Seorang pemuda berusia 25 tahun, harus turun gunung setelah kepergian sang guru. Dia adalah adi saputra.. sosok oemuda yang memiliki masa lalu yang kelam, di tinggalkan oleh kedua orang tuanya ketika dirinya masih berusia lima tahun.
20 tahun yang lalu terjadi pembantaian oleh sekelompok orang tak di kenal yang menewaskan kedua orang tuanya berikut seluruh keluarga dari mendiang sang ibu menjadi korban.
Untung saja, adi yang saat itu masih berusia lima tahun di selamatkan okeh sosok misterius merawatnya dengan baik dari kecil hingga ia berusia 25 tahun. sosok misterius itu adalah guru sekaligus kakek bagi Adi saputra mengajarkan banyak hal termasuk keahliah medis dan menjadi kultivator dari jaman kuno.
lalu apa tujuan adi saputra turun gunung?
Jelasnya sebelum gurunya meninggal dunia, dia berpesan padanya untuk mencari jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarif Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Jalan-jalan sore
Sore itu
Hana mengajak Maudy mengunjungi Danau Keheningan, sebuah tempat yang menurutnya sempurna untuk jalan-jalan sore. Bukan hanya karena pemandangan danau yang memanjakan mata, tetapi juga karena deretan pedagang kaki lima yang menyajikan aneka jajanan favorit mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Jika ingin menikmati suasana danau lebih dekat, pengunjung bisa menyewa sepeda air beraneka bentuk unik—mulai dari bebek, naga, hingga hiu. Perahu-perahu kecil ini dirancang untuk memuat dua orang dewasa atau tiga orang jika bersama anak kecil. Biasanya, pasangan kekasih atau kakak beradiklah yang paling sering menyewa perahu mungil ini untuk mengelilingi permukaan danau.
Bagi rombongan yang lebih besar, tersedia juga perahu motor yang lebih besar, mampu menampung sekitar 20 hingga 40 orang. Perahu ini menjadi pilihan utama bagi keluarga besar, sekumpulan teman, atau rombongan wisata.
Destinasi wisata ini tampak sederhana, namun entah mengapa selalu ramai pengunjung setiap harinya. Dengan tiket masuk yang hanya lima ribu rupiah, pengunjung sudah bisa menikmati keindahan alam, sekadar air danau dan hiruk-pikuk jajanan. Puncaknya, menjelang malam, para pengunjung akan disuguhi pemandangan senja yang luar biasa indah dari tepian danau.
"Wah, ramai sekali!" seru Maudy, yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat itu.
"Tentu saja. Ini salah satu tempat favorit segala usia. Aku sendiri sudah sering ke sini hanya untuk menikmati senja," ujar Hana, melirik jam tangannya, tepat pukul 14.00.cukup untuk mereka menghabiskan waktu sore di tempat itu.
"Ya ampun, bahkan ada banyak sekali pedagang yang menjual makanan sederhana," Maudy kembali berseru, terkesima.
Hana menunjuk ke arah perahu. "Lihat ke sana. Bagaimana kalau kita naik perahu bebek itu? Kebetulan aku juga belum pernah mencobanya."
"Astaga, perahu kecil itu lucu sekali!" Maudy tampak sangat antusias, yang membuat Hana tersenyum melihat sahabatnya begitu gembira.
Sementara itu, Rayan, yang terpaksa mengikuti kedua gadis itu dengan taksi karena mobil Maudy hanya memuat dua orang, memilih untuk memisahkan diri. Ia mencari penjual kopi alih-alih ikut berkeliling di pinggiran danau.
"Anak muda, mau pesan minuman?" tanya penjual warung kopi kecil itu.
"Ya, Bibi. Tolong buatkan saya segelas kopi hitam tanpa gula," jawab rayan.
"Baiklah. Pesananmu akan segera siap. Tunggu sebentar," kata si penjual. Ia sedikit heran. Pengunjung lain biasanya memesan minuman segar saat pertama datang, tetapi pemuda ini justru memesan kopi pahit.
"Huuu... Ibu, aku mau naik perahu itu..."
Tiba-tiba, seorang gadis kecil menangis sambil menarik-narik ujung pakaian wanita paruh baya di sampingnya.
"Nak, kita tidak bisa naik perahu itu. Itu untuk orang dewasa dan berbahaya untuk anak kecil sepertimu," bujuk wanita itu sambil berjongkok.
"Huuu... Ibu, Bela mau naik itu!" Gadis kecil itu terus menangis, mengabaikan bujukan ibunya.
Wanita paruh baya itu tampak sedih. Ia bukannya tidak ingin menuruti anaknya, tetapi ia tidak bersama suaminya dan ia sendiri tidak berani mengendarai perahu. Ia memiliki ketakutan tersendiri terhadap kendaraan air.
"Bela! Kamu mau ke mana, Nak!"
Gadis kecil itu tiba-tiba berlari menuju tepian danau, tepatnya dermaga kecil tempat perahu-perahu ditempatkan,
Rayan, yang baru saja menerima kopinya, memperhatikan gadis kecil itu dengan ekspresi yang sedikit berubah.
'Sungguh malang. Gadis sekecil itu sudah menanggung beban hidup yang begitu berat,' pikir rayan, menyadari bahwa gadis kecil itu sedang mengidap penyakit leukemia parah.
"Huuu, Ibu, Bela mau naik perahu itu, Bela mau naik perahu itu!" Gadis kecil itu terus merengek. Apalagi, ia melihat beberapa anak seusianya sedang asyik naik perahu bersama sepasang suami istri yang terlihat antusias.
"Bela, anak Ibu yang paling cantik. Bagaimana kalau nanti Ayah sudah pulang, kita kembali ke sini? Bela bisa jajan dan naik perahu sepuasnya," bujuk wanita itu lagi, tetapi air mata si gadis kecil tak juga berhenti.
"Bibi, kenapa tidak dituruti saja? Lagipula perahu itu tidak berbahaya dan mudah dikendarai," sela Maudy dan Hana yang kebetulan sudah berada di dermaga. Mereka merasa kasihan melihat tangisan si gadis kecil.
Wanita paruh baya itu menoleh ke arah Maudy dan Hana. "Sebenarnya Bibi juga ingin menuruti... hanya saja..." Ia merasa malu mengakui bahwa ia memiliki fobia terhadap perahu atau kendaraan air lainnya.
Melihat raut sedih wanita itu, Hana menawarkan solusi, "Begini saja, kalau Bibi percaya pada kami. Kebetulan kami juga mau naik. Bagaimana kalau dia ikut bersama kami?"
"Bibi tidak perlu khawatir, kami hanya ingin membantu dan merasa kasihan pada anak Bibi," tambah Hana, melihat keraguan di wajah wanita itu.
"Huuu... Ibu. Ayo! Kita naik perahu itu!" Gadis kecil itu terus membujuk ibunya dengan wajah memohon.
Wanita paruh baya itu menghela napas berat, lalu berkata pada Hana, "Baiklah. Kalau Bibi boleh tahu, siapa nama kalian?"
"Nama saya Hana, dan ini teman saya," jawab Hana.
"Saya Maudy," timpal Maudy.
"Saya Linjia. Kalian bisa memanggil Bibi Lin," ujar wanita paruh baya itu.
Maudy dan Hana saling berpandangan. "Nama Bibi seperti orang Tiongkok. Apakah Bibi punya keturunan dari sana?" tanya Maudy, karena wajah wanita itu memang tampak seperti keturunan Tionghoa.
"Bibi memang berasal dari Tiongkok. Tapi karena suami Bibi orang sini, Bibi memutuskan untuk ikut suami dan tinggal di kota ini," jawab Bibi Lin.
Hana dan Maudy mengangguk, lalu beralih pada gadis kecil itu. "Apakah kamu mau naik perahu kecil itu?"
Gadis kecil itu mendongakkan pandangannya, menatap wajah Hana dengan mata berair, lalu mengangguk tanpa menjawab.
"Apakah kamu mau ikut Kakak? Kebetulan Kakak juga mau naik perahu kecil," kata Hana lagi. Si gadis kembali mengangguk.
"Nama Kakak Hana, dan ini teman Kakak namanya Maudy. Kamu bisa memanggil nama kami berdua kalau mau ikut," ujar Hana, mencoba mendekati. Namun, gadis itu tampak tidak terbiasa dengan orang baru.
"Dia memang agak sulit dekat dengan orang baru, tapi akan cepat akrab jika dia sudah merasa nyaman," jelas Bibi Lin.
Hana berjongkok di hadapan gadis itu. "Siapa namamu?" tanyanya lembut.
Gadis kecil itu tampak ragu. Setelah melirik ke arah ibunya yang mengangguk, ia akhirnya berkata dengan suara mungilnya, "Bela."
"Nama yang cantik, sama seperti orangnya!" Maudy ikut mendekat. "Apakah Bela mau naik perahu kecil itu bersama Kakak?"
Gadis kecil itu kembali melirik ibunya. Linjia tersenyum hangat sambil mengusap sisa air mata pada wajah Bela. "Ibu akan membelikan manisan beruang untuk Bela. Nanti setelah naik perahu, Bela bisa langsung memakan manisan itu."
Seketika, wajah Bela langsung berbinar. Tanpa ragu, ia mengangguk dan berkata, "Bela mau manisan beruang!"
"Ya, ya, Ibu akan membelikannya untuk Bela. Sekarang ikutlah dengan Kakak-Kakak cantik ini kalau Bela ingin naik perahu kecil," kata Linjia.
Maudy dan Hana segera membawa gadis itu. Mereka menyewa sepeda air berbentuk angsa putih. Hana menjadi pengemudi, sementara Maudy memangku Bela yang mungil.
ditunggu kelanjutannya thor💪
ditunggu kelanjutannya thor
SEKIAN DAN TERIMA KASIH
Disini juga di sebut nama MCnya Rayan tapi di sinopsis di sebut Adi agak membingungkan thor apakah ada kesalahan di penamaan karakternya?
Itu saja kritik yang mau aku sampaikan kepadamu thor, Terima kasih