Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.
Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?
Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!
“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 - Ternyata aku suka dia!
‘Siapa jodohnya Asep nanti? Siti, atau cewek yang waktu di pasar itu, siapa ya dia? Aturan gue liat mukanya waktu itu, dia cantik apa kagak,’ batin Ziya, sambil berguling kesana kemari.
‘Asep, Siti. Siti, Asep? Asep sama cewek misterius, mana yang cocok di antara mereka?’
‘Tapi kenapa ya ada perasaan gak rela di hati gue, ngebayangin si Asep sama cewek lain? Pertanyaannya kenapa bisa begitu?’ Ziya bingung sendiri dengan pikirannya.
Tiba-tiba dia tersentak, ‘Ziya, jangan-jangan lu suka lagi sama si Asep?’
‘Wah parah lu Ziya, wah. Gimana ini gimana ini?’ dia panik sendiri.
‘Kalau sampai lu suka sama si Asep, lalu si Regan mau lu apain? Lu udah janji setelah tiga bulan lu akan meresmikan hubungan lu ama dia kan, hayo loh Ziya.’
Ziya bangkit dan berjalan mondar-mandir di lantai kamarnya, ‘ko bisa gue suka sama Asep? Apa sih kelebihan dia?’
‘Dia ganteng,’ bisik sesuatu dalam pikirannya.
“Siapa bilang si Asep ganteng, gak. Gantengan juga si Regan,” jawab Ziya pada diri sendiri.
‘Asep keren, tubuhnya bagus,’ ucap suara di otaknya lagi.
“Si Regan juga gak kalah keren ko,” bela Ziya.
‘Asep kaya, dia punya tanah yang luas, si Regan punya gak? Duit aja minta ama lu terus, hehe, gimana Keren kan Asep gue?’
“Hah, Asep gue?”
”Neng!”
Sontak Ziya pun terjengkang kebelakang saking terkejutnya. Dia tidak menyangka Pria itu ternyata ada di rumah.
‘Dia denger gak ya, omongan gue barusan?’
“I-iya?!” Ziya merespon lambat dengan suara tergagap.
“Saya mau pergi nganter Sayuran dulu ke kota. Neng gak papa saya tinggal sendirian?” tanyanya dari balik pintu.
“Hah berapa lama?” Ziya bangkit seketika, lantas membuka pintu, tampak Asep berdiri tak jauh dari pintu kamarnya.
“Gak lama ko, besok juga saya pulang,” ujarnya, “Neng gak papa saya tinggal sendirian?”
“Its oke, gue gak papa ko, asal gak mati lampu,” kekehnya.
“Beneran, atau mau ikut aja?”
“Ck, apaan sih gak lah, gue di rumah aja,” tolak Ziya.
“Maaf ya, Neng harus saya tinggal, Mang Ujang sopir yang biasa bawa mobilnya sakit sedang si Udin gak bisa bawa mobil, jadi saya harus pergi nganter sendiri,” ungkap Asep.
“Iya gak papa, udah gih sana pergi, jangan lupa bawa oleh-oleh,” candanya.
Asep tersenyum, “Pulang besok saya janji akan masakin Pasta buat Neng.”
“Janji ya, awas kalau bohong!”
“Iya, saya janji.”
Setelah itu Asep pun berlalu. Ziya menatap kepergian Asep dengan perasaan tak karuan, perasaannya campur aduk antara, khawatir cemas dan rindu.
“Ck, pasti gue udah gila baru aja si Asep pergi, ko gue udah kangen aja, Ziya elu emang udah bener-bener gak waras.” Ziya tertawa sambil menutup pintu.
Perasaan kosong tiba-tiba timbul di hatinya, dia mengedarkan pandangannya ke sekitar, seketika bayangan Asep terlihat dimana-mana.
Ziya menghela nafas kemudian kembali ke kamarnya, tiba-tiba perasaannya berubah menjadi galau.
“Ck, Asep, hmhmhm,” dia cengengesan sendiri sambil menatap foto yang dia ambil tempo hari.
“Ko bisa ya gue suka ama lo cuma dalam hitungan hari? Kenapa, why? Sayangnya elu cuma nganggap gue barang titipan doang kan, dasar nyebelin,” ucapannya seketika berubah jadi gerutuan.
“Kalau gue suka Asep, terus si Regan gimana dong? Ah bodo lah, gue pikirin itu nanti, ck tapi mikirin Asep yang ninggalin gue semalaman juga bikin gue sedih, ugh.”
Malam pun datang. Tiba-tiba hujan deras disertai angin kencang mengguyur kampung ini, Ziya menatap was-was keluar rumah, yang paling dia takutkan adalah mati lampu dan sialnya itu terjadi di jam sepuluh malam.
“Huhu, Asep gue takut,” lirihnya, meski dia menyalakan lampu senter di HP-nya tetap saja itu tak mengurangi rasa takutnya sama sekali, Ziya membungkus tubuhnya dengan selimut hanya menyisakan wajahnya saja.
Huh, dia menarik napas dalam-dalam, “ini sama sekali gak serem ko kalau lu tidur, oke mending lu merem dan tahu-tahu hari sudah berganti siang,” Ziya menenangkan diri, dia menarik selimutnya hingga menutupi kepala.
Akhirnya dia pun bisa terlelap juga, namun suara pintu terbuka seketika membuatnya terbangun kembali.
Brak...!” suara pintu terbuka sangat kencang, Ziya menelan Salivanya, dia melihat layar ponselnya, waktu menunjukkan pukul 00:30 tengah malam.
“Pi-pintunya kebuka dong, gimana ini mana gelap tengah malam pula, perasaan gue tadi udah ngunci pintunya deh,” gumam Ziya, walau takut dia mencoba memberanikan diri untuk turun dari ranjangnya.
‘Apa jangan-jangan ada maling?’ dia menempelkan telinga di daun pintu berusaha menangkap suara sekecil apa pun dari sana, namun yang terdengar hanya suara gemuruh angin dan derasnya air hujan.
Dia menarik napas dalam kemudian membuka pintu perlahan, dia menyoroti ruangan terlebih dahulu dengan lampu senter HP-nya, seperti dugaannya tidak ada orang di ruangan itu, pasti pintu itu tak sengaja terbuka karena angin dan sepertinya dia lupa mengunci pintu, ya pasti seperti itu. Ziya meyakinkan dirinya dengan kata itu.
Saat dia berbalik hendak menutup pintu tiba-tiba, Arghhhh... Jeritnya, saat melihat sesosok tinggi besar berdiri di ambang pintu.
“Neng, ini saya atuh, Asep!” pekik orang tersebut.
“Asep!” teriak Ziya, dia menyoroti wajah Asep terlebih dahulu untuk memastikan dan ternyata benar itu dia.
“Lu jahat banget sih Sep, jantung gue hampir copot tahu,” ungkap Ziya diiringi isakan pelan.
“Maaf Neng, saya kira Neng sudah tidur tadi,” ucapnya tak enak hati.
“Katanya elu pulangnya besok, ko sekarang udah pulang mana tengah malam pula?”
“Saya khawatir sama Neng, saya melihat perkiraan cuaca hari ini akan hujan angin eh ternyata bener, jadi saya cepet-cepet pulang, takutnya mati lampu, Neng kan paling takut gelap,” ungkapnya.
Ziya terenyuh, wajahnya juga pasti memerah saat ini, untung disini gelap jadi Asep tidak bisa melihat rona itu di wajahnya.
Biar si benalu cari duit sendiri
❤❤😍😍💪💪
klao Asep gk cinta ma kmu ziyaa..
🤣🤣😄❤❤❤😍💪💪💪
ziya auto njerittt..
aaaaa..
🤣🤣😄😄😍😍😍❤💪💪💪
jangan samlai pak raden manfaatin ziya yaaa😍❤❤❤❤💪💪💪
jgn sampai siti curiga..
klao perlu ziya cium asep di depan siti..
🤣🤣😄😍❤❤❤❤
😍💪😍😍💪💪❤❤❤
aseppp..
siap2 aja macn netinamu ngamuk3..
🤣❤❤💪😍😄
bakal ada salah paham ini..
moga gak panjang salah pahamnya..
❤💪💪💪😍😍😄😄😄