Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Rahasia yang Tercekat
Arkanza mencengkeram lengan kursi roda ayahnya dengan kuat. Matanya berkilat, menuntut jawaban yang selama dua puluh tahun ini disembunyikan dalam kegelapan.
"Katakan sekarang, Ayah! Jangan berputar-putar lagi!" bentak Arkanza. "Siapa yang membunuh Ibu? Apakah kau melakukannya demi menguasai harta keluarga Malik?!"
Syarif Malik menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa bersalah dan kesombongan yang tersisa. "Arkan... kau tidak akan sanggup menanggung kebenaran ini. Jika aku mengatakannya sekarang, duniamu akan hancur lebih parah daripada saat ibumu pergi."
"Duniaku sudah hancur sejak aku melihat kau membiarkan ibu mati!" Arkanza menarik kerah jas ayahnya. "Bicaralah! Apakah Alan benar-benar terlibat, atau kau yang menyuapnya untuk tutup mulut?!"
Syarif terbatuk, wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi kemerahan. Ia menarik napas pendek dan berat. "Alan... dia hanya pion kecil, Arkan. Pelaku sebenarnya adalah seseorang yang selama ini kau anggap—"
Tepat saat bibir Syarif akan mengucapkan nama itu, tiba-tiba matanya membelalak. Tangannya yang gemetar mencengkeram dadanya sendiri dengan sangat kuat.
"Ayah? Jangan main drama denganku!" Arkanza masih emosi, ia mengira ayahnya sedang bersandiwara untuk menghindar.
"Ugh... Ar... kan..." Syarif megap-megap. Wajahnya membiru dalam hitungan detik. Napasnya terdengar seperti suara seruling yang rusak.
"Tuan Arkan, lihat wajahnya! Ini bukan sandiwara!" Aira berteriak panik dari arah pintu. Ia segera berlari mendekat. "Dia terkena serangan jantung! Cepat panggil tim medis!"
"Sial! Bicaralah dulu, Ayah! Katakan padaku!" Arkanza mengguncang bahu ayahnya, frustrasi karena rahasia itu tinggal selangkah lagi terungkap.
"Arkanza, hentikan! Dia bisa mati!" Aira mendorong Arkanza menjauh dan segera memeriksa denyut nadi Syarif. "Panggil ambulans! Sekarang!"
Di tengah kekacauan itu, pintu ruang kerja terbanting terbuka. Reno masuk dengan wajah panik, tapi bukan karena kondisi Syarif.
"Tuan! Maaf menyela, tapi ini darurat!" teriak Reno.
"Bukan sekarang, Reno! Ayahku sekarat!" balas Arkanza murka.
"Tapi ini soal Tuan Dion, Tuan! Dia berhasil kabur dari pengawalan saat dipindahkan ke mobil tahanan. Dan sekarang... dia menyabotase sistem listrik mansion! Seluruh sistem keamanan mati total!"
Detik berikutnya, KLIK!
Seluruh lampu di mansion padam. Kegelapan total menyelimuti mereka. Suara tawa Dion yang parau terdengar melalui intercom gedung yang masih menyala menggunakan baterai cadangan.
"Selamat malam, Ayah tercinta. Selamat malam, Arkanza si anak emas. Jika aku tidak bisa mendapatkan Malik Group, maka tidak akan ada yang bisa memilikinya!"
BOOM!
Ledakan kecil terdengar dari lantai bawah, diikuti oleh alarm kebakaran yang meraung-raung. Panas mulai menjalar dengan cepat dari arah koridor.
"Sial! Dia membakar gedung ini!" umpat Arkanza. Ia menatap ayahnya yang sudah pingsan di kursi roda, lalu menatap Aira. "Aira, kita harus keluar!"
"Lalu bagaimana dengan Tuan Syarif? Kita tidak bisa meninggalkannya!" seru Aira di tengah kegelapan.
Arkanza menggertakkan gigi. Rahasia ibunya ada di dalam kepala pria yang sedang sekarat ini. Jika Syarif mati sekarang, kebenaran itu akan terkubur selamanya.
"Reno! Bantu aku membawa kursi roda ini! Aira, pegang tanganku erat-erat! Jangan pernah lepaskan!"
Dalam kegelapan yang mulai dipenuhi asap, Arkanza terpaksa menunda rasa penasarannya. Ia harus menyelamatkan pria yang mungkin adalah pembunuh ibunya, hanya agar pria itu bisa memberinya jawaban suatu saat nanti.
...****************...
Saat mereka berjuang menembus asap di koridor, Arkanza menyadari sesuatu. Genggaman tangan di belakangnya terasa berbeda. Saat ia menyalakan senter ponselnya, yang ia genggam bukanlah tangan Aira, melainkan kain jasnya yang tersangkut di pintu. Aira menghilang di tengah kabut asap yang tebal.
"AIRA!!!" teriak Arkanza, dan saat itu juga, penyakit sesaknya kembali kambuh dengan sangat hebat.