Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Ritual Mandi Lama
Bab 14: Ritual Mandi Lama
Pukul 06.00 WIB. Udara di Tanjungbalai pagi itu masih menyisakan aroma laut yang asin dan kelembapan yang tinggi. Bagi sebagian orang, ini adalah jam untuk bersiap ke pasar atau sekadar memanaskan mesin motor. Namun bagi Rafi, ini adalah awal dari sebuah ritual suci. Secara logis, persiapan fisik adalah satu-satunya variabel yang bisa ia kendalikan sepenuhnya tanpa biaya tambahan selain air dan sabun.
Ia melangkah menuju kamar mandi di bagian belakang rumah. Dindingnya hanya semen kasar yang sudah berlumut di beberapa sudut, dan atap sengnya sering bocor jika hujan turun lebat. Di dalamnya, sebuah bak mandi plastik berukuran sedang terisi penuh oleh air sumur yang terasa sedingin es.
Rafi berdiri di depan cermin kecil yang sudah retak di pinggirnya. Ia menatap wajahnya sendiri. "Hari ini," bisiknya pelan. Kalimat itu bukan sekadar pengingat, tapi sebuah mantra untuk menekan rasa mindernya.
Ia memulai ritualnya dengan ketelitian seorang kurator museum. Biasanya, Rafi mandi hanya dalam waktu lima menit—guyur, sabun, bilas, selesai. Namun hari ini, setiap inci kulitnya harus bebas dari debu dan bau keringat khas kota pelabuhan. Secara analitis, tantangan terbesar seorang pria tanpa kendaraan pribadi di Tanjungbalai adalah menjaga kesegaran tubuh saat harus berhadapan dengan panas aspal dan polusi angkot.
Ia mengambil potongan sabun batang murah yang sudah menipis. Alih-alih langsung mengguyur badan, ia menggosok kulitnya dengan teliti.
Lengan, leher, hingga ke sela-sela jari kaki. Ia memastikan tidak ada daki yang tersisa. Ia membayangkan kuman-kuman kemiskinan ikut luruh bersama busa sabun itu.
"Sabun ini baunya terlalu biasa," pikirnya skeptis sambil menghirup aroma pembersih badan tersebut. Aroma bunga sintetis yang tajam namun cepat hilang.
Demi menutupi kekurangan itu, ia melakukan pengulangan. Ia menyabuni tubuhnya dua kali.
Secara teori, lapisan busa kedua akan membantu mengangkat minyak berlebih yang bisa memicu bau badan saat ia terpapar panas di terminal nanti. Ia bahkan menggunakan sikat cuci baju yang bulunya sudah lembut untuk menggosok tumit kakinya. Ia tidak ingin saat melepaskan sepatu nanti—meski kecil kemungkinannya—kakinya terlihat kusam.
Setelah bilasan terakhir yang membuat tubuhnya menggigil, Rafi beralih ke bagian rambut. Ia menggunakan sampo sasetan yang ia beli di warung depan seharga seribu rupiah. Ia memijat kulit kepalanya lama-lama. Ia ingin rambutnya terlihat mengkilap dan mudah diatur, meski ia tahu angin bus antar kota nanti akan mengacak-acaknya tanpa ampun.
Ia berdiri di bawah guyuran gayung terakhir, membiarkan air sumur yang segar membersihkan sisa-sisa busa. Di dalam kesunyian kamar mandi yang pengap itu, pikiran Rafi kembali melakukan simulasi biaya.
Air gratis. Sabun dan sampo sudah dibayar semalam. Secara ekonomi, ritual ini adalah investasi paling menguntungkan.
Keluar dari kamar mandi dengan handuk yang sudah menipis benangnya, Rafi kembali ke kamar. Ia mengunci pintu. Ini adalah tahap kedua: memastikan aroma tubuhnya bertahan lama. Ia mengambil minyak wangi isi ulang beraroma jeruk nipis yang ia beli di Bab 12.
Secara teknis, minyak wangi murah memiliki kadar alkohol yang tinggi, yang berarti aromanya akan menguap sangat cepat jika langsung disemprotkan ke udara. Rafi menggunakan trik yang ia pelajari dari internet: ia mengoleskan sedikit lotion sisa milik ibunya di titik-titik nadi—pergelangan tangan dan belakang telinga—sebelum menyemprotkan parfum tersebut.
Sreeet... sreeet...
Aroma citrus yang tajam memenuhi kamar sempit itu. Rafi memejamkan mata. Untuk beberapa saat, ia merasa bukan lagi Rafi yang makan nasi garam, melainkan seorang pria yang siap menjemput pasangannya. Namun, saat ia melihat ke arah cermin dan menyadari rambutnya mulai kering dan mencuat tidak rapi, realitas kembali menamparnya.
Ia mengambil sisir plastik hitam yang beberapa giginya sudah patah. Ia membelah rambutnya dengan rapi di sisi kiri. Ia menggunakan sedikit sisa minyak rambut milik ayahnya agar tatanan itu tidak cepat hancur.
"Rafi! Cepat sikit! Airnya mau dimatikan bapakmu mesinnya!" teriak ibunya dari luar.
"Iya, Mak! Udah siap!" balasnya.
Rafi segera mengenakan pakaian dalamnya, lalu meraih kemeja flanel biru yang sudah ia setrika dengan uap manual semalam. Ia memasukkan kancingnya satu per satu dengan tangan yang sedikit gemetar. Kain flanel itu terasa kaku dan bersih di kulitnya. Aroma citrus parfumnya bercampur dengan aroma kain panas bekas setrikaan, menciptakan bau yang menurut Rafi cukup "mewah" untuk standar dirinya.
Ia memeriksa penampilannya secara keseluruhan di cermin.
Wajah: Bersih.
Rambut: Rapi.
Kemeja: Licin (meski pudar di kerah).
Bau: Segar.
Secara analitis, persiapan fisik ini sudah mencapai 100% dari kapabilitas yang ia miliki. Tidak ada lagi yang bisa ditingkatkan kecuali ia punya uang untuk pergi ke barbershop mahal di pusat kota.
Rafi merogoh dompetnya yang tersimpan di atas meja. Ia membuka lipatan uangnya sekali lagi. Tiga lembar uang seratus ribuan, satu lembar sepuluh ribu, dan satu lembar lima ribu. Total 315 ribu rupiah. Ia memindahkan uang itu ke saku depan celana jinsnya agar lebih mudah diawasi dan tidak terlihat menonjol di saku belakang.
Ia duduk di tepi kasur, mengenakan kaos kaki hitam yang untungnya tidak bolong. Terakhir, ia memasukkan kakinya ke dalam sepatu yang sudah dilem Alteco itu. Ia menghentakkan kakinya ke lantai berkali-kali.
Tek... tek... tek...
Sol sepatunya diam di tempat. Lemnya bekerja dengan baik. Secara struktural, sepatunya siap menghadapi perjalanan panjang.
"Jangan minder, Rafi. Penampilanmu oke. Wangimu oke," ia meyakinkan dirinya sendiri sekali lagi.
Namun, saat ia berdiri dan hendak keluar kamar, ia melihat bayangannya sendiri di pintu lemari yang miring. Ia menyadari satu hal: meski ia sudah mandi selama satu jam dan memakai parfum, ia tetap tidak bisa menyembunyikan gurat lelah di matanya akibat begadang mengetik tugas tempo hari.
Mandi lama adalah usaha untuk menutupi kemiskinan dengan kebersihan. Harapannya sederhana: semoga wangi sabun murah dan kesegaran air sumur Tanjungbalai bisa memberikan aura kepercayaan diri yang cukup kuat untuk menutupi rasa mindernya di depan Nisa nanti. Ia ingin Nisa melihatnya sebagai pria yang bersih dan terawat, bukan pria yang sedang berjuang keras mengumpulkan receh demi sebuah burger di kota seberang.
Rafi mengambil napas panjang, membusungkan dadanya, dan membuka pintu kamar. Ritual telah usai. Persiapan fisik telah maksimal. Sekarang, yang tersisa hanyalah persiapan mental sebelum ia benar-benar melangkah keluar menuju rumah Nisa.