Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.
Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 20.
Malam sudah larut ketika mobil Simon berhenti di depan rumahnya, lampu taman yang redup memantulkan bayangannya yang berjalan tidak stabil menuju pintu.
Bau alkohol begitu kuat.
Pintu rumah terbuka dengan keras.
Di ruang tamu, Riana yang sedang duduk di sofa langsung berdiri kaget.
“Mas? Kamu baru pulang?”
Namun Simon tidak menjawab dengan jelas. Ia melempar jasnya ke sofa dengan kasar, lalu berjalan sempoyongan menuju meja bar.
Botol whiskey dibukanya tanpa ragu, cairan itu langsung ia tuangkan ke gelas dan meneguknya sekaligus.
Riana mengerutkan kening. “Kamu minum lagi?”
Simon tertawa pelan, tawa yang terdengar pahit.
“Minum?” gumamnya. “Aku seharusnya minum dari dulu.”
Ia kembali menuang whiskey ke gelasnya.
Riana berjalan mendekat, sedikit khawatir. Ia belum pernah melihat Simon semarah ini.
“Ada apa sebenarnya?” tanya Riana lembut. “Apa terjadi sesuatu di pesta?”
Simon tiba-tiba menatapnya, tatapannya merah dan penuh emosi.
“Arunika…”
Nama itu keluar dari mulutnya dengan suara berat.
Riana langsung tegang. “Arunika?”
Simon tertawa lagi, kali ini lebih keras.
“Kau tahu sesuatu yang lucu?”
Ia mengangkat gelasnya sedikit, lalu meneguk lagi minuman itu. “Wanita itu… ternyata selama ini mempermainkanku.”
Riana bingung. “Apa maksudmu?”
Simon bersandar di kursi bar dengan napas berat, ia menutup matanya sebentar lalu berkata dengan suara serak.
“Arunika… dia... Dokter Jenius.”
Riana membeku.
Jadi Simon akhirnya tau.
Beberapa detik wanita itu bahkan tidak bisa bereaksi.
Simon tertawa pahit. “Lucu, bukan?”
Pria itu memukul meja bar dengan pelan. “Selama ini aku hidup bersama wanita seperti itu… tapi aku bahkan tidak pernah tahu siapa dia sebenarnya.”
Riana mengepalkan tangannya tanpa sadar, ia mencoba menenangkan dirinya lalu mendekati Simon dengan lembut.
“Mas… mungkin kamu hanya salah paham. Arunika memang pintar, tapi—”
“Diam!” Simon tiba-tiba membentak.
Riana langsung terdiam.
Simon menatapnya dengan wajah penuh emosi. “Semua ini… gara-gara kau!”
Riana membelalak. “Apa?!”
Simon berdiri dengan tidak stabil.
“Kalau saja kau tidak datang ke hidupku… kalau saja kau tidak terus menggoda dan mendekatiku…”
Suaranya menjadi lebih keras. “Aku tidak akan mengkhianati Arunika!”
Riana merasa seperti disiram air dingin. “Simon, kamu yang memilih—”
“Karena kau terus mendekatiku!” Simon memotongnya dengan kasar.
Matanya merah penuh amarah. “Arunika... dia lebih segalanya darimu!”
Simon tertawa pahit. “Dia cantik… pintar… bahkan dunia medis memujanya.”
Simon menatap Riana dengan dingin.
“Dan kau?”
Riana menggigit bibirnya.
Simon berkata dengan suara yang menusuk. “Kau bukan apa-apa.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan.
Simon melanjutkan tanpa belas kasihan. “Hanya seorang dokter biasa… tanpa kemampuan istimewa. Bahkan menjadi dokter gagal, dan hanya menempel padaku!”
Wajah Riana memucat.
Namun Simon belum selesai. “Arunika menyelamatkan nyawa di depan semua orang malam ini.”
“Dan aku? Aku terlihat seperti orang bodoh yang tidak tahu siapa istrinya sendiri...” Ia tertawa pahit lagi.
Riana menunduk, tetapi di balik wajahnya yang tertunduk… matanya dipenuhi kemarahan.
Tangannya perlahan mengepal. Jadi… pada akhirnya, Simon tetap memilih Arunika. Bahkan setelah ia sendiri yang berselingkuh.
Namun Riana tetap mengangkat wajahnya dengan ekspresi lembut. “Mas… kamu sedang mabuk. Lebih baik kamu istirahat dulu.”
Simon tidak menjawab lagi, ia hanya tertawa pelan lalu berjalan sempoyongan menuju kamarnya.
Pintu kamar tertutup keras.
Ruangan menjadi sunyi.
Beberapa detik kemudian, ekspresi lembut di wajah Riana perlahan menghilang.
Matanya berubah dingin. “Dokter Jenius…”
Satu-satunya cara untuk menjatuhkannya adalah menghancurkan reputasi itu.
____
Di sisi lain, mobil hitam yang sebelumnya meninggalkan rumah sakit kini memasuki sebuah gedung besar. Gedung itu adalah laboratorium rahasia. Begitu mobil melewati gerbang, pintu besi langsung menutup otomatis. Tempat itu bukan lokasi yang bisa dimasuki sembarang orang—hanya mereka yang memiliki izin khusus yang dapat keluar masuk.
Seorang pria turun dari mobil, wajahnya tertutup masker. Ia berjalan menyusuri koridor laboratorium hingga berhenti di sebuah ruangan, lalu masuk dan duduk santai di kursi.
Perlahan, ia melepas maskernya.
Wajah di balik masker itu rusak parah, penuh bekas luka yang membuatnya tampak seperti monster mengerikan.
“Kalian tahu dari mana aku datang?” ucapnya santai. “Aku baru saja menghadiri pesta perjamuan putri kalian.”
Dua orang yang berdiri di depannya langsung menegang.
Mereka adalah orang tua kandung Veronica—orang yang selama puluhan tahun telah dinyatakan meninggal dunia. Kematian mereka bahkan terjadi hampir bersamaan dengan kematian orang tua Arunika dulu.
Bruk!
Keduanya langsung berlutut.
“Tuan… Anda pernah berjanji tidak akan mengganggu kehidupan putri kami,” ujar ibu Veronica dengan suara gemetar. “Anda mengatakan jika kami bekerja di sini, Anda akan membebaskan Veronica.”
Pria itu tersenyum menyeringai.
“Aku hanya datang untuk melihat-lihat,” katanya ringan. “Tapi tahukah kalian apa yang dilakukan putri kalian malam ini?”
Ia menyandarkan tubuhnya santai di kursi. “Dia mencoba menjebak seseorang... hanya demi cinta.”
Senyumnya melebar. “Sayangnya… putri kalian salah memilih lawan. Aku sudah tahu dia akan gagal malam ini, jadi aku menjalankan rencanaku sendiri.”
Kedua orang tua Veronica saling pandang. Mereka masih sangat mengingat kejadian dua puluh lima tahun lalu—malam ketika hidup mereka berubah karena ancaman pria ini.
Pria itu kembali berbicara dengan nada santai yang menyeramkan. “Masih ingat Dr. Gio dan Dr. Lestari yang kubunuh dua puluh lima tahun lalu?”
Keduanya langsung bergidik ngeri.
“Putri kalian mencoba menjebak anak mereka,” lanjutnya sambil tertawa kecil. “Veronica ingin menyingkirkan wanita itu karena cemburu.”
Matanya menyipit penuh kepuasan. “Tahukah kalian sekarang putri mereka itu dipanggil apa?”
Ia tertawa keras. “Dokter Jenius! Memang pantas disebut keturunan keluarga Pratama! Ilmuwan turun temurun! Hahaha!”
Tubuh kedua orang tua Veronica gemetar.
“Sekarang kembali bekerja,” perintah pria itu sambil berdiri. “Jangan membuatku menunggu.”
Pria itu lalu berjalan keluar ruangan tanpa menoleh lagi.
Setelah pintu tertutup, kedua orang itu akhirnya menghela napas lega. “Jadi… putri Dokter Gio sekarang benar-benar mengikuti jejak orang tuanya, dia menjadi dokter hebat.”
Ibu Veronica menggeleng sedih. “Kasihan sekali… dia mungkin akan menjadi korban berikutnya dari ambisi Tuan Kenzo.”
Sementara itu, pria bernama Kenzo berjalan menuju ruangan lain di laboratorium. Di sana tersimpan beberapa tubuh yang dijadikan bahan eksperimen.
Di rumah sakit...
Angkasa diam-diam masuk ke ruang istirahat Arunika.
Wanita itu sedang terlelap di sofa, matanya terpejam tenang seolah hidupnya tidak pernah dilanda badai. Padahal, penderitaan yang ia tanggung selama ini bukanlah sesuatu yang mudah dipahami orang lain.
Angkasa berdiri beberapa saat, menatap wanita itu dalam diam. Perlahan ia mengambil selimut di samping, lalu menyelimuti tubuh Arunika dengan hati-hati agar tidak membangunkannya.
Tanpa sadar, ia menunduk dan mengecup lembut kening wanita itu.
Arunika… aku berjanji akan melindungimu.
___
Keesokan harinya, Kenzo sudah berada di dalam pesawat pribadi yang membawanya menuju Jepang. Ia berencana memperjualbelikan formula hasil eksperimen rahasianya.
Ia berdiri di dekat jendela pesawat, menatap langit dengan senyum dingin.
“Arunika… sampai jumpa.”
Matanya berkilat aneh. “Tunggu saja... suatu hari aku akan membawamu berkeliling dunia dan menjadikanmu ilmuwan paling disegani.”
Senyumnya semakin lebar.
“Nanti kita akan hidup bersama… sebagai pasangan yang dihormati karena kejeniusanmu.”
Kenzo kini berusia empat puluh empat tahun. Dan dua puluh lima tahun yang lalu—saat ia membunuh orang tua Arunika, usianya baru delapan belas tahun. Ia bukan lagi sekadar manusia biasa—melainkan sosok yang telah berubah menjadi monster, seseorang yang rela menghalalkan segala cara demi ambisinya.
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️