Dituduh Cinta karena kesalahan. Rama membuktikan kalau cintanya bukan kesalahan, murni rasa dari mata turun ke hati. Usaha mendapatkan cintanya seolah didukung oleh jagat raya meski berawal dari kesalahpahaman.
“Nggak masalah nikah karena digrebek, yang penting sah.”
“Siapa kamu, berani mencintai seorang Bimantara.”
“Di dunia ini, Rama jodohnya Gita.”
Kisah cinta Rama Purwangga dan Gita Putri Bimantara, jadilah saksi seberapa darurat cinta mereka.
Spin off Bosku Perawan Tua dan Diam-diam Cinta
=== Mohon dengan sangat agar tidak baca dengan melompat bab dan ikuti sampai akhir ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Bagiku Kamu Cinta
Bab 12
Rama menang sudah pamit, nyatanya hanya menjauh dan mengawasi gerak gerik Gita yang memasuki gedung dan tidak lama keluar lagi.
“Nakal ya,” gumam Rama mengarahkan ponselnya memfoto gadis itu sambil tersenyum.
Tidak lama ada mobil berhenti di depan lobby, lalu Gita naik di kabin tengah.
“Emang bukan kaleng-kaleng demenan gue, anak sultan mana ini bocah. Selama janur kuning belum melengkung, masih bisa gue kejar.”
Tim Pencari Kitab Suci
Rama P. : Selamat sore dunia tipu-tipu, ada kabar baik
Yuli Imut : Oh, lo kena tipu? Emang itu kabar baik ya
S4pri : Ketipu cinta ya Mas
Rama P. : Yuli sama Sapri makin sepemikiran, baek-baek kalian jodoh
Beni Ganteng : No picture hoax, hoax, hoax
Rama P. : Foto (Gita di depan lobby)
Bukan main rencana Tuhan untuk gue ya. Bukan Cuma ketemu, neng cinta nemplok di motor gue sampe kampus plus nomor hp. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan. Nie motor nggak bakal gue cuci dah, masih wangi cinta gue. Apalagi jaket, ya salam, ada bekas pegangan dia emot
Lisa Kanaya : Berjodoh nggak, kena penyakit kulit iya karena jorok
Yuli Imut : Mahasiswi ya, kirain masih SMA. Unyu-unyu banget
Rama P. : Oh jelas dong. Baby face dia, cocok sama gue yang sebelas dua belas sama Lee Min Ho
S4pri : Kenapa diantar ke kampus, mas
Beni Ganteng : Nah, itu Sap. Gak ada nyali dia, banyak bac0t doang emot
Asoka Harsa : Kita dukung aja temen kita ini. Udah jadian?
Rama P. : Awas kalian ya, pengen di selepet kayaknya. Gue pilih yang jalur reguler bukan express. Bubar aja kalean
Yuli Imut : Cie ngambek, jelek lo kalo ngambek
***
“Ck, ngapain kamu masih di sini.” Arya menggeleng mendapati Gita masih berada di ranjang bersama Sarah.
Bukannya pergi, Gita malah menarik selimut. “Aku tidur di sini, mama udah setuju kok.”
“Papa nggak, sana ke kamarmu.”
“Ih, nggak mau.”
Sarah tersenyum karena perdebatan putri dan suaminya. Sejak pulang kuliah sore tadi, Gita semakin manja. Senyum-senyum dan bergelayut padanya juga pada Arya.
“Pindah sana. Papa mau me time sama mama kamu. Ada kamu malah ganggu.”
“Mama belum sembuh total pah, mau ngapain sih?”
“Anak kecil nggak usah tahu dan nggak usah penasaran. Sana ke kamar kamu atau papa gendong mama kamu ke kamar tamu.”
“Enak aja, aku bukan anak kecil ya. Udah bisa bikin anak kecil, udah siap nikah,” tutur Gita lalu terkekeh geli mengingat ucapan Rama.
“Eh, berani ya. Bisa-bisanya mikir begitu. Mah, dengar ‘kan tadi?”
“Waduh, putri mama udah dewasa ya.”
Gita masih tergelak, bahkan saat Arya menarik dan memeluknya dengan sayang lalu mengusirnya.
“Mas, biarin aja. Takut tidur sendiri kali,” cetus Sarah sambil menepuk bantalnya memposisikan untuk ia berbaring.
“Awas ya pah, nanti aku mau ajak mama staycation tanpa papa. Habis aku ujian,” ancam Gita.
“Mama kamu nggak akan bisa pergi tanpa papa. Kita udah sepaket, tidak bisa dipisahkan.”
Gita mencibir. “Aku ke kamar ya mah, kalau papa nakal semprot aja pakai bayg0n.”
Ponsel Arya di atas nakas berdering, mengalihkan perdebatan itu. Gita turun dari ranjang dan mencium pipi Sarah.
“Aku ke kamar ya,” ujar Gita dan diangguki Sarah.
“Gilang, ada apa?” tanya Arya menjawab panggilan itu lalu menatap istrinya. “Kontraksi?”
“Kak Maira ya pah, mau melahirkan?” tanya Gita antusias.
“Hm, kabari terus ya. Minta Mada temani kamu.” Tidak lama Arya mengakhiri panggilan. Gita langsung menghampiri.
“Kak Maira melahirkan?”
“Belum, masih pembukaan,” jawab Arya. “Sana ke kamar kamu.”
“Belum dibawa ke rumah sakit, pah? Biar aku temani Kak Gilang, janji nggak akan kumat lagi asma aku.”
“Ck, pindah ke kamar kamu. Maira urusan Gilang, kamu sekarang tidur dan besok kuliah yang bener.”
“Besok aku nyusul ke rumah sakit ya, pulang dari kampus,” rengek Gita. Bukan semata-mata ingin menemani kakaknya, tapi ada tujuan lain. “Mama belum fit, jadi nggak bisa dampingi Kak Maira.”
“Biar jadi urusan Papa dan Gilang, kamu cepat ke kamar dan istirahat!” Raut wajah Arya datar meski suaranya biasa saja, sepertinya ada hal yang akan dibicarakan dengan Sarah terkait Gilang.
“Sayang, dengar papa kamu. Istirahat, jangan main hp terus nanti kesiangan lagi.”
“Iya deh. Mama juga tidur, jangan dengerin papa.”
“Ck, anak ini.” Arya menggeleng karena Gita sempat mengejek dengan menju-lurkan lidahnya sebelum keluar dari kamar.
Sampai di kamar, Gita langsung berbaring sambil membuka ponselnya. Dahinya mengernyit mendapati ada beberapa pesan masuk salah satunya dari nomor asing.
...0812415xxx...
Besok kuliah sampai jam berapa? Nonton yuk!
Pesan dari Arlan. Alih-alih menjawab, Gita berdecak dan mengabaikannya.
“Males banget, mending nonton yang tawuran daripada nonton sama dia.”
Beralih ke pesan berikutnya. “Ini siapa ya?”
...08568xxx...
Neng cinta, udah tidur ya?
Wajah Gita langsung berubah berbinar dan beranjak duduk. Siapa lagi yang memanggilnya dengan sebutan neng cinta kalau bukan abang nakes ganteng itu. Mengklik profil kontak tersebut. Foto Rama berada di atas motornya, jelas sangat gagah dan sudah pasti tampan.
^^^Belum. Btw, nama aku Gita bukan cinta^^^
Bagiku kamu cinta
dah tau pake nanya 🤭
orang tua kalian juga kalau tau kelakuan kalian begitu pasti kecewa 😔
denger arlan orang baik mah pasangannya sama orang baik, nah situ maniak cewe dapetnya juga tar yang sama kaya kamu 😏
Kalian yang jomblo & dokter vampire duda tambah ngiri aja ya, jangan sampe nganan itu lampu shein hatinya, ngiri aja 😜
ndak jujur az kalo ketangkep basah ma Camer???
hadew....