Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.
Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.
Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.
Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?
"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan di Balik Kabut
Sisa-sisa hujan Skytown masih meninggalkan jejak berupa kabut tipis yang menyelimuti jalanan menuju puncak bukit tempat kediaman utama keluarga Aeru berdiri. Setelah tim bantuan memperbaiki sistem kelistrikan, sedan mewah itu kembali meluncur membelah keheningan malam. Di dalam kabin, suasana tidak lagi panas oleh gairah seperti sebelumnya, melainkan digantikan oleh ketegangan yang sunyi dan canggung.
Seraphina masih mengenakan jaket hoodie abu-abu milik Dareen. Dia meringkuk di kursi belakang, menatap punggung tegap Dareen yang kini kembali kaku di balik kemudi. Topeng profesional pria itu telah terpasang sempurna, seolah ciuman brutal dan sentuhan panas di bawah guyuran hujan tadi hanyalah halusinasi di tengah badai.
"Dareen," panggil Sera pelan. Suaranya memecah kesunyian, terdengar lebih lembut dari biasanya.
"Ya, Nona?" jawab Dareen singkat. Matanya tertuju pada jalanan yang berkabut, tangannya mencengkeram kemudi dengan presisi yang membosankan.
Sera memajukan tubuhnya, menyandarkan dagu di atas lipatan tangannya yang bertumpu pada sandaran kursi depan. "Kenapa kau begitu terobsesi dengan kuliahmu? Maksudku ... kau adalah pengawal terbaik Seldin. Kau punya gaji besar, kau punya kekuasaan di bawah namanya. Tapi kau belajar seolah-olah hidupmu bergantung pada setumpuk kertas ujian itu."
Dareen terdiam cukup lama. Hanya suara ban yang bergesekan dengan aspal basah yang terdengar. Sera mengira pria itu akan kembali menutup diri dengan jawaban standar "tugas dan kewajiban", namun malam ini, kabut sepertinya telah melunakkan tembok pertahanan Dareen.
"Ibu saya dulu adalah seorang guru sekolah dasar di sebuah desa kecil di pinggiran Aeruland," suara Dareen terdengar parau, membawa nada nostalgia yang jarang ia tunjukkan. "Dia menghabiskan seluruh hidupnya untuk memastikan anak-anak miskin bisa membaca dan menulis. Baginya, pendidikan adalah satu-satunya senjata untuk melawan dunia yang tidak adil."
Dareen melirik spion tengah, menatap mata Sera sejenak. "Sebelum dia meninggal karena sakit yang tidak mampu kami obati, dia memegang tangan saya dan berkata bahwa dia tidak ingin melihat saya memegang senjata seumur hidup. Dia ingin melihat saya memakai toga. Dia ingin saya menjadi pria yang dihormati karena pikirannya, bukan ditakuti karena kekuatannya."
Dareen menarik napas panjang, genggamannya pada kemudi sedikit melonggar. "Ini adalah janji terakhir saya padanya, Nona. Seldin memberi saya jalan, dan saya akan melakukan apa pun—menjadi pengawal, menjadi algojo, atau menjadi mahasiswa paling rajin sekalipun—hanya agar saya bisa memenuhi janji itu. Karena setelah itu terpenuhi, saya merasa saya baru benar-benar menjadi manusia."
Seraphina tertegun. Dia menatap profil samping wajah Dareen yang diterangi lampu dasbor. Di balik aura dingin dan brutal yang selama ini ia tunjukkan, ternyata ada seorang anak laki-laki yang sedang berjuang demi kehormatan ibunya. Rasa bersalah kembali menyengat hati Sera. Dia teringat betapa sering ia meremehkan upaya belajar Dareen, bahkan menghancurkan makalahnya.
"Aku minta maaf, Dareen," bisik Sera tulus. "Tentang makalah itu ... dan tentang semua ejekanku."
Dareen tidak membalas permintaan maaf itu dengan kata-kata, namun dia tidak menarik diri saat Sera menyentuh bahunya dengan lembut. Di bawah selimut kabut, mereka berbagi satu momen kejujuran yang langka sebelum akhirnya gerbang besi raksasa kediaman Aeru terbuka secara otomatis.
Begitu mereka melangkah masuk ke aula utama, suasana hangat dari cerita Dareen langsung menguap. Seldin Aeru sudah berdiri di dekat tangga marmer, mengenakan jubah sutra hitam dengan segelas wiski di tangannya. Wajahnya terlihat sangat dingin, seolah ia baru saja membaca laporan kematian.
"Kalian terlambat satu jam," suara Seldin bergema di aula yang luas.
"Mobilnya mogok karena banjir, Tuan," lapor Dareen sambil membungkuk hormat.
Seldin tidak menatap Dareen. Pandangannya justru tertuju pada Seraphina yang masih memakai jaket hoodie abu-abu berlogo universitas—jaket yang jelas bukan milik adiknya. Seldin menyipitkan mata, namun ia menahan diri untuk tidak meledak.
"Sera, naiklah ke kamarmu. Aku perlu bicara dengan 'mahasiswa teladan' kita," ujar Seldin dengan nada sarkasme yang kental.
Sera ingin memprotes, namun tatapan tajam Seldin membuatnya membeku. Dia melirik Dareen dengan cemas sebelum akhirnya melangkah naik ke lantai atas.
Setelah bayangan Sera menghilang, Seldin melempar sebuah map plastik ke atas meja kopi di dekatnya. Isinya adalah salinan nilai ujian tengah semester yang baru saja keluar secara internal.
"Nilai hukum internasionalmu sempurna, Dareen. Bahkan lebih tinggi daripada Sera yang menghabiskan jutaan dolar untuk tutor pribadi sejak kecil," Seldin melangkah mendekati Dareen, mengitari pria itu seperti hiu yang mengincar mangsa. "Aku memberikanmu akses pendidikan untuk menjaganya, bukan untuk mempermalukannya."
Seldin berhenti tepat di depan Dareen, lalu menekan dadanya dengan ujung gelas wiski. "Jangan biarkan otak cerdasmu itu membuatmu merasa setara dengan adikku. Kau tetaplah pria yang kupungut dari jalanan. Kau memakai jas mahal, tapi di bawahnya, kau tetaplah debu."
Dareen tetap berdiri tegak, matanya menatap lurus ke depan tanpa berkedip. "Saya tidak pernah melupakan posisi saya, Tuan."
"Benarkah? Lalu kenapa kau meminjamkan jaketmu padanya? Kenapa bau parfumnya menempel di kemejamu?" Seldin berbisik tepat di telinga Dareen, suaranya mengandung ancaman kematian yang nyata.
Dareen tidak goyah. "Nona Seraphina kedinginan karena AC mobil mati saat hujan deras. Saya hanya memastikan dia tidak jatuh sakit dan menghambat jadwalnya."
Seldin tertawa kecil, suara tawa yang tidak menyenangkan. "Begitu ya. Sangat profesional."
Seldin kembali ke mejanya dan mengambil sebuah amplop cokelat kecil. Dia melemparkannya ke dada Dareen. "Karena kau begitu pintar dalam urusan hukum, sekarang gunakan kecerdasanmu untuk tugas yang lebih produktif. Julian dan ayahnya semakin mengganggu bisnis akuisisi lahan di pelabuhan."
Dareen membuka amplop itu. Isinya adalah detail lokasi loker kampus milik Julian dan beberapa paket kecil berisi serbuk putih.
"Jebak dia dalam skandal narkoba di lingkungan kampus. Pastikan polisi menangkapnya di depan media saat jam istirahat besok," perintah Seldin tanpa beban. "Aku ingin reputasi ayahnya hancur dalam semalam. Jika kau berhasil, aku akan membiarkanmu menyelesaikan semester ini. Jika gagal ... kau tahu di mana tempatmu seharusnya berada."
Tangan Dareen bergetar sedikit saat memegang paket haram itu. Ini adalah penghinaan terbesar bagi janji yang ia buat pada ibunya. Dia ingin menjadi mahasiswa yang jujur, namun dunianya menuntutnya untuk menjadi penjahat. Di sisi lain dinding ruang kerja itu, dia tahu Seraphina mungkin sedang mendengarkan atau setidaknya sedang menunggunya.
"Lakukan, Dareen. Jangan buat aku harus mengingatkanmu siapa pemilik nyawamu saat ini," tutup Seldin.
Dareen membungkuk dalam, menyembunyikan kilatan luka dan amarah di matanya. "Baik, Tuan. Akan saya laksanakan."
Saat Dareen keluar dari ruangan, dia berpapasan dengan Seraphina yang berdiri di balik pilar aula. Wajah gadis itu pucat. Dia mendengar semuanya—tentang peringatan Seldin dan tentang tugas kotor yang baru saja diberikan.
Dareen berhenti sejenak di depan Sera. Dia tidak memakai topeng robotnya kali ini. Wajahnya terlihat hancur, penuh beban yang tidak sanggup dia pikul sendirian. Dia menatap amplop cokelat di tangannya, lalu menatap Sera.
"Inilah harga dari sebuah toga di rumah ini, Nona," bisik Dareen pahit.
Sebelum Sera bisa berkata apa pun, Dareen sudah melangkah pergi menuju kamarnya di area paviliun pengawal. Seraphina berdiri mematung di aula yang dingin itu, menyadari bahwa cinta yang mulai tumbuh di antara mereka bukan hanya terlarang, tapi juga sedang dihancurkan oleh kekuasaan kakaknya yang tak kenal ampun. Dia harus melakukan sesuatu, atau dia akan kehilangan Dareen selamanya—baik sebagai pengawal, maupun sebagai pria yang baru saja memberikan pengakuan di balik kabut.