"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Skeptisisme Rekan Kerja
Bab 7: Skeptisisme Rekan Kerja
Pagi hari di kediaman Wijaya tidak lagi sama setelah insiden peracunan di Hotel Mulia. Atmosfer di dalam rumah terasa berat oleh kecurigaan. Tuan Wijaya secara resmi menyerahkan otoritas penuh atas keamanan internal kepada Kenzi, sebuah keputusan yang mengirimkan gelombang kejut ke seluruh staf keamanan—terutama bagi Bram, Kepala Keamanan yang telah mengabdi selama sepuluh tahun.
Kenzi berdiri di tengah ruang latihan utama, sebuah gimnasium pribadi yang dilengkapi dengan peralatan tempur mutakhir. Ia sedang melakukan rutinitas kalistenik dengan kecepatan yang tidak wajar. Baginya, ini bukan sekadar olahraga; ini adalah kalibrasi sistem motorik.
Denyut nadi: 62 bpm. Saturasi oksigen: 99%. Efisiensi gerakan: 98,5%.
"Hebat juga aktingmu semalam, Anak Baru," suara berat Bram menggema dari arah pintu.
Bram berjalan masuk diikuti oleh tiga anggota timnya. Tubuh Bram besar, penuh otot yang dibangun dari angkat beban bertahun-tahun, kontras dengan perawakan Kenzi yang lebih ramping namun padat. Mata Bram memancarkan kebencian murni. Bagi seorang veteran lapangan seperti dia, Kenzi hanyalah bocah kutu buku yang beruntung bisa mendeteksi perubahan kimia di dalam gelas.
Kenzi menghentikan gerakannya, berdiri tegak dengan napas yang tetap stabil. "Itu bukan akting. Itu adalah kegagalan sistematis dari tim yang Anda pimpin," jawab Kenzi tanpa nada provokasi, hanya fakta dingin.
"Dengar, ya," Bram mendekat hingga jarak mereka hanya tiga puluh sentimeter. "Aku tidak tahu dari lubang mana Tuan Wijaya memungutmu. Tapi di sini, kami menghargai keringat dan darah, bukan alat-alat canggih dan lensa kontak anehmu itu. Kau membuat kami semua terlihat seperti amatir di depan Tuan Baron."
"Anda adalah amatir jika membiarkan orang tak dikenal masuk ke area layanan VIP tanpa verifikasi identitas fisik," balas Kenzi datar.
Salah satu anak buah Bram mencoba maju, namun Bram menahannya. "Kau pikir kau hebat karena bisa menjatuhkan beberapa preman jalanan tempo hari? Di sini, kami punya aturan. Jika kau ingin memimpin kami, kau harus membuktikan bahwa kau bukan sekadar 'anak emas' yang pandai bicara."
Bram melepaskan kemeja seragamnya, menyisakan kaus dalam hitam yang ketat. Ia memakai sarung tinju MMA. "Duel satu lawan satu. Tanpa alat, tanpa sensor. Hanya kau, aku, dan matras ini. Jika aku menang, kau pergi ke Tuan Wijaya dan bilang kau tidak sanggup memimpin tim. Jika kau menang—yang mana mustahil—aku akan menutup mulutku."
Kenzi memindai Bram.
Analisis Target: Bram. Tinggi: 188 cm. Berat: 95 kg. Gaya bertarung: Muay Thai agresif. Kelemahan: Lutut kiri pernah mengalami cedera ligamen (terdeteksi dari cara tumpuan kaki), emosi yang tidak stabil memicu pola serangan linier.
"Duel ini tidak efisien," ujar Kenzi. "Tapi jika ini adalah satu-satunya cara untuk menghapus variabel gangguan dalam struktur komando, saya terima."
Kabar tentang duel ini menyebar cepat. Tanpa diduga, Alana muncul di balkon lantai dua ruang latihan. Ia tampak pucat, masih dihantui kejadian semalam, namun rasa ingin tahunya tentang Kenzi jauh lebih besar. Ia ingin melihat apakah pria yang menyelamatkannya itu benar-benar "manusia" atau hanya mesin yang diprogram.
"Mulai!" teriak salah satu pengawal.
Bram langsung merangsek maju dengan low kick yang kuat, mencoba menguji pertahanan bawah Kenzi. Kenzi bergeser hanya beberapa sentimeter, membiarkan serangan itu menebas udara. Bram kembali menyerang dengan kombinasi jab-cross yang cepat.
Kenzi tidak membalas. Ia hanya bergerak melingkar, matanya yang tajam mengunci setiap pergerakan otot bahu Bram. Bagi Kenzi, serangan Bram terlihat lambat, seperti video yang diputar dengan slow motion.
"Kenapa kau hanya lari, hah?! Mana kehebatanmu?!" teriak Bram frustrasi. Ia melakukan tendangan memutar (roundhouse kick) ke arah kepala Kenzi.
Kenzi merunduk, lalu dalam satu gerakan eksplosif yang hampir tak tertangkap mata, ia masuk ke area blind spot Bram. Ia memberikan satu pukulan pendek ke ulu hati Bram, diikuti dengan serangan siku ke saraf brakialis di lengan kanan pria besar itu.
Bram terhuyung. Lengannya mendadak lumpuh sementara.
"Analisis serangan Anda: Terlalu banyak energi yang terbuang untuk emosi," ujar Kenzi dingin. "Anda meninggalkan celah tiga detik setiap kali melakukan tendangan memutar."
Bram yang sudah dibutakan amarah menyerang dengan membabi buta. Ia mencoba melakukan takedown untuk membawa Kenzi ke lantai. Namun, Kenzi menggunakan momentum berat badan Bram sendiri. Ia menangkap leher Bram, memutar tubuhnya, dan menggunakan teknik judo tingkat tinggi untuk membanting Bram ke matras dengan dentuman keras.
Sebelum Bram bisa bangkit, lutut Kenzi sudah mengunci lehernya, sementara tangan Kenzi memelintir lengan kiri Bram ke posisi yang hampir mematahkannya.
"Selesai," ucap Kenzi pelan.
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Tiga anak buah Bram mematung dengan wajah ketakutan. Mereka baru saja melihat pemimpin mereka, seorang ahli bela diri veteran, dikalahkan dalam waktu kurang dari satu menit tanpa Kenzi mengeluarkan setetes keringat pun.
Kenzi melepaskan kunciannya dan berdiri. Ia tidak menunjukkan rasa bangga. Wajahnya tetap datar, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan tugas administratif rutin.
"Mulai sekarang, struktur komando berada di bawah saya," Kenzi menatap para pengawal lainnya satu per satu. "Setiap napas yang kalian ambil di rumah ini adalah untuk keselamatan keluarga Wijaya. Jika ada yang merasa ego mereka lebih penting daripada misi, silakan keluar sekarang."
Bram bangkit dengan susah payah, memegangi lengannya yang gemetar. Ia menatap Kenzi dengan kombinasi rasa takut dan hormat yang terpaksa. "Siapa kau sebenarnya? Teknik itu... itu bukan untuk pengawal. Itu teknik eliminasi."
Kenzi tidak menjawab. Ia berbalik dan melihat Alana di balkon. Gadis itu menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan—ada ketakutan, namun juga ada sesuatu yang mirip dengan kekaguman yang skeptis.
Satu jam kemudian, Kenzi berada di ruang monitor keamanan, menyusun ulang seluruh rute patroli. Ia mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan pada log akses gerbang belakang dari dua minggu lalu—sebelum ia bekerja di sana.
Log akses ID 042. Nama: Siska (Pelayan). Waktu: 03:00 pagi. Alasan: Membuang sampah. Ketidakkonsistenan: Durasi berada di luar selama 15 menit. Kemungkinan kontak dengan pihak luar.
"Jadi, kau benar-benar tidak punya rasa kasihan, ya?"
Alana sudah berdiri di pintu ruang monitor. Ia tidak lagi mengenakan gaun hijaunya, melainkan kaos oversize dan celana kain, tampak jauh lebih rapuh daripada biasanya.
"Kasihan adalah variabel yang tidak relevan dalam efisiensi, Nona," jawab Kenzi tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Bram sudah bekerja untuk Ayah sejak aku masih SD. Kau baru saja menghancurkan harga dirinya di depan semua orang."
"Harga diri tidak akan menghentikan peluru atau racun," Kenzi berbalik menghadap Alana. "Jika saya membiarkan dia merasa memimpin dengan metode yang salah, itu sama saja dengan membiarkan Anda terbunuh. Apakah Anda lebih suka saya bersikap sopan pada Bram saat pemakaman Anda nanti?"
Alana terdiam. Logika Kenzi yang brutal selalu berhasil memukul telak setiap argumen emosionalnya. "Kenapa kau begitu terobsesi melindungiku? Padahal aku selalu jahat padamu."
Kenzi terdiam sejenak. Ia teringat dokumen "Proyek Phoenix" di brankas Tuan Wijaya. Ia teringat nama ayahnya yang dicap "Eliminasi".
"Karena saat ini, nyawa Anda adalah satu-satunya jaminan bagi saya untuk mendapatkan apa yang saya cari," jawab Kenzi jujur, meski Alana tidak akan mengerti makna sebenarnya di balik kalimat itu.
Alana mendekat, menatap layar monitor yang menampilkan ribuan kode dan grafik keamanan. "Kau menyelamatkanku semalam. Terima kasih. Tapi jangan pikir aku akan berhenti mencoba lari darimu."
"Silakan dicoba, Nona," Kenzi kembali menghadap layar. "Itu akan menjadi latihan yang bagus untuk sistem deteksi saya."
Alana mendengus dan keluar dari ruangan. Namun, saat ia berjalan di koridor, ia menyadari sesuatu. Jantungnya berdetak lebih kencang bukan karena takut, melainkan karena ia menyadari bahwa di dalam rumah yang penuh dengan kepalsuan bisnis ayahnya, Kenzi adalah satu-satunya hal yang "nyata"—meski kenyataan itu sedingin es.
Malam itu, Kenzi tidak tidur. Ia terus membedah data aliran dana Wijaya Group. Ia menemukan bahwa Proyek Phoenix bukan sekadar proyek properti. Itu adalah sistem pencucian uang skala besar yang melibatkan pejabat tinggi dan organisasinya sendiri.
Target utama bukan Wijaya, pikir Kenzi sambil menatap foto ayahnya di layar ponsel rahasianya. Target utama adalah siapa pun yang memesan pembunuhan ayahku melalui Wijaya. Dan untuk mencapainya, aku harus menghancurkan fondasi rumah ini dari dalam.
Di sudut layar monitor, sebuah notifikasi merah muncul.
Peringatan: Upaya akses ilegal pada ponsel pribadi Nona Alana terdeteksi. Sumber: Tidak diketahui.
Kenzi menyipitkan mata. Serangan baru telah dimulai. Bukan fisik, melainkan teror mental.
"Permainan dimulai," gumam Kenzi, jarinya mulai menari di atas keyboard dengan kecepatan yang tidak manusiawi.