Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.
Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.
Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: SUPERNOVA PALSU
Bintang Rigel menuruni anak tangga besi spiral itu dengan napas memburu. Di telapak tangan kanannya, sebuah jepit rambut perak sederhana terasa dingin, kontras dengan udara Surabaya malam itu yang masih menyisakan gerah sisa hiruk-pikuk Cakrawala Fest. Di tangan kirinya, ia menggenggam erat surat berwarna biru dongker—surat ke-23 yang ia bawa sebagai tanda pengenal untuk Cassiopeia.
"Tunggu!"
Langkah Bintang terhenti di koridor lantai tiga yang sepi. Suara *bass* musik dari panggung utama di lapangan bawah masih terdengar berdentum-dentum, menciptakan getaran halus di kaca jendela kelas, tapi di lorong ini, ketegangan terasa lebih pekat daripada bass lagu *Sheila on 7* yang sedang dinyanyikan band tamu.
Bintang berbalik. Bukan sosok misterius pemilik jepit rambut yang ia harapkan, melainkan Vanya Clarissa. Gadis itu tampak ngos-ngosan, namun tata riasnya masih sempurna, dan gaun *midnight blue*-nya berkilauan tertimpa lampu neon koridor yang remang.
"Mau lari ke mana lagi sih, Bin?" Vanya mengatur napas, melangkah mendekat. Suara hak tinggi sepatunya—*clack, clack, clack*—terdengar seperti hitungan mundur bom waktu.
"Minggir, Van. Gue lagi cari seseorang," ucap Bintang dingin. Ia hendak berbalik, nalurinya mengatakan pemilik jepit rambut itu pasti belum jauh. Seseorang yang tadi berdiri di balik pintu. Seseorang yang nyata.
Sementara itu, di balik pilar besar dekat mading sekolah yang hanya berjarak lima meter dari mereka, Keyla Aluna membekap mulutnya sendiri. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya sakit. Ia baru saja hendak melangkah keluar dari persembunyiannya—hendak memberanikan diri meminta kembali jepit rambutnya dan mungkin, *mungkin*, mengakui segalanya—ketika Vanya muncul memotong jalannya seperti meteor yang menghancurkan orbit planet.
Keyla mematung di dalam bayangan. Kakinya lemas. Ia melihat Vanya, sang Ratu Sekolah, berdiri di hadapan Bintang. Mereka terlihat seperti pasangan yang keluar dari majalah remaja; *The King and Queen of Cakrawala*. Sedangkan Keyla? Hanya debu kosmik yang tak sengaja lewat.
"Lo cari siapa? Cewek yang lari ketakutan tadi?" Vanya tertawa kecil, suara yang terdengar meremehkan namun penuh percaya diri. "Itu cuma salah satu *fans* fanatik lo yang nyasar, Bin. Anak kelas sepuluh yang nggak tahu aturan."
"Dia ada di rooftop sebelum lo," Bintang menyipitkan mata, tatapannya tajam menembus Vanya. "Dan dia nggak bohong soal lokasi *sticky note* itu. Lo gagal jawab pertanyaan gue tadi, Van. Lo bukan Cassiopeia."
Bintang berbalik, siap meninggalkan Vanya. Keyla, di balik pilar, merasakan secercah harapan. Bintang tidak percaya! Bintang tahu!
Namun, Vanya Clarissa tidak menjadi ketua *cheerleader* dan siswi paling populer di SMA Cakrawala Terpadu dengan cara menyerah begitu saja. Otaknya bekerja secepat kilat. Matanya menangkap objek persegi panjang berwarna biru gelap di tangan kiri Bintang. Surat itu. Kertas biru dongker.
Informasi berputar di kepalanya: *Dress code* biru malam. Surat biru. Reaksi Bintang yang emosional.
"Berhenti, Rigel!" seru Vanya, kali ini suaranya bergetar, terdengar terluka. Akting kelas Piala Oscar.
Bintang berhenti, bahunya menegang.
Vanya melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfum mahalnya—campuran *vanilla* dan *jasmine*—menguar mendominasi udara, menutupi bau keringat dan debu festival. Dengan berani, jari telunjuk Vanya yang lentik menyentuh punggung tangan Bintang yang memegang surat itu.
"Lo pikir kenapa gue pakai gaun warna ini?" bisik Vanya, suaranya melembut, penuh manipulasi.
Bintang menunduk, melihat kontras antara kertas *navy blue* di tangannya dan kain gaun Vanya. Warnanya identik. Sama persis.
"Gue bohong soal lokasi *sticky note* itu karena gue takut, Bin," lanjut Vanya, menatap lurus ke dalam mata Bintang. "Gue takut kalau gue ngaku naruh di bawah pot tanaman dekat BK, atau di sela-sela buku perpustakaan, lo bakal ilfeel. Gue mau terlihat keren di depan lo. Gue mau pertemuan kita sempurna, bukan kayak kucing-kucingan yang selama ini kita lakuin."
Keyla merasa darahnya surut dari wajah. *Itu alasan yang masuk akal*, batinnya ngeri. Vanya menggunakan logika untuk memutarbalikkan fakta.
Bintang terdiam. Keraguan mulai merayap di wajahnya yang tampan. "Tapi... gaya bahasa lo..."
"Lo pegang buktinya," potong Vanya cepat, menunjuk surat di tangan Bintang. "Kertas biru itu. Itu kertas *Concorde* 220 gram, kan? Sama kayak yang selalu gue pake buat nulis soal galaksi, soal nebula, soal mimpi lo jadi arsitek yang ditentang bokap lo."
Bintang tersentak. Matanya membulat. Bagaimana Vanya bisa tahu soal arsitek dan ayahnya secara spesifik jika dia bukan penulisnya? Hanya Cassiopeia yang tahu betapa hancurnya Bintang saat dipaksa masuk Kedokteran. Hanya Cassiopeia yang tahu soal 'beban fondasi' yang ia rasakan.
Bintang tidak tahu bahwa Vanya telah mencuri surat balasannya dari meja kelas XI IPA 1 minggu lalu. Bintang tidak tahu bahwa Vanya adalah predator yang sabar.
"Lo... lo tahu soal arsitek?" suara Bintang melemah, pertahanannya runtuh perlahan.
Vanya tersenyum tipis, senyum kemenangan yang disamarkan sebagai senyum tulus. Ia meraih tangan Bintang, menggenggamnya. "Gue tahu semuanya, Bin. Gue yang dengerin keluhan lo lewat kertas-kertas itu. Gue yang bilang kalau lo harus sekuat gravitasi buat nahan tekanan fusi dari bokap lo. Gue Cassiopeia."
Di balik pilar, Keyla merosot. Punggungnya menabrak dinding dingin mading sekolah. Rasanya seperti ada lubang hitam yang baru saja terbentuk di dadanya, menghisap seluruh cahaya, seluruh harapan, seluruh kebahagiaan yang pernah ia rasakan setiap kali memegang pena biru.
Kalimat itu... *sekuat gravitasi menahan tekanan fusi*. Itu adalah kalimat Keyla. Itu adalah jiwanya yang ia tuangkan dalam surat ke-22. Mendengar kalimat itu keluar dari mulut Vanya—gadis yang pernah menertawakan Keyla saat ia membaca buku astronomi di kantin—terasa seperti penistaan.
Air mata Keyla jatuh tanpa permisi. Satu tetes, lalu menderas seperti hujan meteor.
Ia melihat Bintang menatap Vanya dengan pandangan baru. Pandangan yang selama ini Keyla impikan. Bintang terlihat bingung, tapi juga lega. Seolah-olah pencariannya telah berakhir. Kapten basket itu perlahan membuka genggaman tangannya pada jepit rambut perak di saku kanannya, lalu membiarkannya tergelincir masuk ke dalam saku celana *jeans*-nya. Ia memilih percaya pada apa yang ada di depannya: Vanya yang cantik, Vanya yang 'sempurna', Vanya yang tahu rahasianya.
"Kalau lo emang Cassiopeia..." Bintang berbisik, "Kenapa baru sekarang?"
"Karena gue takut kehilangan lo kalau gue cuma jadi bayangan," jawab Vanya mantap. "Sekarang gue di sini, Bin. Di bawah cahaya."
Cukup. Keyla tidak sanggup lagi. Dadanya sesak, seolah oksigen di koridor itu telah habis dihisap oleh ego Vanya. Dengan tangan gemetar, ia membekap mulutnya agar isak tangisnya tidak terdengar, lalu berbalik.
Langkah kaki Keyla terseret menjauh. Ia berlari kecil, menunduk dalam-dalam, menghindari tatapan beberapa siswa yang mulai naik ke lantai atas. Ia harus pergi. Ia harus menghilang. Cassiopeia sudah mati. Malam ini, Vanya membunuhnya dan memakai kulitnya sebagai trofi.
Keyla berlari menuruni tangga belakang, melewati gudang olahraga, dan menerobos kerumunan siswa di parkiran motor. Dinda sudah menunggunya di sana, duduk di atas motor *Honda Beat* putihnya sambil mengunyah sosis bakar.
"Heh, Key! Lama amat! Ketemu nggak sama..." Dinda berhenti mengunyah saat melihat wajah sahabatnya. Wajah Keyla pucat pasi, matanya bengkak, dan riasan tipis yang tadi dipoleskan Dinda sudah luntur oleh air mata.
"Lho, heh, *lapo*?" Dinda langsung membuang tusuk sosisnya, melompat turun dari motor. Naluri protektifnya menyala. "Siapa yang bikin nangis? Si Bintang? Apa si Vanya lampir itu?"
Keyla menggeleng lemah, suaranya serak dan patah-patah. "Pulang, Din. *Please*... aku mau pulang."
"Cerita dulu! *Opo o*?" desak Dinda, tangannya mencengkeram bahu Keyla. "Kalau mereka macem-macem, tak labrak sekarang juga! Nggak peduli dia kapten basket atau ketua *cheerleader*!"
"Vanya..." Keyla terisak, bahunya berguncang hebat. "Vanya ngaku jadi Cassiopeia. Dan Bintang percaya, Din. Bintang percaya karena Vanya tahu isinya..."
Dinda ternganga. "*Jancuk*!" umpatnya keras, membuat beberapa siswa di parkiran menoleh. "Kok bisa tahu? Wah, maling tuh anak! Fix maling!"
"Udah, Din. Percuma," Keyla naik ke boncengan motor dengan gerakan lemas, seolah gravitasinya dua kali lebih berat dari normal. Ia memeluk pinggang Dinda, menyembunyikan wajahnya di punggung sahabatnya itu. "Aku cuma bintang redup, Din. Nggak akan kelihatan kalau ada matahari."
Dinda menggeram marah, tangannya mengepal di stang motor. Ia ingin naik ke atas, menjambak rambut *extension* Vanya, dan meneriaki Bintang karena kebodohannya. Tapi merasakan tubuh Keyla yang gemetar di punggungnya, Dinda tahu prioritasnya sekarang adalah menyelamatkan sisa hati sahabatnya yang sudah hancur lebur.
"Awas aja lo berdua," desis Dinda pelan, menatap gedung sekolah yang gemerlap dengan tatapan mematikan. "Perang belum kelar, Cuk."
Dinda menyalakan mesin motor. Suara knalpot standar *Beat* itu terdengar cempreng di antara deru motor-motor *sport* milik anak-anak *Royals*. Perlahan, motor itu membelah keramaian parkiran SMA Cakrawala, membawa pergi sang penulis asli yang terbuang, meninggalkan sang plagiator yang sedang berpesta pora di atas kebohongan.
***
Kembali di koridor lantai tiga, suasana menjadi canggung. Bintang masih berdiri di hadapan Vanya. Ia mencoba mencerna semuanya. Vanya adalah Cassiopeia. Gadis yang selama ini ia hindari karena terlalu agresif, ternyata memiliki sisi lain yang begitu dalam dan puitis. Apakah itu mungkin? Apakah selama ini Bintang yang salah menilai?
"Jadi..." Bintang berdeham, mencoba menetralkan degup jantungnya. "Selama ini lo yang nulis soal Paradoks Olbers?"
Vanya mengangguk mantap, meski dalam hati ia mencatat istilah itu untuk di-Google nanti malam. "Iya. Kenapa? Nggak percaya cewek kayak gue suka astronomi?"
"Sedikit kaget aja," jujur Bintang. Ia menatap Vanya, mencoba mencari kilatan kehangatan yang biasa ia rasakan saat membaca surat-surat itu. Vanya cantik, sangat cantik. Tapi entah kenapa, ada bagian kecil di hati Bintang yang masih terasa kosong. Seperti ada *puzzle* yang dipaksa masuk padahal bentuknya tidak pas.
Lalu tangannya meraba saku celananya. Jepit rambut itu. Bintang mengeluarkannya lagi. Sebuah jepit rambut perak berbentuk bintang kecil.
"Kalau gitu, ini punya lo?" tanya Bintang, menyodorkan jepit rambut murah itu ke hadapan Vanya.
Vanya menatap benda itu dengan jijik yang disembunyikan secepat kilat. Itu barang pasar malam. Barang *The Commons*. Tidak mungkin Vanya Clarissa memakai aksesoris murahan seperti itu. Tapi jika ia menolak, sandiwaranya bisa terbongkar.
"Ah, iya!" Vanya berseru, mengambil jepit itu dari tangan Bintang dengan gerakan sedikit kasar. "Gue cariin dari tadi. Jatuh pas gue lari dari lo."
Vanya memasang jepit itu di rambutnya yang sudah di-*styling* sempurna. Benda itu terlihat sangat tidak cocok di antara kilauan rambut Vanya yang wangi salon mahal. Seperti sampah antariksa yang tersangkut di satelit canggih.
"Makasih ya, Bin," Vanya tersenyum manis, lalu melingkarkan tangannya di lengan Bintang. "Sekarang, karena rahasianya udah kebongkar... gimana kalau kita turun? Anak-anak nungguin *closing ceremony*. Dan gue nggak mau ketinggalan kembang api bareng lo."
Bintang menatap jepit rambut di kepala Vanya. Terasa asing. Tapi bukti-bukti ucapan Vanya soal isi surat tadi terlalu kuat untuk diabaikan. Logikanya mengatakan Vanya adalah Cassiopeia. Hatinya? Hatinya masih ragu, tapi Bintang terlalu lelah dengan kesepiannya sendiri. Mungkin, pikirnya, ia harus memberi Vanya kesempatan.
"Oke," kata Bintang pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Ayo turun."
Mereka berjalan bersisian menuruni tangga. Vanya tersenyum lebar, merasa seperti pemenang lotere. Ia telah mendapatkan segalanya: status, Bintang Rigel, dan kemenangan telak atas saingan tak terlihatnya.
Di parkiran yang kini mulai lengang, jejak ban motor Dinda sudah tak terlihat. Namun di langit Surabaya yang pekat oleh polusi cahaya, satu bintang redup di rasi Cassiopeia tampak berkedip lemah, seolah sedang berduka menyaksikan kebohongan yang baru saja terukir di bumi.