"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEDATANGAN LUCIAN
"Jika kamu berani membuat putriku menangis lagi karena kecerobohanmu, aku sendiri yang akan mengantarmu menemui Kakek buyut Aurora," bisik Raja Arion, pelan.
Glek
Leo menelan ludah dengan susah payah, sementara Aurora hanya bisa menunduk, menyembunyikan senyum kecil yang terukir di wajahnya.
Malam itu, di tengah aroma obat dan dinginnya istana vampir, sebuah benih perasaan baru saja tumbuh, sebuah warisan kasih sayang yang mulai menembus batas darah.
Mendengar ancaman halus dari Raja Arion, Leo hanya bisa memberikan hormat kaku dengan posisi berbaringnya.
"Pesan diterima dengan sangat jelas, Yang Mulia. Saya lebih memilih menghadapi pasukan Vampir pemberontak kerajaan Anda sendirian daripada harus bertemu Kakek Wallace," ucap Leo, bergidik ngeri.
Serena terkekeh, tangannya yang terampil mulai membuka perban lama di bahu Leo dengan gerakan yang jauh lebih ahli daripada Aurora.
"Sudahlah, Arion, jangan menakuti nya, lagi pula Kakek Wallace tidak se menyeramkan itu," ucap Ratu Serena, terkekeh pelan.
Arion mendengus pelan, namun matanya memancarkan kebanggaan, dia beralih menatap putrinya yang masih sibuk menata botol-botol ramuan dengan gerakan yang dibuat-buat sibuk.
"Aurora," panggil Arion lembut.
Aurora menoleh, mencoba mengembalikan raut wajah datarnya yang legendaris, meski rona merah di pipinya belum sepenuhnya pudar.
"Ya, Ayah?"
"Istirahatlah. Biarkan ibumu yang menyelesaikan pengobatan Leo, kamu sudah terjaga sejak dimensi itu terbuka," ucap Arion, menyadari betapa lelahnya mata perak putrinya, meski Aurora selalu berusaha menyembunyikannya di balik sikap tegaknya.
"Tapi Ayah, aku-"
"Ini perintah Raja, bukan sekadar saran Ayah," potong Arion dengan tegas.
"Pergilah ke kamarmu, besok pagi, kita harus membahas laporan mengenai dimensi cermin itu dan apa yang sebenarnya direncanakan Maxime," lanjut Raja Arion.
Aurora terdiam sejenak, lalu melirik ke arah Leo, pemuda serigala itu memberikan kedipan mata jahil nya.
"Baiklah," jawab Aurora akhirnya.
Sebelum keluar, Aurora membungkuk hormat pada Arion dan Serena.
Tanpa mempedulikan keberadaan orang tuanya, Aurora membungkuk sedikit, di pinggir ranjang Leo.
"Jangan berani-berani mencoba turun dari ranjang ini sampai aku kembali besok pagi, Leo Alistair, jika aku menemukanmu berkeliaran di barak latihan, aku sendiri yang akan mematahkan kakimu," bisik Aurora, nadanya dingin namun ada nada protektif yang tak terbantahkan.
"Siap, Tuan Putri Galak," jawab Leo tersenyum lebar.
Setelah Aurora menghilang di balik pintu, suasana kamar menjadi lebih tenang.
Ratu Serena terus bekerja dengan teliti, sementara Arion duduk di kursi yang tadi ditempati Aurora.
"Leo," panggil Arion, suaranya kini lebih berat dan serius.
"Ya, Raja Arion?" jawab Leo membenarkan posisinya, merasakan aura sang Raja Vampir yang kini menyelimuti ruangan.
"Apa yang kamu lihat di dalam sana? Di inti dimensi cermin itu, sebelum kamu menarik Aurora keluar?" tanya Arion, pelan.
"Kami merasakan aura sihir yang sangat tidak stabil, itu bukan sihir biasa milik kaum Vampir," lanjut Raja Arion.
Hah...
Sebelum menjawab pertanyaan dari Raja Arion, Leo menarik napas panjang, wajahnya berubah serius saat ingatan tentang kegelapan pekat itu kembali muncul.
"Itu terasa seperti, kekosongan yang hidup, Yang Mulia," jawab Leo pelan.
"Maxime tidak hanya menggunakan sihir cermin, ada sesuatu yang lebih kuat dari pada sekedar sihir di sana, saat aku memanggil Aurora, aku merasa seolah-olah dimensi itu mencoba menelan identitas kami, jika bukan karena ikatan yang sering Ayah bicarakan, aku mungkin sudah lupa siapa diriku sendiri," jawab Loe, menceritakan apa yang dia rasakan tadi.
"Kekosongan yang hidup, sepertinya apa yang di katakan oleh Ayah tadi benar. Maxime sedang mencoba membangkitkan sihir terlarang yang sudah lama terkubur di bawah tanah terlarang," gumam Raja Arion, mengingat perkataan Raja Revan tadi.
Serena yang sedang mengoleskan salep dingin di punggung Leo menghentikan gerakannya sejenak, saat mendengar obrolan dua pria itu.
"Jika itu benar, Arion, maka keselamatan Aurora dan Leo bukan lagi sekadar urusan keluarga dan darah, tapi ini adalah ancaman bagi seluruh kerajaan, baik vampir maupun serigala," ucap Ratu Serena, cemas.
"Aku tahu," jawab Raja Arion tegas.
"Itulah sebabnya aku membiarkan kalian tetap bersama. Kekuatanmu, Leo, kehangatan dan naluri serigala mu, adalah satu-satunya hal yang bisa menjaga Aurora tetap menapak pada kenyataan saat sihir esnya mulai menariknya terlalu jauh ke dalam kedinginan," ucap Raja Arion menatap Leo dengan pandangan yang sangat dalam.
"Saya akan melindunginya dengan nyawa saya, Yang Mulia, sama seperti Ayah melindungi Ibu, dan sama seperti Kakek Wallace melindungi Ratu Ivara," jawab Leo, tegas.
"Bagus! Sekarang tidurlah, kamu butuh energi untuk menghadapi latihan, dan mungkin menghadapi kunjungan ke Kerajaan Wallace yang dijanjikan Aurora tadi," ucap Raja Arion berdiri, menepuk kaki Leo yang tertutup selimut.
"Ah, bisakah kita pura-pura lupa soal bagian Kerajaan Wallace itu?" rengek Leo, membuat Serena tertawa kecil, sebelum melangkah keluar bersama Raja Arion.
Malam semakin larut di istana, di kamarnya yang sunyi, Aurora berdiri di balkon, menatap rembulan yang bersinar pucat, dia menyentuh dadanya, tepat di tempat tangan Leo tadi berada. Detak jantungnya masih terasa sedikit lebih cepat dari biasanya.
Aurora tahu, perasaannya bukan lagi sekadar tanggung jawab sebagai tuan putri, ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang menembus batas antara darah vampir yang dingin dan api kehidupan seorang serigala.
"Terima kasih sudah menjemput ku, Serigala Bodoh," bisik Aurora pada angin malam.
Di kejauhan, lolongan serigala terdengar dari arah hutan perbatasan, sebuah nyanyian alam yang biasanya terdengar mengancam, namun malam ini, entah mengapa, terdengar seperti sebuah janji perlindungan yang menenangkan.
Di kamar tempat Leo istirahat, dia menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
Meskipun tubuhnya remuk dan harga dirinya hancur karena digendong ayahnya, satu hal yang pasti. Aurora selamat, dan ikatan di antara mereka kini jauh lebih dari sekadar kontrak darah dari kedua orang tua mereka.
Leo mengulurkan tangannya ke udara, menatap telapak tangannya yang masih terbungkus perban hasil kerja keras Aurora.
"Bayi rusa, ya? Benar-benar tidak punya perasaan," gumam Leo, lalu terkekeh pelan, mengingat perkataan Aurora tadi.
Tiba-tiba, jendela kamar yang besar itu diketuk dari luar.
TOK
TOK
TOK
Leo tersentak, tangannya secara insting meraba sisi ranjang mencari pedangnya, namun dia baru ingat pedangnya hancur di dimensi tadi.
"Siapa di sana?!" teriak Leo waspada, walaupun suaranya masih sedikit serak.
Brak
Jendela terbuka, dan sesosok pemuda dengan rambut yang sedikit berantakan melompat masuk dengan gerakan yang terlalu lincah untuk ukuran manusia biasa.
"Sstt! Jangan berteriak, Leo! Kau ingin seluruh pengawal vampir di luar sana menangkap ku?"
"Kak Lucian?!" mata Leo membelalak.
"Oh ya ampun! Kamu terlihat lebih buruk dari bangkai serigala yang hanyut di sungai, Adikku," ucap Lucian mendekat ke ranjang, matanya memindai luka-luka di tubuh Leo.