Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.
Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.
"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"
"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.
Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"
"Kyaraaa!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Argh! Pusing. Nanti deh aku pikirin lagi." Doni memutus carut marut dalam pikirannya. Ia beranjak membuka lemari, dan mengambil baju serba hitam.
Setelah baju itu terpasang di tubuh tingginya, Doni menyisir rambut, lalu menyemprotkan parfum ke leher dan pergelangan tangan, barulah ke pakaiannya. "Aku harus selalu tampil rapi dan keren, supaya para wanita yang melihatku terpesona. Aku kan Doni Wiratama ... sang arjuna di perumahan Cempaka Indah ini," ucapnya dengan bangga.
Doni kemudian keluar dari kamarnya. Sampai di lantai satu, tepat di ruang tengah, ia berpapasan dengan ibunya yang baru pulang dari rumah makan.
"Don, tungguin Mama ... Mama mau ganti baju dulu."
"Iya."
Hesti melangkah masuk ke kamarnya dengan terburu-buru.
Sementara Doni duduk di sofa menunggu sang ibu sembari memainkan ponselnya. "Ih, ada chat dari Nayla," bisiknya tersenyum ceria. Ia buru-buru membuka pesan itu. "Oh God ..." Bibir Doni terbuka lebar, matanya melotot sempurna saat ia membuka foto yang baru saja dikirimkan kekasih gelapnya.
Nayla berdiri di dalam toilet, dan mengeluarkan dua buah melonnya sambil menggigit bibir bawahnya. Di bawah foto itu, ada tulisannya, "Mas, ayo hisap melonku."
Senjata Doni yang tadi sudah tidur, kini bangun lagi. Dan makin keras. "Akh ... Nay, kamu sengaja ya menggodaku." Doni mendesah frustrasi, tangannya refleks menyentuh senjatanya yang menonjol bak ingin keluar dari celana. "Tong, tidur lagi lah. Kita kan mau melayat, masa kamu ngacung kayak gini," gerutunya pada barangnya sendiri. "Kamu harus sabar, dua jam lagi kita otewe ke tempat Nayla. Kita bertempur lagi dengannya. Tidur ya, tidur. Nanti dilihat Mama lagi. Buruan." Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Sedikit demi sedikit, senjata itu kembali ke bentuk semula, meringkuk imut di dalam celananya. "Huhhh ... bagus!" Ia menghela napas lega.
Barulah Doni membalas chat dari kekasih gelapnya. "Dengan senang hati, Sayang. Nanti sore aku akan menghisap rakus melonmu itu, tunggu saja!"
Nayla: Oke. Aku pulang jam empat. Kamu harus sudah standby di depan pintu apart-ku ya.
Doni membalas lagi. "Siap, Sayang. Love you."
Nayla: Love you too, calon suamiku.
Disebut "calon suami" Doni sampai bersorak heboh, hingga membuat Hesti yang baru keluar dari kamar terlonjak kaget.
"Don, kamu kenapa?!"
Doni melirik ibunya, lalu menggaruk tengkuk. "He ... nggak papa, Ma. Ini ... aku berhasil memenangkan game favoritku," dustanya. Doni belum berani menceritakan soal hubungannya dengan Nayla pada sang ibu. Ia masih mencari waktu yang tepat.
"Kirain apaan." Mata Hesti melotot. "Yuk kita berangkat!"
"Ay-eh ... tunggu dulu, Ma." Akibat ucapan itu, langkah Hesti otomatis terhenti.
"Ada apa?" Hesti menoleh ke arah Doni.
"Mama mau melayat atau mau pergi arisan?" celetuk Doni sambil meneliti penampilan ibunya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Itu perhiasan sampai dipakai semuanya." Ia geleng-geleng kepala.
Hesti mendelikan mata. "Ya harus dipakai dong, supaya Mama jadi pusat perhatian di sana. Semua orang harus tahu kalau perhiasan Mama tuh banyak," katanya seraya menggerak-gerakan jemari tangannya. "Mama juga punya cincin berlian dari kamu," lanjutnya menyentuh cincin berlian yang terpasang di jari tengahnya. "Walaupun kita mau ke rumah duka, tapi penampilan harus tetap dijaga. Biar pamor kita tidak turun, ngerti kamu?"
"Hm, iya, Ma. Aku ngerti."
"Ya sudah. Yuk kita pergi sekarang. Kamu udah bawa kunci mobilnya kan?" todongnya.
"Udah, Ma. Ini!" Doni mengangkat kunci mobil yang ia pegang.
"Bagus!" Hesti menyeringai senang.
Ketika keluar dari rumah, Kyara muncul di hadapan mereka. Berpapasan lah ketiganya.
"Mama dan Mas mau ke mana?" Kyara mengernyitkan kening, sebab melihat penampilan mertuanya yang super mewah, seperti orang yang mau ke pesta.
"Mau melayat lah," jawab Hesti agak ketus. Ia sebenarnya sudah muak pura-pura bersikap lemah lembut ke Kyara. Ingin kembali membentak-bentak menantunya itu seperti biasa.
"Ohh ... kirain teh mau ke mana?" bisik Kyara tanpa suara.
"Jenazahnya sudah dimakamkan belum, Kya?" Gelengan kepala diberikan Kyara sebagai jawaban atas pertanyaan dari suaminya itu.
"Buruan Don!" seru Hesti yang sudah berdiri di samping mobil.
"Iya, Ma." Doni berbalik menjauh dari Kyara yang sudah bersiap masuk ke dalam rumah.
"Jangan lupa kunci pintu, Kya!" teriak Hesti sebelum masuk ke dalam mobil.
"Iya!" Kyara memandangi mobil suaminya yang perlahan keluar dari halaman rumah. Lalu setelah mobil itu menghilang, Kyara menggeleng pelan. "Ya ampun ... padahal mah jalan kaki aja ya. Nggak usah repot-repot naik mobil. Mama dan Doni bener-bener butuh pengakuan kalau mereka adalah orang kaya," ujarnya seraya membalik badan untuk masuk ke dalam rumah. Namun langkahnya terhenti karena satu seruan nyaring dari seseorang.
"Permisi!"
Wanita bergamis hitam itu menoleh cepat ke arah suara. Keningnya berkerut-kerut melihat sesosok lelaki bertubuh tinggi berpakaian serba hitam yang tengah berdiri di depan gerbang rumahnya. "Eh, itu siapa?" gumamnya tanpa suara. Kyara lalu berjalan menghampiri. "Ada apa ya, Mas?" tanyanya setelah berhadapan dengan lelaki berjas hitam itu.
"Apa benar Anda adalah Kyara Nawasena?" Lelaki berjas hitam itu malah balik bertanya dan mengabaikan pertanyaan Kyara.
"I-Iya. Saya Kyara Nawasena. Ada apa ya?"
Lelaki itu tak lantas menjawab. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang yang dibungkus kertas kado berwarna merah muda. "Ini ada paket untuk Anda," beritahunya sambil memberikan kotak tersebut kepada Kyara.
"Paket?" Kyara membiarkan tangan lelaki itu menggantung di udara. "Paket dari siapa, Mas?"
Lelaki tinggi kekar itu berdehem. "Terima saja dulu. Nanti lihat sendiri sama Mbak Kyara. Saya hanya kurir. Jadi tidak tahu menahu," jelas lelaki itu dengan suara tegas.
"Ah, b-baiklah." Kyara akhirnya menerima paket itu, dan lelaki berjas hitam itu pun undur diri. Berjalan pergi ke sebelah kiri, lalu masuk ke dalam mobil hitam yang terparkir di seberang jalan rumah Oma Amisha.
Kyara masih berdiri mematung di depan gerbang sembari memandangi kotak di tangannya. "Ini dari siapa sih?" Ia segera berbalik, dan berlari masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. "Aku harus segera membukanya sebelum Mas Doni dan Mama Hesti pulang," ujarnya buru-buru melangkah meninggalkan ruang tamu. Ia menaiki tangga dengan langkah tergesa-gesa karena penasaran ingin segera membuka kotak di tangannya.
Sesampainya di kamar, Kyara langsung mengunci pintu, dan melesat naik ke atas tempat tidur. Ia menggerak-gerakan kotak itu tepat di telinganya, tapi tak ada bunyi yang terdengar. "Ini isinya apa sih?" Ia makin penasaran. Sebelum membukanya, Kyara menatap kotak itu beberapa detik. "Bismillah ... semoga isinya bukan bom," ujarnya dengan jantung yang tiba-tiba berdetak tak karuan.