Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.
Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.
Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.
Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.
Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
Marcus segera mengganti pakaiannya dengan kemeja putih berbahan sutra mahal. Meski tubuhnya terasa lemas, ia memaksakan kaki untuk melangkah menyusuri lorong mansion yang luar biasa luas.
Setiap pelayan yang berpapasan dengannya langsung menunduk dalam. Namun, Marcus bukan orang bodoh. Ia bisa merasakan aura kebencian yang pekat menyelimuti mereka.
Benar saja, begitu ia lewat beberapa langkah, bisikan-bisikan sinis mulai terdengar di belakang punggungnya.
...[-1] [-1] [-1]...
"Sial, apa-apaan ini?!" umpat Marcus dalam hati. Layar biru itu terus berkedip merah, menunjukkan poinnya yang semakin terjun bebas. "Baru jalan di lorong aja poinku udah dikuras!"
Marcus berhenti di depan sebuah pintu ganda raksasa yang terbuat dari kayu ek hitam. Dengan napas berat, ia mendorong pintu itu pelan.
Krieeet...
Aula besar itu tampak megah dengan lampu kristal yang menggantung di langit-langit. Di sana, tiga orang pemuda sudah duduk melingkar. Awalnya mereka tampak sedang tertawa kecil, menikmati suasana santai.
Di tengah ada Julian Von Anhart, si sulung yang tadi mendobrak pintunya. Di sebelahnya, duduk seorang pemuda dengan rambut pirang pudar yang diikat rapi, namanya Adrian Von Anhart, anak kedua yang dikenal bermuka dua dan sangat licik.
Lalu yang paling muda di antara mereka, Dante Von Anhart, si anak ketiga yang memiliki sifat temperamental dan sombong.
Ketiganya adalah kakak-kakak Leon. Dan ketiganya memiliki satu kesamaan: mereka sangat membenci Leon.
Begitu sosok Leon muncul di ambang pintu, tawa di ruangan itu mendadak mati. Suasana yang tadinya hangat seketika berubah menjadi dingin dan mencekam.
"Yo, siapa yang sudah datang? Ternyata adik kecil kita. Ayo, cepat kemari dan duduklah," ucap Adrian dengan senyum lebar yang dipaksakan.
Marcus menatap wajah Adrian yang tampak ramah namun matanya berkilat licik. Heh, bisa nggak sih jujur aja? Senyummu menyeramkan banget, sialan, rutuk Marcus dalam hati.
Ia berjalan pelan dan duduk di kursi kosong yang tersisa. Marcus bisa merasakan kulit kuduknya meremang. Tiga pasang mata kakaknya menghujamnya dengan tatapan penuh tekanan, seolah ia adalah hama yang tidak diinginkan di sana.
Tiba-tiba, pintu aula terbuka lebar.
Langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema. Darius Von Anhart, sang Duke sekaligus kepala keluarga, melangkah masuk. Sosoknya tinggi, dengan janggut rapi dan mata yang tajam seperti elang.
Seketika, Julian, Adrian, dan Dante berdiri serempak. Marcus yang sedikit telat menyadari situasi, langsung ikut berdiri dengan canggung.
"Ayahanda," ucap mereka bertiga kompak sambil menunduk hormat.
"Hmm," Darius hanya bergumam dingin, memberikan isyarat agar mereka kembali duduk.
Darius tidak datang sendirian. Ia berhenti di samping pintu dan mempersilakan tamu istimewanya masuk.
Seorang pria paruh baya dengan pakaian bangsawan yang sangat mewah masuk terlebih dahulu. Ia adalah Duke Lucien Von Caelmont.
Jubahnya yang berwarna biru tua dihiasi sulaman benang emas murni, menunjukkan kasta tingginya.
Lalu, di belakangnya, menyusul seorang gadis yang kecantikannya sanggup membuat siapa pun menahan napas. Calista Von Caelmont.
Rambutnya yang berwarna perak panjang terurai indah, kontras dengan gaun hitamnya yang elegan. Wajahnya cantik namun dingin, seperti patung es yang sempurna.
Calista Von Caelmont? Sial, aku baru ingat scene ini! Marcus membatin panik. Pikirannya melayang pada bab novel yang ia baca.
Setelah saling memberi salam formal, mereka semua duduk mengelilingi meja panjang tersebut. Pelayan mulai menyajikan teh hangat.
"Julian," suara berat Lucien memecah keheningan. "Aku dengar kau baru saja naik pangkat menjadi Ksatria Hitam. Selamat ya, keturunan Anhart memang luar biasa."
Di dunia ini, tingkatan ksatria ditentukan oleh kekuatan dan jasa mereka:
Ksatria Perunggu: Pemula atau prajurit biasa.
Ksatria Perak: Pemimpin pasukan kecil.
Ksatria Hitam: Ksatria elit dengan kekuatan sihir/fisik yang mumpuni.
Ksatria Emas: Ksatria tingkat tinggi, biasanya jenderal perang.
Ksatria Platinum: Puncak tertinggi, pengawal pribadi raja yang jumlahnya sangat sedikit.
"Ah, terima kasih Duke atas pujiannya. Saya masih harus banyak belajar," jawab Julian dengan nada rendah hati, meski ada kilat kebanggaan di matanya.
Pembicaraan berlanjut mengalir membahas politik dan militer. Marcus hanya diam, berusaha tidak menarik perhatian sambil menyesap tehnya sedikit demi sedikit.
Namun, suasana mendadak berubah serius saat Lucien menaruh cangkirnya.
"Darius, sebenarnya kedatangan utamaku ke sini ingin membahas hal krusial," ujar Lucien sambil melirik putrinya. "Tentang rencana pertunangan antara anak termudamu dengan putriku."
Mendengar itu, tangan Calista yang berada di bawah meja mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Matanya yang tajam langsung menusuk ke arah Marcus, lebih tepatnya, tatapan membunuh.
Uhukk! Uhukk!
Marcus yang sedang minum langsung tersedak hebat. Teh hangat nyaris keluar dari hidungnya. Ia menatap balik Calista yang masih memelototinya dengan benci.
Ugh... tatapan macam apa itu? Apa dia benar-benar ingin membunuhku sekarang juga? Marcus membatin sambil mengusap mulutnya yang basah.
Darius mengembuskan napas panjang, wajahnya yang keras tidak menunjukkan emosi apa pun.
"Untuk hal itu," ucap Darius tenang, "biarkan saja mereka yang memutuskannya."
Calista tiba-tiba berdiri. Matanya yang sedingin es langsung tertuju pada Marcus. "Ayahanda, aku ingin berbicara berdua dengannya," ucap Calista tegas.
Marcus menelan ludah, berusaha menenangkan detak jantungnya yang tidak stabil. Aku sudah tahu apa yang akan kau katakan, batin Marcus. Dalam novel yang ia baca, adegan ini adalah saat Calista menghina Leon habis-habisan.
"Hmm, baiklah," jawab Lucien memberi izin.
Keduanya berjalan keluar menuju balkon aula yang sepi. Angin malam berembus kencang, memainkan rambut putih Leon yang halus. Begitu pintu tertutup, Calista berbalik dengan tatapan merendahkan.
"Kau, Leon Von Anhart. Aku ingin mengatakan sesuatu," ucapnya dengan nada tajam.
Marcus sudah menebak polanya. Gadis ini akan menyombongkan diri sebagai jenius hebat, lalu memintanya menjauh agar reputasinya tidak hancur.
Tanpa menunggu Calista menyelesaikan kalimatnya, Marcus menyandarkan tubuhnya di dinding balkon dengan santai.
"Tidak perlu. Aku tahu maksudmu," potong Marcus datar. "Aku juga tidak ingin bertunangan denganmu."
Mata Calista membelalak. Ia tampak seolah baru saja ditampar. "Ti... tidak ingin? Apa maksudmu?"
Marcus mengerutkan kening melihat reaksi Calista yang tidak sesuai dugaan. Ada apa dengan reaksinya? Kok malah kaget?
"Jadi kau menolakku?" Suara Calista naik satu oktav. "Aku adalah wanita tercantik di ibu kota, seorang jenius Sword level 6, dan kau... seorang sampah berengsek, berani menolakku?"
Marcus terdiam seribu bahasa. Haha, sialan! Apa-apaan ini? batinnya bingung.
"Tunggu. Bukankah kau mengajakku bicara untuk membuat kesepakatan membatalkan pertunangan ini?" tanya Marcus memastikan.
Seingat Marcus, di dalam novel, Calista mengajak Leon bicara untuk membatalkan hubungan itu.
Namun, Leon justru berlutut, bersujud di kaki Calista karena terlalu tergila-gila dengan kecantikannya. Itulah yang membuat mereka tetap bertunangan sampai maut menjemput Leon.
Tapi kali ini, segalanya berbeda.
"Tidak!" seru Calista dengan wajah memerah. "Aku hanya ingin membuat kesepakatan bahwa kita bertunangan secara formalitas saja. Tidak ada perasaan, tidak ada hubungan apa pun. Hanya status!"
Marcus melongo. Rasa bingung yang luar biasa menyerangnya.
"Setelah kupikirkan berhari-hari, pertunangan ini menguntungkan keluargaku secara politik, meski aku harus bertunangan dengan bajingan sepertimu," lanjut Calista pedas. "Tapi ternyata... keputusan yang kupikirkan sampai tidak tidur itu tidak berguna karena kau menolakku?"
Marcus memijat pelipisnya. "Sial, kenapa jadi seperti ini? Apa aku salah baca bab atau alurnya memang jadi nyeleneh.?"
Marcus tahu, melanjutkan pertunangan ini adalah bunuh diri. Dalam alur asli, Calista adalah sosok yang akan mengetahui seluruh kelemahan Leon dan menjadi penyebab kematiannya karena kedekatan mereka. Dia adalah maut tercantik sekaligus paling berbahaya bagi Marcus saat ini.
Marcus menarik napas pendek, mencoba menstabilkan dadanya yang mulai terasa nyeri. "Maaf, aku tidak tertarik dengan pertunangan ini."
Mendengar penolakan itu, wajah Calista yang tadinya dingin seketika berubah kaku. Matanya membelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
[-10 Poin: Calista Von Caelmont merasa terhina oleh penolakan Anda.]
"Hah?! Sepuluh?!" Marcus nyaris berteriak. Jantungnya berdegup kencang melihat angka merah yang muncul di sudut matanya. Gila, penolakan ini benar-benar menghancurkan harga diri sang jenius pedang.
Calista mengepalkan tangannya kuat-kuat. Buku-buku jarinya memutih, dan tubuhnya gemetar karena amarah yang tertahan.
Baginya, ditolak oleh seorang bajingan tidak berguna seperti Leon adalah penghinaan paling rendah dalam hidupnya.
Tiba-tiba, udara di sekitar balkon terasa berat. Mana biru keputihan mulai terpancar dari tubuh Calista, menekan atmosfer di sekitar mereka.
Marcus tersentak. Ia merasa oksigen di sekitarnya seolah tersedot habis. Tekanan dari gadis ini bukan main-main. Kakinya gemetar, dan ia terpaksa mencengkeram pagar balkon agar tidak jatuh tersungkur.
"Sialan..." gumam Calista dengan nada suara yang rendah dan berbahaya.
Ia menatap Marcus sekali lagi dengan tatapan penuh kebencian, lalu tiba-tiba meredakan auranya.
Tanpa sepatah kata pun, Calista berbalik dan melangkah pergi meninggalkan balkon, membiarkan Marcus terengah-engah berusaha menghirup udara.
Mereka berdua kembali ke dalam aula dengan suasana yang jauh lebih canggung. Calista berdiri di samping ayahnya dengan wajah yang sangat gelap.
"Sayang sekali, kita tidak bisa melanjutkan rencana pertunangan ini," ucap Lucien setelah mendengar bisikan putrinya. Ada nada kecewa sekaligus bingung di suaranya.
Darius hanya mengangguk pelan, wajahnya tetap sedatar papan kayu.
"Tenang saja, tanpa pertunangan pun, jika Caelmont diserang, aku pasti akan membantumu,"ucap Darius
"Haha, kalau begitu terima kasih. Kami pergi sekarang," ucap Lucien sambil berpamitan.
"Hmm. Maaf aku tidak mengantarmu ke depan," sahut Darius singkat.
Saat berjalan keluar melewati Marcus, Calista memberikan tatapan membunuh yang sangat tajam.
Marcus yang merasa terancam hanya bisa membuang muka, berpura-pura tidak melihat.
Begitu pintu besar aula tertutup rapat, menyisakan keluarga Anhart di sana, Marcus merasa atmosfer ruangan kembali mencekam.
Ia hendak melangkah pergi, berniat kembali ke kamar untuk mengistirahatkan jantungnya yang terus-terusan berdegup aneh.
"Mau kemana kau?"
Character Visual:
...Calista Von Caelmont...
...Julian Von Anhart...
...Adrian Von Anhart...
...Dante Von Anhart...