Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Hak yang Direbut Kembali
“Selama Papa menjadi CEO,” potong Zelia, suaranya bergetar namun tegas, “Papa sudah terlalu banyak mengambil yang bukan hak Papa.”
Ruangan langsung sunyi.
“Papa hanya waliku selama aku belum menikah. Dan sekarang aku sudah menikah. Aku berhak atas posisi ini.”
Seorang direktur langsung angkat suara.
“Bu Zelia… jika Anda bersikeras menduduki posisi CEO tanpa mempertimbangkan nasib karyawan, Anda akan dibenci.”
Yang lain ikut menimpali,
“Bahkan investor bisa saja menarik investasi mereka.”
“Tak ada investor yang ingin uangnya dijadikan bahan percobaan,” tambah yang lain dingin.
“Kalau mau membuktikan kompetensi Anda, buktikan dalam enam bulan. Waktu itu cukup untuk menunjukkan apakah Anda layak atau tidak.”
Jari Zelia meremas ujung roknya hingga urat di tangannya menonjol. “Kalian bersekongkol… Aku—”
“Istri saya akan menerima tantangan ini.” Suara Are memotong pelan. Tenang, tapi tegas seperti garis yang tak bisa digeser.
Zelia spontan menoleh.
Are memegang kedua pundaknya, seolah berkata tanpa kata: aku di sini.
Ruangan langsung dipenuhi tatapan ke arah mereka.
Atyasa tertawa pendek tanpa suara. Hampir tak terlihat, tapi jelas penuh ejekan. “Kau begitu percaya diri,” katanya meremehkan.
Ia berdiri perlahan.
“Baik. Enam bulan lagi… Papa ingin melihat apakah kau benar-benar layak duduk di posisi itu.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik meninggalkan ruangan, diikuti notaris dan jajaran direksi.
Pintu tertutup.
Sunyi menyergap ruangan.
Zelia merasa pundaknya seperti ditimpa batu besar. Enam bulan memimpin perusahaan dan harus melampaui senior. Jelas bukan hal mudah.
Sementara Are tetap berdiri tenang di sampingnya, seolah tak ada badai apa pun yang perlu dikhawatirkan.
Zelia akhirnya menatap Are.
“Kau tahu apa yang kau lakukan?” tanyanya, wajahnya jelas menyimpan frustrasi.
“Tentu,” jawab Are mantap. “Aku tidak akan menyanggupi kalau aku tidak mampu.”
Nada suaranya tetap tenang, tanpa sedikit pun keraguan.
Zelia menatapnya lekat. Sejak pria itu melangkah masuk ke gedung ini, ia tidak pernah terlihat canggung, tidak terlihat asing, apalagi ragu. Bahkan di hadapan dewan direksi tadi, orang-orang yang bahkan tak ia kenal, Are tetap berdiri dengan tenang, seolah sudah terbiasa menghadapi orang dengan jabatan tinggi.
“Katakan padaku… sebelumnya kau bekerja sebagai apa?”
“Itu tidak penting,” jawab Are datar.
Zelia menghela napas kasar. "Pria ini terlalu tertutup. Misterius. Tapi… entah kenapa aku suka."
Tatapannya tanpa sadar turun, memerhatikan wajah tegas itu, bahunya yang lebar, hingga aura wibawa yang seolah selalu menyelimutinya.
Are menyadari tatapan itu. Entah kenapa, ada rasa gemas yang muncul saat melihat ekspresi kagum di wajah Zelia. Senyum samar terukir di bibirnya tanpa bisa dicegah.
“Sudah puas lihatnya?”
Suara Are membuat Zelia tersentak.
“Pu—puas apanya?” ucapnya tergagap. Ia buru-buru memalingkan wajahnya, pipinya sedikit memanas.
Are tersenyum tipis, lalu berkata, “Lebih baik kau pikirkan bagaimana caranya supaya tetap duduk di kursi CEO.”
Zelia langsung memeluk lengan Are, seolah menemukan pegangan.
“Kau yang menyanggupi,” katanya cepat. “Jadi kamu harus bantu. Oke?”
Are terdiam sejenak.
Biasanya ia tidak pernah suka disentuh wanita. Namun sejak Zelia beberapa kali tanpa sadar memeluk lengannya, tak pernah sekali pun muncul keinginan untuk menolak. Sesuatu yang tak pernah terjadi saat wanita lain menyentuhnya.
“Akan aku bantu,” katanya akhirnya.
Wajah Zelia langsung berseri. “Nah, gitu dong.”
Senyumnya lebar, seolah beban di pundaknya sedikit terangkat. "Kenapa aku begitu nyaman dan ingin bermanja padanya? Padahal kami hanya beberapa kali bertemu. Dan kenapa aku begitu percaya padanya?"
***
Langkah Zelia terhenti sesaat di ambang pintu. Ruangan itu masih sama seperti yang ia ingat, luas, dingin, dan penuh wibawa. Namun kini terasa berbeda. Bukan lagi tempat yang terasa jauh, melainkan sesuatu yang seharusnya memang menjadi miliknya sejak awal.
Di balik meja besar itu, Atyasa masih berdiri. Beberapa berkas tersusun rapi di depannya, seolah ia sengaja memperlambat proses berkemas.
Tatapan mereka bertemu. Sejenak tak ada yang membuka suara.
Are berdiri satu langkah di belakang Zelia, tenang seperti biasa, hanya mengamati tanpa mengganggu.
“Sepertinya Papa belum selesai,” kata Zelia akhirnya, suaranya datar namun sopan.
Atyasa tersenyum tipis. Senyum yang tak pernah benar-benar hangat. “Atau mungkin… kamu yang terlalu cepat mengambil alih.”
Zelia melangkah masuk, sepatu haknya berdetak pelan di lantai marmer.
“Aku hanya mengambil kembali yang memang milik Mama," balasnya ringan.
Tatapan Atyasa berubah sedikit lebih tajam. “Ya,” katanya pelan. “Warisan.” Ia tertawa pendek tanpa humor. “Selama ini memang hanya itu yang membuat semua orang peduli padamu.”
Zelia berhenti tepat di depan meja. Dadanya terasa sedikit sesak, tapi wajahnya tetap tenang.
“Termasuk Papa?”
Pertanyaan itu terlontar pelan, tapi cukup untuk membuat ruangan terasa semakin dingin.
Atyasa terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bersandar di kursinya. “Kamu tahu,” katanya pelan, “setiap kali aku melihatmu… aku melihat ibumu.”
Zelia tidak berkedip.
“Wanita yang tidak pernah percaya padaku.” Nada suaranya terdengar datar, tapi ada sesuatu yang retak di dalamnya.
“Kau tahu rasanya hidup bertahun-tahun di bawah bayang-bayang seseorang?” lanjutnya. “Dianggap hanya numpang. Tidak pernah cukup baik.”
Zelia menarik napas pelan. “Dan itu alasan Papa mengambil alih sesuatu yang bukan hak Papa?”
Atyasa tersenyum miring. “Aku yang membesarkan perusahaan ini setelah ibumu meninggal.”
“Tidak,” potong Zelia tenang tapi tegas. “Papa hanya menjaganya. Sebagai wali. Sampai aku menikah.”
Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya. “Dan sekarang aku sudah menikah.”
Tatapan mereka saling mengunci.
“Aku berhak atas posisi ini.”
Atyasa berdiri perlahan. Wajahnya kini tidak lagi menyembunyikan kekesalan.
“Kau pikir memimpin perusahaan sebesar ini semudah itu?” suaranya mulai meninggi. “Ini bukan soal duduk di kursi dan membawa nama keluarga!”
“Memang tidak,” jawab Zelia tanpa gentar. “Tapi itu tetap hakku.”
Suasana memanas.
“KAU—”
“Aku tak akan membiarkan hakku diambil orang lain,” potong Zelia, suaranya tetap terkendali tapi tajam, “Tidak lagi. Apalagi... dinikmati orang-orang yang manis di depanku, tapi ingin menusukku dari belakang."
Atyasa membeku.
Ruangan mendadak sunyi.
“Kini aku sudah menikah,” lanjut Zelia. “Dan sekarang… semuanya kembali padaku.”
Rahang Atyasa mengeras.
Di belakangnya, Are tetap berdiri tenang, tatapannya mengamati tanpa emosi.
Atyasa tertawa pendek, kali ini penuh sinis. “Kau begitu yakin bisa bertahan di kursi ini?”
Senyum tipis itu kembali muncul.
“Kursi itu… lebih berbahaya dari yang kau kira.”
✨“Tidak semua keluarga adalah rumah. Kadang mereka hanya tempat kita belajar bertahan.”
“Hak tidak diberikan. Hak diambil kembali.”
“Ia tidak merebut apa pun. Ia hanya mengambil kembali miliknya.”
“Pengkhianatan paling menyakitkan… datang dari orang yang kita panggil keluarga.”✨
.
To be continued
Percaya diri seperti kalian yang mudah di jatuhkan
Dan....
apa ya kira²?
author yang tahu