NovelToon NovelToon
The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi
Popularitas:444
Nilai: 5
Nama Author: Lallunna

Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.

Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.

Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.



Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Gema di Lorong Sekolah

​Pagi di SMP Negeri 12 dimulai dengan hiruk-pikuk yang kontras dengan keheningan mewah rumah Bima yang Senara kunjungi kemarin. Di sini, suara knalpot angkot yang menderu di depan gerbang sekolah berpadu dengan teriakan penjual jajanan. Senara berjalan menyusuri koridor sekolah yang lantainya sudah banyak yang retak, mencoba mengusir sisa-sisa rasa tidak nyaman setelah berada di wilayah Bima semalam.

​Baginya, kunjungan ke rumah Bima adalah sebuah pelanggaran wilayah. Ia merasa seolah-olah aroma parfum ruangan yang mahal dan aura teknologi di rumah itu masih menempel di jaketnya, membuatnya merasa asing di sekolahnya sendiri.

​"Nara! Kamu sudah dengar?" Maya tiba-tiba muncul dari balik pintu kelas, wajahnya tampak sangat bersemangat.

​Senara meletakkan tasnya di atas meja kayu yang penuh dengan guratan nama siswa dari tahun-tahun sebelumnya. "Dengar apa, May?"

​"Soal pendaftaran SMA Garuda! Katanya, tahun ini mereka akan mengirimkan tim verifikasi langsung ke sekolah-sekolah yang punya kandidat jalur undangan. Dan karena kamu satu-satunya dari SMP ini, mereka akan datang minggu depan!"

​Senara tertegun. Itu berarti ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik kertas-kertas ujian. Pihak Garuda akan melihat realitas sekolahnya, fasilitas laboratorium yang seadanya, komputer-komputer tua dengan monitor tabung, dan perpustakaan yang lebih banyak berisi debu daripada buku baru.

​"Bima pasti sudah tahu soal ini," gumam Senara pelan.

​Di belahan kota lain, di dalam ruangan OSIS SMP Super Internasional yang ber-AC, Bima sedang duduk di depan meja kerjanya. Di depannya, monitor besar menampilkan draf proyek kolaborasinya dengan Senara. Ia tidak bisa fokus pada data statistik yang mereka susun kemarin, pikirannya masih tertuju pada anomali sistem keamanan di rumahnya saat Senara hadir.

​Bima meraih ponselnya, menelepon seseorang dengan nada yang tidak mentoleransi penundaan.

​"Sudah kamu periksa log sistem keamanan teras kemarin sore?" tanya Bima langsung.

​"Sudah, Tuan V," jawab suara di seberang telepon. "Ada gangguan frekuensi radio di pita rendah. Sangat sulit dideteksi karena polanya menyerupai noise lingkungan biasa. Tapi setiap kali subjek bergerak, frekuensi itu berubah untuk menutupi jejaknya. Itu bukan sekedar keberuntungan, Tuan, itu adalah active jamming yang sangat halus."

​Bima menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, senyum sinisnya muncul kembali. "Dan kamu bilang subjek tidak membawa perangkat elektronik apa pun selain ponsel bututnya?"

​"Benar, Tuan. Bahkan ponselnya dalam keadaan mati total saat itu."

​Bima mematikan telepon. Ia merasa seperti sedang mengejar hantu yang memakai seragam sekolah negeri. Ia tahu Senara adalah kuncinya, tapi ia belum menemukan cara untuk membuka gemboknya.

​"Minggu depan, verifikasi SMA Garuda," bisik Bima. "Mari kita lihat bagaimana kamu mempertahankan ketenanganmu di sekolah yang berantakan itu, Senara."

​Hari-hari berikutnya di SMP 12 menjadi sangat sibuk. Guru-guru mulai merapikan sekolah, mengecat ulang beberapa bagian tembok yang sudah mengelupas, demi menyambut tim dari SMA Garuda. Senara merasa terbebani, ia merasa sekolahnya sedang berusaha memakai topeng hanya untuk mendukung dirinya.

​Suatu sore, saat Senara sedang membantu Maria merapikan laboratorium komputer yang sedikit berantakan, sebuah mobil mewah yang sudah sangat familiar berhenti di depan gerbang SMP 12. Kehadiran mobil itu langsung menarik perhatian para siswa yang sedang menunggu angkot.

​Bima turun dari mobil dengan seragam sekolahnya yang sangat rapi dan mahal. Ia berjalan melewati gerbang sekolah negeri itu dengan langkah yang menunjukkan betapa ia merasa tempat ini tidak layak bagi kakinya.

​Ia menemukan Senara di laboratorium komputer, sedang mencoba menyalakan salah satu komputer yang CPU-nya terus mengeluarkan bunyi bip panjang.

​"Jangan dipaksa, perangkat purba itu memang seharusnya sudah masuk museum," ujar Bima, suaranya bergema di ruangan laboratorium yang sepi.

​Senara tidak menoleh. Ia terus menekan tombol Power. "Tidak semua orang punya kemewahan untuk mengganti barang hanya karena sedikit rusak, Bima. Apa yang kamu lakukan di sini? Kita tidak punya jadwal pengerjaan proyek hari ini."

​Bima berjalan mendekat, menyentuh meja laboratorium yang berdebu dengan jarinya, lalu menatap debu itu dengan jijik. "Aku datang untuk memberikan berkas fisik yang diminta Garuda. Ibu Maria memintaku membawanya karena sekolahmu tidak punya sistem cloud yang kompatibel dengan protokol mereka."

​Senara akhirnya berhenti dan menatap Bima. "Kamu bisa mengirimnya lewat kurir, tidak perlu datang sendiri hanya untuk menghina sekolahku."

​"Aku tidak menghina, aku hanya membicarakan fakta," balas Bima. Ia meletakkan sebuah map kulit di atas meja. "Ngomong-ngomong, kamu sudah siap untuk minggu depan? Tim verifikasi Garuda tidak hanya menilai otakmu, mereka juga menilai lingkunganmu. Mereka ingin melihat apakah kamu bisa bertahan di sekolah elit mereka dengan latar belakangmu yang... seperti ini."

​"Aku sudah bertahan di sekolah ini selama hampir tiga tahun dan tetap mengalahkanmu di kompetisi nasional," sahut Senara dengan nada yang sangat tajam. "Kurasa itu sudah menjawab apakah lingkunganku berpengaruh pada kemampuanku atau tidak."

​Bima tertawa pendek. "Ketajaman lidahmu selalu mengesankan. Tapi jangan lupa, Senara. Di SMA Garuda nanti, kamu tidak akan punya 'keajaiban' dari Blok 4 itu lagi. Kamu akan berada di bawah pengawasanku setiap hari, jika kamu menyembunyikan sesuatu, atau siapa pun yang melindungimu lewat jaringan, aku akan menemukannya."

​Senara melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Ia menatap Bima tepat di matanya. "Kamu begitu terobsesi padaku sampai kamu mulai berhalusinasi tentang pelindung di balik bayanganku. Apa kamu begitu kesepian di rumah megahmu itu, Bima? Sampai-sampai kamu harus menciptakan musuh imajiner agar hidupmu terasa lebih menarik?"

​Wajah Bima berubah kaku. Pertanyaan Senara menghantam titik saraf yang tidak ingin ia akui. Ia memang kesepian di tengah kemewahan, dan mengejar Senara adalah satu-satunya hal yang memberikan adrenalin dalam hidupnya yang terlalu teratur.

​"Aku tidak butuh musuh imajiner saat ada rival yang nyata di depanku," desis Bima.

​Tiba-tiba, lampu di laboratorium komputer itu berkedip. Salah satu komputer yang tadi tidak bisa menyala, mendadak berderu kencang. Layarnya menyala biru terang, lalu menampilkan deretan kode yang tidak masuk akal bagi orang awam.

​Bima segera menoleh ke arah layar itu. "Lihat! Itu dia lagi! Dan kamu bilang kamu tidak tahu apa-apa?"

​Senara pun ikut menoleh, matanya membelalak kaget. "Aku... aku tidak menyentuhnya! Kan tadi tombolnya rusak!"

​Bima segera merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah perangkat detektor frekuensi kecil. Jarum digital di alat itu bergerak liar ke arah zona merah. Bima menatap Senara, lalu menatap jaket Senara yang tergantung di kursi.

​"Di sana!" Bima hendak melangkah menuju jaket Senara, tapi Senara lebih cepat. Ia menyambar jaketnya dan memakainya dengan terburu-buru.

​"Cukup, Bima! Keluar dari sekolahku!" seru Senara, suaranya sedikit bergetar karena emosi. "Kamu datang ke sini hanya untuk membuat keributan dengan alat-alat anehmu itu. Aku tidak tahu kenapa komputer ini menyala, dan aku tidak peduli!"

​Bima berhenti, ia menatap Senara dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara kecurigaan yang mendalam dan rasa kagum pada ketenangan Senara yang tetap terjaga meskipun situasi menjadi aneh.

​"Ini belum selesai," ujar Bima. Ia mengambil map kulitnya yang tadi ia letakkan, lalu berjalan keluar dari laboratorium tanpa menoleh lagi.

​Senara berdiri sendirian di ruangan yang kini kembali hening. Komputer yang tadi menyala tiba-tiba mati total lagi, menyisakan bau hangus yang tipis di udara. Senara merogoh saku jaketnya, ia menyentuh gantungan kunci robot biru itu.

​Robot itu terasa panas. Sangat panas, seolah-olah baru saja bekerja melampaui batas kemampuannya.

"​Kenapa benda ini selalu bereaksi setiap kali Bima mencoba menekanku?" batin Senara.

​Ia tidak merasa dirinya hebat, ia justru merasa takut. Ia merasa ada sesuatu yang besar sedang terjadi di sekelilingnya, sesuatu yang tidak ia pahami, namun entah bagaimana selalu berpihak padanya. Ia teringat kata-kata Bima tentang "pelindung".

"​Siapa sebenarnya yang melakukan ini? Siapa yang sedang menjagaku?" gumam Senara.

​Malam harinya, Senara tidak bisa belajar dengan tenang. Ia duduk di depan cermin retaknya, menatap robot biru yang kini sudah mendingin. Ia mencoba memeriksa robot itu, mencari tombol tersembunyi atau lubang kabel, tapi tidak menemukan apa-apa. Bagi Senara, ini tetaplah mainan bekas yang rusak.

​Di saat yang sama, di kamarnya yang luas, Bima sedang memutar ulang rekaman frekuensi dari detektornya tadi sore. Ia mencocokkannya dengan data dari rumahnya.

​"Sama," gumam Bima. "Polanya sama persis. Perangkat itu ada pada dirinya. Tapi di mana?"

​Bima melihat foto Senara yang ia ambil secara diam-diam saat di laboratorium tadi. Senara tampak sedang memeluk tasnya, terlihat waspada namun tetap menunjukkan harga diri yang tinggi.

​"Minggu depan, saat verifikasi Garuda," Bima merencanakan sesuatu di kepalanya. "Aku akan mematikan seluruh jaringan seluler di sekolah itu. Kita lihat, apa kamu masih bisa mengandalkan 'keajaibanmu' saat kamu benar-benar terisolasi."

​Bima tidak pernah menyerah. Baginya, Senara adalah teka-teki paling menarik yang pernah ia temui. Dan ia akan melakukan apa pun untuk memecahkannya, bahkan jika itu berarti ia harus membakar seluruh rahasia gadis itu hingga menjadi abu.

​Persaingan mereka kini tidak lagi tentang siapa yang lebih pintar di kelas. Ini adalah perburuan. Bima adalah sang pemburu yang membawa segala perlengkapan modern, sementara Senara adalah sang kancil yang cerdik, yang tidak tahu bahwa di dalam kantongnya, ia membawa perisai dewa yang sedang diperebutkan oleh dunia.

​Semester pertama ini menjadi semakin gelap, dan di balik senyum dingin mereka, sebuah badai digital siap menerjang siapa pun yang lengah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!