"Jawab jujur pertanyaan saya, apa kamu orang yang tidur dikamar hotel saya?" tanya Kaivandra Sanzio Artamevia.
Seana Xaviera Levannia menatap mata pria berbahaya itu, sebelum akhirnya perlahan&amp melangkah mundur. "B-bukan saya kok Pak--"
..
Kaivandra Sanzio Artamevia, seorang pria yang paling dikenal di kota ini. Di pria kejam dan haus darah dengan kecenderungan menggunakan metode brutal, dan tidak menusiawi. Tidak ada wanita yang berani mendambakannya, meskipun Zio diberkahi dengan penampilan yang tampan.
Tanpa diduga, seorang wanita berhasil tidur dengannya ketika dia sedang dalam keadaan mabuk! Ketika Zio mengacak-acak seluruh dunia hanya untuk mencari wanita misterius itu, dia baru menyadari bahwa tubuh sekretarisnya semakin berisi.
Apakah kebenaran yang selama ini ditutup rapat-rapat, akan terbongkar lewat kecurigaan Zio?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Seana akhirnya berhasil keluar dari dalam ruang kerja Sanzio, ketika Mike datang mengetuk pintu dengan membawa sebuah laporan untuk disampaikan pada Sanzio.
Sanzio menatap Seana yang berada diluar ruangannya melalui kaca, wanita itu selalu berhati-hati dan patuh ketika berada dihadapannya, hingga setiap kali Sanzio sudah tak terlihat didepannya, Seana akan melepaskan sikap tenangnya. Tanpa disadari, sudut bibir Sanzio terangkat, membentuk sebuah senyuman tipis yang aneh.
Mike yang memperhatikan Sanzio pun mengernyitkan dahinya, lalu dengan perlahan mengikuti arah pandangan bosnya dan mendapati Seana yang tampak sedang mencari sesuatu di ruangannya sendiri.
"Seana, Seana. Kamu selalu ceroboh kayak biasanya. Kenapa ga pernah hati-hati sih kalo narok barang." Batin Mike, ketika memperhatikan Seana. Lalu kembali menoleh kearah Sanzio dan menyerahkan sebuah map. "Pak, sudah di pastikan kalau Bu Naya yang memasukkan obat bius di minuman bapak, dimalam itu. Makanya bapak tidak sadarkan diri."
Setelah Mike mengatakan hal itu, terdengar suara dering ponsel yang keras. Mike melihat ke bawah dan melihat sebuah ponsel bergetar. Melihat casing ponsel panda yang lucu, Mike langsung menyadari bahwa ponsel itu jelas bukan milik Sanzio.
Diluar, Seana masih mencari ponselnya.
Seana ingin mengirim pesan pada Velia untuk memberitahu bahwa pekerjaan dikantor sudah selesai, tetapi tak lama kemudian, Seana menyadari bahwa ponsel miliknya tertinggal dikantor Sanzio. Seana mempersiapkan diri dalam hati untuk kembali ke kantor Sanzio dan mengambil ponselnya.
Tepat saat Seana hendak mengetuk pintu dan meminta izin masuk. Dia mendengar suara dingin Sanzio, dan suara itu menghentikan keinginannya.
"Ini ulah ibuku?! Lalu dimana keberadaan wanita yang bersamaku malam itu?." Tanya Sanzio.
Degh!
Seana yang mendengar itu, langsung merasa gugup.
"Saya khawatir mungkin beliau masih bersikeras supaya anda menikah dengan perempuan pilihannya. Dan beliau juga mungkin telah melakukan sesuatu untuk menyembunyikan wanita itu dari anda."
"Wanita pilihannya? Itu ngga mungkin, Mike?." Kata Sanzio. Nada bicaranya tanpa sedikit pun kehangatan. "Lebih baik secepatnya kamu cari tahu siapa wanita itu dan dimana dia sekarang. Mike, kamu hanya punya waktu satu bulan. Pastikan jangan sampai kamu mengacaukan semuanya."
"Baik, Pak Zio." Jawab Mike, nada juga dingin dan aura nya seperti bodyguard yang sigap.
Diluar ruangan, raut wajah Seana semakin pucat. Dia mendengar semua percakapan didalam, dan setelah mendengarnya, Seana semakin yakin bahwa jika dirinya sampai ketahuan, dia akan mengalami akhir yang sangat menyedihkan.
Sedang asyik dengan apa yang ada didalam pikirannya, Seana terkejut ketika Mike tiba tiba membuka pintu kantor Sanzio dan melihatnya hanya berdiri diluar. "Seana, kamu dari tadi disini? Kenapa ngga masuk?."
"Ah, iya. Aku tadi sebenernya mau masuk, tapi kayaknya lagi pada ngobrolin masalah serius. Jadi, aku nungguin didepan sini aja." Jawab Seana, berusaha memperlihatkan ketenangan dalam sikapnya. Meskipun sebenarnya, jantungnya sedang berdebar kencang tak karuan. Rasanya seakan seperti terjadi kepanikan dalam dirinya.
Mike memperhatikan wajah pucat Seana, lalu kembali bertanya. "Kamu lagi sakit, ya? Kok kelihatannya pucet banget?."
Seana berdehem dan memijat hidungnya. "Iya nih, Mas. Hari ini aku agak flu." Jawabnya dengan gugup, mencoba mengabaikan tatapan penuh selidik yang Mike tunjukkan.
Kemudian, Mike menganggukkan kepalanya dan menyarankan Seana untuk segera menemui dokter sebelum pulang dari kantor. Setelah itu Mike pergi.
Pintu ruang kerja Sanzio masih terbuka, Seana langsung melihat ponsel miliknya tergeletak diatas meja Sanzio.
Dengan menahan tubuhnya yang gemetar, Seana memberanikan diri untuk berjalan masuk. "Permisi, Pak Zio. Hp saya tadi ngga sengaja ketinggalan di meja bapak." Kemudian, Seana mengulurkan tangannya untuk mengambil ponselnya. Namun, Sanzio telah lebih dulu mendahuluinya. Pada saat Seana menyadari apa yang baru saja terjadi, pria itu sudah menekan tombol daya di ponselnya dan membaca notifikasi pesan yang masuk di layar ponsel Seana.
"Seana, apa kamu mau mengatakan sesuatu kepada saya?." Tanya Sanzio dengan suara beratnya.
Seana sudah pucat pasi karena ketakutan. Mendengar pertanyaan yang Sanzio ajukan dengan nada bicaranya yang seperti itu, sudah hampir membuat jantungnya copot. Seana merasa semakin panik setelah melihat pesan yang diterimanya dari Velia.
[Velia: Seana, kok lo lama banget sih? Apa jangan-jangan pak Zio udah tau dan ngasih lo surat peringatan, karena...]
Kata-kata setelah "Karena" dihilangkan karena teksnya terlalu panjang untuk ditampilkan sepenuhnya dilayar kunci.
Setelah membaca pesan itu, pikiran didalam kepala Seana seakan hampir meledak saat itu juga. Dengan mata terbelalak, dia menatap Sanzio yang membalasnya dengan sebuah tatapan tajam. "Seana, apa kamu menyembunyikan sesuatu dibelakang saya? Kenapa saya perlu membuat surat peringatan untuk kamu?" tanyanya.
Napas Seana menjadi lebih cepat. Dia panik dan menjawab dengan tergagap. "Ngga ada apa-apa kok, Pak. Itu bukan masalah serius." Bibirnya gemetaran, sehingga sulit baginya untuk mendengar suaranya sendiri.
Sementara didalam kepalanya, pikirannya kembali teringat dengan percakapan Sanzio dan Mike sebelumnya. Pikirannya kabur dan Seana hampir ingin menangis.
Sanzio menatapnya dalam diam, mengharapkan penjelasan yang masuk akal dari Seana..
Sedangkan Seana memaksakan dirinya untuk tetap terlihat tenang, meskipun sudah merasa sangat lemah. Wanita itu menundukkan kepalanya, dengan menutup kedua matanya. "Saya minta maaf atas apa yang sudah saya lakukan, Pak Zio."
"Hmm? Apa yang sebenarnya kamu sesali? Kenapa meminta maaf? Padahal kamu adalah karyawan saya yang paling rajin dan teliti." Sanzio memang jarang atau bahkan tidak pernah memuji karyawannya, namun kali ini dia tiba tiba memuji Seana.
Bukannya merasa senang atau bangga dengan prestasinya di mata atasannya, Seana sama sekali merasa tidak senang. Bahkan, dia justru merasa semakin ketakutan. Dia tidak tahu bagaimana menjelaskan lebih lanjut.
Ting!
Tiba-tiba pesan baru dari Velia kembali masuk.
[Velia: Seana, kok chat gue ngga dibales? Pak Zio udah tau belum?]
Awalnya itu hanya tentang sebuah tulisan, tetapi dengan pertanyaan-pertanyaan itu, jika diteruskan bisa menyampaikan sejumlah besar informasi.
Seana semakin pucat dibuatnya, dan napasnya semakin berat. Dia berusaha mengangkat kepalanya, tetapi pandangannya kembali bertemu dengan tatapan tajam Sanzio. Dengan keadaan terdesak seperti sekarang, Seana berusaha mencari alasan yang tepat untuk meloloskan dirinya dari Sanzio. "S-sebenarnya saya punya pekerjaan lain, selain menjadi asisten bapak dikantor selama libur."
"Apa?." Sanzio terlihat bingung, dan salah satu alisnya terangkat.
Keraguan juga terpancar dimata Sanzio.
Seana meremas tangannya, dia memaksakan dirinya untuk tetap tenang. "Pak Zio, pekerjaan lain yang saya ambil sama sekali ngga ada hubungannya dengan perusahaan ini. Itu juga ngga akan memengaruhi saya untuk mementingkan dan memprioritaskan perusahaan ini."
Meskipun Seana adalah asisten presiden Kaivandra Internasional Group kedua, dia juga suka membuat kerajinan tangan dari tanah liat. Seana mengetahui peraturan perusahaan yang menyatakan bahwa karyawan Kaivandra Internasional Group tidak diizinkan untuk mengejar pekerjaan lain di luar perusahaan. Tetapi saat ini, pekerjaan membuat kerajinan dari tanah liat tampaknya tidak begitu penting, dibandingkan dengan peristiwa yang terjadi saat ini.
Jadi, Seana mengorbankan pekerjaannya itu untuk menutupi yang sebenarnya.
Dan setelah pulang dari kantor, dia akan langsung memarahi Velia karena sudah mengiriminya banyak pesan yang bisa membocorkan apa yang sedang mereka tutup-tutupi.