NovelToon NovelToon
CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Epik Petualangan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.

Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Pukul 17.05 WIB

Area Camp, Kilometer Tujuh

Area camp di kilometer tujuh adalah sebuah dataran kecil yang terbentuk alami di antara lekukan jalur. Tidak luas, tetapi cukup untuk dua tenda dengan jarak aman di antaranya. Tanahnya lebih padat dibanding jalur sebelumnya, campuran tanah keras dan akar tua yang mencuat tipis dari permukaan, cukup stabil untuk pijakan dan pemasangan pasak. Di sisi timur dan utara, barisan pohon besar berdiri rapat, batangnya tebal dan tinggi, menjadi pelindung alami dari angin gunung yang mulai turun menjelang malam.

Di sisi barat, batas area camp hampir tidak terlihat. Rumput pendek berakhir begitu saja, lalu langsung berganti menjadi semak belukar hutan lindung yang lebih gelap dan lebih rapat. Tidak ada garis tegas yang memisahkan keduanya hanya perubahan suasana yang terasa jelas, seolah wilayah itu memiliki aturan berbeda.

Dalam kondisi cuaca cerah, menurut cerita para pendaki, tempat ini menawarkan pemandangan luar biasa ke arah selatan. Lembah luas terbentang hingga cakrawala, warna hijau berlapis-lapis yang berubah keemasan saat matahari terbenam.

Namun sore ini, tidak ada lembah.

Yang ada hanyalah kabut.

Kabut tebal menutup seluruh arah selatan seperti tirai raksasa yang tidak bisa disibakkan. Dunia berhenti sejauh mata memandang, dan batas pandangan berakhir pada warna putih keabu-abuan yang tidak bergerak namun terasa hidup.

Mereka bekerja tanpa banyak bicara.

Suara yang mengisi area camp hanyalah bunyi ritsleting tenda, klik sambungan tiang aluminium yang masuk ke posisinya, serta denting kecil pasak yang ditancapkan ke tanah keras. Yazid dan Rehan mendirikan tenda pertama dengan efisiensi yang hampir tanpa instruksi. Keduanya memiliki cara berpikir berbeda Yazid mengandalkan intuisi lapangan, sementara Rehan bekerja dengan struktur dan perhitungan namun dalam situasi seperti ini, perbedaan itu justru saling melengkapi.

Dalam waktu sepuluh menit, tenda pertama berdiri kokoh.

Di sisi lain, Salsabilla membantu Runa memasang tenda kedua. Prosesnya sedikit lebih lama karena salah satu pasak ternyata bengkok. Salsabilla hampir saja memaksanya masuk ke tanah, tetapi Runa menghentikannya dan memilih memperbaiki sudut tekanan terlebih dahulu. Ia mengamati posisi tanah, sudut tali, dan arah tarikan sebelum akhirnya memasang ulang dengan presisi yang membuat tenda berdiri lebih stabil.

Zidan duduk di atas carrier miliknya, memulihkan napas. Tidak ada yang memintanya membantu, dan tidak ada pula yang membuat situasi itu terasa seperti pengecualian. Pembagian tugas terjadi secara alami, seolah semua orang memahami batas masing-masing tanpa perlu dibicarakan.

Dua tenda berdiri berdampingan.

Pembagian penghuni tidak perlu didiskusikan lama: Yazid, Rehan, dan Zidan menempati tenda pertama yang sedikit lebih besar. Runa dan Salsabilla di tenda kedua.

Kompor portabel dinyalakan di bawah vestibule tenda, terlindung dari angin yang sesekali menyusup dari arah barat. Api kecil menyala stabil. Air mulai mendidih dalam delapan menit.

Empat bungkus mi instan dengan rasa berbeda dituangkan ke dalam satu panci besar. Tidak ada yang peduli soal kombinasi rasa. Pada tingkat lapar seperti ini, standar kuliner berubah drastis. Aroma bumbu hangat segera memenuhi ruang kecil di antara dua tenda, menciptakan rasa nyaman yang hampir terasa seperti rumah.

“Ini lebih enak dari bento salmon teriyaki lo,” kata Zidan sambil meniup mi panas di mangkuknya.

“Tidak mungkin,” jawab Rehan datar.

“Han, gue serius. Ini fenomenal.”

“Itu karena kamu lapar dan capek. Penilaian kamu bias.”

“Atau justru objektif. Mungkin realitanya mi instan campur semua rasa di ketinggian tujuh ratus meter memang enak.”

“Tujuh ratus meter,” koreksi Runa dari tenda sebelah. Suaranya terdengar jelas melalui dinding kain tipis.

Zidan menatap arah suara itu. “Runa, lo dengerin?”

“Tenda ini tidak kedap suara.”

Zidan menghela napas panjang. “Lo tau gue mau ngomong apa selanjutnya?”

“Belum. Tapi kalau tidak produktif, sebaiknya ditunda.”

“Ini produktif.”

“Tidur lebih produktif,” potong Runa tenang. “Pemulihan fisik meningkatkan performa esok hari. Perdebatan filosofis tentang objektivitas tidak.”

Zidan membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia menoleh ke Rehan. “Kenapa gue nggak bisa kesel sama dia?”

“Karena dia jarang salah,” jawab Rehan.

“Itu tidak membantu.”

Yazid makan dalam diam di sudut tenda. Namun sudut bibirnya sempat terangkat tipis cara tertawanya yang hanya terlihat oleh orang yang cukup mengenalnya.

Zidan menangkap ekspresi kecil itu.

Dan entah kenapa, hal sederhana itu cukup membuat malam terasa kembali normal.

Kabut di luar masih ada, tetapi di dalam lingkaran kecil cahaya headlamp dan uap makanan hangat, mereka masih menjadi lima orang yang sama seperti sebelum semuanya terasa aneh.

Pukul 21.00 WIB

Tenda Dua Runa dan Salsabilla

Lampu kepala milik Runa sudah dimatikan. Di dalam tenda hanya tersisa cahaya redup dari headlamp kecil Salsabilla yang digantung di langit-langit sebagai lampu tidur. Cahaya itu lembut, cukup untuk melihat bentuk tanpa mengusik mata yang ingin beristirahat.

Runa berbaring di dalam sleeping bag dengan mata terbuka.

Pikirannya bekerja.

Biasanya ia mampu mengendalikan alur pikirannya seperti mengatur tab di layar komputer memilih mana yang perlu diproses, mana yang ditutup sementara. Namun malam ini, satu gambar terus kembali berulang.

Footage kamera Salsabilla.

Siluet itu.

Terlalu tegak. Terlalu stabil.

Analisis, perintahnya pada diri sendiri. Bukan asumsi. Analisis.

Fakta yang bisa diambil: satu figur menyerupai manusia berada di luar jalur resmi, di dalam hutan, bergerak dengan pola yang tidak konsisten dengan pergerakan manusia di medan tidak rata. Tidak ada penyesuaian langkah terhadap akar atau kemiringan tanah. Tidak ada perubahan pusat gravitasi tubuh.

Kemungkinan pertama: pendaki lain yang tersesat dan mengalami kelelahan ekstrem atau hipotermia.

Kemungkinan kedua: distorsi visual akibat jarak, kabut, dan kualitas kamera.

Runa menghentikan pikirannya sebelum mencapai kemungkinan ketiga.

Kemungkinan ketiga membutuhkan asumsi yang tidak memiliki dasar ilmiah. Dan ia tidak terbiasa membangun kesimpulan dari sesuatu yang tidak dapat diverifikasi.

Namun pengumuman di pos pendaftaran kembali teringat.

Pendaki hilang. Zona barat laut.

Dan siluet itu muncul di sisi barat jalur.

Runa memejamkan mata. Membukanya kembali beberapa detik kemudian.

Besok, pikirnya. Dianalisis ulang dengan kondisi lebih stabil.

Di sampingnya, Salsabilla belum tidur. Ia berbaring miring dengan satu earphone terpasang tanpa musik. Hanya kebiasaan lama yang memberi sinyal pada otaknya bahwa ini waktu beristirahat.

Matanya hampir terpejam.

Hampir.

Lalu terdengar suara dari luar tenda.

Kecil. Sangat kecil.

Ranting patah.

Salsabilla membuka mata sepenuhnya. Ia menunggu. Satu menit berlalu. Mungkin hanya hewan kecil. Tikus hutan atau tupai malam.

Lalu suara itu terdengar lagi.

Persis sama.

Bukan suara langkah beruntun. Bukan sesuatu yang bergerak alami. Hanya satu bunyi tunggal yang berdiri sendiri.

Krak.

Diam.

Sekitar satu menit.

Krak.

Diam.

Krak.

Salsabilla duduk perlahan. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena takut, tetapi karena sesuatu terasa tidak wajar. Ada pola. Interval yang terlalu konsisten untuk kejadian alami.

“Ru,” bisiknya.

Runa langsung membuka mata. Ia termasuk tipe orang yang tidur dengan lapisan kesadaran tipis. “Hm?”

“Dengerin.”

Mereka diam.

Krak.

Sunyi kembali.

Krak.

Runa duduk perlahan, bergerak hati-hati agar tidak menimbulkan suara tambahan. Ia tidak langsung melihat keluar, melainkan memproses arah suara terlebih dahulu. Kepala sedikit menunduk, fokus pada pendengaran.

Interval teratur. Intensitas sama. Arah konsisten.

Barat.

Dari sisi hutan.

Arah yang sama dengan siluet dalam rekaman kamera.

Runa menoleh ke Salsabilla dalam cahaya redup. Mata mereka bertemu, keduanya memahami hal yang sama tanpa perlu diucapkan panjang.

Suara itu kembali terdengar.

Krak.

Runa menarik napas pelan, lalu berbisik sangat lirih, hampir seperti udara yang dibentuk menjadi kata:

“Bangunkan Yazid. Jangan yang lain dulu.”

1
Kustri
lanjutkan!!!
Kustri
oalah zidan... zidan orang terbirit" kamu malah nyantai😂
Kustri
semangat buat lanjutin karyamu ini
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
Kustri
hlaa py to, saya jg sdh siap melanjutkan, koq malah mentok😩
Kustri
kamu salah 1 dr mrk, tubuhmu ada zat yg sama dgn mrk zidaaaan... 😁bener gk sih thor🤭
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
Kustri
mayan di swalayan stok makanan & minuman aman👌🤭
Kustri
☕tak sogok biar crazy up🤭😁
Kustri
weh zidan 🎷🎼ada apa dgnmu...
Kustri
ngeyel BGT👊👊👊wae
Kustri
qu msh capek, dok masa iya baru nyampe bawah, istirahat jg blm masak suruh naik lagi😫😫😫
Kustri
ky'a satria gk nyebut zidan, koq sakira tau yg terpapar itu zidan🤔ampe qu ulang baca'a🤭
NR: wkwk, terimakasih kak.
total 1 replies
Kustri
diminumin air kelapa ijo x yaa🤭
Kustri
memukul jgn hanya pukul
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
Kustri
wah zidan ky'a terpapar dr serbuk nih, melihat kondisi'a
Kustri
eumm... dr jamur yg fajar makan waktu kelaparan itu yaa
Kustri
kira" apa obat penyembuh'a ya🤔
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
t-rex
suka banget upnya langsung banyak gini. btw Thor, perkiraan end dibab berapa? wkwk. mau nabung bab😭😭🤭
NR: Up banyak kalo lagi ada ide aja kak wkwk, kalo up nya cuman 1 bab itu lagi stuck alur ceritanya mao dibawa kemana yak ini wkwk,
total 1 replies
Kustri
qu koq deg"an klu zidan terpapar😫
lanjut lagii
Kustri
lanjuuut 👉👉👉
Kustri
bisa gk thor kalimat"nya diperhalus, perasaan dipart" awal kalimat'a enak dibaca
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪
NR: oke kak, terimakasih saran nya, 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!