Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Ace, My Ace
Kemenangan mutlak dengan skor telak akhirnya berhasil diraih oleh Milford, mengungguli angka jauh di atas skor Eastwood High. Euforia disetiap tribun lapangan meledak dahsyat, memecah hening yang biasanya menyelimuti Milford Hall menjadi gemuruh yang memekakkan telinga pada saat peluit panjang ditiupkan dan kemenangan Milford di teriakan melalui pengeras suara.
Nama Damian, sang kapten yang mencetak skor terbanyak dengan permainan luwes yang membuat semua mata terpaku, berkumandang menggema disetiap penjuru lapangan.
Tubuhnya diangkat tinggi-tinggi oleh para anggota timnya, sebuah selebrasi yang ditunjukkan kepada langit—seolah-olah mereka sedang mempersembahkan sang pahlawan yang telah membawa nama Lacrosse Milford Hall meraih puncak kemenangan.
Dahsyatnya kemeriahan itu berlangsung selama lebih dari dua jam. Begitu pertandingan usai, para penonton yang masih sibuk bereuforia mulai meninggalkan tribun perlahan-lahan.
Langkah-langkah kaki para penonton yang mulai berhamburan turun menyisakan tribun yang kini sangat lowong, hanya ada sisa-sisa kehebohan pertandingan yang sungguh apik tadi dibeberapa titik tribun.
Fraya masih di sana, terpaku di salah satu deretan bangku penonton yang sekarang hanya diisi oleh dirinya seorang diri.
Asa dan Florence sudah berpamitan untuk pulang lebih dulu beberapa menit yang lalu. Sebelum benar-benar beranjak, Florence sempat melempar senyum jahil, mengedipkan matanya dengan genit—sebuah ledekan yang tidak butuh kata-kata namun sukses membuat Fraya salah tingkah.
Namun di detik yang sama, Asa langsung menarik lengan Florence untuk segera pergi, seolah tahu Fraya butuh waktu sendiri. Asa melambaikan tangan singkat, sementara tangannya yang lain sibuk menyeret Florence yang masih iseng melempar cengiran nakal ke arahnya.
Ingatannya memutar ulang momen beberapa menit lalu. Saat Damian turun dari panggung setelah piala diserahkan dan medali dikalungkan di lehernya, cowok itu tidak menuju ruang ganti. Ia justru berlari melintasi luasnya lapangan hijau hanya untuk menghampiri Fraya. Menciptakan gagap gempita dari seluruh mata yang menyaksikan sang pentolan sekolah berlari membelah lapangan demi seorang gadis di antara lautan manusia.
Fraya, yang sebisa mungkin mencoba tidak tenggelam dalam rasa malu karena lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian, hanya bisa tertegun saat menerima medali itu. Damian meletakkannya begitu saja di telapak tangan Fraya, membiarkan logam dingin itu bersentuhan dengan kulitnya yang hangat.
"I told you, I’m gonna winning this game for you," ujar Damian dengan napas memburu dan peluh yang membanjiri wajahnya. Sedetik kemudian, ia berbalik badan untuk turun kembali ke lapangan, meninggalkan Fraya di tengah keriuhan penonton yang takjub sekaligus terpana melihat interaksi mereka.
Kini, mata Fraya tidak lepas memandangi medali ditangannya. Fraya, antara sadar atau tidak, membiarkan senyumnya mengembang perlahan. Di bawah lampu sorot yang masih menyinari lapangan, ia mengangkat medali itu di depan wajahnya, memperhatikan pantulan cahaya di permukaannya. Seolah ia sedang meyakinkan diri sendiri bahwa tindakan Damian yang sungguh di luar dugaan itu bukan sekadar mimpi.
"It's shining, huh?"
Fraya tersentak kaget, nyaris menjatuhkan medali ditangannya.
Damian tengah berdiri sambil menopang kedua sikunya di atas pagar tribun bawah. Ia melempar kerlingan senyum yang membuat pertahanan Fraya goyah.
"Im sorry, why you giving me this, anyway? It's not me who played the game," ujar Fraya sambil berdiri dan mulai menuruni beberapa anak tangga untuk menghampiri Damian di pinggir pagar.
Damian ikut berjalan mendekat. Dan ketika Fraya hendak melompati undakan pagar di antara mereka, tangan Damian lebih dulu bergerak. Ia meraih pinggang Fraya dan membopong gadis itu dengan mudah melintasi pagar. Fraya memekik seketika karena kejutan fisik yang tiba-tiba.
Begitu kakinya memijak tanah lapangan, Fraya refleks memukul bahu Damian.
Namun tangan Damian lebih cepat bereaksi. Dengan sigap ia menahan pergelangan tangan Fraya, menguncinya di antara mereka untuk beberapa detik sambil mengerling jahil.
"Kamu tuh kenapa sih, hobi sekali bertindak intrusif seperti itu. Good thing there's no one here around," gerutu Fraya kesal. Namun kekesalan itu hanya bertahan sesaat, karena tawanya pecah saat Damian mencoba menggerakkan alisnya naik turun dengan cepat.
Damian Harding ini, selain berbakat bikin orang jantungan ternyata dia juga berbakat jadi pelawak.
"Wajah kamu lucu sekali kalau sedang cemberut begitu. Jangan sering-sering cemberut, ya. Karena dengan wajah se menggemaskan itu, aku harus siap-siap meninju setiap cowok yang jatuh hati sama wajah kamu."
Mata Fraya membelalak, benar-benar kaget dengan kejujuran Damian yang brutal. Jantungnya serasa mau copot seketika.
"Ih, Damian! Apaan, sih. Kamu kenapa jadi norak begini, sih. Ada yang salah ya dengan otak kamu!?"
Damian menggeleng samar, tatapannya mendadak intens.
"Nope. I just want to make myself clear that I don’t share anything that's mine."
Fraya sudah akan menginjak kaki Damian jika saja cowok itu tidak langsung menghindar dengan lari saat Fraya mulai mengejarnya di atas rumput lapangan.
Damian jadi terbahak-bahak melihat rona merah di kedua pipi Fraya. Dalam hatinya, Damian ingin sekali mendaratkan kedua tangannya tepat di pipi yang bersemu itu, merasakan kehangatan gadis di depannya dan menarik wajah itu untuk diciuminya habis-habisan.
Tapi tidak sekarang. Damian tahu, segala imajinasi intrusif di kepalanya tentang Fraya harus ia tahan mati-matian. Jika ia meloloskan satu saja keinginan itu sekarang, Fraya pasti tidak akan segan-segan untuk meninju hidungnya sampai patah.
Ia tidak mau mengambil risiko, karena saat ini hubungannya dengan Fraya sedang menuju titik terang yang membuatnya jadi memikirkan sebuah harapan.
Mereka berjalan pelan menjauhi sisi lapangan. Fraya menyodorkan piagam dan medali di tangannya ke arah Damian.
"Take this. Setidaknya aku sudah tahu bentuk medali kejuaraan Lacrosse di Inggris seperti apa."
Damian mendorong tangan di depannya dengan lembut. "It's for you, Ace. Aku sudah janji akan memenangkan pertandingan ini untuk kamu. Dan kemenangan ini tidak akan terjadi hari ini kalau kamu tidak tiba-tiba muncul seperti tadi, sambil bawa kertas itu. Kamu masih simpan kertasnya?"
Fraya mengangguk, menunjuk kertas yang tadi ia lipat dan ia masukkan ke saku rok pendeknya.
"Aku boleh minta kertas itu, tidak?" tanya Damian sambil mengulurkan tangan.
"Buat apa? Aku melipatnya asal-asalan, pasti sekarang sudah tidak beraturan," kata Fraya sambil merogoh saku roknya, mengeluarkan kertas yang ia tuliskan untuk menyemangati Damian. Ia serahkan kertas itu untuk Damian.
Damian membuka kertas itu lagi, dan sesaat, senyumnya yang tulus mengembang. Kedua manik matanya terangkat menatap Fraya yang masih tampak bingung.
Sambil melipat kertas itu kembali dan memindahkannya ke saku celana celananya sendiri, Damian berkata tanpa melepas pandangan, "Ini lucky charm-ku, Fraya. Kalau kamu tidak tulis ini, aku mungkin sudah kalah telak tadi."
Fraya yakin wajahnya sudah bersemu lebih merah lagi.
Dengan salah tingkah, ia berusaha mengendalikan perasaannya yang berdesir aneh dengan menunjuk medali di tangannya lagi.
"Lalu ini bagaimana? Kan bukan aku yang tadi bertanding sampai jatuh dan cedera begitu. Kenapa medalinya tidak kamu pajang saja di sekolah? Aku yakin pasti popularitas mu yang menjulang tinggi itu bakal lebih melesat naik kalau semua orang lihat prestasi kamu."
Damian tersenyum lagi, menggeleng pelan.
"Masing-masing anggota dapat satu medali yang bisa mereka bawa pulang, Ace. Dan sekali lagi, medali ini memang khusus ingin kuberikan untuk kamu. So you better take that. Or else, I’m gonna kiss you right now if you keep rejecting this medal."
Fraya melotot tajam saat Damian bilang begitu. Damian menikmati reaksi responsif wajah Fraya yang sekarang kehilangan kata-kata. Ia benar-benar tidak kuasa untuk tidak tertawa melihat Fraya tampak ingin sekali mencekik lehernya hidup-hidup.
Damian menarik salah satu tangan Fraya yang bebas, menggandengnya untuk mengikuti langkahnya tanpa suara.
Fraya sempat tersentak saat tangan Damian menggenggamnya dengan erat, namun kali ini tanpa protes ia ikuti langkah Damian di sampingnya. Jantung Fraya kembali berdegup tidak keruan.
Sambil meremas medali di sisi tubuhnya, ia menunduk, berdoa semoga degup jantungnya tidak sampai terdengar oleh Damian.
"Aku juga sudah janji kan, akan mengajarimu main Lacrosse? Supaya kalau nanti kamu aku ajak nonton pertandingan Lacrosse di tempat lain, kamu sudah tahu perhitungan kemenangannya seperti apa."
°°°°
"Jadi, hubungan mereka ini apa?"
Seorang pria dengan setelan kemeja hitam yang sangat rapi, necis, dan memancarkan aura tak tersentuh, berdiri di sisi jauh lapangan dengan mata di picingkan samar.
Ia seolah tengah berdiri dibawah bayang-bayang, memastikan kehadirannya tidak diketahui siapapun sejak pertandingan dimulai.
Mata pria itu meruncing seperti elang yang sedang memantau target. Dan target yang sedang memenuhi indra penglihatannya saat ini sedang tertawa, mengajari seorang gadis membawa bola kecil pada stik Lacrosse dengan susah payah di tengah hamparan lapangan yang mulai sepi.
Di sebelahnya, berdiri seorang pemuda dengan postur lebih tinggi dari pria dewasa disebelahnya. Masih mengenakan jersey lacrosse penuh peluh yang belum ia ganti sejak pertandingan resmi berakhir.
Axel Rosewood menjawab dengan suara rendah, "Masih sebatas teman, Uncle. Karena saat ini aku sedang menyuruh Damian melakukan satu misi kepada gadis itu. Yang Anda lihat sekarang ini, hanya akting Damian supaya gadis itu jatuh bertekuk lutut. Jadi kupastikan, yang ada di sana itu cuma topeng Damian yang sedang ia mainkan dengan baik."
Pria di samping Axel, Richard Harding—yang kehadirannya sama sekali tidak disadari Damian sama sekali—mengangguk samar. Matanya melirik sebentar ke arah keponakannya dengan kerutan di dahi yang mulai muncul, cukup penasaran.
"Memangnya apa yang sudah dilakukan gadis itu kepadamu sampai kamu harus menyuruh Damian untuk balas dendam?"
Sudut bibir Axel terangkat sejenak. Ia terkekeh getir.
"Yang dilakukannya begitu melukai harga diriku, sehingga dia nantinya akan pantas menerima pukulan telak dari tindakan Damian sendiri."
Richard Harding terdiam. Ia sama sekali belum mengerti tentang konflik anak muda di sampingnya ini, namun ia memilih mengurungkan niat untuk bertanya lebih jauh. Baginya, urusan sentimen remaja bukan prioritas.
Richard menepuk pundak Axel Rosewood. "Kamu bisa mengandalkan Nicholas untuk agenda apapun yang sedang kamu rencanakan ini, Axel. Tapi ingat, fokus kalian pada tugas perusahaan tidak boleh diikutsertakan dalam rencana kalian ini. Paman mau kamu dan Nicholas bisa siap secepat mungkin. Keadaan perusahaan bisa berubah kapan saja dan kami ingin kalian sudah punya bekal yang matang."
Axel mengangguk meyakinkan, "You can count on me with this one, Sir."
Richard Harding mengangguk, melempar sekilas pandang ke arah putranya yang saat ini tengah berlari mengejar dan menangkap tubuh gadis itu di seberang lapangan sana. Derai tawa bahagia Damian terdengar samar—suara yang sudah lama sekali rasanya tidak pernah lagi didengar oleh Ayahnya.
Hatinya sempat tertegun sesaat melihat binar di wajah putranya, namun rasa manusiawi itu menguap secepat ia datang, digantikan oleh keangkuhan dingin yang selalu melekat pada sosok Richard Harding.
°°°°
Damian menghentikan mobilnya tepat di depan halaman rumah Fraya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ini adalah pertama kalinya Fraya pulang malam tanpa diantar orang tuanya. Damian, yang kini sudah berganti pakaian dengan kaos putih polos, celana jeans, serta mantel abu-abu, tampak sangat kontras dengan Fraya yang masih berbalut seragam sekolahnya.
Fraya tidak langsung turun. Ia menoleh ke arah Damian yang sejak tadi tidak luput memandangi wajahnya dari balik kemudi.
"Can I ask you a question?"
Damian mengangguk tenang sambil tersenyum. "Always, Ace."
"Kenapa kamu memanggilku dengan sebutan 'Ace'? Makna 'Ace' yang kamu maksud ini apa? Kartu As, kah? Atau apa?"
Damian tidak langsung menjawab. Ia membiarkan hening sejenak menyelimuti kabin mobil yang kedap suara itu. Senyumnya belum luput dari bibir, membuat Fraya semakin merasa diawasi.
"Damian, answer the damn question!" ujar Fraya dengan nada memaksa yang dibuat-buat.
"Kamu tahu, di lapangan Lacrosse, untuk seseorang yang sering mencetak skor terbanyak pada saat pertandingan, mereka akan juluki dengan sebutan The Ace. Yang artinya, si pemegang kunci kemenangan. Nama yang disematkan dengan bangga oleh tim kepada seseorang yang membawa kemenangan mutlak. Bagiku, kamu itu 'The Ace' itu."
Tanpa sadar bibir Fraya terbuka, tapi tidak ada satupun kata-kata yang keluar dari mulutnya. Alih-alih, ia justru terhenyak begitu dalam di jok kursinya. Berusaha mencerna setiap kalimat Damian barusan yang mengejutkan Fraya.
"Kamu jangan coba-coba mau ngerayuku deh, Damian." gerutu Fraya kesal sambil menjulingkan mata.
Damian mendesah sambil menggelengkan kepala. "Aku sudah lelah merayu kamu, Fraya. Karena semua itu tidak pernah mempan untuk cewe se cuek kamu. Dan kalimatku tadi, sama sekali tidak mengandung unsur rayuan. Kamu boleh tanya tim ku apa arti The Ace dalam permainan Lacrosse."
Damian masih memandang Fraya, dengan suara yang merendah, ia melanjutkan,
"Sejak kamu ada di hidupku, aku seperti menang telak setiap hari untuk apapun rintangan yang ada di depan mataku. Bikin kamu marah, bikin kamu kesal, terutama ketika aku bisa bikin kamu tersenyum dan tertawa, semua itu membuatku hidup, Ace. Membuatku menang. Dan aku sadar, waktu kamu tidak ada, aku tidak bisa meraih kemenangan itu barang sedikit saja. Sampai tadi kamu muncul, kamu seperti jimat kemenangan untuk hidup aku yang kelam ini, Fraya. That's why I called you Ace. My Ace."
Sekarang Fraya benar-benar takut dengan degup jantungnya yang sudah berdenyut tidak keruan. Ia takut salah tingkahnya begitu kentara. Fraya tahu Damian bisa saja sedang mengerjainya sekarang, namun semenjak diskusinya dengan Florence di perpustakaan tadi, memandang Damian sekarang rasanya sudah jauh berbeda.
"Okay, it's getting late. I should probably head back home. Thank you for the lift!"
Dengan cepat ia bergegas membuka pintu Range Rover Damian, berniat melarikan diri dari atmosfer mobil yang mulai membuatnya sesak. Tapi tubuh Fraya langsung kembali terhempas ke jok kursi sampai kepalanya membentur langit-langit pintu mobil dengan cukup keras.
"Ace, you forgot to take off your seatbelt!"
Fraya menunduk, melihat dirinya masih terlilit sabuk pengaman.
Ia ingin memejamkan mata, memaki kebodohannya sendiri. Setelah cepat-cepat membuka sabuk pengaman, Fraya segera turun dari mobil secepat mungkin hingga tidak sengaja membanting pintu mobil dengan keras.
"Ace!"
Fraya seharusnya tidak berhenti, namun nama itu seperti punya daya pikat magnetis yang membuatnya tahu bahwa nama itu hanya berasal dari seseorang saja.
Fraya berbalik, berharap wajahnya yang bersemu merah tidak disadari Damian dari balik kemudi setir, "What?"
"Thank you," seru Damian dari dalam mobil.
Fraya mengerutkan kening, sesaat melupakan jantungnya yang tadi berdetak liar. "For what?"
Damian tersenyum, tatapannya begitu tulus memangkas jarak diantara mereka.
"Untuk membuat duniaku utuh sejak kamu hadir di Milford."
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
baca sambil ngabuburit