NovelToon NovelToon
WAKTU YANG SALAH

WAKTU YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Murni
Popularitas:619
Nilai: 5
Nama Author: starygf

cerita ini tentang dua remaja di bangku kuliah yang saling mengenal, saling memberi masukan, saling berbagi tawa dan canda, tapi semuanya hanya sebatas teman entah apa tapi semua orang disana tau apa yang mereka saling beri bukan berada pada batasan teman tapi “dua orang yang saling menaruh harapan”. kisah tentang seorang pria perantau dan gadis tuan rumah dengan bahasa, watak, kebiasaan yang berbeda tapi bisa saling terikat karena ketidak sengajaan mungkin bisa di sebut cinta di waktu yang tidak tepat kisah mereka tak salah yang salah dari semua ini hanya satu yaitu waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon starygf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 31

Keesokan harinya di kampus, Aura terlihat lebih diam dari biasanya.

Harry menyadarinya.

“Kamu kurang tidur?” tanyanya saat mereka duduk di kelas.

Aura menggeleng kecil. “Biasa aja.”

Harry tidak percaya, tapi tidak memaksa.

Sepulang kelas, Aura sendiri yang mengajak ke taman.

Ia duduk, langsung mengeluarkan rokok seperti refleks. Tangannya sedikit lebih gemetar dari biasanya saat menyalakan api.

Harry memperhatikan.

“Alden nggak ada kabar lagi?” tanyanya pelan.

Aura terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Sibuk.”

“Sampai nggak sempat ngabarin?”

Aura mengembuskan asap perlahan. “Katanya lagi banyak kerjaan.”

Harry menatap lurus ke depan. “Kamu percaya?”

“Aku mau percaya.”

Kalimat itu terdengar lebih seperti pembelaan daripada keyakinan.

Hening beberapa saat.

“Kamu tahu yang bikin capek?” ucap Aura tiba-tiba.

“Apa?”

“Bukan karena dia sibuk. Tapi karena aku mulai terbiasa nggak ada dia.”

Harry menoleh pelan.

Aura tertawa kecil, pahit. “Harusnya aku kangen. Tapi yang aku rasain cuma kosong.”

Angin sore membawa sisa asap menjauh.

Harry tidak langsung menjawab. Ia tahu ini wilayah yang berbahaya.

“Ra,” suaranya rendah, hati-hati, “kadang orang nggak pergi. Tapi tetap bisa terasa jauh.”

Air mata Aura jatuh lagi tanpa banyak suara.

“Aku nggak mau jadi cewek yang ninggalin cuma karena lagi sepi,” bisiknya.

Harry menatapnya lama. Ada keinginan untuk memeluk. Untuk menghapus jarak. Tapi ia menahan diri.

“Aku nggak mau jadi pengganti,” ucap Harry pelan.

Aura menatapnya.

“Aku mau kamu milih aku kalau emang kamu mau. Bukan karena dia nggak ada.”

Kalimat itu terasa seperti tamparan lembut.

Di tempat lain, Alden duduk di ruang kerjanya yang hampir kosong. Berkas menumpuk di meja. Ponselnya tergeletak tanpa disentuh selama berjam-jam.

Ia memang sibuk.

Benar-benar sibuk.

Tapi di sela-sela kesibukan itu, ada momen singkat ketika ia membuka chat Aura… lalu menutupnya lagi karena rapat berikutnya sudah menunggu.

Ia percaya.

Ia percaya Aura akan tetap di sana.

Tanpa sadar, jarak itu kini bukan lagi karena kehadiran orang ketiga.

Tapi karena waktu.

Dan waktu… kadang lebih kejam dari siapa pun.

Di bangku taman, Aura menatap langit yang mulai gelap.

“Aku capek nunggu,” ucapnya lirih.

Dan kali ini, Harry tidak berkata apa-apa.

Karena untuk pertama kalinya—

Ia tidak merasa seperti orang yang berdiri di tengah.

Ia merasa seperti orang yang perlahan… dipilih.

Sejak pagi, Aura merasa lelah. Tubuhnya terasa panas, kepala berat, dan napas sesak setiap kali ia mencoba melakukan sesuatu yang biasa. Ibunya segera menyadari ada yang salah begitu melihat Aura menunduk di meja makan, wajah pucat, tangan gemetar.

“Ibu… aku nggak apa-apa,” gumam Aura, berusaha tersenyum. Tapi suaranya tipis, nyaris tak terdengar. Ibunya tidak percaya dan langsung menekan tombol rumah sakit terdekat. Beberapa menit kemudian, Aura sudah berada di ruang UGD, terbaring di atas ranjang putih, infus menetes pelan di tangan. Denyut jantungnya terasa cepat, tapi tubuhnya lemah.

Sementara itu, Harry sedang menyelesaikan beberapa catatan di kosannya. Ponsel berdering, tapi saat melihat nama Aura muncul di layar, ia langsung melesat keluar dari kosan tanpa pikir panjang. Ia naik motor sendiri, mengendarainya dalam hujan tipis yang membuat udara malam semakin dingin. Jantungnya berdebar setiap kilometer. Ia tahu sesuatu tidak beres, tapi ia hanya bisa berharap semoga Aura baik-baik saja.

1
only siskaa
wahhh baruu nii
jngn lupa mmpir ke karya ku juga minn🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!