Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Hampir setengah jam berlalu, dan suasana di dalam kamar utama Xavier lebih mirip sirkus daripada markas mafia. Xavier berdiri mematung di tengah ruangan, hanya berbalut handuk putih di pinggangnya, sementara Luna berlutut di lantai sambil memeluk erat kedua kaki Xavier seolah-olah pria itu adalah tiang penyangga hidupnya.
"Lepaskan aku dan menyingkirlah! Aku bisa terlambat turun dan Xander akan menguliti kepalaku karena ulahmu ini!" Xavier membentak, berusaha menggerakkan kakinya yang terasa berat karena beban tubuh Luna.
Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun, tapi tangannya tertahan untuk tidak mendorong gadis itu terlalu keras.
"Tidak mau! Sapir pasti mau meninggalkan Luna sendirian lagi, kan? Sapir mau pergi ke tempat jauh yang banyak kotak besinya!" Luna merengek, wajahnya menempel lutut Xavier yang kokoh.
"Aku hanya ingin mengambil pakaian di lemari itu, gadis aneh! Aku tidak mungkin turun menemui kakakku dengan keadaan telanjang begini! Kau mau aku kehilangan harga diriku?" seru Xavier dengan nada frustrasi. Entah apa yang merasuki gadis ini, sejak ia keluar dari kamar mandi, Luna terus menempel padanya seperti lem super.
"Tidak ya tidak! Pokoknya Sapir di sini saja!" kekeh Luna, makin mempererat pelukannya.
Xavier memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Pikirannya kacau. Bagaimana jika handuk yang hanya dililitkan ini terlepas karena ditarik-tarik oleh Luna? Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa heran yang menyelinap. Ia tidak bisa memungkiri bahwa ia merasa nyaman. Alergi akutnya yang biasanya kambuh jika bersentuhan dengan kulit manusia lain sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan muncul.
Xavier menghela napas, lalu menunduk. Tangannya yang besar terulur, menyentuh dagu Luna untuk memaksa gadis itu menatapnya. Tepat saat mata mereka bertemu, dada Xavier berdebar kencang tanpa aturan. Mata biru sapphire milik gadis ini terlalu identik. Mata itu mengingatkannya pada kucing yang menolongnya di hutan.
Logikanya ingin percaya bahwa ini adalah mahluk yang sama, tapi mana mungkin di dunia nyata yang keras ini ada keajaiban seperti itu?
Xavier buru-buru memalingkan wajahnya, merasa bodoh dengan pemikirannya sendiri.
Kruyuuuuk!
Bunyi nyaring dari perut Luna memecah keheningan yang canggung itu. Dan pria dingin itu kembali menoleh.
"Sapir, perut Luna berteriak. Luna lapar," ucap Luna sambil menatap Xavier dengan tatapan memelas yang sanggup meluluhkan es di kutub utara.
"Cih! Benar-benar merepotkan," gerutu Xavier. Ia menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri dari dekapan Luna. Saat berhasil meloloskan kakinya, Ia berjalan cepat menuju lemari pakaian.
"Sapir, Luna mau makan! Makan!" Luna berdiri dan berlari kecil mengikuti Xavier, ia mengusap-usap perutnya dengan gerakan lucu.
"Bersabarlah sebentar. Apa kau tidak punya mata? Kau tidak lihat aku sedang memakai baju? Aku tidak mungkin turun ke ruang makan dengan keadaan seperti ini!" sahut Xavier dengan kesabaran yang mulai setipis tisu dibagi dua.
Xavier melempar handuknya ke arah Luna agar menutupi pandangan gadis itu. Namun, Luna berhasil menghindar dengan lincah.
Bertepatan dengan itu, mata Luna membulat sempurna. Ia menatap ke bawah, ke arah benda pusaka Xavier yang secara tidak sopan malah berdiri dengan gagah perkasa akibat hor-mon yang terpacu sejak tadi.
"Sapir, itu apa? Besar sekali? Seperti ekor tapi tumbuh di depan?" tanya Luna dengan kepolosan yang mematikan.
Xavier membeku. Ia berpura-pura acuh sembari menahan malu yang luar biasa hingga ke tulang. Ia buru-buru menarik pakaian dalamnya dengan gerakan cepat.
"Sapir, kenapa tidak jawab? Itu mainan ya? Kenapa bentuknya begitu?" Luna semakin penasaran. Ia mendekat dan sebelum Xavier sempat menghindar, Luna menyentuh ujungnya dengan ujung jari telunjuk.
"Sialan!" Xavier memejamkan matanya rapat-rapat, rahangnya mengeras menahan sensasi yang menyetrum seluruh syarafnya. "Jangan. Menyentuh. Itu!"
Dengan kepolosan atau kebodohan tingkat tinggi, Luna tiba-tiba membuka kancing kemeja hitam yang ia kenakan. Ia menyingkap kain itu dan mulai membandingkan dirinya sendiri dengan Xavier.
"Gadis bodoh! Apa yang kau lakukan, hah?!" bentak Xavier, buru-buru memalingkan wajah ke arah dinding.
"Kenapa milik Luna tidak seperti itu? Luna rata di bawah. Lalu ini, kenapa beda dengan milik Sapir?" Luna menyentuh da-danya sendiri yang ke-nyal dan menonjol, kemudian menyentuh dada bidang Xavier yang berotot. "Milik Luna lebih empuk."
"Tentu saja berbeda karena aku pria dan kau wanita! Bagaimana bisa hal mendasar seperti ini kau tidak tahu? Memangnya kau berasal dari belahan bumi mana, hah?!" Xavier berteriak gusar.
Sungguh, pertahanan mental sang mafia dingin ini sedang diuji habis-habisan. Luna terdiam sejenak, lalu menjawab dengan suara pelan.
"Luna berasal dari hutan sana. Tempat banyak pohon besar dan tidak ada kotak besi."
Deg!
Sikap dingin dan ketus Xavier seketika menguap entah ke mana. Ia menatap Luna yang berdiri dengan kemeja setengah terbuka. Tatapan gadis itu begitu jujur, murni, dan tanpa kepura-puraan.
Xavier mendadak merasa seperti orang bodoh yang baru saja membentak malaikat yang tersesat.
Namun, keheningan itu tidak bertahan lama. Luna tiba-tiba menunjuk ke arah bawah Xavier yang masih menonjol dengan mata berbinar.
"Sapir! Luna mau itu! Luna mau itu!" seru Luna dengan penuh semangat.
"Apa?!" Xavier diam cengo, mulutnya sedikit terbuka karena syok. "Kau... kau tahu apa yang kau minta?!"
"Tentu saja! Itu pasti makanan enak yang Sapir sembunyikan, kan? Karena bentuknya besar seperti pisang di hutan! Luna mau makan itu!"
Xavier hampir saja jatuh terjungkal. Ia memijat pangkal hidungnya, merasa harga dirinya sebagai mafia paling ditakuti baru saja dihancurkan oleh perbandingan sebuah pisang.
"Ini bukan makanan! Dan kau tidak boleh memakannya!" teriak Xavier frustrasi. "Sekarang diam, atau aku akan benar-benar mengirimmu kembali ke hutan!"
Luna merengut. "Sapir pelit!"
Xavier menghela napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang sudah seperti mesin balap.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂
kan Xander jadi semakin dekat dengan Luna
hati hati Luna sama Xander itu
Masih gak menyangka Vier bisa semanis itu 🤭 Lun kamu bener bener ya berani kiss pipi Sapir , Luna hanya Sapir yang boleh kamu cium yang lain jangan🤭😂
Vier kondisikan perasaanmu 🤣 pelan pelan ajari Luna ya , guru terbaik❤️