NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan, Selamanya

Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudut-Sudut Kenangan

Pagi itu, truk kargo terakhir yang membawa furnitur custom tiba di depan gerbang. Luna tidak memilih furnitur pabrikan yang seragam dan kaku. Ia memesan tempat tidur kayu pinus yang kokoh dengan tekstur halus, serta meja belajar yang dirancang khusus agar setiap anak memiliki ruang privasi mereka sendiri.

"Hati-hati dengan sudut lemari itu, Hendra," instruksi Isaac sembari membantu para pekerja mengangkat rangka tempat tidur ke lantai dua. "Pastikan semua baut terkunci rapat. Aku tidak ingin ada suara derit yang mengganggu tidur mereka."

Luna berada di salah satu kamar asrama putri. Kamar itu dicat dengan warna krem lembut, memberikan kesan luas dan hangat. Ia sedang sibuk menata seprai berbahan katun organik dengan motif bintang-bintang kecil. Di atas setiap bantal, ia meletakkan sebuah boneka rajut kecil berbentuk matahari—ikon dari yayasan ini.

"Kau sedang melakukan apa, Sayang?" tanya Isaac yang baru saja masuk dengan dahi yang sedikit berkeringat.

Luna menoleh, tangannya masih merapikan ujung selimut. "Aku sedang membayangkan seorang anak kecil yang datang ke sini dengan rasa takut, Isaac. Aku ingin saat mereka pertama kali duduk di tempat tidur ini, mereka merasa bahwa seseorang benar-benar memikirkan kenyamanan mereka. Seseorang benar-benar menunggu kedatangan mereka."

Luna kemudian beralih ke meja belajar. Di sana, ia telah menyiapkan satu set alat tulis lengkap dan sebuah buku harian kosong. Di halaman pertama buku harian itu, Luna menuliskan satu kalimat pendek dengan tangan:

"Di sini, ceritamu yang baru dimulai. Tulislah dengan berani."

Isaac mendekat dan merangkul bahu Luna. "Kau sangat hebat, Luna. Kau memberikan apa yang tidak sempat kau dapatkan saat ibumu pergi dulu. Kau memberikan kepastian."

"Aku hanya ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian," bisik Luna.

Mereka kemudian berpindah ke ruang tengah, yang mereka sebut sebagai "Ruang Keluarga Utama". Di sana terdapat perapian buatan untuk malam-malam yang dingin di perbukitan, serta rak buku raksasa yang mulai diisi dengan literatur anak-anak dan pengetahuan umum.

Di dinding utama ruang tersebut, Luna menggantungkan sebuah bingkai besar. Bukan foto dirinya atau Isaac, melainkan sebuah lukisan pemandangan perbukitan itu yang dibuat oleh seniman lokal, dengan kutipan dari mendiang Dendra di bawahnya:

"Rumah bukanlah tempat di mana kau dilahirkan, tapi tempat di mana kau berhenti melarikan diri."

"Ini adalah sentuhan terakhir," ujar Luna sembari melangkah mundur untuk melihat posisi bingkai tersebut. "Besok, panti asuhan ini bukan lagi sekadar proyek arsitektur. Ia akan menjadi nafas bagi mereka yang sempat sesak."

Isaac menggenggam tangan Luna dengan erat. Di dalam gedung yang sunyi namun hangat itu, mereka bisa merasakan bahwa setiap sudut ruangan kini telah siap menyambut tawa, tangis, dan harapan baru. Persiapan interior telah usai, dan kini hanya tinggal menunggu langkah-langkah kecil yang akan mengisi koridor-koridor kayu ini.

Malam terakhir sebelum peresmian terasa begitu sunyi, namun sunyi yang menenangkan. Udara pegunungan yang dingin merayap masuk melalui celah jendela, membawa aroma kayu pinus dan tanah basah dari kebun yang baru saja mereka tanam. Di dalam aula utama The Dendra Foundation, cahaya lampu temaram menciptakan bayangan panjang yang menari di atas lantai kayu yang mengkilap.

Isaac menemukan Luna sedang duduk di salah satu anak tangga kayu menuju lantai dua. Istrinya itu hanya diam, menatap ke arah pintu besar yang besok akan terbuka untuk pertama kalinya bagi anak-anak yang membutuhkan tempat bernaung.

"Memikirkan sesuatu?" tanya Isaac lembut sembari duduk di sampingnya, menyerahkan secangkir cokelat panas yang masih mengepul.

Luna menerima cangkir itu, merasakan kehangatannya merambat ke telapak tangannya. "Aku hanya sedang membayangkan... apakah Ayah pernah membayangkan malam seperti ini? Malam di mana mimpinya bukan lagi sekadar coretan di atas kertas, tapi sebuah ruang yang nyata."

Isaac menyandarkan punggungnya pada pegangan tangga. "Aku yakin dia tahu kau akan menyelesaikannya. Dendra selalu tahu bahwa kau memiliki keteguhan yang melampaui siapapun."

Luna tersenyum tipis, lalu menoleh ke arah Isaac. "Terima kasih, Isaac. Terima kasih karena tidak pernah melepaskan tanganku saat badai dari keluarga Waren mencoba menelan kita. Jika bukan karena kau, mungkin aku masih tersesat dalam kemarahan dan dendam."

Isaac menggenggam tangan Luna, jemarinya mengusap cincin pernikahan mereka yang berkilau lembut. "Kita saling menyelamatkan, Luna. Kau memberiku tujuan hidup yang jauh lebih berharga daripada angka-angka di rekening bank. Membangun tempat ini bersama adalah pencapaian terbesar dalam karierku sebagai arsitek—dan sebagai seorang pria."

Mereka terdiam cukup lama, membiarkan keheningan itu menyelimuti mereka. Tidak ada lagi ketakutan akan konsorsium, tidak ada lagi bayang-bayang Tuan Waren yang mengancam. Di sini, di atas bukit ini, mereka telah menciptakan dunia mereka sendiri.

"Besok hidup kita akan berubah lagi," bisik Luna. "Kita tidak akan lagi hanya berdua. Akan ada tawa, tangis, dan langkah-langkah kecil yang mengisi rumah ini."

"Dan kita akan siap untuk itu," jawab Isaac mantap. "Kita akan menjadi orang tua bagi mereka yang kehilangan, dan kita akan memastikan matahari di panti asuhan ini tidak akan pernah terbenam."

Luna menyandarkan kepalanya di bahu Isaac, memejamkan mata sejenak untuk merekam kedamaian malam itu dalam ingatannya. Besok adalah awal dari babak baru yang sesungguhnya. Sebelum keramaian itu datang, mereka menikmati detik-detik terakhir dalam keheningan yang suci, di bawah atap yang mereka bangun dengan air mata, keringat, dan cinta yang tak tergoyahkan.

Membangun gedung yang megah adalah satu hal, namun mengisi gedung tersebut dengan kasih sayang yang tepat adalah tantangan yang berbeda. Pagi itu, saat sinar matahari mulai menyusup melalui celah jendela perpustakaan, Luna dan Isaac menyadari bahwa mereka tidak bisa menjalankan The Dendra Foundation hanya berdua. Mereka membutuhkan "hati" yang akan berdetak di dalam koridor-koridor ini setiap hari.

1
Nhi Nguyễn
😄
anggita
ikut dukung like👍, iklan☝aja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!