Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. The legacy of the little general
Satu Tahun Kemudian.
Mansion Vincentius tidak lagi hanya menjadi hunian mewah, melainkan sebuah benteng dengan sistem keamanan tingkat militer paling canggih di Asia. Di sebuah lapangan latihan di area belakang, seorang gadis kecil berusia 9 tahun berdiri tegak dengan seragam taktis hitam yang pas di tubuhnya.
Kenzhi Ruby Vincentius tidak lagi memegang boneka. Di pinggangnya tersarung pisau perak yang kini telah menjadi bagian dari identitasnya. Di pergelangan tangannya, bekas luka hitam melingkar dari peristiwa gudang tua setahun lalu masih ada—sebuah pengingat permanen bahwa ia pernah melawan waktu.
"Target di pukul sepuluh, Nona Muda," suara Hans terdengar dari headset.
Kenzhi tidak menjawab. Ia menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak untuk memanggil kembali insting tajamnya. Saat ia membuka mata, ia melepaskan serangkaian tembakan dari submachine gun ringan yang dimodifikasi.
RAT-TAT-TAT!
Semua papan target hancur tepat di bagian jantung. Hans yang berdiri di menara pengawas hanya bisa mengangguk pelan. Kenzhi bukan lagi sekadar murid; ia memiliki ketenangan yang bahkan membuat para prajurit veteran merasa terintimidasi.
Arkano dan Kemampuan Aneh
Di sisi lain mansion, di taman yang lebih tenang, Arkano (4 tahun) sedang duduk bersila di atas rumput. Di sekelilingnya, puluhan burung merpati dan dua ekor anjing penjaga berjenis Doberman duduk dengan tenang, seolah sedang mendengarkan perintah dari seorang raja kecil.
Arkano tidak bicara. Ia hanya menatap hewan-hewan itu dengan mata bulatnya yang sangat jernih. Salah satu anjing itu menggonggong pelan sekali, dan Arkano tersenyum.
"Begitu ya? Ada orang asing di gerbang samping?" bisik Arkano.
Jennie, yang sedang memperhatikan dari teras, merasakan bulu kuduknya berdiri. Sejak kejadian transparan setahun lalu, Arkano memiliki kepekaan sensorik yang aneh terhadap makhluk hidup. Ia bisa merasakan emosi dan keberadaan orang lain melalui hewan di sekitarnya.
"Limario," panggil Jennie saat suaminya itu mendekat dengan membawa secangkir kopi. "Kau lihat itu? Arka baru saja mendapatkan informasi dari anjing-anjing itu bahkan sebelum alarm gerbang berbunyi."
Limario menatap putranya, lalu menatap jam tangannya. Detik berikutnya, ponselnya bergetar. Laporan dari pos penjagaan: Seorang kurir mencoba masuk dengan kode keamanan yang kedaluwarsa.
"Dunia ini tidak akan pernah membiarkan mereka menjadi anak-anak normal, kan?" desis Limario pahit.
Pesan dari Abu
Limario mengajak Jennie masuk ke ruang kerjanya. Di atas meja jati yang besar, terletak sebuah amplop abu-abu dengan stempel lilin yang sangat ia kenal: lambang bank Swiss tempat mereka mengambil koper perak itu dulu.
"Aku pikir koper itu sudah hancur bersama Reynard Senior," ucap Jennie, tangannya gemetar saat membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat sebuah foto polaroid yang menunjukkan koper perak tersebut berada di atas sebuah meja marmer putih. Di samping koper itu, ada sebuah mawar hitam yang segar dan sebuah catatan pendek:
"Data Chronos terlalu berharga untuk menjadi debu. Aku menyelamatkannya, bukan untuk Reynard, tapi untuk masa depan yang belum kau lihat. Tunggu undanganku di Malam Gerhana."
— Sang Arsitek
"Sang Arsitek?" Jennie menatap Limario. "Siapa lagi ini? Apakah pria bertopeng dari Zurich itu masih hidup?"
"Pria itu melakukan serangan bunuh diri, Jennie. Seharusnya tidak ada yang selamat," jawab Limario. "Tapi jika koper itu masih ada, berarti 'Kunci' untuk mengunci garis waktumu masih dipegang oleh orang asing."
Ujian Pertama Kenzhi
Malam itu, mansion benar-benar diserang. Bukan oleh pasukan besar, melainkan oleh seorang pembunuh bayaran tunggal yang sangat lincah. Pembunuh itu berhasil melewati sensor laser dan melumpuhkan dua penjaga di koridor lantai dua—dekat kamar Arkano.
Kenzhi yang sedang mempelajari peta strategi di kamarnya mendengar langkah kaki yang terlalu ringan untuk ukuran seorang pengawal. Ia segera keluar, pisaunya sudah terhunus.
Ia bertemu dengan sang pembunuh di lorong yang remang-remang. Pria itu memakai topeng hitam dan bergerak sangat cepat.
"Anak kecil, minggir jika kau ingin hidup," desis sang pembunuh.
Kenzhi tidak mundur. "Kau masuk ke wilayahku. Kau mengancam adikku."
Pertarungan jarak pendek pecah. Kenzhi menggunakan teknik bela diri yang menggabungkan kelenturan balet dan serangan mematikan Vincentius. Ia merunduk di bawah tebasan pisau lawan dan menggunakan ukurannya yang kecil untuk menyerang titik-titik vital pria itu.
SLASSH!
Kenzhi berhasil menyayat lengan pria itu. Di saat yang sama, Arkano keluar dari kamarnya sambil menunjuk ke arah plafon. "Di atas! Ada satu lagi di atas, Kak Kenzhi!"
Tanpa melihat ke atas, Kenzhi melepaskan sebuah granat asap kecil ke langit-langit, menjatuhkan penyusup kedua yang bersembunyi di ventilasi. Hans dan tim elit tiba beberapa detik kemudian untuk mengamankan keduanya.
Harga Sebuah Kedewasaan
Setelah situasi terkendali, Limario menemukan Kenzhi sedang duduk di lantai lorong, menatap darah yang menempel di baju tidurnya. Ia tidak menangis, tapi napasnya memburu.
"Kenzhi," Limario berjongkok di depannya.
"Daddy... aku tidak suka ini," bisik Kenzhi pelan. "Tapi aku lebih tidak suka jika mereka mengambil Arka."
Limario memeluk putrinya erat. "Mulai besok, Hans tidak akan lagi melatihmu sendiri. Aku yang akan melatihmu secara langsung. Jika dunia ini menginginkanmu menjadi Jenderal, maka aku akan memastikan kau adalah Jenderal terhebat yang pernah ada."
Di kejauhan, Jennie berdiri sambil menggendong Arkano, menatap pemandangan itu dengan hati yang hancur. Ia menyadari bahwa di kehidupan ini, ia tidak menyelamatkan anak-anaknya dari kegelapan; ia justru sedang melatih mereka untuk menjadi penguasa kegelapan itu sendiri.
Naluri Darah Vincentius
Asap dari granat kecil itu perlahan menipis di lorong lantai dua. Hans dan tim taktis segera meringkus dua penyusup yang sudah tidak berdaya akibat serangan cepat Kenzhi. Salah satu penyusup menatap Kenzhi dengan tatapan ngeri; ia tidak menyangka seorang anak perempuan berusia 9 tahun memiliki koordinasi tubuh yang begitu mematikan.
Instruksi Sang Ayah
Limario melangkah mendekat, mengabaikan para tawanan yang sedang diseret keluar. Fokusnya hanya tertuju pada Kenzhi. Ia melihat tangan putrinya yang memegang pisau perak itu tidak gemetar sama sekali, namun matanya memancarkan kelelahan emosional yang amat besar.
"Kau melihat posisi penyusup kedua sebelum dia menyerang, Kenzhi. Bagaimana?" tanya Limario, suaranya rendah namun penuh selidik.
Kenzhi menoleh ke arah Arkano yang masih berdiri di ambang pintu kamar. "Bukan aku, Daddy. Arka yang memberitahuku. Dia bilang... 'burung-burung di atap sedang ketakutan'."
Limario terdiam. Ia menatap Arkano, balita 4 tahun yang tampak tenang seolah baru saja menyelesaikan permainan petak umpet. Potensi kedua anaknya mulai mekar ke arah yang tidak terbayangkan. Jennie segera menghampiri Arkano dan memeluknya erat, seolah ingin menyembunyikan putranya dari takdir yang mulai mendekat.
"Lim, mereka masih terlalu kecil untuk memikul ini semua," bisik Jennie, matanya berkaca-kaca menatap Kenzhi yang sedang mengelap noda darah di pisaunya dengan ujung baju tidurnya.
"Dunia tidak peduli pada usia mereka, Jennie. 'Sang Arsitek' sudah mengirimkan undangannya. Jika kita tidak melatih mereka sekarang, mereka akan menjadi mangsa," balas Limario tegas.
Rencana Menuju Macau
Dua jam kemudian, di ruang strategi yang kedap suara, sebuah peta digital kota Macau terpampang luas. Di tengahnya terdapat titik merah yang berkedip: The Emerald Dragon, sebuah kasino terapung milik salah satu kartel tertua di Asia.
"Sang Arsitek ingin kita datang di Malam Gerhana, tiga hari lagi," Hans menjelaskan sambil menunjukkan foto satelit. "Keamanannya sangat ketat. Tidak ada senjata api yang diizinkan masuk. Semuanya diperiksa dengan pemindai biometrik."
"Itulah sebabnya aku harus membawa Kenzhi," potong Limario.
Jennie tersentak. "Apa? Macau adalah sarang serigala, Lim! Kau ingin membawa anak 9 tahun ke sana?"
"Kenzhi bukan hanya anak 9 tahun. Dia bisa merasakan distorsi waktu. Jika koper Chronos itu ada di sana, hanya Kenzhi yang bisa menunjukkan lokasinya sebelum alat itu diaktifkan dan menghapus kita semua," jelas Limario. Ia menatap Kenzhi yang duduk di pojok ruangan. "Kenzhi, apakah kau siap?"
Kenzhi berdiri, wajahnya yang mungil tampak sangat serius. "Aku pergi jika Arka aman. Aku tidak ingin meninggalkan Arka dengan orang-orang seperti Bi Inah lagi."
Benteng Arkano
Limario mengangguk. "Arka tidak akan sendirian. Aku telah memesan sistem keamanan bio-genetik. Tapi lebih dari itu..." Limario menoleh pada Arkano yang sedang mengelus seekor burung gagak hitam yang hinggap di jendela ruang strategi. "Arka akan menjadi penguasa mansion ini selama kita pergi."
Arkano menoleh, tersenyum kecil. "Burung-burung bilang, tidak ada yang bisa masuk lewat hutan belakang lagi, Daddy. Aku sudah menyuruh mereka berjaga."
Jennie hanya bisa terpaku. Ia menyadari bahwa anak-anaknya telah berevolusi. Kenzhi adalah pedangnya, dan Arkano adalah radarnya. Kesempatan kedua yang ia dapatkan dari masa depan ternyata tidak hanya menyelamatkan nyawa mereka, tapi juga melahirkan generasi baru Vincentius yang jauh lebih berbahaya dari siapa pun dalam sejarah.
Malam Keberangkatan
Sebelum fajar menyingsing di hari keberangkatan ke Macau, Jennie masuk ke kamar Kenzhi. Ia menemukan putrinya sedang memasukkan sepasang sepatu balet lama ke dalam tas taktisnya.
"Mummy pikir kau sudah tidak ingin menari lagi," ucap Jennie lembut.
Kenzhi menatap sepatu itu dengan rindu yang tertahan. "Daddy bilang, gerakan balet membuat langkahku tidak terdengar oleh musuh. Aku menari... agar aku bisa membunuh siapa pun yang ingin memisahkan kita, Mummy."
Jennie memeluk Kenzhi, hatinya hancur berkeping-keping. "Maafkan Mummy, Sayang. Seharusnya kau hanya menari untuk kesenanganmu sendiri."
Kenzhi membalas pelukan ibunya. "Jangan minta maaf, Mummy. Di masa depan yang Mummy lihat dulu, aku mungkin sudah tidak ada. Tapi di sini, aku hidup. Dan aku akan memastikan kita semua tetap hidup."