingkai foto terjatuh ke lantai. Adelia tanpa suara mulai memunguti barang-barang yang berserakan.

​"Pergi, Adelia. Saya tidak sedang dalam suasana hati untuk bekerja," gumam Arlan tanpa melihatnya.

​"Saya ke sini bukan untuk bekerja, Pak," jawab Adelia lembut. Ia memunguti sebuah foto yang tergeletak tepat di bawah meja. Foto itu tidak memiliki coretan silang. Itu adalah foto Arlan kecil yang sedang memegang kamera plastik, dipeluk oleh wanita cantik yang sama dengan di tablet tempo hari. "Ini Anda?"

​Arlan mendongak, matanya tampak berair namun ia segera menyekanya dengan kasar. "Mama saya adalah seorang sinematografer hebat. Dia yang mengajari saya cara melihat dunia melalui lensa. Tapi Papa... dia menganggap seni adalah sampah. Dia ingin Mama mengurus bisnis keluarga yang kotor."

​Adelia duduk di lantai, tepat di samping kursi Arlan, mengabaikan debu yang menempel di celananya. "Lalu, apa yang terjadi?"

​Arlan menarik napas panjang, seolah menceritakan ini adalah beban fisik yang berat. "Papa menjebak Mama. Dia memanipulasi skandal perselingkuhan agar Mama kehilangan hak asuh atas saya dan kariernya hancur. Mama pergi karena tidak tahan dengan tekanan itu. Dia meninggal dalam kecelakaan saat mencoba kembali menemui saya di hari ulang tahun saya yang kesepuluh."

​Adelia menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca. "Jadi itu sebabnya Anda mencoret fotonya? Bukan karena membencinya?"

​"Saya membenci diri saya sendiri karena percaya pada kebohongan Papa selama bertahun-tahun. Saya mencoret foto itu karena saya tidak sanggup melihat wajahnya yang penuh kasih saat saya tahu saya tidak bisa melindunginya," suara Arlan pecah.

​Untuk pertama kalinya, si "Naga dari Selatan" itu tampak begitu rapuh. Tanpa berpikir panjang, Adelia mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Arlan. Kali ini, Arlan tidak hanya menggenggam balik, ia menarik Adelia ke dalam pelukannya.

​Adelia membiarkan Arlan menyembunyikan wajah di bahunya. Ia merasakan tubuh pria besar itu bergetar hebat. Tidak ada kata-kata. Hanya ada suara napas yang berat dan kehangatan yang saling menyalurkan kekuatan. Di dalam ruangan yang sunyi itu, Adelia menyadari bahwa amarah Arlan selama ini hanyalah sebuah perisai untuk melindungi bocah sepuluh tahun yang hancur di dalamnya.

​"Anda tidak perlu sempurna untuk dicintai, Pak Arlan," bisik Adelia sambil mengusap punggung pria itu.

​Arlan melepaskan pelukannya perlahan, menatap Adelia dengan pandangan yang sangat dalam. "Panggil saya Arlan. Jika kita hanya berdua, panggil saja Arlan."

​Adelia tersenyum tipis, merasakan wajahnya memanas. "Baik... Arlan."

​Momen itu terputus saat ponsel Arlan bergetar hebat. Arlan melihat layarnya dan ekspresinya kembali mengeras.

​"Ada apa?" tanya Adelia cemas.

​"Klien besar kita... mereka membatalkan kontrak secara sepihak. Dan ada foto-foto kita berdua saat badai kemarin di media sosial dengan narasi yang menjijikkan. Papa benar-benar melakukan ini. Dia ingin menghancurkan karierku agar aku tidak punya pilihan selain kembali ke perusahaannya."

​Adelia tertegun. Ia mengambil ponsel Arlan dan melihat foto mereka saat berpegangan tangan di ruang editing yang remang-remang. Judul beritanya:

“Sutradara Jenius Terjerat Skandal Nepotisme: Asisten Produksi Diberi Jabatan Karena Hubungan Gelap?”

​Dunia Adelia seolah runtuh. Perjuangan kerasnya selama ini untuk membangun karier kini ternoda oleh fitnah yang kejam. Namun, saat ia melihat wajah Arlan yang penuh rasa bersalah, ia tahu ia tidak boleh menyerah sekarang.

​"Arlan, dengar saya," Adelia memegang kedua pipi Arlan, memaksanya menatapnya. "Kita akan buktikan bahwa mereka salah. Kita punya hasil karya yang bicara lebih keras daripada gosip murahan ini. Jangan biarkan Papa Anda menang."

​Arlan menatap tangan kecil Adelia di wajahnya, lalu ke mata gadis itu yang penuh tekad. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arlan merasa bahwa ia tidak perlu bertarung sendirian.

1
MeeMeeBo
😄😄🙏
Dwi Winarni Wina
Sutradaranya galak sekali kenerja harus ssmpurna tidak ada kesalahan, ini ujian harus sabar menghadapi pak sutradara😀
MeeMeeBo
🤩
Neferti
👍👍💪
Neferti
👍👍👍
Neferti
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!