Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Malam itu, hujan kembali turun, namun kali ini hanya rintik halus yang mengetuk kaca jendela kamarku. Aku berbaring telentang, menatap langit-langit kamar yang ditempeli stiker bintang phosphor yang sudah mulai redup sinarnya—persis seperti harapanku selama ini.
Namun, ada yang berbeda.
Biasanya, jam segini aku sudah tenggelam dalam ambisi menyelesaikan soal-soal latihan SBMPTN demi bisa kuliah jauh dari kota ini. Tapi malam ini, buku Kimia di meja belajarku masih tertutup rapat. Pikiranku justru tertahan pada kejadian di atap sekolah tadi.
Aku menyentuh puncak kepalaku, tempat tangan Arkan mendarat pelan tadi sore. Rasanya masih ada jejak hangat yang tertinggal di sana.
"Editor, ya?" gumamku pelan ke arah langit-langit.
Kalimat Arkan terus berputar seperti kaset rusak di kepalaku. Bagaimana bisa seseorang yang baru hadir beberapa bulan di hidupku bisa membaca retakan yang selama ini kututup rapat dengan semen ketidakpedulian? Selama ini, aku menganggap laki-laki adalah sumber ketidakpastian. Ayah adalah bukti nyatanya. Beliau menjanjikan istana, tapi yang kuterima justru puing-puing rumah yang hancur.
Aku bangkit dan duduk di kursi meja belajar, membuka laci paling bawah. Di sana ada sebuah kotak kayu kecil berisi foto-foto lama. Aku mengambil satu foto: aku yang masih kecil tertawa lebar di atas bahu Ayah. Dulu, aku pikir tawa itu gratis. Ternyata benar kata Arkan, ada pajaknya. Dan pajaknya adalah kehampaan yang kurasakan selama tujuh tahun terakhir.
Ting!
Ponselku yang tergeletak di samping buku paket bergetar. Sebuah pesan WhatsApp masuk.
Arkan P: Belum tidur, kan? Jangan dipikirin terus omongan gue soal jaket tadi. Gue bercanda soal nggak mau nyuci sebulan. Tapi kalau soal 'asuransi', gue serius.
Aku menatap layar itu lama. Jemariku ragu di atas papan ketik.
Nara: Gue lagi nggak mikirin itu. Gue lagi belajar.
Arkan P: Bohong. Tanda titik di akhir kalimat lo itu terlalu tegas. Lo lagi mikirin sesuatu yang berat. Mau bagi bebannya, atau mau gue kirimin foto konyol Pandu pas lagi tidur mangap di sebelah gue?
Aku tanpa sadar mendengus geli. Arkan seolah punya radar untuk mendeteksi setiap kebohonganku. Aku melirik ke arah pintu kamar Kak Pandu yang tertutup. Benar juga, Arkan mungkin sedang di sana, atau baru saja pulang dari sana.
Nara: Nggak perlu. Simpan aja buat bahan blacklist lo.
Arkan P: Oke. Tidur, Ra. Besok gue jemput. Nggak ada penolakan, karena motor gue udah dapet izin resmi dari 'Kanjeng Mami' alias nyokap lo buat nganter lo sekolah.
Mataku membelalak. Sejak kapan dia mengambil hati Mama?
Aku meletakkan ponsel dengan jantung yang berdegup tidak karuan. Ada rasa takut yang menyeruak—takut jika aku mulai bergantung pada kehadiran orang lain. Tapi di sisi lain, ada kehangatan yang mulai menjalar di dadaku, mencairkan sedikit demi sedikit es yang membeku di sana.
Malam itu, sebelum mematikan lampu, aku tidak menyimpan kembali foto masa kecilku ke dalam laci. Aku membiarkannya tergeletak di atas meja, bersandingan dengan buku Kimia. Seolah memberi ruang bagi masa lalu dan masa depan untuk berdamai di sana.
Arkan Pradipta benar-benar gangguan. Gangguan yang membuatku mulai mempertanyakan keputusanku untuk tetap menjadi 'datar'.
Sial," bisikku sambil menarik selimut hingga menutupi separuh wajah. "Jangan sekarang, Nara. Jangan jatuh sekarang."