NovelToon NovelToon
Lupa Bahwa Kau Milikku

Lupa Bahwa Kau Milikku

Status: tamat
Genre:CEO / Perjodohan / Tamat
Popularitas:45.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.

Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.

Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Simfoni di Sayap Kiri

Malam semakin larut di Makati. Matthias tidak bisa tidur. Kejadian di dapur tadi—tatapan mata Sheena yang tanpa kedip—terus membayangi pikirannya. Ia memutuskan untuk keluar kamar, berniat mengambil segelas air dingin untuk mendinginkan kepalanya yang panas.

Langkah kakinya yang berat dan panjang bergema di lorong lantai dua yang sunyi. Saat ia melewati perbatasan menuju sayap kiri—wilayah yang sebenarnya "terlarang" baginya karena kesepakatan mereka—sebuah suara menghentikan langkahnya.

Itu bukan suara radio. Bukan juga suara TV.

Itu suara seseorang yang sedang bernyanyi dengan iringan petikan gitar akustik yang sangat halus. Suaranya rendah, serak, namun sangat jernih—persis karakter vokal melancholy milik Billie Eilish yang selama ini menjadi playlist rahasia Matthias saat ia merindukan masa lalunya.

“You and I, we're like a wildflower"

(Kau dan aku, kita seperti bunga liar)

"Growing in the cracks of the sidewalk"

(Tumbuh di celah-celah trotoar) 

—Song By Billie Eilish (Wildflower)

Matthias terpaku di tengah lorong yang remang-remang. Ia berjalan pelan, hampir tanpa suara, mendekat ke arah pintu kamar Sheena yang sedikit terbuka. Di sana, melalui celah pintu, ia melihat pemandangan yang tak pernah ia bayangkan.

Sheena sedang duduk di lantai beralaskan karpet bulu, memeluk sebuah gitar tua. Kacamata bulatnya melorot ke ujung hidung, wajahnya terlihat sangat tenang—jauh dari kesan pedas dan galak yang biasanya ia tunjukkan. Ia bernyanyi sambil menutup mata, seolah dunianya hanya ada di dalam lagu itu.

Deg.

Jantung Matthias berdegup kencang. Ia ingat betul, dulu saat ayahnya membanting gitarnya, ia merasa dunianya kiamat. Musik adalah satu-satunya pelariannya. Dan sekarang, di rumah yang ia anggap "dingin" ini, ada seseorang yang memiliki jiwa musik yang sama dengannya.

Siapa kau sebenarnya, Sheena Katrina? batin Matthias.

Tiba-tiba, Sheena berhenti memetik senar. Ia membuka matanya dan menoleh ke arah pintu. "Siapa di sana?" suaranya kembali ketus dan waspada.

Matthias tersentak. Ia segera memundurkan langkahnya ke kegelapan lorong sebelum Sheena melihatnya. Ia kembali ke sayap kanan dengan terburu-buru, jantungnya berpacu tidak keruan.

Sesampainya di kamarnya sendiri, Matthias menyandarkan punggungnya di pintu. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sapu tangan SK4 itu.

"Gadis itu... dia menyanyi," bisik Matthias pada kesunyian. "Kenapa suaranya terdengar sangat... sedih?"

Ia kembali teringat gadis kecil di halte bus. Saat itu, gadis itu tidak bernyanyi, tapi kata-katanya punya nada yang sama tenangnya dengan nyanyian Sheena barusan.

Sementara itu di kamarnya, Sheena meletakkan gitarnya dengan kasar. "Perasaanku saja atau tadi ada bau parfum wood and musk di depan pintu?" gerutunya. Ia memeriksa koridor, tapi tidak ada siapa-siapa. "Tiang gapura itu pasti sudah tidur. Mana mungkin dia berkeliaran ke wilayahku."

Sheena kembali ke meja belajarnya, membuka buku anatomi jantung. Ia tidak tahu, bahwa jantung "suaminya" baru saja berdetak di luar ritme normal hanya karena mendengar satu bait lagunya.

Matthias berdiri mematung di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat, napasnya sedikit memburu. Suara nyanyian Sheena tadi masih terngiang-ngiang di telinganya—rendah, dalam, dan penuh perasaan yang tidak pernah ia lihat di wajah ketus gadis itu setiap harinya.

Ia berjalan menuju meja kerjanya, menyalakan lampu temaram, lalu menatap gitar elektrik miliknya yang tersimpan di dalam lemari kaca—benda yang sudah bertahun-tahun tidak ia sentuh sejak kematian ayahnya. Matthias mengepalkan tangan. Mengapa gadis mungil itu bisa memetik senar dengan begitu tenang, sementara ia harus mengubur bakatnya demi angka-angka di SM Corp?

"Dia... mahasiswi kesehatan yang hobi belajar, tapi suaranya..." Gumam Matthias frustrasi. Ia merasa egonya terusik. Ia selalu menganggap Sheena sebagai beban yang tidak memiliki kedalaman jiwa, namun malam ini, musik Sheena mengatakan hal yang berbeda.

Sementara itu, di sayap kiri, Sheena masih berdiri di ambang pintu kamarnya. Ia menghirup udara lorong dalam-dalam. Sisa aroma parfum wood and musk milik Matthias masih tertinggal tipis, berbaur dengan hawa dingin pendingin ruangan.

"Tiang gapura itu benar-benar ke sini?" Sheena membatin. Ia melirik jam dinding—pukul satu pagi. "Mungkin dia sedang mengigau atau mencari mangsa untuk dimarahi."

Sheena kembali masuk ke kamarnya, namun kali ini ia tidak melanjutkan belajarnya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap gitarnya. Ia teringat kembali pada masa SMP di Calapan, saat ia sering menyanyi di halte bus sambil menunggu bus jemputan sekolah. Lalu Ia merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar. Ia merasa ada yang aneh dengan detak jantungnya sendiri malam ini. Bayangan postur raksasa Matthias yang mengurungnya di dapur tadi sore mendadak muncul lagi.

"Sial. Gara-gara parfum mahalnya, aku jadi tidak fokus belajar anatomi jantung," gerutunya sambil menarik selimut menutupi wajahnya yang mendadak terasa panas.

Di sisi lain rumah, Matthias kembali membuka kotak kayunya. Ia menempelkan sapu tangan SK4 itu ke wajahnya, menghirup aroma kain yang sudah lama kehilangan wangi aslinya.

"Gadis kecil... kalau kau yang bernyanyi tadi, apakah kau akan tetap sekasar itu padaku?" Bisik Matthias.

Malam itu, di bawah atap yang sama namun di kamar yang berbeda, keduanya terjaga oleh bayangan yang sama—sebuah halte bus di masa lalu dan aroma parfum yang mulai saling mengenali di masa kini.

1
Ira Nadira
astga nagaaaaaaaa bagus bgt thorrrr😍😍😍 aku padamu pokoknya mah😍
Bae •: makasih ya kak 😍
total 1 replies
Ira Nadira
baper bgt kalo punya laki model gini nih🤭, kira2 ada g yah di dunia nyata😁
Ira Nadira
mampus lu rasain😒
Ira Nadira
tp di awal td ada kata2 kalo si mathiass tau Senna pemilik sapu tangan itu kan??
Ira Nadira
yahhh pecah perawan dah😁
Ira Nadira
duh thorrrr🤣kan gw yg salting ihhh malu ahh🤭
bagus, ceritanya ringan dan manis. gak ada konflik. tapi panjangkan lah lain kali ceritanya hahah🤣
Ira Nadira
wahhh salut sama si othorrr keren bgt penulisannya😍😍 hampir g ada typo samsek😍😍
Ira Nadira
astaga astagaaaaaaaa😍😍😍 manis bgt sih akhhh🤣🤣
Ira Nadira
dari awal bab g pernah komen karna saking serunya😍😍
Bae •: makasih ya kak😍
total 1 replies
Naufal hanifah
keren /Good//Good//Good/
Sari Purnama
Hmm..saya suka saya suka saya sukaaaaaaaa
Sari Purnama
ahay deuy..🤭🤭
YuWie
seru sih..tapi klo salah sangkanya dipanjang2 in jadi malz jg ya
YuWie
berubah kah wajah mereka shg tak saling mengenali?
LEECHAGYN
wihh terpanaa juga😭
Anonymous
ceritanya bagus bgttttt...,. sayang terlalu pendekkkkk....
mili
suka cerita nya
falea sezi
keren
Mirda Julianti
karya yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!