NovelToon NovelToon
Cinta Ini Belum Usai

Cinta Ini Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Saudara palsu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Baby.Scorpio

Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.

Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.22 Ziarah

Bandara Internasional Vienna menyambut mereka dengan hembusan angin musim dingin yang mulai melunak, namun tetap sanggup menusuk hingga ke sumsum tulang.

Sekar melangkah keluar dari terminal kedatangan, jemarinya menggenggam erat tangan Arini—sebuah pegangan yang posesif, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, takdir akan kembali mencuri apa yang tersisa dari hidupnya.

Di samping mereka, Alvin berjalan dengan langkah tegap, membawa koper-koper mereka dengan ekspresi wajah yang datar namun waspada.

Bagi Arini, ini adalah perjalanan pertamanya melintasi samudera—sebuah petualangan ajaib yang tiba-tiba ditawarkan oleh "Dokter Maria" yang kini mulai ia panggil "Ibu" dengan nada yang masih sedikit canggung namun penuh harapan.

Tetapi bagi Sekar, setiap jengkal tanah Eropa ini masih berbau kenangan pahit yang belum sepenuhnya menguap. Setiap embusan napas di sini mengingatkannya pada aroma antiseptik, bau besi dari laboratorium, dan dinginnya lantai sel penjara Berlin.

"Ibu, kenapa kita ke sini?" tanya Arini, menatap tumpukan salju di pinggir jalan dengan mata berbinar. "Tempatnya persis seperti yang sering saya gambar di panti. Dingin, putih, tapi... rasanya seperti saya pernah ke sini. Seperti saya sedang pulang."

Sekar mengeratkan pegangannya, merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Mirror imaging. Fenomena psikis anak kembar yang sering ia baca di jurnal medis kini terpampang nyata di depan matanya.

Arini tidak hanya berbagi DNA dengan Lukas; ia berbagi memori traumatis yang tak terucapkan. "Kita akan menemui seseorang, Arini. Seseorang yang sangat merindukanmu, meskipun dia tidak bisa mengatakannya."

Mereka menyewa sebuah mobil SUV tua untuk menempuh perjalanan tiga jam menuju sebuah desa kecil di pegunungan Alpen, Austria.

Di sepanjang jalan, pemandangan berubah dari arsitektur kota yang megah menjadi hamparan pinus yang diselimuti salju tebal. Perjalanan itu sunyi, hanya diiringi deru mesin dan gesekan ban pada aspal yang licin.

Alvin fokus pada kemudi, namun matanya terus melirik kaca spion setiap beberapa detik. Ada ketegangan yang tidak bisa ia sembunyikan di balik pundaknya yang kaku.

Sejak kebebasan Sekar, Alvin tahu bahwa sisa-sisa pengikut Von Hess masih bergerak di bawah tanah. Mereka adalah sekte farmasi yang terobsesi pada "keberhasilan" serum biru, dan Arini—sebagai kembaran identik Lukas yang bertahan hidup tanpa intervensi kimia—adalah cawan suci yang mereka cari.

"Kau melihatnya juga?" tanya Sekar lirih, hampir berbisik agar Arini tidak mendengar.

Alvin hanya mengangguk tipis. "Sebuah Range Rover hitam mengikuti kita sejak keluar dari batas kota Vienna. Mereka menjaga jarak, tapi mereka tahu persis ke mana kita pergi."

Sekar memejamkan mata, mencoba menahan gelombang panik. Ia tidak menyangka bahwa ziarah ini akan berubah menjadi perburuan.

Ia menoleh ke kursi belakang, melihat Arini yang sedang asyik menggambar di buku sketsanya, nampak begitu tenang di tengah badai yang mulai mengintai.

Matahari mulai tergelincir di balik puncak Alpen yang bersalju, mewarnai langit dengan rona ungu dan jingga yang menyakitkan, saat mereka sampai di pemakaman tua di belakang gereja kayu desa tersebut. Sekar membawa seikat bunga krisan putih yang ia beli di toko bunga kecil tadi pagi.

Arini berjalan di sampingnya, tiba-tiba langkah anak itu melambat saat mereka memasuki gerbang pemakaman. Arini berhenti tepat di depan sebuah gundukan tanah dengan salib kayu yang mulai melapuk dan tertutup lumut kering.

Arini terdiam. Buku gambarnya yang selalu ia bawa terjatuh ke atas salju yang membeku.

"Dia di sini, ya Bu?" bisik Arini. Suaranya bergetar, bukan karena dingin, tapi karena resonansi jiwa yang sangat kuat. Ia tidak butuh diberitahu di mana makam itu berada; kakinya sendiri yang membawanya ke sana.

Sekar berlutut di samping makam, menarik Arini ke dalam pelukannya. "Namanya Lukas. Dia kakak kembaranmu. Dia yang selalu menemanimu dalam mimpi-mimpimu di panti, Arini. Dia yang memanggilmu ke sini agar kalian tidak lagi terpisah oleh rahasia."

Arini menyentuh salib kayu itu dengan jemarinya yang mungil. Air mata mulai mengalir di pipinya yang kemerahan, membeku sesaat setelah menyentuh tanah. "Lu... jadi namamu Lukas. Maaf aku baru datang. Maaf aku membiarkanmu kedinginan sendirian di sini selama sepuluh tahun."

Sekar terisak. Inilah pemandangan yang seharusnya terjadi sepuluh tahun lalu dalam sebuah taman bermain yang hangat, bukan di sebuah pemakaman sunyi di negeri asing.

Ia melihat Arini mengeluarkan selembar kertas dari sakunya—gambar Lukas yang sedang memegang bola sepak yang ia buat di panti—dan menyelipkannya di bawah nisan, menindihnya dengan sebuah batu agar tidak terbang tertiup angin.

"Sekarang kamu punya gambarmu sendiri, Lukas. Kamu tidak akan kesepian lagi. Ibu dan aku sudah di sini," kata Arini pelan.

Alvin berdiri agak jauh, membelakangi mereka untuk memberikan ruang privasi, namun matanya terus memindai sekeliling seperti radar yang tak pernah mati.

Ia melihat Range Rover hitam tadi parkir di kaki bukit, sekitar dua ratus meter dari posisi mereka. Seorang pria dengan teropong nampak memperhatikan mereka dari balik kaca film yang gelap.

Alvin segera menghampiri Sekar dan Arini. "Waktu kita habis. Kita harus pergi. Sekarang."

Sekar mendongak, melihat ketegangan yang memuncak di wajah Alvin. "Ada apa? Biarkan kami bernapas sebentar, Alvin."

"Mereka sudah tahu kita di sini, Sekar! Von Hess tidak akan membiarkan Arini lepas begitu saja. Bagi mereka, Arini bukan sekadar anak; dia adalah data genetik yang tak ternilai untuk menyempurnakan penelitian yang gagal pada Lukas," desis Alvin sambil menarik lengan Sekar.

Sekar merasakan kemarahan yang luar biasa bangkit kembali dari dasar jiwanya. "Mereka sudah membunuh putraku! Mereka sudah merampas sepuluh tahun hidupku! Apa mereka belum puas?"

"Orang-orang seperti mereka tidak pernah tahu kata puas, Sekar. Mereka tidak melihat manusia, mereka melihat spesimen," Alvin menarik tangan Arini dengan tegas namun lembut. "Ayo, masuk ke mobil. Kita harus menuju perbatasan Swiss, aku punya jalur pelarian di sana melalui koneksi lama ayahku."

Di dalam mobil yang melaju kencang meninggalkan desa, suasana menjadi sangat mencekam. Arini nampak ketakutan, ia memeluk buku gambarnya erat-erat sambil menatap wajah ibunya yang pucat.

"Alvin, apa yang sebenarnya mereka inginkan?" tanya Sekar dengan nada menuduh yang tajam. "Apa ini rencanamu juga? Apa kamu membawaku ke sini agar mereka bisa menemukan Arini dengan mudah? Apa ini bagian dari kesepakatanmu dengan keluarga Pratama?"

Alvin tertawa pahit, sebuah tawa yang terdengar sangat melukai hatinya sendiri. Tangannya mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih, urat-urat di lengannya menonjol saat ia bermanuver di tikungan tajam pegunungan.

"Sekar, jika aku ingin menyerahkannya, aku tidak perlu menunggu kamu keluar dari penjara! Aku bisa saja menjual Arini tiga tahun lalu saat dia masih di panti, mendapatkan jutaan Euro, dan hidup mewah tanpa perlu dikejar-kejar seperti ini! Tapi lihat aku sekarang? Aku mempertaruhkan nyawaku, mengkhianati keluargaku sendiri, hanya untuk melindungi anak dari wanita yang bahkan tidak sudi menganggapku sebagai manusia!"

Sekar terdiam seribu bahasa. Ia melihat luka yang nyata dan kejujuran yang brutal di mata Alvin.

Pria itu tidak sedang berakting. Alvin telah bertransformasi dari seorang pengatur siasat yang licik menjadi seorang pelindung yang rela binasa demi sebuah penebusan dosa yang mungkin tak akan pernah diterima Sekar.

"Maafkan aku," bisik Sekar pelan, hampir tak terdengar di antara deru mesin.

"Simpan maafmu untuk nanti jika kita selamat, Dokter," sahut Alvin sambil menginjak pedal gas lebih dalam saat melihat mobil hitam tadi mulai melakukan manuver agresif di belakang mereka. "Sekarang, peluk Arini erat-erat. Kita akan masuk ke zona berbahaya."

Tiba-tiba, suara tembakan yang diredam terdengar.

Phut! Phut!

Salah satu ban belakang mereka tertembak. Mobil oleng hebat, bagian belakangnya terlempar ke samping di atas aspal yang tertutup lapisan es tipis (black ice).

Alvin berusaha keras mengendalikan kemudi, namun fisika tidak berpihak pada mereka. Mobil SUV itu tergelincir, menghantam pagar pembatas jalan dengan dentuman logam yang memekakkan telinga, dan akhirnya berhenti tepat di bibir jurang curam yang menghadap ke lembah gelap di bawahnya.

Asap putih mulai mengepul dari kap mesin yang hancur. Sekar merasa kepalanya pening, pandangannya berkunang-kunang, namun insting ibunya mengalahkan segalanya. Ia segera memeriksa Arini yang ada di pelukannya.

"Arini! Sayang, lihat Ibu! Kamu tidak apa-apa?"

Arini mengangguk lemah, meski ada aliran darah segar yang mengalir dari dahinya yang terbentur jendela.

Alvin menendang pintunya yang terjepit. "Keluar! Lewat pintu kanan! Jangan menoleh ke belakang!"

Saat mereka berhasil merangkak keluar dari bangkai mobil, Range Rover hitam tadi berhenti hanya beberapa meter di depan mereka. Tiga orang pria berpakaian serba hitam, dengan masker taktis menutupi wajah mereka, keluar dengan senjata laras pendek yang diarahkan tepat ke jantung Sekar.

Salah satu dari mereka membawa sebuah koper perak yang sangat akrab di mata Sekar. Sebuah koper berlogo Von Hess yang berisi serum eksperimental.

"Berikan anak itu, Dokter Sekar," kata salah satu pria dengan suara dingin yang tanpa emosi. "Keluarga Von Hess hanya ingin menyempurnakan apa yang sudah dimulai. Lukas adalah kegagalan yang berharga, tapi Arini... Arini adalah kesempurnaan yang kami butuhkan."

Sekar berdiri dengan kaki gemetar, namun ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, menutupi tubuh Arini yang meringkuk di belakangnya.

Di belakang mereka adalah jurang maut yang tak berujung, dan di depan mereka adalah iblis-iblis yang pernah mencuri separuh nyawanya sepuluh tahun lalu.

Dendam Sekar yang tadinya ia kira sudah padam di penjara Berlin, kini berkobar kembali dengan api yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Ia menatap para pria itu dengan tatapan seorang algojo.

"Kalian sudah mengambil Lukas dariku," desis Sekar, suaranya rendah dan mematikan. "Dan hari ini, aku bersumpah, jika kalian ingin menyentuh Arini, kalian harus menyeretku ke neraka bersama kalian."

Alvin perlahan merogoh saku jaketnya, menggenggam sesuatu yang nampak seperti pemicu.

Ia menatap Sekar sejenak, sebuah tatapan yang menyiratkan bahwa ini mungkin adalah akhir dari segalanya, namun juga sebuah janji perlindungan terakhir.

Dunia seolah membeku di puncak Alpen itu, menantikan darah siapa yang akan pertama kali membasahi salju yang murni.

1
lee dave
update....!
Wayan Sucani
Lanjut dong...
EmakKece
Sepertinya menarik 👏
Wayan Sucani
Asli tegang bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!